<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950</id><updated>2012-02-02T08:00:01.381-08:00</updated><category term='pengumuman'/><category term='About'/><category term='Renungan Kiriman RHO-ers'/><category term='kesaksian'/><category term='Free Wallpaper'/><title type='text'>renungan harian online</title><subtitle type='html'>renungan harian online bagi yang haus akan Tuhan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1490</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1616292306158172204</id><published>2012-02-02T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-02-02T08:00:01.521-08:00</updated><title type='text'>Stepping into a Quiet Place (2)</title><content type='html'>(sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda melihat Injil, maka anda pun akan mendapatkan keteladanan yang sama dari Yesus sendiri. Kita tahu bagaimana sibuknya Yesus melayani ditengah kerumunan orang kemanapun Dia pergi. Begitu banyak orang berbondong-bondong mendatangiNya hampir setiap saat, bahkan ada yang hanya untuk sekedar menyentuh jubahNya atau juga di malam hari misalnya ketika Nikodemus menemuinya seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:1-21. Kita bisa melihat betapa dunia pada saat itu persis sama seperti sekarang. Ada begitu banyak orang yang&amp;nbsp; benar-benar membutuhkan pertolongan, rindu akan jamahan Tuhan yang mampu memberi pertolongan, kesembuhan, kelepasan. Dalam beberapa kesempatan kita bahkan melihat jumlah yang begitu besar hingga mencapai ribuan jiwa, seperti yang bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yesus melayani sepanjang waktu tanpa kenal lelah. Dia menjangkau semua orang tanpa terkecuali, tanpa peduli siapa ataupun apa latar belakangnya. Tapi lihatlah bahwa Yesus pun mencari waktu-waktu khusus untuk dipakai berdoa kepada Bapa. Alkitab mencatat bahwa berkali-kali Yesus ingin mengambil waktu untuk menyendiri sejenak buat berdoa sendirian, tetapi kerumunan orang seperti enggan melepaskanNya. &lt;i&gt;"Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan &lt;b&gt;hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.&lt;/b&gt; Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka."&lt;/i&gt; (Matius 14:13). Tetap saja Yesus tidak mengabaikan saja mereka. Dikatakan,&lt;i&gt; "maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit."&lt;/i&gt; (ay 14). Mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu mengenyangkan lima ribu orang belum termasuk wanita dan anak-anak juga merupakan bentuk kepedulian Yesus kepada kebutuhan manusia. Pada kesempatan lain kita mendapati contoh lain:&lt;i&gt; "Ketika hari siang, &lt;b&gt;Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi.&lt;/b&gt; Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka."&lt;/i&gt; (Lukas 4:42). Selama pelayananNya di muka bumi ini Yesus bersinggungan dan berinteraksi dengan begitu banyak orang hampir-hampir tanpa jeda. Rakyat biasa, para rasul, pejabat, petinggi militer, janda, anak-anak, orang-orang sakit parah, orang yang dirasuk setan, para petinggi agama, orang-orang yang terbuang dan diasingkan seperti pengidap kusta, tidak terkecuali pula orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, pezinah dan lain-lain, bahkan keluarga-keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya, mereka semua mengalami perjumpaan dengan Kristus.&amp;nbsp; Menghadapi semua ini Yesus dengan sabar melayani satu persatu dan menjawab segala ratapan mereka. Tetapi lihatlah bahwa meski Yesus sibuk dan selalu tergerak atas rasa belas kasihanNya, Dia tetap berusaha pula meluangkan waktu untuk mencari tempat sepi agar bisa berdoa kepada Bapa di Surga. Dan seringkali itu tidak mudah, karena untuk mencari keheningan dan kesunyian Yesus harus rela repot naik ke atas bukit. Disanalah Dia bisa mengambil waktu sejenak jauh dari kerumunan dan keramaian untuk bersekutu dengan Bapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mendapati contoh yang sama sebelum kisah angin sakal yang menerpa murid-murid Yesus seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin. &lt;i&gt;"Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang,&lt;b&gt; Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Matius 14:23). Atau lihat pula ketika Yesus menarik diri untuk menghabiskan waktu selama empat puluh hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa, yang bisa kita baca dalam perikop "Pencobaan di padang gurun." (Matius 4:1-11). Menjelang akhir hidupNya di dunia, kita bisa melihat bahwa Yesus kembali menarik diri dari kerumunan termasuk dari para muridNya untuk &lt;b&gt;berdoa sendirian di taman Getsemani.&lt;/b&gt; (Markus 14:32-42). Disana dikatakan &lt;i&gt;"Yesus pergi lebih jauh sedikit lalu tersungkur ke tanah dan berdoa."&lt;/i&gt; (ay 14a:BIS). Semua ini menunjukkan contoh dari Yesus sendiri akan pentingnya ,engambil waktu secara khusus, di sebuah tempat dimana kita bisa dengan khusyuk dan tenang dalam berdoa, merenung dan mendengar Tuhan. Sebuah tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokus kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Yesus Kristus saja menunjukkan pentingnya mencari kesunyian dan ketenangan untuk berhubungan dengan Tuhan, bukankah ini artinya merupakan hal yang sangat penting pula bagi kita? Jika demikian pertanyaan bagi kita selanjutnya adalah, sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berdiam diri bersama Tuhan, atau segala kesibukan pekerjaan, berbagai tugas dinas, rapat, tugas-tugas yang menuntut deadline atau malah berbagai sarana hiburan lewat berbagai media seperti televisi, majalah, koran dan radio masih saja membuat kita rela mengesampingkan saat-saat teduh dan waktu-waktu kita untuk berdoa serta bersekutu intim dengan Tuhan? Kita tidak perlu naik jauh ke atas bukit untuk memperoleh itu, kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke tengah gurun untuk itu. &lt;i&gt;It's just a matter of taking a step into our own room and finding a quiet time, as simple as that. &lt;/i&gt;Kalaupun ada orang-orang yang berbagi ruangan dengan kita, pasti selalu ada saat yang bisa kita cari untuk itu. Pada akhirnya masalahnya hanya terletak pada kemauan untuk menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Ambillah saat teduh yang khusus, tidak masalah subuh, siang, sore atau malam, dan rasakanlah bagaimana jiwa kita dikuatkan dan iman kita bertumbuh ketika kita menarik diri sejenak dari keramaian dan rutinitas sehari-hari untuk membangun hubungan yang sangat erat dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jangan abaikan pentingnya mengambil waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1616292306158172204?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/1616292306158172204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=1616292306158172204' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1616292306158172204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1616292306158172204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/02/stepping-into-quiet-place-2.html' title='Stepping into a Quiet Place (2)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-703347515691162684</id><published>2012-02-01T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T08:00:05.078-08:00</updated><title type='text'>Stepping into a Quiet Place (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;&amp;nbsp;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 6:6&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="quiet place, pray" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/berdoa-dalam-kamar.jpg" /&gt;Jika anda seperti saya yang tinggal di kota besar, anda tentu merasakan bahwa kepadatan penduduk terjadi dimana-mana. Jalanan yang macet, ribuan orang yang berada di sebuah tempat dalam waktu yang sama seperti di pusat perbelanjaan, itu menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Hampir di setiap sudut kita akan bertemu dengan orang lain. Setiap hari kita bersinggungan dengan begitu banyak orang yang terkadang dalam situasi yang sibuk, bising atau bahkan hingar bingar. Apalagi bagi saya yang berprofesi sebagai wartawan musik. Ditengah kesibukan dan keramaian dunia, ada saat-saat dimana saya merindukan suasana yang tenang dan sunyi, menikmati hubungan dengan Tuhan dan berdiam di hadiratNya dalam kesunyian yang syahdu. Itu adalah hal yang semakin lama semakin sulit untuk bisa diperoleh, karena yang sering terjadi adalah urusan sudah menumpuk begitu saya terbangun dari tidur. Tidak hanya saya, tetapi ada seorang artis yang bahkan merilis album dengan mengangkat kerinduannya untuk menikmati kesendirian dalam kesunyian, trying to find her solitude out from all the crowds and hectic world. Tidakkah itu yang seringkali kita butuhkan? &lt;i&gt;There comes a point when we need to find our solitude, the part of stillness with ourselves, withdrawn from the crowds, taking up a moment to be alone, far from everyone else? &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti itu sesungguhnya penting, terutama dalam membangun hubungan yang berkualitas dengan Tuhan. Hal itu akan sulit dilakukan apabila kita terus berada dalam keramaian dan kesibukan sehari-hari. Dimana kita bisa memperoleh hal itu? Yesus mengatakan itu bisa kita peroleh di kamar kita. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 6:6). &lt;i&gt;Our room is our perfect solitude.&lt;/i&gt; Disanalah kita bisa benar-benar fokus tanpa terganggu oleh apapun. Hanya kita dengan Tuhan,&lt;i&gt; just you and God alone&lt;/i&gt;. Itu waktu yang indah dimana kita bisa merenungkan kebaikanNya, mendengar apa kataNya kepada kita, dan berbicara dari hati ke hati tanpa harus terganggu atau terpecah konsentrasi dari hiruk pikuk yang biasa menyertai kita kemanapun kita berada. Menghadapi perjalanan kehidupan yang berat ini kita benar-benar butuh pegangan, dan di dalam kesunyian yang syahdu itu kita bisa mendapatkan pegangan lewat terbangunnya hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perhatikan kembali ayat Matius 6:6 di atas.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "...Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Tuhan menghargai keseriusan kita dalam berhadapan denganNya. Dia bisa melihat apakah kita benar-benar fokus dengan sungguh-sungguh atau melakukannya sambil lalu saja. Salahkah jika kita berdoa ketika sedang berada di tengah keramaian, atau misalnya sambil mengemudi? Tentu tidak. Kita bisa kapan saja berdoa dan berhubungan dengan Tuhan. Dia selalu membuka diri untuk itu. Tapi perhatikanlah bahwa Tuhan akan sangat menghargai jika dalam 24 jam ada waktu-waktu khusus yang kita dedikasikan kepadaNya, atas dasar kerinduan dan kasih kita kepadaNya. Tidakkah anda lebih senang apabila orang yang berbicara dengan anda benar-benar fokus kepada anda? Dan sebaliknya, tidakkah anda kesal jika lawan bicara anda mendengar sambil lalu saja sembari mengutak-atik telepon genggamnya, sambil mengetik/menulis atau sambil melakukan hal-hal lainnya? Seperti itu juga Tuhan. Maka dari ayat ini kita bisa jelas melihat bagaimana Tuhan akan senang jika kita melakukan itu. Dan Tuhan akan membalas kepada kita. Itu jelas dikatakan oleh ayat ini. Bukan untuk melarang kita berhubungan denganNya di waktu-waktu lain, tetapi untuk mengajarkan kita untuk menaruh hormat yang pantas dengan meluangkan waktu secara khusus untuk berdiam dalam persekutuan yang erat dan indah dengan Bapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat salah satu pernyataan dari Daud yang dicatat dalam kitab Mazmur.&lt;i&gt; "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa."&lt;/i&gt; (Mazmur 57:8-10). Daud tahu kesibukan akan segera datang di siang hari, maka ia mengambil waktu di waktu subuh untuk bermazmur dan memuji Tuhan. Daud memilih untuk membangun hubungan di pagi hari sebelum ia mulai beraktivitas sepanjang hari. Itu bisa memberinya kekuatan dan tenaga dalam menjalani hari. Alangkah baiknya jika kita bisa mengikuti gaya hidup Daud ini. Di pagi hari kita biasanya bisa lebih mudah mendapatkan saat-saat yang tenang dan sunyi ketimbang di siang hari ketika semua orang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tetapi mungkin tidak semua orang lebih suka memilih pagi, dan itu tidaklah masalah. Apa yang penting bagi kita adalah menyadari bahwa kita harus menyediakan waktu khusus untuk bersaat teduh, untuk berdiam di hadiratNya, merasakan kasihNya dan mendengar suaraNya serta berbagi cerita mengenai apa yang sedang kita alami atau rasakan. Mungkin anda merasa lebih suka melakukannya di siang hari, sore atau malam? Tidak apa-apa, selama anda bisa betul-betul fokus tanpa terganggu atau terpecah konsentrasi dari kesibukan di sekitar anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-703347515691162684?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/703347515691162684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=703347515691162684' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/703347515691162684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/703347515691162684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/02/stepping-into-quiet-place-1.html' title='Stepping into a Quiet Place (1)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6264495181743014817</id><published>2012-01-31T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T08:00:01.217-08:00</updated><title type='text'>Angin Sakal</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Markus 6:48&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="angin sakal" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/angin-sakal.jpg" /&gt;Salah seorang teman saya pernah mengalami situasi hidup dan mati karena terjatuh dari sampan dan kemudian terseret arus. Ia bercerita bahwa arus itu sangat kuat menyeretnya. Ia berusaha melawan arus dengan berenang ke arah yang berlawanan tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk bertahan. Untunglah ditengah keadaan berbahaya itu ia kemudian melihat sebuah dahan yang cukup besar sehingga ia bisa berpegangan disana sampai diselamatkan. Melawan arus memang tidak mudah, apalagi kalau sendirian. Kita mungkin bisa bertahan sampai waktu tertentu, tetapi tenaga kita yang terbatas akan terus berkurang sehingga pada suatu saat kita akan menyerah dan terseret arus untuk dibawa entah kemana. Betapa mengerikan seandainya diujung sana terbentang air terjun dengan jurang yang besar. Nyawa kita pun bisa hilang kalau itu yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan ini kita pun seringkali harus terus berjuang melawan arus penyesatan di dunia. Kita sudah mati-matian berusaha untuk tidak terseret, tetapi arus yang sangat kuat bisa jadi menekan kita terus menerus sehingga pada saat kita lemah, kita pun akhirnya bisa ikut terseret arus itu. Melawan arus dunia seperti ini tidaklah mudah karena serangannya bisa dari segala arah. Salah-salah, kita bisa terbawa arus dalam berlayar mengarungi derasnya samudera kehidupan, dan akibatnya terperangkap pada akhir yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat ketika situasi yang sama menimpa para murid Yesus dalam Markus 6. Tepat setelah Yesus melakukan mukjizat lewat lima roti dan dua ikan untuk memberi makan ribuan orang, murid-murid Yesus segera diperintahkan untuk berlayar terlebih dahulu menuju Betsaida, sementara Yesus sendiri mengambil waktu untuk bersama Bapa dengan pergi ke atas bukit untuk berdoa. Ketika para murid sudah sampai di tengah danau, muncullah angin sakal pada malam itu. Angin sakal adalah jenis angin yang berlawanan dengan arah perahu, bertiup datang dari depan. Bisa dibayangkan bagaimana mereka kepayahan mendayung kapal untuk melawan angin sakal tersebut. Di saat tengah malam mencapai masa-masa puncaknya, sekitar jam tiga, dan disaat mereka mungkin mulai kelelahan mendayung, datanglah Yesus dengan berjalan di atas air. Markus mencatat demikian:&lt;i&gt; "Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka." &lt;/i&gt;(Markus 6:48). Mungkin karena sempat kelelahan mendayung, konsentrasi mereka menjadi lemah, dan sempat kaget mengira bahwa yang mendatangi mereka adalah hantu. Mereka pun menjadi panik. &lt;i&gt;"Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak"&lt;/i&gt; (ay 48). Tapi Yesus berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 50). Begitu Yesus naik ke perahu, serta merta angin pun reda. (ay 51). Mereka pun bisa mendayung dengan tenang hingga sampai ke tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat ini kita sudah sampai di pertengahan perjalanan dalam berlayar menempuh samudera kehidupan, dan seperti kisah para murid dan Yesus di atas, angin sakal mulai bertiup sehingga kita mulai merasa kelelahan dalam mengemudikan kapal kita untuk terus maju ke depan hingga sampai ke tujuan akhir kita. Kita tahu destinasi kita semua yaitu menuju sebuah kehidupan kekal penuh sukacita tanpa ratap tangis bersama Bapa di Surga, tetapi mungkin saat ini terpaan angin sakal membuat kita kepayahan untuk mengarunginya. Sulit melawan arus dunia yang penuh tipu muslihat, ketidakadilan dan kesesatan. Pergaulan yang buruk, lingkungan yang tidak sehat, hal-hal negatif yang kita lihat dan dengar di sekitar kita, segala kedagingan duniawi, dan sebagainya, seringkali membuat kita menjadi lemah ketika kita berusaha melawannya. Kita memang diminta untuk tidak mengikuti arus dunia, &lt;i&gt;"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini"&lt;/i&gt; (Roma 12:2), tapi Tuhan mengerti bahwa mengandalkan tenaga kita sendiri tidak akan sanggup untuk melakukan itu. Ayat hari ini mengajarkan kita untuk berhenti menggunakan tenaga sendiri. Di antara murid-murid Yesus ada beberapa nelayan senior berpengalaman, yang seharusnya sudah tahu bagaimana cara berlayar yang baik dan benar, tapi mereka tetap saja kepayahan dan menemui masalah dalam perjalanan ketika didera angin yang berlawanan. Demikian pula hidup kita. Meski kita punya pengalaman, tenaga dan sebagainya, pada suatu ketika kita bisa berhadapan dengan situasi pelik yang tidak bisa kita atasi sendirian. Di saat seperti itulah kita bisa mulai belajar untuk mengandalkan Tuhan. Berkali-kali Tuhan berkata "Jangan takut" dalam Alkitab. Bagaimana kita bisa tidak takut? Caranya adalah dengan&lt;b&gt; menyadari bahwa Tuhan selalu ada beserta kita.&lt;/b&gt; Jika ada penyertaan Tuhan dalam hidup kita, mengapa kita harus takut? Lihatlah ketika Yesus naik ke dalam kapal, angin sakal langsung berhenti saat itu juga. Dalam mengarungi lautan kehidupan ini kita akan terus berhadapan dengan angin sakal. Pada satu waktu kita akan mulai kesulitan, tidak peduli seberapa hebatnya kita sebagai manusia, kita akan mengalaminya cepat atau lambat. Karena itulah kita butuh Yesus menyertai dalam perjalanan kita agar kita bisa sampai ke tujuan yang benar seperti apa yang dikehendaki Tuhan bagi hidup kita. Ketika ada Tuhan dalam perahu hidup kita, kita pun tidak perlu takut, meski sedang berlayar melawan arus dan dalam kekelaman malam sekalipun. Yesus sudah menjanjikan bahwa &lt;b&gt;Dia akan selalu menyertai kita sampai akhir zaman &lt;/b&gt;(Matius 28:20). Meski arus di dunia ini sulit kita hadapi, ada &lt;i&gt;"banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang...Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."&lt;/i&gt; (Matius 24:11,13). Agar dapat bertahan mengayuh bahtera kehidupan kita butuh penyertaan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Angin sakal akan terus kita hadapi, bahkan angin badai sekalipun bisa saja bertiup kencang dalam perjalanan kita mengarungi hidup. Tapi percayalah bahwa bersama Yesus kita akan mampu bertahan dan memperoleh kemenangan. Karenanya janganlah mengandalkan kekuatan sendiri, tapi milikilah sebuah perjalanan manis bersama Yesus hingga selamat sampai ke seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus."&lt;/i&gt; (1 Korintus 1:8)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6264495181743014817?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/6264495181743014817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=6264495181743014817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6264495181743014817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6264495181743014817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/angin-sakal.html' title='Angin Sakal'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8354752610348439561</id><published>2012-01-30T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T08:00:06.840-08:00</updated><title type='text'>Network and Teamwork (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Ibrani 10:24&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="network" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/teamwork-network.jpg" /&gt;Mudahkah mengatur sebuah pagelaran pentas musik? Tentu saja tidak. Tidak ada satupun acara panggung yang sanggup dikerjakan hanya oleh satu orang. Harus ada ketua, tim produksi, penghubung atau liaison dan sebagainya lengkap dengan anggotanya. Harus ada penyedia tempat, orang yang menata panggung, soundmen dan artis yang bermain. Lalu harus ada pula media yang bisa menginfokan tentang acaranya dan meliput. Dan tentu saja harus ada penonton. Semua ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah acara tidaklah pernah tergantung hanya dari satu orang melainkan atas kerjasama yang baik antara berbagai pihak yang terkait didalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambung renungan kemarin, mari kita lihat kembali pentingnya sebuah network dan teamwork yang solid dalam mencapai sebuah keberhasilan. Sejatinya manusia memang diciptakan bukan menjadi mahluk yang tahu dan sanggup berbuat segalanya sendirian. Kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus saling berinteraksi dan terintegrasi dengan orang lain. Kita adalah bagian dari masyarakat, &lt;i&gt;a part of the society&lt;/i&gt; yang terintegrasi di dalamnya. Dan ini haruslah kita ingat karena tidak satupun dari kita yang cukup hebat untuk bisa mencapai sukses sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan selalu mengingatkan kita agar tidak berjalan sendirian. Kita tidak pernah dianjurkan untuk menjadi manusia yang absolut dan merasa kita sanggup melakukan segalanya sendirian.&lt;i&gt; "&lt;b&gt;Berdua lebih baik dari pada seorang diri&lt;/b&gt;, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya...Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. &lt;b&gt;Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Pengkotbah 4:9-10,12). Ini bunyi firman Tuhan yang dengan jelas mengingatkan kita sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itu kata pepatah kita. Dalam hal-hal kerohanian pun demikian. &lt;i&gt;Network &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; teamwork&lt;/i&gt; yang kokoh dibutuhkan bukan saja untuk kepentingan kita, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat bahkan di saat-saat yang tidak terduga sama sekali. Cepat atau lambat kita akan kehabisan tenaga atau akal, kelelahan dan menjadi lemah. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Sebuah teamwork yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Dan itu sangatlah dibutuhkan terutama dalam menghadapi situasi-situasi yang sulit. Tanpa membangun &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; yang baik akan sulit bagi kita untuk memperoleh &lt;i&gt;teamwork&lt;/i&gt; yang kuat. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan, atau untuk mencapai peningkatan-peningkatan atas usaha kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Ibrani kita bisa memperoleh ayat yang menyatakan hal ini dengan jelas. &lt;i&gt;"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."&lt;/i&gt; (Ibrani 10:24). Inilah kuncinya. Saling memperhatikan, saling mendorong, dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Lantas perhatikan selanjutnya kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: &lt;i&gt;"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."&lt;/i&gt; (ay 25). Cara atau gaya hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 merupakan contoh yang sangat sempurna mengenai hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika untuk sukses dalam pekerjaan atau karir sebuah &lt;i&gt;teamwork&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; itu diperlukan, untuk memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi ini pun demikian juga. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Masing-masing orang diberikan karunia talenta atau bakat-bakat berbeda yang hanya akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika tersambung atau terhubung dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. &lt;i&gt;"Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.."&lt;/i&gt; (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), &lt;i&gt;"Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."&lt;/i&gt; (ay 16). Semua ini dengan jelas menunjukkan pentingnya membangun hubungan dengan orang lain agar kita bisa memperoleh pencapaian-pencapaian dengan peningkatan yang signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam segala hal, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan rohani kita memerlukan networking dengan teamwork yang kuat. Kekristenan tidak pernah berbicara untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang sombong, eksklusif dan tertutup. Kita tidak dibentuk untuk menjadi orang yang hanya bersembunyi di balik tembok gereja saja. &lt;i&gt;We need to expand our horizon to reach the world outside the walls.&lt;/i&gt; Di &lt;i&gt;marketplace&lt;/i&gt;, lingkungan tempat tinggal, atau dimanapun kita ditempatkan kita harus bisa menjadi contoh bagaimana kasih bisa membuat pribadi-pribadi yang menyenangkan, ramah dan bersahabat dengan tulus tanpa terbatas oleh sekat apapun. Itu adalah sesuatu yang berbeda dengan cara pandang dunia dan itulah panggilan kita sebagai ciptaan baru. Ini saatnya untuk menjadi orang-orang yang mengerti akan pentingnya network dan teamwork dalam mencapai peningkatan dalam segala aspek hidup kita. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah mahluk sosial sebagai bagian integral dari masyarakat dan bukan orang-orang eksklusif yang tertutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8354752610348439561?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8354752610348439561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8354752610348439561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8354752610348439561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8354752610348439561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/network-and-teamwork-2.html' title='Network and Teamwork (2)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2601415273368924229</id><published>2012-01-29T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T08:00:01.383-08:00</updated><title type='text'>Network and Teamwork</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Markus 2:3-4&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="teamwork" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/network-and-teamwork.jpg" /&gt;Saya merasa sangat senang hari ini. Betapa tidak, saya akhirnya menemukan dua orang untuk bertugas sebagai kontributor dari luar negeri, satu di negara lain di Asia dan satu di Amerika dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Hal ini buat saya sangatlah besar maknanya, karena saya bisa memperoleh hasil-hasil liputan dari koresponden atau kontributor di luar tanpa saya harus mengeluarkan biaya besar untuk pergi kesana sendiri atau mengirim tim dari negara kita untuk meliput kesana. Hal seperti ini tidak akan bisa tercapai kalau saya menutup diri dari pergaulan dan tidak terus memperluas jaringan atau&lt;i&gt; network&lt;/i&gt;. Seperti halnya telepon selular, providernya tidak akan laku kalau daya jangkaunya sempit. Semakin luas, maka semakin besar pula kesempatan untuk dipilih oleh konsumen, karena apalah gunanaya sebuah fasilitas komunikasi apabila area jangkauannya sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang cenderung berpikir bahwa mereka sanggup melakukan segala sesuatu sendirian. Mereka sulit percaya orang lain dan mengira bahwa merekalah yang paling hebat dan karenanya tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Membangun &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; di mana di dalamnya terdapat teamwork yang harmonis, baik dan kuat sangatlah penting, karena biar bagaimanapun tidak ada satupun manusia super yang sanggup melakukan segala sesuatunya sendirian. Itu bukan &lt;i&gt;blueprint &lt;/i&gt;manusia menurut rancangan Tuhan. Kita diciptakan untuk saling melengkapi dan saling berinteraksi satu sama lain untuk bisa memperoleh hasil yang terbaik. Dengan jelas hal ini bisa kita lihat dari sejarah penciptaan awal manusia. Tuhan secara jelas berkata: &lt;i&gt;"Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja."&lt;/i&gt; (Kejadian 2:18a). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: &lt;i&gt;"It is not good (sufficient, satisfactory) that the man should be alone."&lt;/i&gt; Terjemahannya kira-kira seperti ini: Tidak baik, tidak cukup, dan tidak akan maksimal kalau manusia itu sendirian. Artinya Tuhan tidak pernah menginginkan manusia untuk berusaha, bekerja atau bahkan hidup sendirian saja, terkucil, tertutup dan terisolasi dari sekitarnya. Dan itu bermakna bahwa selama kita hidup, kita harus bisa memperluas jaringan kita agar kita bisa terus lebih maksimal lagi dalam melakukan segala sesuatu dalam hidup kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat sebuah kisah tentang &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; dengan&lt;i&gt; teamwork&lt;/i&gt; yang baik di dalam Alkitab, yaitu dalam Markus 2:1-12. Pada satu hari Yesus datang lagi ke Kapernaum, dan orang ramai berkerumun mendatangi Dia untuk bertemu. Saking banyaknya orang yang datang, rumah di mana Yesus berada kemudian menjadi penuh sesak hingga dikatakan tidak ada tempat kosong lagi. Yesus pun kemudian memberitakan firman kepada semua yang hadir. Lalu &lt;i&gt;"ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang."&lt;/i&gt; (ay 3). Keempat orang ini menggotong sahabat mereka dan ingin bertemu dengan Yesus agar sahabat mereka bisa sembuh. Tapi mereka tidak bisa menembus kerumunan yang sedemikian padat. Menyerahkah mereka? Ternyata tidak. Inilah yang mereka lakukan selanjutnya.&lt;i&gt; &lt;b&gt;"...mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (ay 4). Melihat kegigihan mereka, Yesus pun kagum. Alkitab mencatatnya seperti ini: &lt;i&gt;"Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"&lt;/i&gt; (ay 5). Adalah iman yang membuat mereka mau terus berjuang untuk bisa bertemu dengan Yesus dengan cara apapun. Iman mereka yang kuat membuat mereka tidak bisa dibatasi atau dihalangi oleh kerumunan besar orang. Singkatnya Yesus pun menyembuhkan orang itu. &lt;i&gt;"Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."&lt;/i&gt; (ay 11-12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam renungan ini marilah kita lihat sosok pribadi orang lumpuh tersebut secara khusus. Pernahkah terpikirkan oleh anda bagaimana sulitnya bagaimana susahnya menggotong seorang lumpuh di atas tilam ke atas atap di tengah kerumunan orang banyak? Pasti sulitnya bukan main. Memanjat sendiri saja susah, ini menggotong orang yang terbaring di atas tilam. Bahkan sekiranya pun mereka pemain sirkus itu masih tetap sulit untuk dilakukan. Jika kita melihat bahwa keempat orang ini mau bersusah payah untuk sahabatnya, kita bisa sampai pada sebuah kesimpulan bahwa orang lumpuh ini tentu merupakan orang yang baik dalam pergaulannya, dan pasti keempat orang itu punya kesan yang dalam atau hubungan yang sangat baik dengan dirinya. Kalau tidak mustahil rasanya keempatnya terbeban untuk menolong dengan harus menempuh cara yang sangat merepotkan bahkan berbahaya. Sekiranya orang lumpuh itu adalah orang yang sombong, saya yakin tidak akan ada orang yang peduli kepadanya, dan dia akan tetap lumpuh. Kita bisa menyimpulkan bahwa si lumpuh adalah orang yang sangat baik di mata temannya, dan dia &lt;b&gt;berhasil membangun sebuah &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; yang baik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mari kita lihat hal selanjutnya. Untuk menurunkan seseorang dari atap seperti itu diperlukan sebuah &lt;b&gt;proses &lt;i&gt;teamwork&lt;/i&gt; yang baik&lt;/b&gt;. Mengapa demikian? Karena jelas, untuk menurunkan orang terbaring dengan tali dari atap butuh keseimbangan di setiap sisi agar si lumpuh tidak jungkir balik jatuh ke bawah. Satu saja tidak sinkron, maka bisa dibayangkan apa akibatnya. Bukannya sembuh, si lumpuh malah bisa terbanting dari atap dan menemui ajalnya seketika. sedikitnya ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari bagian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Kesombongan tidak akan pernah membawa manfaat apa-apa selain mendatangkan kerugian pada diri sendiri.&lt;/b&gt; &lt;i&gt;"Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan."&lt;/i&gt; (Amsal 16:18). Tuhan juga mengatakan bahwa pada saatnya nanti orang-orang yang sombong ini akan kena getahnya.&lt;i&gt; "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu."&lt;/i&gt; (Yesaya 2:11).Kita harus selalu membina hubungan baik dengan sesama kita dengan tulus. Ada saat dimana kita menolong, ada pula saat ketika kita butuh pertolongan mereka. Kita tidak akan bisa hidup sendirian, dan kesombongan akan merupakan tembok penghalang utama bagi kita untuk bisa memperluas hubungan dengan lebih banyak orang laig.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Untuk mencapai suatu keberhasilan dibutuhkan kerjasama yang baik dengan orang lain.&lt;/b&gt; &lt;i&gt;It takes a good teamwork to succeed.&lt;/i&gt; Tidak ada orang yang bisa selalu kuat dan sanggup mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Bayangkan jika sebuah gereja hanya terdiri dari satu pendeta tanpa adanya pengerja yang lain. Tanpa diaken, tanpa pengerja, pemusik, tim pendoa dan sebagainya, apa jadinya gereja itu? Sanggupkah satu orang merangkap semuanya itu? Tentu saja tidak.Tanpa kerjasama dengan orang lain maka akan sulit bagi kita untuk mencapai sebuah keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Dibutuhkan keseimbangan atau &lt;i&gt;balance&lt;/i&gt; dalam sebuah proses.&lt;/b&gt; Jika kita fokus hanya pada satu titik dan mengabaikan hal-hal lain, hidup tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik. Jika anda hanya membaca alkitab tapi tidak bekerja, atau sebaliknya hidup membanting tulang dari kemampuan diri sendiri tanpa ditopang firman Tuhan untuk menguatkan dan membimbing anda, itu tidak akan membawa hasil apa-apa. Jika anda hanya berdoa tanpa melakukan apapun, atau mengabaikan pentingnya doa dan hanya berjuang, itu pun akan sia-sia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah penting bagi kita untuk membangun &lt;i&gt;teamwork&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;solid&lt;/i&gt; atau kokoh dan terus memperluas &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; kita. Tanpa itu semua kita akan stagnan, berjalan di tempat dan tidak akan pernah bisa maju dalam segala hal. Kesombongan, menutup diri atau merasa diri paling hebat haruslah kita tinggalkan secepat mungkin agar kita bisa melakukan hal itu. Menjadi pribadi yang rendah hati, penuh kasih akan membuat kita bisa mengulurkan jabat persahabatan dengan lebih banyak orang tanpa terkecuali dan itu sangatlah menentukan arah kesuksesan kita ke depannya. Belajarlah dari kisah orang lumpuh dengan keempat temannya ini dan jadilah orang-orang yang sukses dengan &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; luas dan &lt;i&gt;teamwork&lt;/i&gt; kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Without extending your network and building a solid teamwork you won't go anywhere&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2601415273368924229?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2601415273368924229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2601415273368924229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2601415273368924229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2601415273368924229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/network-and-teamwork.html' title='Network and Teamwork'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3129770279153301376</id><published>2012-01-28T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T08:00:00.069-08:00</updated><title type='text'>Kualitas dan bukan Kuantitas</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Zakharia 4:10&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Who despises the day of small things?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kualitas" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kualitas-bukan-kuantitas.jpg" /&gt;Dunia percaya bahwa semakin besar atau semakin banyak itu artinya semakin hebat. &lt;i&gt;The more the merrier, the bigger the better. &lt;/i&gt;Ada banyak orang yang serabutan mengerjakan ini dan itu agar kelihatan hebat, tetapi akibatnya mereka tidak fokus dan tidak satupun yang hasilnya baik. Sementara ada banyak pula orang yang malas mengurusi satu atau dua orang saja. Buang-buang waktu, begitu pikir mereka. Ada banyak artis yang mementingkan berapa banyak jumlah penontonnya sebelum mereka menerima tawaran manggung. Seorang gitaris asal Amerika yang pernah saya temui berkata bahwa ia tidak peduli berapa jumlah penontonnya. &lt;i&gt;"I don't care if it's 5 or 10 people. As long as they enjoy my performance, I'll be delighted."&lt;/i&gt; katanya sambil tersenyum. Inilah sebuah sikap profesional yang bagi saya sangat indah didengar. Bagi saya sendiri jumlah tidaklah penting, karena bukan kuantitas yang saya cari melainkan kualitas. Saya akan mengajar dengan kualitas yang sama baik ketika muridnya berjumlah puluhan atau satuan. Satu orang atau sepuluh orang, saya tetap sama seriusnya dalam mentransfer ilmu mendidik mereka. Dalam kehidupan saya pun seringkali hal-hal kecil yang sederhana atau kelihatannya sepele tetapi bisa memberi makna luar biasa, baik dalam kehidupan di dunia maupun spiritual. Saya pernah menemukan sebuah ayat yang ditulis di pintu toilet. Singkat, namun ayat itu sungguh berbicara banyak kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang cenderung mementingkan kuantitas dibanding kualitas. Ironisnya ada banyak gereja atau pelayan Tuhan pula yang terjebak pada pemikiran seperti ini. Mereka akan bersemangat melayani ketika jemaat penuh, namun kehilangan gairah melihat bangku kosong. Gereja akan mulai berpikir serius jika jemaatnya banyak tetapi seadanya saja jika sedikit.Tuhan tidak mengajarkan atau menganjurkan kita untuk berpikir seperti itu. Kita tidak boleh memandang hina hal-hal kecil, karena seringkali berkat Tuhan pun dimulai dari sesuatu yang biasa, kecil dan kelihatan sepele. Bahkan kelemahan kita yang terparah sekalipun bisa dipakai Tuhan untuk menjadi lahan subur untuk menyatakan kuasaNya. Dan Tuhan sebenarnya senang dengan hal ini. Lihatlah sebuah ayat berikut:&lt;i&gt; "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat."&lt;/i&gt; (1 Korintus 1:27). Tuhan senang memakai hal-hal kecil untuk menunjukkan kebesaran kuasaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat perumpamaan tentang Talenta dalam Matius 25. Talenta dibagikan berbeda oleh sang tuan kepada tiga hambanya. Ada yang memperoleh lima, dua dan juga satu. Lalu perhatikanlah reaksi sang tuan ketika kembali. Kepada hamba dengan lima talenta dan dua talenta, sang tuan memberikan jawaban yang sama. &lt;i&gt;"Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."&lt;/i&gt; (Matius 25:21,23). Dari sini kita bisa melihat dengan jelas bahwa &lt;b&gt;talenta besar maupun kecil dihargai sama oleh Tuhan, selama keduanya bisa menghasilkan buah.&lt;/b&gt; Tuhan menghargai sama terhadap laba dua talenta dan lima talenta. Artinya jelas. &lt;b&gt;Tuhan tidak melihat kuantitas, melainkan kualitas.&lt;/b&gt; Dua talenta sekalipun akan sangat dihargai apabila kita melakukannya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Tuhan akan menghargai sangat besar setiap yang kita lakukan dengan serius dan penuh totalitas. Kita harus ingat bahwa Tuhan tidak melihat apa yang di depan mata, tapi melihat hati. (1 Samuel 16:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kita pun bisa meneladani Yesus dalam melakukan pelayananNya di dunia. Yesus tidak pernah memperhitungkan jumlah. KedatanganNya memang untuk menebus semua manusia, tetapi ribuan atau satu orang diperdulikan sama olehNya. Yesus pernah melakukan kotbah di atas bukit dihadapan orang banyak (Matius 5-7). Tapi tidak pernah menutup mata dari pribadi atau individu perorangan yang menjumpaiNya. Bahkan ketika muridNya berkurang, seperti yang kita baca dalam Yohanes 6:66, &lt;i&gt;"Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia"&lt;/i&gt;, Yesus tetap tidak merasa terganggu sedikitpun dalam menjalani tugasnya memenuhi rencana Allah. Dalam kitab Zakharia kita bisa pula melihat hal ini. &lt;i&gt;"Siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil.." "Who [with reason] despises the day of small things?"&lt;/i&gt; (Zakharia 4:10). Dan saya pun tersenyum membaca ayat dalam Zakharia ini, karena jelas disana dikatakan: &lt;i&gt;"Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam."&lt;/i&gt; &lt;i&gt;"Not by Not by might, nor by power, but by My Spirit, says the Lord of hosts."&lt;/i&gt; (ay 6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada diantara anda yang saat ini merasa down atau gagal karena jumlah yang dilayani sedikit atau terasa sulit berbuah? Atau adakah diantara anda yang saat ini merasa bahwa pekerjaan anda seolah terlau kecil atau sepele? Jika saat ini anda mengalami masa surut dalam pelayanan maupun pekerjaan, tetaplah bersyukur dan tetaplah melayani atau bekerja semaksimal mungkin dengan sepenuh hati. Biar bagaimanapun apa yang Tuhan pandang adalah hati anda, bukan jumlah atau apapun yang dipandang oleh mata dunia. &lt;i&gt;For God is not about the size. &lt;b&gt;Size is nothing; substance is everything&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;.&lt;/b&gt; Baik ketika anda melayani gereja kecil, sekolah minggu, atau melayani hanya satu orang saat ini, layanilah dengan segenap hati. Baik ketika anda menjabat direktur maupun cuma janitor, bekerjalah dengan sama baiknya. Jika kita setia dalam perkara kecil, Tuhan akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar pada waktunya.&lt;b&gt; Little things often lead to big things&lt;/b&gt;, itu harus selalu kita ingat. Tetaplah beri yang terbaik dari diri anda dalam hal-hal kecil, karena bukan kuantitas yang penting, melainkan substansi dan kualitas yang murni berasal dari hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Small is big when God's in it &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3129770279153301376?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3129770279153301376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3129770279153301376' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3129770279153301376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3129770279153301376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/kualitas-dan-bukan-kuantitas.html' title='Kualitas dan bukan Kuantitas'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-9066830141758346584</id><published>2012-01-27T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T08:00:03.332-08:00</updated><title type='text'>Menyikapi Kebebasan Secara Benar</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 1 Korintus 10:23&lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="menyikapi kebebasan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kebebasan.jpg" /&gt;Sejauh mana kita mengapresiasikan kemerdekaan? Tidak ada satupun orang yang mau terjajah, tetapi banyak orang yang bingung bagaimana menyikapi kemerdekaan. Banyak orang mengira bahwa kemerdekaan berarti bebas berbuat apa saja seenak perutnya tanpa mempertimbangkan apa-apa. Dan itulah yang terjadi di Indonesia persisnya setelah reformasi. Kata saling pengertian dan toleransi semakin lama semakin menghilang dari muka negara ini. Menyuarakan aspirasi tentu saja tidak salah. Itu hak setiap warga negara. Tapi sebuah kemerdekaan tanpa rambu-rambu jelas akan membahayakan bahkan menghancurkan, bukan saja diri kita tetapi juga orang banyak atau bahkan negara. Kemerdekaan yang dijalankan atas kepentingan pribadi atau golongan tanpa aturan sedikitpun akan menimbulkan banyak masalah. Bayangkan jika setiap orang merasa dirinya paling benar dan berhak menghancurkan yang tidak sepaham dengan mereka, apa jadinya negara ini? Seperti halnya belahan dunia lain, bangsa ini pun merupakan sebuah titipan Tuhan kepada kita yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Kita diijinkan untuk menikmatinya, tetapi jangan lupa bahwa ada tugas penting bagi kita untuk mengelola bumi dengan segala isinya dengan sebaik-baiknya, dan itu sudah digariskan Tuhan sejak pada awal penciptaan, seperti yang disebutkan dalam Kejadian 1:26,28. Bagaimana bentuk pertanggungjawaban kita kelak seandainya kita malah ambil bagian dari proses penghancuran dan pengrusakan bumi beserta orang-oragn yang tinggal di dalamnya hanya karena kita tidak tahu bagaimana menyikapi kemerdekaan atau kebebasan ini dengan benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan bukanlah berarti kita bisa melakukan apapun semau kita dengan seenaknya. &lt;b&gt;Sebuah kebebasan seharusnya bisa dipertanggungjawabkan dan dipakai untuk tujuan-tujuan yang konstruktif dan positif&lt;/b&gt;, bukan destruktif dan negatif. Sebuah kebebasan seharusnya membuat kehidupan di muka bumi ini semakin damai dan sejahtera, Kita bisa belajar dari apa yang dikatakan Paulus dalam surat 1 Korintus pasal 10. Paulus berkata: &lt;i&gt;"Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun."&lt;/i&gt; (1 Korintus 10:23). Dari ayat ini kita bisa dengan jelas melihat apa yang bisa kita jadikan sebuah dasar pertimbangan dalam menyikapi kebebasan, yaitu: &lt;br /&gt;1. Apakah kebebasan itu &lt;b&gt;bermanfaat bagi kita dan sesama&lt;/b&gt; atau tidak? &lt;br /&gt;2. Apakah kebebasan yang kita peroleh itu &lt;b&gt;membangun kehidupan kita dan orang lain&lt;/b&gt; atau tidak? &lt;br /&gt;3. Apakah itu &lt;b&gt;memberkati kota&lt;/b&gt; dimana kita tinggal atau malah membuatnya semakin kacau? &lt;br /&gt;dan tentu saja, kalau kita berbicara mengenai segala sesuatu yang berguna dan membangun, itu artinya kita pun harus mempertimbangkan satu hal lagi:&lt;br /&gt;4. Apakah kita &lt;b&gt;memuliakan Tuhan &lt;/b&gt;dengan cara kita menyikapi kebebasan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat poin ini sangatlah penting untuk dijadikan koridor dalam menyikapi arti sebuah kebebasan. Apalah gunanya kita melakukan sesuatu apabila itu malah membuat kita semakin menjauh dari Tuhan, semakin menghancurkan hidup kita atau menyengsarakan orang lain? Apakah kita harus tega menghancurkan hidup orang lain atau bahkan menghabisinya hanya demi memuaskan hasrat yang ada dalam diri kita? Itu bukanlah gambaran sikap yang diinginkan Tuhan dalam memberikan kemerdekaan atau kebebasan bagi umatNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah penting bagi kita untuk memperhatikan apa yang kita lakukan sehari-hari, apakah itu memberkati orang lain atau malah mengganggu? Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang kita anggap baik bagi diri kita tetapi itu ternyata mengganggu kepentingan orang lain atau bahkan merugikan mereka&lt;i&gt;. "apakah segala sesuatu yang kita lakukan itu memuliakan Allah atau tidak? "Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."&lt;/i&gt; (1 Korintus 10:31). Perhatikanlah bahwa adalah kewajiban kita untuk memuliakan Allah, Sang Pencipta kita dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Bukan hanya hal-hal tertentu, sebagian, tetapi dikatakan semuanya. Menyikapi kebebasan dengan cara-cara yang salah seperti memaksakan kehendak dengan cara-cara yang tidak baik, memusuhi orang lain, menghakimi, memupuk dendam, berusaha membalas kejahatan dengan kejahatan dan lain-lain akan membuat kita justru menjadi batu sandungan bukannya memuliakan Allah tetapi malah sebaliknya akan mempermalukan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus menyampaikan kesimpulannya secara sederhana tetapi sangat jelas dalam surat Galatia. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Galatia 5:13). Jangan pergunakan kemerdekaan atau kebebasan seenaknya sehingga kita merasa wajar untuk hidup dalam dosa atau melukis gurat dosa dalam diri kita dengan merugikan orang lain, tetapi hendaklah itu kita pergunakan untuk melayani atas dasar kasih. Alangkah pentingnya memiliki kasih sejati dalam hidup kita, yang akan mampu membuat pola pikir kita berbeda dari pola pikir dunia dalam menyikapi sebuah kebebasan. Petrus berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Petrus 2:16). Sebuah kehidupan yang merdeka seharusnya dipakai untuk menjadi hamba Allah yang mengasihi, yang akan memuliakanNya lebih lagi, dan bukan untuk berbuat berbagai kejahatan yang akan menghancurkan diri kita sendiri, keluarga kita dan orang lain. Kebebasan diberikan kepada kita bukan untuk membuat segalanya semakin buruk, tetapi justru agar kehidupan manusia bisa semakin baik. Hendaknya lewat diri kita orang akan bisa melihat seperti apa sebenarnya bentuk kebebasan yang sesungguhnya yang sesuai dengan firman Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sikapi kebebasan secara benar dengan penuh tanggung jawab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-9066830141758346584?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/9066830141758346584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=9066830141758346584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/9066830141758346584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/9066830141758346584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/menyikapi-kebebasan-secara-benar.html' title='Menyikapi Kebebasan Secara Benar'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6790401461404523764</id><published>2012-01-26T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-26T08:00:05.368-08:00</updated><title type='text'>Konsumtif vs Rasa Cukup</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 1 Timotius 6:8&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="rasa cukup" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/rasa-cukup.jpg" /&gt;Seberapa jauh kita bisa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki sekarang? Puji Tuhan jika anda termasuk orang yang bersyukur atas segala yang ada pada anda, meski mungkin ada di antara teman-teman yang masih hidup pas-pasan atau sering disebut orang dengan cukup makan alias pas-pasan. Kenyataannya dunia semakin cenderung mendorong sikap konsumtif untuk keluar. Berbagai iklan menggambarkan seolah-olah kebahagiaan pasti diperoleh jika membeli produknya, bahkan ada pula yang secara tidak langsung atau mungkin terang-terangan bahwa orang yang tidak membeli produknya adalah orang-orang yang ketinggalan jaman, kurang gaul dan sebagainya. Kita terus berusaha memiliki segala-galanya. Tidak pernah ada kata cukup buat kita, dan dengan demikian kita terus mengejar untuk memiliki lebih banyak lagi. Tawaran-tawaran kartu kredit di pusat-pusat perbelanjaan yang mendesak atau memaksa dengan sikap kurang sopan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. "Selamat siang pak, sudah punya kartu kredit dari bank A?" Jika anda menjawab sudah punya, mereka pun kemudian akan bertanya: "Pakai kartu kredit apa pak?" Ini bentuk-bentuk pemaksaan yang terus terang membuat saya cukup risih berhadapan dengan mereka. Ada pula yang menelepon menawarkan fasilitas ini dan itu, seperti yang baru saja saya alami. Bayangkan, saya harus membayar 2 juta rupiah untuk memperoleh fasilitasnya, dan itu ia katakan sebagai hadiah. "Tidak semua orang loh pak, hanya 30 orang saja, dan ini sudah saya siapkan. Bapak beruntung terpilih untuk memperoleh ini. Sayang lho kalau diambil orang lain. Dikirimnya ke alamat mana?" Wah, saya cuma geleng-geleng kepala saja mendengar ini dan merasa miris melihat bagaimana dunia terus berubah menjadi semakin materialistis, egois dan konsumtif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak orang yang berhutang demi memiliki &lt;i&gt;gadget&lt;/i&gt; tertentu. Itu bukan karena mereka memerlukannya, tetapi hanya sekedar agar tidak dianggap ketinggalan jaman, miskin atau tidak gaul. Ada yang terpaksa habis-habisan atau bahkan harus melakukan kecurangan agar bisa mengikuti gaya hidup sebuah lingkungan pergaulan kelas atas supaya terlihat hebat. Saya mengenal banyak orang yang punya pandangan seperti ini. &lt;b&gt;Semakin lama kita semakin sulit untuk merasa bersyukur atas segala yang kita miliki, semakin jarang kita mendengar kata cukup diucapkan dengan penuh sukacita.&lt;/b&gt; Dunia mengarahkan kita ke pola pikir seperti itu. Karena itulah kita perlu kembali melihat betapa pentingnya sebuah rasa cukup bagi hidup kita. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang kemaruk dan tidak pernah puas. Tuhan ingin kita menjadi orang yang tahu bersyukur di atas rasa cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Timotius, Paulus berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Timotius 6:6). Lihatlah bahwa hanya ibadah yang disertai rasa cukuplah yang akan memberi keuntungan besar. Sebaliknya ibadah tidak akan bermakna apa-apa apabila rasa tidak pernah puas terus mewarnai hidup kita sebagai pribadi-pribadi konsumtif yang hanyut dengan arus dunia yang semakin lama semakin buruk. Jika demikian, seberapa jauh sebenarnya kata cukup itu menurut Alkitab? Dari rangkaian ayat dalam 1 Timotius 6 ini kita bisa menemukan jawabannya. "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (ay 8). Makanan dan pakaian, keduanya adalah kebutuhan paling mendasar manusia yang seharusnya mendatangkan kata cukup jika sudah dimiliki. Tapi berapa banyak orang yang masih bisa bersyukur kalau cuma memiliki makanan dan pakaian? Kecenderungan manusia adalah kemudian melebarkan kedua kebutuhan vital ini di dalam balutan kemewahan. Makanan seperti apa? Baju merek apa dan gayanya bagaimana atau seharga berapa hingga berapa banyak koleksinya. Sesungguhnya Alkitab sudah mengingatkan kita bahwa setidaknya jika kita masih bisa makan dan tidak harus telanjang, itu artinya kita sudah layak untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Jika kita lupa akan hal ini kita tidak akan pernah bisa bersyukur. Lalu rasa tidak puas dan masih kurang akan terus menguasai diri kita. Ayat selanjutnya berkata: &lt;i&gt;"Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan."&lt;/i&gt; (ay 9). Inilah yang terjadi jika kita membiarkan diri kita untuk selalu mengejar kebutuhan-kebutuhan di luar kebutuhan utama. Karena memburu uang, kita bisa menyimpang dari iman, terjatuh dalam lubang-lubang dosa dan menjadi seorang hamba uang. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan&lt;i&gt; "cinta akan uang adalah akar segala kejahatan."&lt;/i&gt; (ay 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sedang menganjurkan kepada kita semua untuk menjalani hidup miskin. Tidak. Tuhan pun tidak bermaksud demikian. Apa yang diingatkan Tuhan adalah agar kita tidak menjadi orang-orang konsumtif yang tidak pernah puas, melainkan&lt;b&gt; menjadi orang-orang yang tahu berterimakasih, tahu mengucap syukur atas segala yang telah Tuhan berikan kepada kita.&lt;/b&gt; Sekecil apapun, berkat tetaplah berkat yang seharusnya kita ucapkan syukur atasnya. Jika kita melihat ayat 1 Timotius 6:10 diatas, kita bisa melihat bahwa bukanlah "uang" nya yang menjadi akar segala kejahatan melainkan&lt;b&gt; "cinta akan uang"&lt;/b&gt;. Mempertuhankan harta di atas segalanya termasuk di atas Sang Pencipta kita. Dan itulah akar dari segala kejahatan,&lt;i&gt; the root of all evil.&lt;/i&gt; Dan Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita mengenai bahaya akan hal ini. &lt;i&gt;"Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."&lt;/i&gt; (Lukas 16:13, Matius 6:24). Untuk menghindari terjebaknya kita dalam hal itu, kita harus belajar mengerti mengenai rasa cukup. Bukan terus tidak puas dan terus merasa kurang, tetapi mampu bersyukur atas apa yang kita miliki dengan rasa cukup. Dan itulah yang akan memberikan keuntungan besar bagi perjalanan hidup kita menuju keselamatan di ujung sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada 1 Timotius 6 di atas, selanjutnya kita diingatkan pula bahwa sebenarnay kita tidak membawa apapun ke dalam dunia, dan nanti kita tidak akan dapat membawa apa-apa ke luar. &lt;i&gt;"Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."&lt;/i&gt; (ay 7). Jadi buat apa semua itu kalau hanya bisa memberikan kenikmatan sesaat tetapi lalu menjauhkan kita dari kebahagiaan yang kekal? Tuhan Yesus pun mengatakan:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 16:26). Dalam surat Ibrani kembali kita diingatkan akan hal yang sama :&lt;i&gt; "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."&lt;/i&gt; (Ibrani 13:5). Jika Tuhan sudah berjanji untuk tidak sekali-kali membiarkan atau meninggalkan kita, mengapa kita harus terus merasa tidak puas dan tidak nyaman dengan apa yang kita miliki hari ini? Alangkah baiknya jika kita mulai belajar untuk mampu mencukupkan diri dengan segala apa yang ada pada kita saat ini dan senantiasa mengucap syukur atasnya. Kita harus melatih diri agar bisa memiliki rasa cukup dan tidak terus merasa kekurangan, dan itu sesungguhnya akan memberi keuntungan besar yang sangat penting buat masa depan kita kelak setelah masa di dunia ini selesai. Dimana letak anda saat ini? Apakah masih terpengaruh oleh budaya konsumtif seperti yang dipercaya dunia sebagai yang terbaik atau anda termasuk orang yang selalu bersyukur di tengah keterbatasan atau cukup-cukupan saja? Sekali lagi, Tuhan tidak menginginkan anda menjadi orang-orang yang miskin dan menderita di dunia, tetapi apa yang Dia inginkan adalah agar kita menjadi orang-orang yang tahu terima kasih dan tahu bersyukur atas berkat-berkat yang telah Dia berikan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berhentilah terus mengejar apa yang tidak kita miliki, mari fokus untuk bersyukur atas apa yang sudah ada pada kita saat ini&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6790401461404523764?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/6790401461404523764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=6790401461404523764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6790401461404523764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6790401461404523764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/konsumtif-vs-rasa-cukup.html' title='Konsumtif vs Rasa Cukup'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1457506637929011257</id><published>2012-01-25T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-25T08:00:03.167-08:00</updated><title type='text'>Knowing Our Own Potential</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Kisah Para Rasul 3:6&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mengetahui potensi" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/potensi.jpg" /&gt;"Ah, apa sih yang bisa saya buat pak, saya cuma tukang kebun yang sudah tua dan tidak punya cukup pendidikan.." demikian kata tukang kebun langganan saya pada suatu kali. Ia adalah seorang bapak tua berperawakan kecil dengan penampilan yang sangat sederhana. Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang kebun atau terkadang bertukang, sedang istrinya menerima cucian. Dengan kegiatan itu ia dan istri mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Mungkin pendapatannya terbilang kecil dibanding orang-orang yang bekerja di perusahaan atau kantor apalagi yang memegang jabatan-jabatan tinggi, tetapi ia sangat salah jika berpikir bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah ia masih sehat dan masih bekerja dengan amat sangat baik di usia senjanya? Bukankah ia masih bisa menghidupi keluarga termasuk anak, menantu dan cucunya yang tidak bekerja? Itu adalah sesuatu yang menurut saya sangat pantas dikagumi, dan karena itulah saya menaruh hormat yang sangat tinggi kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti bapak tukang kebun tadi, ada banyak orang yang berpikir sama bahwa mereka tidaklah bisa apa-apa. Bapak tukang kebun itu masih jauh mendingan karena ia masih berusaha bekerja dan hasilnya pun sangat baik. Ada banyak orang yang memandang dirinya dari sisi ketidakmampuan jauh lebih parah, dan itu sangatlah ironis. Mengapa? Sebab itu artinya mereka tidak menyadari potensi yang ada pada mereka, tidak tahu talenta, bakat atau kelebihan apa yang mereka punya dan tidak tahu apa yang menjadi tujuan hidup mereka seperti yang direncanakan Tuhan sejak semula. Kebanyakan dari mereka hanya duduk meratapi diri tanpa melakukan apa-apa. Belum apa-apa sudah merasa tidak mampu, tidak sanggup atau tidak layak. Bayangkan berapa banyak peluang yang kemudian mereka sia-siakan. Dan pada suatu kali ketika kesempatannya habis, apa yang harus mereka jawab ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban? Menyalahkan Tuhan karena merasa tidak sebaik orang lain? Itu yang dijawab oleh sang hamba dalam &lt;i&gt;perumpamaan tentang talenta&lt;/i&gt; (Matius 25:14-30) dan kita tahu bagaimana reaksi Tuhan setelahnya. (bacalah ayat 30 dari perikop ini). Ini adalah sesuatu yang patut kita renungkan. &lt;b&gt;Mengetahui potensi diri, memanfaatkan segala yang telah diperlengkapi Tuhan, berjalan seturut rencanaNya dan melakukan itu semua dengan sebaik-baiknya atas dasar kasih&lt;/b&gt; merupakan rangkaian dari apa yang seharusnya kita lakukan. Singkatnya, bukan menangisi apa yang tidak kita punya tetapi menyadari potensi diri kita sendiri dan mempergunakannya demi kemuliaan Tuhan. Itulah yang seharusnya kita lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar akan hal ini dari kitab Kisah Para Rasul pasal 3:1-10. Bagian ini menceritakan mengenai Petrus menyembuhkan orang lumpuh yang sedang duduk tepat didepan pintu masuk Bait Allah. Ketika itu Petrus dan Yohanes tengah berjalan menuju ke Bait allah menjelang waktu berdoa. Di luar Bait Allah tampaklah seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahir. Ia selalu diletakkan disana untuk mengemis kepada orang-orang yang hendak masuk ke Bait Allah. Melihat Petrus dan Yohanes, ia pun seperti biasa meminta sedekah. Apa yang ia minta adalah sedekah seperti halnya pengemis yang kerap kita jumpai dimana-mana. Sangatlah menarik melihat bagaimana respon Petrus dalam menanggapi bapak pengemis yang lumpuh itu. &lt;i&gt;"Tetapi Petrus berkata: "&lt;b&gt;Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah&lt;/b&gt;!"&lt;/i&gt; (Kisah Para Rasul 3:6). Langsung pada saat itu juga orang lumpuh itu diangkat naik oleh Petrus dan mukjizat terjadi. &lt;i&gt;"Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu."&lt;/i&gt; (ay 7b). Betapa senangnya hati orang lumpuh itu. Ia pun segera menikmati sesuatu yang sudah lama ia rindukan, lebih dari sekedar sedekah saja. Ia terus berjalan kesana kemari, melompat-lompat, bahkan ikut masuk ke dalam Bait Allah sambil terus memuji Tuhan. Dan hal itu pun menjadi kesaksian bagi semua orang yang melihat kejadian pada saat itu. &lt;i&gt;"Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya."&lt;/i&gt; (ay 8-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pelajaran penting yang tentunya bisa kita petik dari kisah ini. Salah satunya adalah mengenai pengenalan akan apa yang kita miliki. Marik kita simak sekali lagi jawaban Petrus.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu.."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Petrus tahu pasti apa yang ia miliki, dan ia tidak perlu mengeluh terhadap apa yang tidak ada padanya. Ia lalu memakai apa yang ada padanya untuk memberkati orang lain, dan ternyata itu jauh lebih indah daripada sedikit sedekah seperti yang diminta orang lumpuh tersebut. Bukan hanya sejumlah peser, tetapi mukjizat kesembuhan ternyata hadir dari apa yang dimiliki Petrus. Apa yang ia miliki adalah iman akan Kristus yang memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun di mata manusia. Dari kisah ini kita bisa melihat rangkaian yang saling berhubungan. Bermula dari &lt;b&gt;kepekaan terhadap sesama&lt;/b&gt; yang butuh pertolongan, lalu&lt;b&gt; pengenalan apa yang ada dan tidak ada pada diri kita&lt;/b&gt;, dan dari sana kita bisa&lt;b&gt; mempergunakan apa yang ada pada kita&lt;/b&gt; untuk memberkati sesama, sesuai talenta kita, kemampuan kita, keistimewaan kita, dengan &lt;b&gt;didasarkan oleh kasih&lt;/b&gt;. Petrus peduli terhadap penderitaan si orang yang sudah lumpuh sejak lahir. Orang lumpuh itu merasa hanya bisa bertahan hidup mengharapkan sedekah dari orang lain karena toh dirinya lumpuh, tidak bisa apa-apa. Tetapi Petrus mengalirkan kasih Tuhan kepadanya dengan memberi mukjizat kesembuhan. Tidak memiliki harta, emas dan perak bukanlah kendala sama sekali buat Petrus untuk memberkati orang lain dan menyalurkan kasih Kristus untuk memenuhi mereka. Ia tidak memakai alasan tidak punya harta untuk menjadi alasan tidak sanggup membantu orang lain. Petrus sangat peka terhadap penderitaan orang lain dan ia tahu pasti apa yang ia punyai. Lalu ia pergunakan itu untuk memberkati orang lain, yang tentu saja juga membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kesaksian itu dilihat oleh banyak orang, dan dengan sendirinya lewat perbuatannya ini Petrus menjadi saksi Kristus yang ternyata sanggup melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun bagi dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa dalam berbuat baik kita tidak perlu berfokus pada apa yang tidak kita miliki yang bisa menghambat kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kesalahan fokus pandangan ini akan membuat kita tidak menyadari apa yang ada pada kita dan karenanya kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain bahkan termasuk di dalamnya menolong diri sendiri. Ingatlah bahwa Firman Tuhan sangat tegas berkata: &lt;i&gt;"Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."&lt;/i&gt; (Yakobus 4:17). Oleh karena itu adalah sangat penting bagi kita untuk mengetahui potensi diri kita, mengetahui apa yang kita punya dan kemudian memakainya untuk memberkati orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak perlu mengeluh tentang apa yang tidak kita punya, tetapi pakailah apa yang kita punya untuk memberkati sesama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1457506637929011257?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/1457506637929011257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=1457506637929011257' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1457506637929011257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1457506637929011257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/knowing-our-own-potential.html' title='Knowing Our Own Potential'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7907296945739655271</id><published>2012-01-24T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T08:00:01.982-08:00</updated><title type='text'>Cap Buruk</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Keluaran 20:7&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="cap buruk" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/cap-buruk.jpg" /&gt;"Saya kecewa melihat orang-orang beratribut seolah mewakili sebuah agama tertentu tetapi perilakunya sangat memalukan. Mereka memberi cap buruk yang akan mengenai pemeluk kepercayaan yang sama, termasuk pula orang-orang seperti saya yang sama sekali tidak setuju dengan perilaku mereka itu." Demikian kata seorang teman yang gerah melihat berbagai teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengatas namakan sebuah kepercayaan. Dan ini sudah menjadi konsumsi berita sehari-hari. Aksi kekerasan, aksi teror dengan berbagai bentuk dan modus seolah mendapat pembenaran lewat berbagai alasan. Kasihan memang orang-orang yang tidak setuju terhadap perilaku mereka harus pula terkena getahnya. Hanya sekelompok yang berbuat, tetapi yang terkena bisa luas. Jika anda berpikir bahwa hal seperti ini hanya terjadi di luar kita, tunggu dulu. Dalam bentuk lain yang mungkin terasa tidak seekstrim itu, sebenarnya di kalangan orang percaya pun perilaku seperti ini juga terjadi. Hari ini saya melihat seorang pemuda yang memakai kalung salib membentak seorang pramuniaga di mal karena merasa terganggu. Itu dilihat oleh orang banyak. Pernah pula saya melihat mobil bertuliskan &lt;i&gt;"Jesus Inside"&lt;/i&gt; yang memelesetkan slogan "Intel Inside" justru ugal-ugalan di jalan. Perilaku-perilaku seperti ini pun sesungguhnya sama mencemarkan kepercayaan yang dianut, yang tentu saja akan mengenai orang-orang lain yang seiman. Cap buruk bisa mengenai semuanya secara luas, dan hal seperti itu sering terjadi di depan mata kita, atau jangan-jangan kita sendiri pun sudah menjadi batu sandungan secara tidak sadar. Lihatlah bagaimana sesama orang percaya saling curiga dan tarik menarik jemaat. Mereka menganggap gerejanya paling benar sedang yang lain salah bahkan sesat. Saya pernah juga bertemu dengan seseorang yang secara kasar memaksa saudara/i seimannya untuk pindah ke gerejanya. Ia dengan mudahnya menjelek-jelekkan gereja tempat lawan bicaranya bertumbuh bahkan berani membawa-bawa nama Tuhan, bertindak seolah-olah ia adalah Tuhan yang paling tahu dan berhak menghakimi. Bukankah ini pun merupakan bentuk teror dan perbuatan buruk yang sama saja? Itu artinya, di kalangan kita sendiri pun tidak tertutup kemungkinan berkembangnya perilaku buruk yang bisa mencemarkan orang-orang yang seiman terlebih memberi nama buruk buat Kristus di mata dunia. Hal seperti ini sangatlah tidak berkenan di mata Tuhan, dan sejak semula Tuhan sesungguhnya sudah mengingatkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat ayatnya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Keluaran 20:7). Ini adalah satu dari 10 Perintah Allah atau dikenal juga dengan &lt;i&gt;the&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Ten Commandments&lt;/i&gt; yang tentu saja sudah tidak asing lagi bagi kita. Menyebut nama Tuhan? Itu berarti berhubungan dengan ucapan yang keluar lewat suara atau kata-kata kan? Belum tentu, karena sebenarnya itu bisa pula tampil lewat atribut yang kita pergunakan, atau bahkan sebagai orang yang menyandang namaNya. Kita harus benar-benar memperhatikan sikap, perbuatan dan gaya hidup kita. Kita harus memperlakukan Tuhan dengan penuh hormat dan takut, dan sikap kita ketika menyandang namaNya akan menunjukkan seberapa besar hormat dan takut kita itu kepadaNya.&lt;b&gt; Jika kita menyebut atau merepresentasikan Tuhan secara sembarangan atau tidak benar, maka itu dipandang sebagai kesalahan&lt;/b&gt;, dan kita tahu konsekuensi yang harus kita pikul jika perbuatan kita dipandang Tuhan sebagai sebuah bentuk kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada itu, mari kita lihat sebuah ayat dalam Efesus berikut ini: &lt;i&gt;"kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera."&lt;/i&gt; (Efesus 6:15). Berkasutkan atau bersepatukan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, ini artinya bahwa ketika kita memakai atribut Kekristenan, Tuhan pun ingin kita memberitakan Injil yang membawa damai sejahtera dan keselamatan. Bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat perilaku, sikap dan gaya hidup kita. Itupun sungguh penting, malah mungkin jauh lebih penting ketimbang memberitakannya hanya sebatas perkataan saja. Jika Tuhan inginnya seperti itu, bukankah kita berlaku jauh sebaliknya ketika kita menunjukkan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji termasuk ketika kita mengenakan atribut-atribut yang menunjukkan siapa diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana atribut yang seharusnya? Atau apa yang sesungguhnya harus kita tunjukkan sebagai pengikut Kristus? Jawabannya hanyalah satu, yaitu &lt;b&gt;KASIH&lt;/b&gt;. Kasih akan membawa pengaruh penting dan menunjukkan sebuah perbedaan nyata dari sikap dan cara kita dalam memandang orang lain atau bahkan memandang hidup. Yesus berkata:  &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yohanes 13:35). Memakai atribut yang bergambarkan kekristenan tetapi melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji akan memberi pemahaman yang salah terhadap Tuhan. Itu akan mempermalukan Tuhan dan tentu saja hal itu akan dipandang sebagai sebuah kesalahan yang besar di mata Tuhan. Paulus pun menyinggung hal ini.&lt;b&gt;&lt;i&gt;  ".."Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (2 Timotius 2:19). Kemanapun kita melangkah, seharusnya kita ingat bahwa kita sedang membawa Kabar Sukacita kepada orang lain, kita membawa nama baik Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat kita.  Apakah itu lewat kata-kata, sikap, bahasa tubuh kita, perbuatan dan sebagainya, kita haruslah bisa menunjukkan sikap yang benar sebagai murid Yesus. Itu akan memberi kesaksian tersendiri kepada orang lain, dan lewat itu kita bisa memuliakan Tuhan dan dengan sendirinya bisa memberitakan Kabar Keselamatan yang akan jauh lebih bermakna ketimbang sekedar perkataan saja. Paulus mengingatkan kita: &lt;i&gt;"Karena telah ternyata, bahwa &lt;b&gt;kamu adalah surat Kristus&lt;/b&gt;, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia."&lt;/i&gt; (2 Korintus 3:3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa disaat kita berjalan dengan atribut-atribut tersebut, kita sesungguhnya sedang membawa nama Yesus kemanapun kita pergi. Baik atau tidak namaNya dikenal orang, benar atau tidak pemahaman orang tentang Dia, itu akan sangat tergantung dari gerak langkah kita, sikap, tindakan dan perbuatan kita sehari-hari ditengah masyarakat. Bagaikan seorang ayah yang bisa dikenal orang lewat sikap anaknya, demikian pula antara kita dengan Bapa. Oleh karena itu, marilah sekarang juga kita mulai mengalirkan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali, bertindak, berpikir dan berbuat atas dasar kasih, dan disanalah orang akan memperoleh pemahaman yang benar akan Kristus.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Marilah kita menyatakan kasih seperti yang diinginkan Tuhan, sehingga orang bisa mengenal pribadi Tuhan secara benar lewat diri kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7907296945739655271?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/7907296945739655271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=7907296945739655271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7907296945739655271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7907296945739655271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/cap-buruk.html' title='Cap Buruk'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5261260668751874683</id><published>2012-01-23T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T08:00:02.589-08:00</updated><title type='text'>Guru Sekolah Minggu</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 18:6&lt;br /&gt;================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="guru sekolah minggu" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/guru-sekolah-minggu.jpg" /&gt;"Kalaupun harus melayani, saya lebih memilih jadi guru Sekolah Minggu saja.. cuma anak-anak yang dihadapi, kan gampang.." kata teman saya pada suatu ketik dengan ringan. Benarkah mengurus anak-anak itu lebih ringan dibanding orang dewasa? Tidak juga, malah bisa lebih berat. Guru Sekolah Minggu dituntut bisa ekstra sabar dan mengerti dunia anak-anak. Mereka harus mampu menangkap perhatian anak dan membawakan pelajaran dengan cara bisa dimengerti anak-anak, tidak jarang mereka harus memberi contoh-contoh sederhana dengan cara-cara yang menyenangkan seperti bermain, bernyanyi dan sebagainya. Jika teman saya berpikir bahwa menjadi guru Sekolah Minggu itu cuma tugas ringan, kenyataannya banyak gereja yang justru kesulitan mencari kandidat yang terbaik. Apa yang sulit adalah mencari orang-orang yang benar-benar terpanggil, benar-benar takut akan Tuhan dan mau mendedikasikan pelayanan sebaik-baiknya terhadap anak-anak kecil yang polos dan lugu ini. &lt;b&gt;Tugas atau panggilan untuk membimbing anak-anak untuk mengenal Tuhan sejak dini sesungguhnya merupakan tugas yang sangat penting dan mulia. Dan Tuhan sendiri menganggap ini sangat penting, bahkan tanggung jawabnya pun ternyata dikatakan jauh lebih berat ketimbang mengajar orang-orang dewasa yang sudah memiliki nalar sendiri.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat kata-kata Yesus sendiri akan hal ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 18:6). Lihatlah betapa berat konsekuensinya. Adalah lebih baik, kata Yesus, untuk mengikat batu penggilingan saja di leher dan kemudian menenggelamkan diri ke laut ketimbang mengajar asal-asalan sehingga bisa menyesatkan anak-anak. Apalagi jika membuat mereka berbuat dosa. (ay 7). Menurut Tuhan, justru tidak sembarang orang bisa mengerjakan hal ini, gereja tidak boleh sembarangan dalam merekrut pekerja. Ada panggilan mulia yang dinilai sangat penting oleh Tuhan sendiri disertai dengan konsekuensi yang sangat berat pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sangatlah dinilai berharga di mata Tuhan. Lihatlah perikop pembuka Matius 18 ini. Ketika itu para murid bertanya &lt;i&gt;"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"&lt;/i&gt; (ay 1). Dan Yesus menjawab dengan memanggil seorang anak kecil sebagai peraga langsung di hadapan mereka, lalu berkata:&lt;i&gt; "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."&lt;/i&gt; (ay 3). Yesus kemudian melanjutkan &lt;i&gt;"Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."&lt;/i&gt; (ay 4-5). Dalam kesempatan lain Yesus juga pernah berkata: &lt;i&gt;"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."&lt;/i&gt;(Markus 10:15, Lukas 18:17). Bayangkan jika anak-anak kecil ini justru rusak di tangan kita. Dunia yang akan mereka isi setelah mereka dewasa adalah dunia yang jahat, kejam lengkap dengan segala penyesatan di dalamnya. Mereka harus dibekali dengan baik sedini mungkin agar memiliki cukup kekuatan dan iman untuk tetap hidup lurus di dalamnya. Tidaklah mengherankan apabila Tuhan memberi konsekuensi yang sangat berat apabila kerusakan ternyata berasal dari kita. Begitu besar arti anak kecil di mata Tuhan. Oleh karena itu kita tidak boleh membiarkan mereka menjadi rusak sejak kecil. Kita harus membimbing mereka, mengenalkan mereka kepada Kristus sejak dini agar mereka bisa bertumbuh dengan pengenalan yang baik dan rasa takut atau hormat akan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan ini bukan hanya berlaku untuk para guru Sekolah Minggu, tetapi juga bagi para orang tua. Ada banyak orang tua yang hanya mementingkan mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan dan pendidikan anak-anaknya tetapi kemudian mengabaikan pentingnya pengajaran akan firman Tuhan atau memperkenalkan pribadi Kristus secara benar kepada anak-anaknya. Atau mungkin mereka sudah mengajar, tetapi mereka sama sekali tidak memberikan keteladanan lewat contoh nyata dari sikap atau gaya hidup mereka sendiri. Anak kecil sama seperti buku tulis yang kosong, dan orang tua sangatlah berperan untuk menentukan tulisan-tulisan seperti apa yang akan mengisi buku itu. &lt;b&gt;Anak kecil cenderung mencontoh perilaku orang tuanya&lt;/b&gt;, itu malah lebih mereka perhatikan dan tiru ketimbang berbagai pengajaran secara teori saja. Mereka cuma anak kecil, tidak tahu apa-apa? Pandangan seperti ini sebaiknya kita ubah mulai sekarang, karena Tuhan tegas mengatakan bahwa kita tidak boleh menganggap remeh atau rendah anak-anak kecil. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 18:10). Jika pandangan&amp;nbsp; yang menganggap anak-anak kecil itu tidak apa-apa diabaikan dan diremehkan, maka sekali lagi, lebih baik mengikat batu kilangan di leher dan meenggelamkan diri ke laut daripada melakukan itu, karena konsekuensi penyesatan anak-anak ini sesungguhnya sangatlah berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajar atau memperkenalkan Kristus kepada anak-anak kecil bukanlah tugas yang ringan. Mereka tidak akan mengerti hanya dengan mendengarkan satu kali saja. Kita harus berulang-ulang menjelaskan kepada mereka agar mereka bisa menangkap dengan baik apa yang menjadi kerinduan Tuhan bagi mereka. Dan Alkitab sudah mengingatkan hal itu.&lt;i&gt; "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."&lt;/i&gt; (Ulangan 6:6-7). Mengajarkan berulang-ulang itu penting, tetapi itu tidak akan ada gunanya apabila tidak disertai dengan contoh teladan yang baik pula dari kita sendiri. Kembali Firman Tuhan pun menyatakan hal itu.&lt;i&gt; "Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu."&lt;/i&gt; (ay 8-9). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pengajar atau pekerja-pekerja yang terlibat dalam kegiatan Sekolah Minggu memerlukan keseriusan dan komitmen yang tinggi, bukan sekedar asal-asalan saja. Menjadi orang tua dari anak-anak kita pun demikian juga. Hari ini saya secara khusus memberi hormat kepada para guru Sekolah Minggu dan para orang tua yang sudah memegang komitmen mulia ini. Di tangan anda-lah terletak masa depan dari calon-calon pahlawan dan pemenang di masa depan ini. Apa yang anda berikan dan contohkan akan mengisi tiap lembar buku mereka. Saya juga mau mengingatkan, jika teman-teman ada yang terbeban untuk melayani anak-anak kecil ini, mengertilah dengan sungguh-sungguh betapa berharganya kepercayaan yang telah Tuhan berikan kepada anda. Mendidik dan membimbing anak kecil bukanlah urusan sepele dan tidak boleh dianggap remeh. Bagaimana mereka kelak di masa depan akan sangat tergantung dari bagaimana anda menyeriusinya hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ajarkan dan berikan keteladanan kepada anak-anak kita, karena mereka sangatlah berharga di mata Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5261260668751874683?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/5261260668751874683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=5261260668751874683' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5261260668751874683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5261260668751874683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/guru-sekolah-minggu.html' title='Guru Sekolah Minggu'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8603356929134780095</id><published>2012-01-22T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T08:00:04.461-08:00</updated><title type='text'>Figur Teladan (2)</title><content type='html'>&amp;nbsp;(Sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mari kita lihat figur Yesus. Dalam masa kedatanganNya di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan bukanlah sekedar teori saja, tetapi semua itu telah Dia contohkan secara langsung lewat cara hidupnya. Mari kita ambil sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: &lt;i&gt;"sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."&lt;/i&gt; (ay 28). Apa yang Dia ajarkan itu sudah Dia lakukan secara nyata. Lalu lihatlah saat Yesus berkata&lt;i&gt; "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu."&lt;/i&gt; (Yohanes 15:12) dan &lt;i&gt;"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."&lt;/i&gt; (ay 13). kita jelas bisa melihat sebesar apa kasihNya kepada kita. Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. Yesus sudah membuktikan diriNya sebagai sahabat yang sejati secara langsung lewat karya penebusanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya sampaikan kemarin, adalah jauh lebih mudah untuk menegur dan menasihati orang ketimbang menjadi teladan. Menjadi teladan berarti sikap kita haruslah sesuai dengan perkataan yang kita ajarkan. Ini adalah sebuah gambaran dari &lt;b&gt;kehidupan yang berintegritas&lt;/b&gt;, sesuatu yang sudah semakin langka untuk ditemukan hari ini. Menasihati, mengajar atau menegur itu tentu baik. Tetapi Tuhan menghendaki kita semua agar tidak berhenti hanya sampai disini, melainkan melanjutkan langkah kita ke jenjang berikutnya yaitu dengan menjadi teladan dengan memiliki karakter, gaya hidup, sikap, tingkahlaku dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang kita ajarkan, terutama hal-hal yang kita ketahui menjadi suara hati Tuhan seperti yang tercatat di dalam Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perhatikanlah Firman Tuhan berkata&lt;i&gt; "Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"&lt;/i&gt; (Titus 2:7) Lihatlah bahwa kita semua dituntut untuk bisa menjadi teladan di muka bumi ini. Sesungguhnya itu jauh lebih bermakna ketimbang hanya menyampaikan ajaran-ajaran lewat perkataan kosong. Sebagai orang tua, guru, abang, kakak, teman, rekan sekerja, saudara sepelayanan dan sebagainya, kita harus terus meningkatkan kualitas kita hingga sampai kepada sebuah tingkatan untuk bisa menjadi contoh atau teladan. Banyak orang yang mengira bahwa itu hanyalah tugas orang-orang dewasa atau berusia lanjut saja, tetapi Firman Tuhan berkata jelas bahwa tugas menjadi teladan pun merupakan sesuatu yang harus dilakukan sejak di usia muda. Sangat dianjurkan untuk bisa menjadi teladan di tengah lingkungan masyarakat sekitar, di tengah keluarga dan lain-lain, bahkan bagi orang-orang yang lebih tua sekalipun. Ayat berikut menunjukkan dengan jelas akan hal ini. &lt;i&gt;"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.&lt;b&gt; Jadilah teladan&lt;/b&gt; bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."&lt;/i&gt; (1 Timotius 4:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus rindu melihat kita tampil menjadi orang-orang yang mampu bercahaya di dunia yang gelap ini. &lt;i&gt;"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."&lt;/i&gt; (Matius 5:16) Dan itu tidak akan pernah bisa kita lakukan apabila kita tidak memiliki sikap yang pantas sebagai seorang teladan atau panutan. Menjaga kehidupan, perbuatan, tingkah laku dan sikap kita sesuai dengan Firman Tuhan merupakan jalan satu-satunya agar kita bisa menjadi terang yang bercahaya bagi orang lain dan bukan menjadi batu sandungan. Itu jelas tidak mudah, tetapi bukan tidak bisa. Kemauan dan keseriusan kita akan sangat menentukan, dan ingatlah pula bahwa ada &lt;b&gt;Roh Kudus&lt;/b&gt;, Sang Penolong Sejati yang akan selalu memampukan kita untuk berkarakter penuh integritas dan kuat. Seperti apa karakter yang kita tunjukkan hari ini? Apakah sudah menyerupai karakter Kristus yang penuh kasih terhadap semua orang tanpa terkecuali atau kita masih hidup egois, eksklusif, pilih kasih, kasar, membeda-bedakan orang bahkan masih melakukan banyak hal yang jahat? Apakah kita sudah sejalan dengan apa yang kita ajarkan atau katakan atau masih bertolak belakang? Apakah kita sudah menjadi teladan atau malah dinilai munafik? Sadarilah bahwa cara hidup kita akan selalu diperhatikan oleh orang lain. Anak-anak kita akan melihat sejauh mana kita melakukan hal-hal yang kita nasihati kepada mereka, teman-teman dan orang lain pun akan mampu melihat apakah kita layak menjadi teladan atau tidak. Yang pasti menjadi teladan adalah sebuah keharusan, sebuah panggilan yang wajib kita laksanakan. Seperti halnya Yesus dan Paulus, marilah kita terus melatih diri kita untuk menjadi teladan seperti yang dikehendaki Tuhan atas anak-anakNya di muka bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kita tidak bisa menjadi terang dan garam kalau kita tidak memiliki sikap yang pantas sebagai teladan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8603356929134780095?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8603356929134780095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8603356929134780095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8603356929134780095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8603356929134780095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/figur-teladan-2.html' title='Figur Teladan (2)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7891760631405451536</id><published>2012-01-21T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T08:00:01.669-08:00</updated><title type='text'>Figur Teladan (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;1 Korintus 4:16&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="teladan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/teladan-2.jpg" /&gt;Banyak orang yang bisa mengajar, tetapi sedikit yang bisa menjadi teladan. Dalam kamus bahasa Indonesia kata teladan didefenisikan sebagai "sesuatu yang patut ditiru atau dicontoh." Kepintaran mengajar dan luasnya pengetahuan yang dimiliki belum tentu menjamin seseorang bisa menjadi teladan. Sebaliknya seringkali kita menyaksikan orang-orang yang sederhana dan bersahaja, mungkin tingkat pendidikannya pun rendah, tetapi mereka sanggup bersinar menjadi teladan di mata orang lain bahkan bisa berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebanyakan orang pintar menasihati atau menegur, tetapi apa yang mereka tontonkan dari perilaku atau gaya hidup mereka sehari-hari justru menunjukkan sebaliknya. Ada banyak pula orang tua yang mengira bahwa mereka cukup mengajar anak-anaknya saja tanpa perlu menunjukkan keteladanan. Seorang rekan dosen bercerita mengenai temannya. Orang tua temannya ini adalah perokok dan suka minum minuman keras bersama rekan-rekannya. Sayangnya hal ini dilakukan ayahnya di rumah, sehingga sejak kecil ia terbiasa melihat perilaku ayahnya itu. Lucunya, sang ayah memang selalu melarang anaknya ikut-ikutan dan mengatakan itu tidak baik bagi kesehatannya, tetapi apa yang dilakukan sang ayah justru melanggar habis-habisan apa yang ia ajarkan. Tidaklah mengherankan apabila kemudian anaknya menjadi pemabuk dan gampang sinis memandang orang lain. Itu semua berasal dari pengalaman buruknya sejak kecil, dimana figur ayah yang seharusnya jadi teladan gagal melakukan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah menarik jika kita melihat bagaimana Paulus sanggup berkata tegas kepada jemaat Korintus untuk meneladaninya. Paulus berkata demikian: &lt;i&gt;"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"&lt;/i&gt; (1 Korintus 4:16). Kalimat ini sangatlah singkat, tetapi sesungguhnya sama sekali tidak ringan. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apa-apa dalam hidupnya sama sekali. Tapi tentu saja tidak seorang pun dari kita yang bisa membuktikan sebaliknya. Paulus memang merupakan sosok teladan yang luar biasa. Ia mengalami transformasi hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat setelah perjumpaannya langsung dengan Kristus. Kisahnya bisa kita baca dalam Kisah Para Rasul 9:1-19. Dari seorang pembunuh kejam dan penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan sampai ke Asia kecil. Tidak ada pesawat, mobil, bus atau travel waktu itu yang mampu mengantar orang ke tempat jauh dalam waktu singkat. Tidak ada pula sarana internet, teleconference dan sebagainya yang bisa mempermudah kita dalam berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, mungkin kita akan mudah stres, depresi dan labil diterpa kelelahan dan tekanan setiap harinya. Jika itu belum cukup, kita bisa tahu pula bahwa Paulus masih harus bekerja. Ia bekerja sebagai &lt;i&gt;"pembuat kemah"&lt;/i&gt; (Kisah Para Rasul 18:2-3), dan penghasilannya ia gunakan untuk &lt;i&gt;"membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani"&lt;/i&gt; (ay 20:34) dan juga untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Karena itulah Paulus kemudian bisa mengingatkan: &lt;i&gt;"&lt;b&gt;Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh&lt;/b&gt; kepada kamu, bahwa &lt;b&gt;dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah&lt;/b&gt; dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."&lt;/i&gt; (ay 35). Paulus mengajarkan sesuatu yang telah ia lakukan sendiri, sebagai contoh atau teladan yang sejalan dengan pengajarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi ciptaan baru di dalam Kristus seperti yang dikatakan dalam surat 2 Korintus 5:17 memang merupakan anugerah tak terhingga besarnya dari Tuhan. Tetapi biar bagaimanapun keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau benar-benar menghayati transformasi yang telah diberikan kepada kita atau tetap hidup dalam sifat-sifat buruk di masa lalu merupakan pilihan atau keputusan yang tergantung dari kita sendiri. Hidup akan selalu penuh dengan pilihan, kita harus terus mengambil keputusan demi keputusan. Paulus bisa saja tetap berlaku seperti sebelumnya, terus menyiksa dan membunuh meski ia sudah mengalami sendiri perjumpaan dengan Kristus, tetapi untungnya ia tidak mengambil pilihan itu. Ia benar-benar menghayati kemerdekaan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mengabdikan seluruh sisa hidupnya secara penuh untuk Tuhan. Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin akan mudah membuat kita kecewa atau patah apabila berada di posisinya. Tetapi tidak demikian dengan Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: &lt;i&gt;"Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah."&lt;/i&gt; (1 Korintus 4:11-13a). Kita bisa melihat sendiri bagaimana karakter Paulus dalam hidupnya setelah bertobat. Apa yang ia ajarkan semuanya telah dan terus ia lakukan sendiri dalam kehidupannya. Oleh sebab itu pantaslah Paulus menjadi seorang teladan dan ia pun berhak mengingatkan orang agar menjadikannya teladan tanpa ragu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7891760631405451536?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/7891760631405451536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=7891760631405451536' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7891760631405451536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7891760631405451536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/figur-teladan-1.html' title='Figur Teladan (1)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2047186701183785564</id><published>2012-01-20T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T08:00:04.765-08:00</updated><title type='text'>Hidangan dan Proses Penyajiannya</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Kejadian 39:5&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="makanan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/makanan-1.jpg" /&gt;Berapa banyak makanan yang dihidangkan tepat di hadapan anda apabila anda duduk di sebuah rumah makan Padang? Semua terlihat nikmat, dan kita pun sering kesulitan memilih mana yang hendak kita makan. Tadi siang saya mengunjungi sebuah rumah makan Padang dan mengalami sendiri sulitnya menentukan pilihan dari sekian banyak makanan lezat yang terhidang di atas meja. Di saat bingung memilih, saya tiba-tiba terpikir betapa panjangnya jalur proses hingga makanan itu bisa sampai ke atas meja. Peternak ayam bersusah payah membiakkan ayamnya lalu sampai ke pasar untuk dijual. Pihak restoran, rumah makan atau ibu rumah tangga membelinya, dan di dapur ayam itu akan bertemu dengan berbagai bumbu dan sayuran yang menempuh proses yang panjang pula. Sayuran ditanam petani dengan susah payah, di bawah terik matahari dan harus berhadapan dengan berbagai hama atau cuaca buruk yang berpotensi merusak hasil taninya. Jika ditambah lagi dengan ikan, para nelayan harus menempuh berbagai resiko ketika melaut. Tidak jarang gelombang tinggi atau malah badai mengancam mereka, dan tidak jarang pula mereka harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mendapat hasil tangkapan yang memadai. Ada supir yang bertugas mengantarkan produk ke pasar/supermarket hingga ke dapur, ada para pembantu dan koki yang bekerja memasaknya, ada penjual di pasar atau malah karyawan/karyawati supermarket yang siap membantu anda dalam membeli. Jika kita pikirkan, proses yang harus dilewati sungguhlah panjang. Kita mungkin hanya tahu beres, tinggal menyantap makanan lezat di atas meja saja, tetapi agar makanan itu bisa kita nikmati, selalu ada sebuah proses panjang yang melibatkan banyak orang di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu diingatkan untuk berdoa sebelum makan, mengucap syukur dan meminta agar apa yang kita makan diberkati Tuhan sehingga menjadi sumber tenaga, kesehatan dan kekuatan yang menjauhkan penyakit dari tengah-tengah kita. Sebuah ayat dalam kitab Keluaran berkata:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Keluaran 23:25). Itulah sebabnya mengapa kita harus berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Dan jika kita melihat ketika Yesus datang ke dunia, berkali-kali pula ia menunjukkan pentingnya mengucap syukur terlebih dahulu atas roti/makanan sebelum disantap. Bukan itu saja, tetapi alangkah baiknya apabila dalam doa kita itu kitapun mendoakan dan memberkati orang-orang yang terkait dalam proses panjang makanan itu. Mengapa? Sebab sebagai agen-agen Tuhan di dunia hari ini kita harus ingat tugas kita untuk menjadi saluran berkat dari Tuhan bagi orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat bacaan hari ini kita bisa melihat bahwa Yusuf bisa menjadi saluran berkat Tuhan atas Potifar. &lt;i&gt;"Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu &lt;b&gt;karena Yusuf&lt;/b&gt;, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang."&lt;/i&gt; (Kejadian 39:5). Ayat ini jelas menunjukkan bahwa kita bisa menjadi saluran berkat seperti halnya Yusuf atas Potifar. Potifar dikatakan diberkati Tuhan dan jelas disana disebutkan bahwa itu "karena Yusuf". Artinya lewat kita anak-anakNya yang percaya, Tuhan bisa memberkati orang lain. Kita bisa menjadi saluran berkat bagi banyak orang dan itu bisa kita lakukan dengan mendoakan orang yang memasak dan menghidangkan. Sayangnya banyak yang lupa bahwa sebenarnya butuh proses panjang agar makanan bisa terhidang dan melibatkan banyak pihak. Lupa bahwa mereka-mereka ini pun layak untuk kita doakan. Padahal apabila satu saja mata rantai itu terputus, makananpun tidak akan sampai ke atas meja kita dan kita tidak akan bisa menikmati sajian yang lezat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih sering cacian, prasangka dan tuduhan yang lebih sering keluar dari lidah ketimbang berkat bagi orang lain. Firman Tuhan sudah mengingatkan hal itu dalam banyak kesempatan, misalnya&lt;i&gt; "dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi."&lt;/i&gt; (Yakobus 3:10). Kita sering lupa bahwa untuk menjadi diri kita sekarang ada banyak orang yang memiliki peran penting di sepanjang perjalanan hidup kita. Adalah jauh lebih mudah untuk mengingat sesuatu yang buruk daripada mengingat jasa dan kebaikan orang lain. Petrus pun mengingatkan kita untuk terus memberkati, karena kita dipanggil untuk memperoleh berkat pula.&lt;i&gt; "Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, &lt;b&gt;hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat&lt;/b&gt;. Sebab:Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu."&lt;/i&gt; (1 Petrus 3:9-10) Kita diberkati untuk memberkati. Karenanya kita harus menjadi saluran berkat pula untuk menjangkau orang lain secara luas, tanpa terkecuali dan tanpa batas.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika esok anda melihat hamparan makanan lezat dihidangkan di depan anda, ingatlah bahwa semua itu butuh proses perjalanan yang panjang. Ada orang-orang yang sudah bersusah payah bekerja sehingga makanan lezat itu pun bisa terhidang di meja anda. Doakan dan berkatilah mereka yang terlibat di dalamnya, karena selain semua itu adalah hasil kerja mereka yang patut kita hargai, kita pun bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seperti Tuhan selalu memberkati kita, kita pun harus memberkati lebih banyak lagi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2047186701183785564?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2047186701183785564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2047186701183785564' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2047186701183785564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2047186701183785564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/hidangan-dan-proses-penyajiannya.html' title='Hidangan dan Proses Penyajiannya'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3715475005668394280</id><published>2012-01-19T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T08:00:02.381-08:00</updated><title type='text'>Benih dan Tanah</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 13:26&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="benih dan tanah" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/benihdantanah.jpg" /&gt;Sudah beberapa kali saya dan istri mencoba menanam mulai dari benih. Beberapa hari kami pun harap-harap cemas menanti apakah benih itu akan tumbuh atau tidak. Ada beberapa memang yang gagal, tapi kebanyakan berhasil. Betapa gembiranya melihat munculnya tunas kecil menyembul dari tanah, dan kemudian terus tumbuh membesar. Benih-benih sayuran itu kini sudah menunjukkan hasil yang cukup baik. Beberapa malah sudah siap petik. Menanam sendiri dari benih dan melihat hasilnya terasa jauh lebih menyenangkan dan lebih puas ketimbang membeli yang sudah jadi. Apa yang saya perhatikan selanjutnya bukan hanya benih yang tumbuh tunas dan menjadi tanaman itu saja, tetapi saya pun melihat bagaimana tanah bekerja. Tanah tidak bisa dan tidak akan pernah bisa memilih. Tanah akan menumbuhkan apapun yang kita tabur ke atasnya. Jika kita menabur benih buah maka buah yang akan tumbuh. Jika benih sayur, maka sayurlah yang tumbuh. Tidak akan mungkin benih sayur menjadi buah, tidak mungkin pula benih buah menjadi sayur. Kondisi tanah pun harus subur. Campuran antara tanah dan pupuk harus baik. Terlalu banyak pupuk akan membuat tanah menjadi panas, tanpa pupuk sama sekali pun benih akan sulit tumbuh. Tidak sulit untuk menanam, tetapi mudah juga tidak. Kondisi tanah, keadaan benih dan ketekunan kita merawat adalah hal-hal yang penting bagi keberhasilan kita dalam menanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perumpamaan dari Yesus mempergunakan ilustrasi mengenai mengenai benih dan tanah ini, yaitu dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum. (Matius 13:24-30).&lt;i&gt; "Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya."&lt;/i&gt; (Matius 13:24). Rasanya orang hanya akan selalu menaburkan benih yang baik di ladangnya, dan tidak akan pernah mau menabur benih yang bisa merusak lahan taninya. Apakah ada orang yang dengan sengaja menanam benih lalang atau tanaman liar? Tentu saja tidak. Tapi musuh bisa menaburkan benih yang tidak baik di sana. &lt;i&gt;"Tetapi pada waktu semua orang tidur, &lt;b&gt;datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 25). Perhatikanlah, tanahnya sama, tapi benih yang baik dan yang tidak baik keduanya bisa sama-sama tumbuh dengan subur. &lt;i&gt;"Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu."&lt;/i&gt; (ay 26). Lalu bagaimana akhirnya? &lt;i&gt;"Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: &lt;b&gt;Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 30). Tanah tempat tumbuhnya sama, kedua benih yang baik dan tidak sama-sama tumbuh subur, tapi pada akhirnya kita bisa melihat mana yang masuk ke lumbung dan mana yang berakhir dengan dibakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya tanah, demikian pula yang terjadi dengan pikiran kita. Pikiran kita ibarat tanah yang subur. Pikiran kita selalu menerima, memberi respon, menumbuhkan apapun yang ditabur masuk di dalamnya tanpa terkecuali, sama seperti tanah. Apakah itu baik atau buruk, apakah itu positif atau negatif, apakah itu bermanfaat atau merusak, apakah yang mengarah pada keselamatan atau menjerumuskan kita ke dalam jurang dosa, semuanya akan ditumbuhkan oleh pikiran kita tanpa terkecuali. Baik atau buruk, keduanya bisa tumbuh subur di pikiran kita. Itulah sebabnya kita harus mampu menguasai pikiran kita sebelum pikiran kita berbalik berkuasa atas diri kita. Jika kita menanam hal-hal yang tidak baik, misalnya pikiran negatif, pornografi, berprasangka buruk, menduga-duga, atau malah menghakimi orang lain dalam pikiran kita, maka itulah yang akan tumbuh subur dan merajai hidup kita. Jika kita menabur hal-hal seperti mengasihani diri berlebihan, menganggap diri rendah, kebencian, dendam, atau bahkan kutuk, maka itulah yang akan direspon pikiran kita. Dari benih yang kecil, itu akan tumbuh hingga kelak berbuah. Dan benih yang jahat akan menghasilkan tindakan-tindakan yang jahat pula. Firman Tuhan sudah mengingatkan &lt;i&gt;"Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."&lt;/i&gt; (Amsal 23:7) Dalam versi &lt;i&gt;King James Version&lt;/i&gt; dikatakan: &lt;i&gt;"For as he thinketh in his heart, so is he."&lt;/i&gt; Seperti yang kita pikirkan, demikianlah kita.  Kita bisa menjadi pribadi yang baik, kudus dan berkenan, atau sebaliknya menjadi pribadi yang buruk, penuh kebencian dan kepahitan,&lt;b&gt; semua tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur ke dalam pikiran kita.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu penting bagi kita agar selalu menanam hal-hal yang positif dalam pikiran kita. Paulus pun pernah mengingatkan hal ini dengan sangat jelas.&lt;i&gt; "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."&lt;/i&gt; (Filipi 4:8). Lihatlah bahwa kita dianjurkan untuk selalu mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang baik. Memandang dari sisi negatif akan membuat kita menjadi negatif pula, karena itulah yang akan ditumbuhkan oleh pikiran kita dan kemudian berbuah subur dalam hidup kita. Jika kita mengikuti pesan yang tertulis dalam Filipi 4:8 di atas, maka kita pun akan menuai persis seperti apa yang kita tanam, yaitu hal-hal yang benar, adil, mulia, suci, manis dan baik. Adalah sangat penting bagi kita untuk terus &lt;b&gt;menabur benih firman Tuhan dalam pikiran kita secara teratur&lt;/b&gt;, sehingga tidak ada lagi tempat atau celah bagi benih-benih negatif untuk bertumbuh di dalam pikiran kita dan merusak kita serta merampas kesempatan kita untuk menjadi bagian dari Kerajaan Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Allah adalah kasih, maka firman-firmanNya yang kita tabur tentu akan menumbuhkan kasih pula. Jika kasih yang tumbuh, maka lita pun akan penuh dengan buah kasih dan kebajikan. &lt;i&gt;"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."&lt;/i&gt; (1 Korintus 13:4-7). Semua inilah yang akan tumbuh dan semua ini akan membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang berkenan di mata Tuhan. Tidak ada tempat bagi hal-hal negatif di dalam kasih. Jika kita berbuah kasih, maka pikiran kita bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang siap menenggelamkan diri kita dan mengarahkan kita untuk hanyut semakin jauh dalam dosa. Selain itu, janganlah kita memenuhi pikiran kita dengan berbagai ketakutan atau kekhawatiran yang seringkali tidak beralasan dan belum tentu terjadi seperti yang kita takutkan. &lt;i&gt;"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." &lt;/i&gt;(Filipi 4:6). Jika ini kita lakukan maka hidup kita pun menjadi lebih indah sebab damai sejahtera Allah akan selalu hadir di dalam diri kita. &lt;i&gt;"Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."&lt;/i&gt; (Filipi 4:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menabur firman Tuhan dalam pikiran kita, menabur benih-benih yang baik disana, itu akan membuat kita kelak bertunas hal-hal yang baik pula. Jangan lupakan bahwa kita pun harus menaklukkan pikiran kita dalam Kristus agar tidak ada benih-benih negatif yang bakal tumbuh disana. Hal ini tepat seperti yang dilakukan pula oleh Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (2 Korintus 10:5b). &lt;i&gt;Control your mind and don't let your mind control you.&lt;/i&gt; Kita harus mampu mengendalikan pikiran kita, menabur hal-hal yang positif, yang baik dan yang benar sesuai firman Tuhan, serta menaklukkannya kepada Kristus. Marilah kita mengendalikan dan memperhatikan pikiran kita, sebab apapun benih yang kita tanam di dalamnya akan sangat menentukan tunas seperti apa yang akan tumbuh dari diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang tumbuh dalam pikiran kita tergantung dari benih seperti apa yang kita tabur di dalamnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3715475005668394280?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3715475005668394280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3715475005668394280' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3715475005668394280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3715475005668394280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/benih-dan-tanah.html' title='Benih dan Tanah'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1367730404618880479</id><published>2012-01-18T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T08:00:01.898-08:00</updated><title type='text'>Kesaksian</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Markus 5:19&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kesaksian" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kesaksian.jpg" /&gt;Buat saya selalu menyenangkan ketika mendengar pengalaman hidup dari tokoh-tokoh senior. Lewat pengalaman hidup mereka saya bisa belajar banyak dan itu selalu berguna untuk perjalanan hidup saya ke depan. Bagaimana mereka sukses, atau apa yang menyebabkan mereka jatuh, bagaimana mereka kemudian bangkit lagi dan berbagai pesan-pesan bijaksana dari orang yang sudah mengalami secara langsung. Mendengar kesaksian-kesaksian orang yang diubahkan Tuhan pun selalu memberi kekuatan dan berkat tersendiri bagi saya. Menurut banyak teman saya, bentuk kesaksian nyata seperti ini bagi mereka jauh lebih mengena ketimbang sesuatu yang hanya berdasarkan teori saja. Di balik sebuah kesaksian nyata itu ada bukti, dan manusia memang cenderung lebih percaya pada bukti ketimbang hanya mendengarkan pesan secara teoritis. Karena itu pula saya selalu membagikan pengalaman hidup saya sendiri kepada para murid saya. Bukan hanya yang baik-baik, tetapi juga yang buruk agar mereka bisa belajar dan tidak perlu terjatuh ke dalam lubang yang sudah pernah saya rasakan sebelumnya. Ketika banyak orang beranggapan bahwa mereka tidak punya apapun untuk dibagikan, sesungguhnya sebuah kesaksian kecil tentang kebaikan Tuhan dalam hidup pun bisa bermakna sangat besar bagi orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kesaksian akan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup manusia akan mampu berbicara banyak mengenai kebaikan Tuhan. Sebuah kesaksian yang paling sederhana sekalipun bisa jadi malah akan lebih efektif ketimbang mengkotbahi orang panjang lebar tanpa disertai contoh yang nyata. Manusia biasanya akan lebih mudah menangkap ilustrasi dari sebuah kehidupan nyata dan akan lebih mudah mencerna hingga mengaplikasikannya ketimbang hanya disuruh menelan bulat-bulat segala sesuatu yang sifatnya teoritis saja. Sebuah pengalaman pribadi tentang sesuatu akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menggerakkan orang lain. Ada waktu-waktu dimana kita butuh mendengar berbagai kesaksian dari orang-orang yang mengalami mukjizat untuk menguatkan kita di saat kita tengah tergoncang akibat menghadapi beban hidup atau masalah.&amp;nbsp; Bisa jadi kita tahu banyak akan janji-janji Tuhan yang diberikan dalam Alkitab, tetapi kita merasa jauh dari janji itu ketika tengah menghadapi pergumulan. Itulah sebabnya berbagai kesaksian biasanya mampu menguatkan kita dan memulihkan iman kita untuk kembali dipenuhi pengharapan akan janjiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yesus pun mengerti akan pentingnya sebuah kesaksian. Kepada murid-muridNya Dia menyampaikan sebuah pesan terakhir sebelum terangkat naik kembali ke tahtaNya di surga. &lt;i&gt;"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan &lt;b&gt;menjadi saksi-Ku&lt;/b&gt; di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."&lt;/i&gt; (Kisah Para Rasul 1:8). Itu bukanlah tugas yang mudah. Kita diminta bertindak menjadi saksi Kristus baik di Yerusalem, yang berbicara mengenai "area jangkauan" kecil, di lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan, Yudea, bericara mengenai area lebih luas yaitu propinsi, mencakup kota-kota atau desa-desa di sekitar kota kita, Samaria, yaitu menjangkau saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus bahkan hingga ke seluruh bumi. Bersaksi bukan hanya tugas pendeta, dan Kita tidak harus menjadi pendeta terlebih dahulu untuk bisa bersaksi. Kita tidak perlu berpikir bahwa kita harus berkotbah panjang lebar di jalan-jalan untuk menjalankan tugas ini. Kita bisa melakukan itu dengan memberi kesaksian bagaimana campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita membuat perbedaan dalam kesempatan-kesempatan biasa ketika berkumpul bersama teman dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat betapa pentingnya memberi kesaksian itu di mata Yesus lewat sebuah kisah&amp;nbsp; &lt;i&gt;"Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa"&lt;/i&gt; (Markus 5:1-20). Dalam perikop ini diceritakan bagaimana Yesus mengusir orang yang tengah dirasuk roh jahat yang keluar dari area pekuburan. Begitu banyaknya roh jahat yang masuk ke dalam orang Gerasa itu, dikatakan sebagai sebuah legiun, hingga tidak ada satupun orang yang sanggup melepaskannya. Bahkan rantai sekalipun tidak cukup kuat untuk menahan. Adalah Yesus yang akhirnya turun tangan dan melepaskan orang Gerasa itu. Untuk mengungkapkan rasa syukurnya, si orang itu pun kemudian meminta agar ia diperkenankan mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi. Betapa menarik melihat reaksi Yesus selanjutnya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Markus 5:19). Perhatikan bahwa Yesus memintanya untuk kembali ke kampungnya, lalu bersaksi disana. Orang Gerasa yang disembuhkan itu pun kemudian patuh. "Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran." (ay 20). Apa yang ia alami adalah sebuah pengalaman luar biasa mengenai bagaimana Tuhan sanggup melakukan apapun dan betapa besarnya belas kasihan Tuhan. Itu akan menjadi sebuah kesaksian indah yang akan mampu memberkati orang-orang lain. Area Dekapolis terdiri dari 10 kota, dan dari ayat 20 kita bisa melihat bahwa orang yang disembuhkan itu ternyata berkeliling dari satu kota ke kota lain di Dekapolis untuk membagikan kesaksiannya. Kita tidak tahu berapa orang yang kemudian bertobat setelah kesaksian itu, tapi saya percaya ada banyak yang diberkati dan kemudian bertobat lalu memutuskan untuk menjadi orang percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesaksian adalah salah satu alat yang mampu membunuh iblis dan perbuatan-perbuatan jahatnya&lt;/b&gt;, dan Firman Tuhan sudah menyatakan hal itu. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Wahyu 12:11). Ini menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesaksian untuk menghancurkan jebakan, tipu muslihat iblis dan kuasa-kuasa kegelapan yang sangat ingin menggiring kita masuk ke dalam api neraka. Sebuah kesaksian tidak harus selalu berisikan mukjizat-mukjizat seperti kesembuhan sakit penyakit, pelepasan, pemulihan, berkat-berkat dan sebagainya. Sebuah kesaksian kecil mengenai bagaimana kita bisa tetap hidup dalam pengharapan di kala kesesakan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman di saat sulit, itupun bisa menjadi berkat yang memberi kekuatan tersendiri bagi orang lain. Tidak ada satu orangpun yang tidak punya kesaksian untuk dibagikan. Masalahnya adalah, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya? Bukan kemampuan kita berbicara atau ilmu&amp;nbsp; yang kita miliki yang dibutuhkan, tetapi pakailah kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesaksian yang paling sederhana pun bisa memberkati orang lain secara luar biasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1367730404618880479?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/1367730404618880479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=1367730404618880479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1367730404618880479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1367730404618880479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/kesaksian.html' title='Kesaksian'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4666802332583330553</id><published>2012-01-17T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T08:00:04.092-08:00</updated><title type='text'>Mengerti Firman Tuhan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Lukas 11:28&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mengerti Firman Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/mengerti.jpg" /&gt;Dua anjing dewasa sudah terdidik patuh, sekarang dua anaknya sedang kami didik untuk bisa patuh seperti mereka. Hasilnya sudah cukup lumayan di usia mereka yang masih kecil. Keduanya sudah pintar salaman, mengerti ketika dilarang, datang ketika dipanggil dan membuang kotorannya di tempat yang sudah disediakan. Betapa menyenangkannya melihat keempat anjing yang kami punya tidak merepotkan untuk dipelihara. Dan yang lebih menyenangkan lagi, mereka mengerti disayang dan tahu menyayang. Setiap saya pulang bekerja, mereka selalu menyambut dengan gembira dan membuat rasa lelah saya bisa hilang seketika. Ekornya bergoyang-goyang, mereka mengantri minta digendong dan dipeluk satu persatu sebelum akhirnya membiarkan saya untuk melakukan hal lainnya. Ini sesuatu yang rutin setiap hari, dan saya sulit membayangkan bagaimana sedihnya jika keempat anjing ini tidak ada dalam keluarga kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah menarik sebenarnya melihat bagaimana anjing bisa mempunyai rasa kasih dan kepatuhan atau ketaatan yang tinggi. Tapi semua itu tidaklah didapat secara instan. Anjing yang bisa berperilaku demikian biasanya sudah diajar untuk mengerti kata-kata sederhana yang kami pakai dalam melatih sejak kecil. Mereka pun awalnya juga pernah salah, dan setiap kesalahannya kami tegur sampai dia bisa mengerti hal yang baik dan buruk untuk dilakukan. Kami memilih untuk mengajar supaya mengerti bukan lewat hukuman, tapi justru lewat pujian yang kami berikan padanya ketika mereka melakukan hal yang baik. Dalam selang waktu tertentu, keempatnya pun menjadi anjing yang patuh, baik dan setia. Apa yang terjadi pada keempat anjing ini sebenarnya paralel dengan kita, manusia yang terus dibentuk Tuhan agar menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Kalau anjing saja bisa, seharusnya kita akan lebih mudah untuk mengerti karena kita memiliki hati nurani dan roh, yang tidak dimiliki oleh hewan. Tapi kenyataannya justru kita manusialah yang seringkali sulit untuk diatur atau diajar. Hati yang keras membuat kepala pun menjadi sekeras batu, sehingga bukan saja merugikan diri sendiri tapi bisa pula merugikan orang lain. Berulang kali Yesus menekankan pentingnya untuk mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bukan hanya sekedar membaca, bukan hanya sekedar tahu, tapi juga diminta untuk &lt;b&gt;mengerti &lt;/b&gt;dan kemudian mau &lt;b&gt;melakukan&lt;/b&gt; atau&lt;b&gt; menerapkan/mengaplikasikan&lt;/b&gt; dalam kehidupan sehari-hari. . Tanpa itu semua maka sia-sialah apa yang kita ketahui. Lihat bagaimana Yesus menegur beberapa orang Saduki karena mereka tahu isi, tapi tidak mengerti kitab suci. Hal demikian disebut Yesus dengan sesat. &lt;i&gt;"Yesus menjawab mereka: "&lt;b&gt;Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah&lt;/b&gt;!"&lt;/i&gt; (Matius 22:29). Orang Saduki ini adalah kelompok aristokrat Yahudi yang berkuasa di Yerusalem pada waktu itu. Mereka merupakan orang-orang yang menjabat sebagai imam besar dan biasanya bertanggung jawab terhadap ibadah yang dilakukan di Bait Suci. Saya yakin banyak diantara mereka yang hafal mati isi kitab Taurat. Tapi lihatlah bahwa mereka berhenti hanya sampai membaca dan menghafal saja. Perilaku mereka menunjukkan jelas bahwa mereka tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah yang terkandung di dalamnya. Mereka merasa diri paling benar dan berhak menghakimi siapapun yang berseberangan atau tidak sesuai dengan apa yang mereka anggap benar. Maka Yesus pun menegur mereka bahkan mengelompokkan mereka ke dalam kategori sesat. Apa yang jadi inti dari kisah ini sungguh jelas. Kita tidak boleh hanya berhenti sampai membaca atau mengetahui saja, tetapi haruslah mengerti tentang segala sesuatu yang kita baca mengenai Firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan nyata antara mengetahui dan mengerti. Orang yang mengetahui belum tentu mau melakukan, tetapi orang yang mengerti akan sesuatu biasanya akan tahu baik buruknya untuk patuh atau tidak. Orang yang mengerti akan melaksanakan apa yang telah mereka baca, karena mereka memang mengerti apa yang menjadi isinya. Dan inilah yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Ada banyak orang yang berhenti hanya sampai membaca, melakukan ritual atau tata cara/seremonial peribadatan dan malah beralih fokus dengan lebih mementingkan itu semua ketimbang berusaha mengerti secara sungguh-sungguh. Tidaklah heran apabila Yesus kemudian mengatakan mereka sesat, karena mereka sudah menyimpang dari apa yang seharusnya mereka lakukan dan mementingkan hal yang salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan berkata bahwa orang yang mau mendengar Firman Tuhan lalu memeliharanya sesungguhnya adalah orang-orang yang berbahagia. Ayat hari menggambarkan itu dengan jelas.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Lukas 11:28). Ddalam bahasa inggris dikatakan &lt;i&gt;"But He said, Blessed (happy and to be envied) rather are those who hear the Word of God and obey and practice it!"&lt;/i&gt; Artinya bukan saja mau mendengar, tetapi mau melanjutkannya dengan mematuhi dan menerapkannya dalam seluruh sisi kehidupan kita. Dan mengerti Firman jelas merupakan awal bagi kita agar bisa mencapai tingkatan seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam "perumpamaan tentang seorang penabur" pada Matius 13:1-23, kita bisa lihat bagaimana Yesus menjelaskan bahwa apa yang ditaburkan di tanah yang baik adalah orang yang mendengar firman, lalu mengerti akan firman itu. Dan karenanya, orang yang berlaku demikian akan berbuah berlipat ganda. Mari kita lihat ayatnya: &lt;i&gt;"Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan &lt;b&gt;mengerti&lt;/b&gt;, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."&lt;/i&gt; (Matius 13:23) Perhatikanlah bahwa mengerti akan membawa kita berbuah berlipat ganda. Dan disanalah kita bisa mengalami kebahagiaan yang sebenarnya dan juga diberkati, seperti aya Lukas 11:28 dalam versi bahasa Inggris di atas. Dengan kata lain, jika kita mau hidup bahagia dan hidup berbuah berlipat ganda, tidaklah cukup hanya membaca firman Tuhan, tapi juga harus mengerti, taat lalu melaksanakannya. Kita semua diminta untuk menjadi pelaku-pelaku firman.&lt;i&gt; "Tetapi hendaklah kamu menjadi &lt;b&gt;pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja&lt;/b&gt;; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri" &lt;/i&gt;(Yakobus 1:22). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa jika tidak demikian, itu artinya sama saja dengan menipu diri sendiri. Ketika&amp;nbsp; anjing bisa belajar dari pemiliknya untuk mengerti lalu patuh, taat dan setia, kita seharusnya bisa lebih baik lagi menerima pengajaran-pengajaran Tuhan, mengerti dengan baik, serta melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita melakukan semua itu, hidup yang bahagia penuh buah berlipat ganda pun akan siap untuk menjadi bagian hidup kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jangan hanya membaca dan mendengar, tapi mengertilah sungguh-sungguh akan Firman Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4666802332583330553?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/4666802332583330553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=4666802332583330553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/4666802332583330553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/4666802332583330553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/mengerti-firman-tuhan.html' title='Mengerti Firman Tuhan'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8743587103663897646</id><published>2012-01-16T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T08:00:09.161-08:00</updated><title type='text'>Sesuai Rencana Tuhan (2)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Amsal 16:9&lt;br /&gt;=================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="seturut rencana Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/seturut-rencana-Tuhan.jpg" /&gt;Kita tentu sudah tahu dengan sebuah pepatah yang mengatakan: manusia berencana, Tuhan menentukan. Dan ini memang benar adanya. Dari pengalaman kita sendiri atau orang-orang yang kita kenal tentu kita sudah berulang kali menyaksikan bahwa sehebat-hebatnya kita berencana, sematang-matangnya kita mengatur strategi, tetap saja kita tidak akan pernah sanggup melawan kehendak Tuhan. Meski biaya dan usaha yang sudah dikeluarkan jumlahnya tidak sedikit, namun akhirnya semua harus berakhir dengan kerugian jika ternyata itu tidak sejalan dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Saya termasuk orang yang pernah mengalami hal itu, bahkan berkali-kali. Hari ini saya menyadari sepenuhnya bahwa kita tidak akan pernah bisa melawan kehendak Tuhan tidak peduli sehebat apapun kita ini. Dan jika demikian, apa yang terbaik adalah dengan menjalani hidup seturut dengan kehendakNya, seperti yang sudah Dia rencanakan jauh hari, bahkan sebelum kita dilahirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan berkata &lt;i&gt;"mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya."&lt;/i&gt; (Mazmur 139:16). Kita dikatakan rencana Tuhan sudah dituliskan bagi kita bahkan jauh sebelum kita dibentuk. Ada rencana Tuhan yang indah, seperti yang kita lihat kemarin dalam Yeremia 29:11 yang mengatakan bahwa&lt;i&gt;: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu &lt;b&gt;rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Yeremia 29:11). Tuhan sudah merencanakan, dan apa yang Dia rencanakan bukanlah sebuah &lt;i&gt;planning&lt;/i&gt; yang acak-acakan atau sesuatu yang&lt;i&gt; random&lt;/i&gt;, bisa baik atau buruk, melainkan sesuatu yang penuh damai sejahtera dan menjanjikan hari depan yang penuh harapan. Berarti apa yang terbaik untuk kita jalankan adalah sesuatu yang tepat sesuai dengan rencana Tuhan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Amsal Salomo kita diingatkan bahwa &lt;i&gt;"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya."&lt;/i&gt; (Amsal 16:9). Ini adalah sebuah pernyataan yang menggambarkan bahwa sehebat apapun kita, kita tidak akan pernah bisa melawan kehendak atau rencana Tuhan. Kita bisa mencobanya, dan mungkin kita bisa mencapai sesuatu hingga tingkatan tertentu, tetapi biar bagaimanapun sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana Tuhan tentulah tidak sebaik seperti apabila kita berjalan sepenuhnya seturut kehendakNya. Hati atau pikiran kita bisa berpikir tentang jalan yang menurut kita terbaik, tapi di atas segalanya Tuhan tentu lebih tahu tentang kita. Itu jelas, karena Dia sendirilah yang "membentuk dan menenun" kita sejak dalam kandungan. Yesaya mengetahui benar hal itu dan berkata &lt;i&gt;"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu."&lt;/i&gt; (Yesaya 64:8). Sebagai Pembuat/Pencipta kita, atau saya lebih suka mengatakannya dengan Pendesain kita, tentu Tuhan lebih mengetahui segala sesuatu tentang kita. Dia jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk kita ketimbang apa yang kita anggap terbaik untuk kita. Dan itu semua adalah sebuah rancangan atau rencana yang indah, penuh damai sejahtera dan menjanjikan masa depan yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya tulis kemarin, agar kita tidak melakukan sesuatu sia-sia, yang terbaik tentu adalah mengetahui apa yang menjadi rancangan Tuhan buat kita, kemudian berjalan sesuai itu. Kita tidak akan pernah bisa mengetahui itu apabila kita tidak bertanya kepadaNya, yang terlebih dahulu harus dimulai dengan membangun keintiman dengan Tuhan lewat ungkapan syukur, pujian, ketaatan dan doa-doa kita. Selain dari pada itu, kita harus pula memiliki sikap hati yang lembut dan mau dibentuk. Paulus telah mengingatkan agar kita agar tidak mengeraskan hati dan mau membiarkan Allah untuk membentuk dan mengajar kita. Menjadi ciptaan baru, itu bahasanya Paulus, akan memampukan kita untuk bisa mengetahui apa yang menjadi kehendakNya.&lt;i&gt; "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."&lt;/i&gt; (Roma 12:2). Sebuah transformasi menyeluruh sudah disediakan Tuhan dalam Kristus. Paulus sudah mengalami hal itu. Lantas apa yang Tuhan sediakan bagi kita? Alkitab menyebutkan sesuatu yang terdengar sangat hebat. &lt;i&gt;"Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."&lt;/i&gt; (1 Korintus 2:9-10). Dan sesungguhnya &lt;i&gt;"..Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah."&lt;/i&gt; (ay 10). Itulah sebabnya kita juga dipanggil untuk hidup dalam roh seperti yang disampaikan Paulus dalam Roma 8. Roh Kudus bisa membuka mata kita untuk mengetahui segala panggilan dan rencana Tuhan bagi kita masing-masing. Tanpa adanya hubungan yang baik dengan Tuhan, niscaya kita tidak akan pernah tahu apa yang terbaik yang telah Dia sediakan, bahkan mungkin kita tidak akan pernah tahu hingga hidup kita di dunia ini berakhir kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita boleh berencana apapun, tetapi lebih dari segalanya, jalan dari Tuhan pasti tetap yang terbaik. Sudahkah kita bertanya kepadaNya apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita? Sudahkah kita mengetahui itu, dan menjalani semua seturut dengan kehendakNya? Kita bisa merencanakan apapun dengan kemampuan kita, namun ingatlah bahwa Tuhan sudah memiliki rancanganNya sendiri bagi kita, sebuah rancangan damai sejahtera, bukan kecelakaan, yang menjanjikan kita hari depan yang penuh harapan. Dan itulah yang terindah dan terbaik bagi kita. Tidak akan ada yang sebaik jalan Tuhan, karenanya mulai sekarang temukanlah apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk anda. Pastikan bahwa apa yang anda lakukan hari ini adalah tepat seperti rencana Tuhan bagi hidup anda, dan berjalanlah dengan ketaatan didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berjalan sesuai rencanaNya adalah yang terbaik bagi kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8743587103663897646?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8743587103663897646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8743587103663897646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8743587103663897646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8743587103663897646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/sesuai-rencana-tuhan-2.html' title='Sesuai Rencana Tuhan (2)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6884283263893744080</id><published>2012-01-15T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T08:00:01.007-08:00</updated><title type='text'>Sesuai Rencana Tuhan (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yeremia 29:11&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="sesuai rencana Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/menemukan-rencana-Tuhan.jpg" /&gt;Lucu sekaligus miris melihat seorang teman saya yang sepanjang hidupnya terus berganti-ganti usaha. Hari ini jadi musisi, besok cetak sablon, lalu lusa mau belajar yang lain. Kuliahnya ditinggalkan, ia terus berganti "rupa" tapi tidak satupun yang ia tekuni untuk waktu lama. Seketika ia menjalani sesuatu, seketika itu pula ia kembali banting setir. Jelas terlihat bahwa ia tidak tahu harus melakukan apa dalam hidupnya. Ia kebingungan karena tidak tahu tujuan hidup sendiri. Ada banyak lagi teman saya yang seperti ini. Ketika kita yang sudah bekerja sesuai panggilan seringkali mengeluh karena usaha atau pekerjaan kita belum menunjukkan hasil yang signifikan sesuai dengan keinginan kita, seharusnya kita bisa lebih bersyukur karena setidaknya kita sudah mengetahui panggilan kita. Itu tentu jauh lebih baik ketimbang kita sama sekali tidak tahu kemana kita harus melangkah dan harus berbuat apa dalam hidup ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup, saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa apa yang penting bagi kita adalah mengetahui rencana Tuhan dalam hidup kita. Jika kita berjalan sesuai rencanaNya, maka keberhasilan hanyalah tinggal soal waktu saja. Mengapa? Karena kita berjalan dengan rencana Tuhan, dan Tuhan sudah mengatakan dengan jelas bahwa Dia punya rencana yang indah bagi kita semua, sesuatu yang penuh harapan bagi hari depan kita. Lihatlah ayat berikut ini: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yeremia 29:11) Dari ayat ini kita bisa melihat apa yang disediakan Tuhan sesungguhnya begitu luar biasa indahnya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Not only beautiful, it also contains a promise of better future&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Betapa sayangnya apabila kita melewatkan rancangan yang terbaik ini dalam perjalanan hidup kita. Ada banyak orang yang belum mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup mereka. Akibatnya kerap mereka melakukan keputusan-keputusan yang keliru, tergesa-gesa dalam melangkah dan akibatnya merugikan mereka, baik dari segi waktu, kesempatan, modal dan lain-lain. Di sisi lain ada banyak pula yang tidak kunjung berani mengambil keputusan apapun karena selalu dicekam rasa takut. Mengetahui rencana Tuhan akan membuat kita bisa melangkah dengan berani dan penuh keyakinan selama disertai dengan iman yang teguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bagaimana agar kita bisa mengetahui rancangan Tuhan terhadap kita? Mari kita lihat ayat berikutnya dalam kitab Yeremia tadi.&lt;i&gt; "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu."&lt;/i&gt; (ay 12). Artinya, berdoalah, dan mintalah kepada Tuhan untuk menunjukkan apa yang menjadi rencanaNya bagi kita. Tuhan akan selalu mendengarkan kita. Kemudian ayat berikutnya:&lt;i&gt; "apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN."&lt;/i&gt; (ay 13-14a). Tuhan tidak pernah ingin menjauhkan diri dari kita. Justru Dia rindu untuk selalu berada di dekat kita. Dia akan selalu terbuka untuk ditemui, kapan saja, dimana saja. Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk itu. Apabila memang kita merasa berjarak dari Tuhan, itu bukan karena keinginanNya tetapi disebabkan oleh kejahatan dan dosa-dosa yang kita lakukan. (Yesaya 59:2). Jika kita sudah membereskan semua ganjalan itu maka Tuhan pun akan kembali bisa kita temukan dengan mudah. Kita bisa setiap saat bertanya kepadaNya apa yang menjadi rencanaNya bagi kita, apa yang harus kita lakukan, dan meminta hikmat untuk menerangi akal pikiran kita untuk bisa mengetahui rancanganNya. Dan itu akan membuat kita lebih terarah dalam menjalani hidup, &lt;b&gt;berjalan tepat sesuai dengan rencana yang telah Dia gariskan sejak semula.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan pun berkata: &lt;i&gt;"Kita tahu sekarang, bahwa &lt;b&gt;Allah turut bekerja dalam segala sesuatu&lt;/b&gt; untuk &lt;b&gt;mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia&lt;/b&gt;, yaitu &lt;b&gt;bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Roma 8:28) Allah berjanji untuk selalu turut bekerja dalam segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi kita, orang-orang yang mengasihi Dia, yang berjalan sesuai dengan rencana Allah. Itu sebuah janji akan penyertaanNya dalam penggenapan rencana Tuhan dalam hidup kita. Di saat kita sudah mengetahui apa yang menjadi rencanaNya, di saat itu pula kita bisa melakukan yang terbaik untuk itu, dan selalu mempersembahkan ucapan syukur kita kepadaNya. Disanalah kita tidak lagi perlu takut menghadapi rintangan apapun. Disanalah kita bisa dengan iman berkata: Mengapa saya harus takut? Bukankah saya berjalan seturut rencanaNya dan menjalaninya&amp;nbsp; bersama dengan Tuhan? Dan disanalah kita akan mengalami hal-hal yang luar biasa yang telah Dia sediakan sejak semula. &lt;i&gt;That's the time when we can experience the impossible, the unthinkable, simply because we are walking as the way He planned, not our plan. We can go boldly with Him without fear no matter what lies ahead.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat indah, kepada setiap anak-anakNya Tuhan sudah menyediakan rancangan damai sejahtera lengkap dengan janji akan hari depan yang penuh harapan. Adalah penting bagi kita untuk menangkap apa yang menjadi rencanaNya, dan berjalanlah di dalamnya. Tuailah semua yang dirancangkan atau direncanakan Tuhan pada diri anda dan jadilah orang yang sukses. Menjadi kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, (Ulangan 28:13) itu merupakan kerinduan Tuhan untuk dimiliki oleh kita semua anak-anakNya. Ketika anda melakukan hal ini, anda akan melangkah dari satu kemenangan kepada kemenangan berikutnya, bahkan yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh anda sekalipun. &lt;i&gt;"Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."&lt;/i&gt; (1 Korintus 2:9). Apapun yang menjadi bagian anda, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Anda tidak akan perlu diliputi rasa takut lagi meski ketika berhadapan dengan kesulitan sebesar apapun, dan anda bisa dengan yakin berusaha sebaik yang anda bisa. Sudahkah anda menemukan rencanaNya dalam hidup anda? &lt;b&gt;&lt;i&gt;Find His will, and let Him take you from glory to glory. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berjalan seturut rencana Tuhan membawa kita ke dalam kemenangan demi kemenangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6884283263893744080?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/6884283263893744080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=6884283263893744080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6884283263893744080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6884283263893744080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/sesuai-rencana-tuhan-1.html' title='Sesuai Rencana Tuhan (1)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2401685476629034931</id><published>2012-01-14T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-14T08:00:00.940-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Seorang Teladan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Titus 2:7&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="menjadi teladan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/teladan-1.jpg" /&gt;"Kita tidak bisa hidup selamanya. Pada suatu waktu nanti kita akan menutup perjalanan di bumi ini. Oleh karena itulah penting bagi saya untuk membagikan skill dan ilmu yang saya miliki kepada generasi selanjutnya." Demikianlah kata seorang gitaris terkenal asal luar negeri hari ini dalam wawancara saya dengannya. Sejauh mana? Tanya saya. "Sejauh yang saya bisa bagikan, tanpa dikurangi, tanpa dilebihkan." &lt;i&gt;No more, no less&lt;/i&gt;.. katanya. Bagi saya itu adalah sesuatu yang baik untuk dijadikan teladan, karena ada banyak orang yang lebih suka untuk menyembunyikan sesuatu yang istimewa dari dirinya. Mereka hanya membagikan 40-50% saja dari pengetahuan mereka, karena mereka tidak ingin ada orang yang tahu sebanyak mereka apalagi kalau nanti melebihi mereka. Bisa dibayangkan jika setiap generasi berpikir seperti ini, apa jadinya beberapa generasi selanjutnya? "Generasi muda saat ini berkembang begitu hebat. Bahkan ada yang sudah bermain dengan sangat baik di usia kecilnya. Apabila saya membagikan ilmu dan pengalaman saya kepada mereka, maka anak-anak ini akan tumbuh lebih baik lagi. &lt;i&gt;Isn't it great?&lt;/i&gt;" Kata si gitaris lagi. Dan saya pun kagum dengan semangatnya untuk tidak hanya berhenti memberikan penampilan baik di panggung dan di rekaman, tetapi juga menjalankan komitmennya untuk mengajar. Itu sebuah keteladanan yang sangat mencerahkan dan menggembirakan bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teladan artinya sosok yang patut ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain, menjadi role model. Dunia akan selalu butuh juga haus akan keteladanan untuk dijadikan pelajaran berharga agar lebih baik lagi kedepannya. Dalam sejarah dunia kita menemukan banyak teladan, dalam alkitab kita pun bisa menemukan banyak keteladanan ini. Pertanyaannya, ada berapa banyak sosok yang layak untuk diteladani di hari-hari ini? Kemudian satu lagi, &lt;b&gt;apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan&lt;/b&gt;? Ada banyak orang yang menolak dengan berbagai alasan. Mengapa harus saya? Biar orang lain saja kita teladani, kita tidak perlu sibuk untuk itu. Itu menjadi buah pemikiran banyak orang. Dan itu bukanlah sesuatu yang dianjurkan untuk menjadi pola pikir orang percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Ayat bacaan hari ini menyatakan salah satu firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha untuk menjadi teladan dalam hal berbuat baik.&lt;b&gt;"Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"&lt;/b&gt; (Titus 2:7). Kita bisa melihat disini bahwa proses pemindahan atau transfer ilmu dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidalah cukup. Kita harus mampu melanjutkannya sampai kita bisa mencontohkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya teori, tetapi haruslah disertai dengan proses pula. Jika kita hanya pintar mengajarkan tapi tidak pernah membuktikannya lewat hidup kita sendiri, itu artinya semua hanyalah teori kosong dan bohong belaka.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus merupakan contoh sempurna akan hal ini. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih dengan standar yang sungguh jauh dari apa yang dipandang dunia, tapi lihatlah bahwa Yesus tidak berhenti sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidupNya secara nyata. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: &lt;i&gt;"sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."&lt;/i&gt; (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Lalu di waktu berbeda Yesus berkata: &lt;i&gt;"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." &lt;/i&gt;(Yohanes 15:12). Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. &lt;i&gt;"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."&lt;/i&gt; (ay 13). Dan Yesus pun telah membuktikannya secara langsung pula. Inilah sebuah keteladanan yang sejati.Ini baru dua contoh dari banyak pesan Yesus yang tidak berhenti hanya pada perkataan saja melainkan disertai pula dengan bukti nyata. Berulang kali Yesus mengingatkan kita untuk meneladani Dia, itu artinya sangatlah penting bagi kita untuk menganggap serius hal itu.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus mengingatkan pula mengenai pentingnya keteladanan dalam pelayanan, seperti yang ia sampaikan kepada Timotius.&lt;i&gt; "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.&lt;b&gt; Jadilah teladan&lt;/b&gt; bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."&lt;/i&gt; (1 Timotius 4:12) Dari sini jelas terlihat bahwa sesungguhnya masalah menjadi teladan tidak hanya urusan orang-orang tua atau dewasa saja, tapi harus sudah diaplikasikan di usia muda pula. Perbuatan baik dalam ayat bacaan hari ini digambarkan Paulus dengan menjaga perkataan, menjaga tingkah laku, terus mengasihi, berlaku setia, dan hidup suci atau kudus.Kembali pada surat kepada Titus diatas yang berkata &lt;i&gt;"dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"&lt;/i&gt; (Titus 2:7), Paulus mengingatkan banyak hal juga. Kepada pria dinasihati untuk memiliki pola hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (ay 2). Sedang untuk wanita, Paulus mengatakan keharusan untuk "hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik." (ay 3). Disamping itu wanita pun diingatkan untuk mendidik perempuan-perempuan muda dan mengasihi suami dan anak-anaknya. (ay 4), hidup bijaksana dan suci, pintar mengatur rumah tangga, baik hati dan taat kepada suami. (ay 5). Lalu selanjutnya untuk orang muda, Paulus menasihatkan agar para pemuda-pemudi bisa menguasai diri dalam segala hal. Semua ini menunjukkan bahwa menjadi sosok teladan itu tidaklah gampang, tetapi itu adalah sesuatu yang wajib untuk bisa kita lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, Yesus pun mengingatkan kita agar menjadi teladan bagi banyak orang dimana Tuhan dipermuliakan. Terang Tuhan yang ada pada diri kita hendaklah bisa dipancarkan hingga bercahaya bagi banyak orang.&lt;i&gt;"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." &lt;/i&gt;(Matius 5:16) Ini pun bentuk gambaran dari bentuk keteladanan. Ingatlah bahwa banyak orang memperhatikan tingkah laku kita sebagai orang percaya. Jangan sampai kita tidak menjadi terang dan garam tetapi malah menjadi batu sandungan. Panggilan menjadi teladan sudah diberikan, maukah kita menaatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menjadi teladan sejak usia muda, itulah gambaran orang percaya yang diinginkan Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2401685476629034931?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2401685476629034931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2401685476629034931' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2401685476629034931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2401685476629034931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/menjadi-seorang-teladan.html' title='Menjadi Seorang Teladan'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5847746465522286934</id><published>2012-01-13T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T08:00:01.696-08:00</updated><title type='text'>Pembunuhan Karakter (2)</title><content type='html'>(sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Tuhan harus begitu keras akan hal ini? Mari kita coba renungkan bersama. Bukankah sama dengan membunuh ketika kita membuat orang menjadi sulit bertumbuh, sulit maju dan sulit berhasil akibat perkataan kita yang meruntuhkan mental mereka? Ucapan-ucapan seperti itu bisa berdampak besar bagi masa depan mereka, dan tidak jarang hal itu akan menghantui mereka seumur hidup. &lt;b&gt;Secara fisik mereka hidup, tetapi karakter mereka sesungguhnya sudah mati sejak lama.&lt;/b&gt; Karakter mereka bisa hancur lebur akibat hinaan kita atau kata-kata mengutuk yang kita keluarkan. Itu sama saja dengan terbunuh. Disamping itu, kita harus ingat pula bahwa manusia, siapapun itu, baik yang disengaja maupun tidak. Lalu perhatikanlah sebuah ayat dalam penciptaan manusia, dimana Tuhan berkata:&lt;i&gt; "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita..." &lt;/i&gt;(Kejadian 1:26). Jadi apabila kita mengatakan orang lain tolol, atau mengutuk mereka dengan berbagai kata-kata yang tidak pantas, bukankah itu artinya kita pun menghina Sang Pencipta, yang telah mendesain manusia seperti gambar dan rupaNya sendiri? Kemudian lihatlah bagaimana manusia itu di mata Tuhan, yaitu dikatakan&lt;i&gt; "berharga di mata-Ku dan mulia, dan AKu ini mengasihi engkau"&lt;/i&gt; (Yesaya 43:4). Ketika kita justru mengatakan sebaliknya terhadap pribadi seseorang, bukankah itu pun artinya kita menghina Tuhan pula? Dan lihatlah bagaimana Tuhan sampai rela mengorbankan Kristus untuk mati atas dosa-dosa kita atas dasar kasihNya yang begitu besar pada kita. (Yohanes 3:16). Jika demikian, tidaklah heran apabila Tuhan bertindak sangat keras terhadap perilaku seperti ini. Bukan saja hal itu sama dengan membunuh, dan Firman Tuhan sudah berkata &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 5:21) yang merupakan perintah Allah ke enam dari sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Musa, tetapi juga hal tersebut berarti kita bersikap tidak pantas terhadap Tuhan yang memandang manusia secara begitu istimewa.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amsal Salomo sudah mengingatkan pentingnya untuk menjaga mulut sejak semula. &lt;i&gt;"Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan."&lt;/i&gt; (Amsal 13:3). Kita bisa melihat pula peringatan dalam kitab 1 Samuel:&lt;i&gt; "Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji."&lt;/i&gt; (1 Samuel 2:3). Dari bibir, lidah dan mulut yang sama bisa keluar berkat dan kutuk apabila tidak kita jaga dengan baik. Jangan sampai itu kita lakukan. Yakobus mengingatkan &lt;i&gt;"Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi."&lt;/i&gt; (Yakobus 3:9-10). Manusia diciptakan menurut rupa Allah, dan ketika kita mengutuk sesama manusia, itu artinya kita sedang melakukan penghinaan besar kepada Allah. Dan itu akan berakibat fatal. Ganjaran hukumannya jelas yaitu berakhir di neraka yang menyala-nyala untuk selamanya. Dan itu sudah diingatkan kepada kita, sehingga tidaklah ada alasan bagi kita untuk mengaku tidak tahu akan hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya kita bisa mejaga mulut dengan baik dan dipergunakan untuk membangun bukan sebaliknya untuk menghancurkan orang lain.&lt;i&gt; "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari&amp;nbsp; mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." &lt;/i&gt;(Efesus 4:29). Perkataan kotor tidak akan pernah bermanfaat kecuali menghancurkan karakter orang lain dan membuat kita harus berakhir di api belerang menyala-nyala selamanya. Jika ada diantara teman-teman yang biasa mengatai orang atau anak/pasangan/keluarga sendiri atau teman, meski mungkin hanya dimaksudkan sebagai bercandaan atau sesuatu yang tidak serius sekalipun,&amp;nbsp; berhentilah sekarang juga. Mungkin perkataan itu tidak berarti apa-apa bagi kita, mungkin itu hanya ungkapan kekesalan sesaat saja, mungkin itu cuma cetusan spontan atau bahkan hanya bercanda, tetapi sadarilah bahwa bagi korban yang terkena hal itu bisa berdampak sangat berat. Di mata Tuhan itu sama saja dengan membunuh. Oleh karena itu, marilah kita jaga mulut kita dan memakainya hanya untuk membangun orang lain. Mari belajar untuk memuliakan Tuhan lewat ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menghina Sang Pencipta berarti keluar dari anugerah dan kasih karunia, berhati-hatilah dalam berkata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5847746465522286934?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/5847746465522286934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=5847746465522286934' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5847746465522286934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5847746465522286934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/pembunuhan-karakter-2.html' title='Pembunuhan Karakter (2)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-664717970593647408</id><published>2012-01-12T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-12T08:00:04.389-08:00</updated><title type='text'>Pembunuhan Karakter (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 5:22 (BIS)&lt;br /&gt;========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu, barangsiapa marah kepada orang lain, akan diadili; dan barangsiapa memaki orang lain, akan diadili di hadapan Mahkamah Agama. Dan barangsiapa mengatakan kepada orang lain, 'Tolol,' patut dibuang ke dalam api neraka." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="pembunuhan karakter" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/pembunuhan-identitas.jpg" /&gt;Bagaimana keluarga atau lingkungan di saat kita tumbuh sangatlah menentukan seperti apa jadinya kita kelak. Itu saya sadari sejak dahulu, tetapi hal itu menjadi jauh lebih terbukti setelah belakangan saya menemukan banyak orang yang mengalami kesulitan dalam hidupnya bukan karena mereka tidak pintar atau kurang mampu, tetapi justru karena image diri mereka sudah terlanjur rusak parah akibat banyak hal buruk yang mereka alami pada masa kecil atau masa pertumbuhan. Semakin lama hal ini mereka alami, maka semakin rusak pula image dirinya. Ada beberapa orang yang saya tahu berpotensi sangat besar, mereka bahkan bisa digolongkan jenius, tetapi sayangnya kerusakan image diri ternyata begitu parah sehingga mereka sulit untuk maju. Mereka tidak percaya diri, takut menghadapi orang atau situasi, belum apa-apa sudah menarik diri, dan karenanya mereka tidak kunjung bisa bersinar. Mental mereka lemah, mereka goyah dan bisa hancur tersenggol sedikit saja, dan setelah saya telusuri, rata-rata penyebabnya bermula dari ejekan atau hinaan yang mereka terima berulang-ulang di masa kecil. Ironisnya, kebanyakan pelakunya justru orang tua dan saudara sendiri. Orang tua terkadang bukan bermaksud merugikan anaknya, tetapi sering secara tidak sadar membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. "Dia tidak seperti kakaknya yang pintar..dia ini bandel.." Itu misalnya, dan itu sering kita dengar bukan? Kalau satu dua kali mungkin tidak apa-apa, tetapi ketika hal ini dikatakan berulang-ulang, itu akan membekas dan membawa cacat dalam gambar diri si anak. Direndahkan, disepelekan, selalu dipersalahkan, semua itu ternyata membawa masalah besar di kemudian hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mengira bahwa pembunuhan itu adalah sesuatu yang dilakukan hanya secara fisik semata, yaitu menghakhiri hidup seseorang dengan berbagai cara seperti menggunakan jenis-jenis senjata, racun, mencekik, memukul dan sebagainya. Itu semua memang termasuk membunuh. Tetapi ingat pula bahwa pembunuhan bisa pula dilakukan atas karakter atau gambar/image diri seseorang.&lt;b&gt; Pembunuhan karakter (character assasination) &lt;/b&gt;ini sama kejamnya dengan pembunuhan dengan menghabisi nyawa orang, karena meski mereka secara fisik masih ada di dunia, seringkali hidup mereka sebenarnya sudah berakhir secara mental. Bagaimana undang-undang Kerajaan berkata mengenai hal ini? Ternyata tegas dan keras. Menurut Firman Tuhan, sesungguhnya membunuh dalam bentuk apapun termasuk di dalamnya pembunuhan karakter akan mendapat ganjaran yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat ayatnya. &lt;i&gt;"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang &lt;b&gt;marah terhadap saudaranya harus dihukum&lt;/b&gt;; siapa yang berkata kepada saudaranya:&lt;b&gt; Kafir!&lt;/b&gt; harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: &lt;b&gt;Jahil!&lt;/b&gt; harus diserahkan ke dalam &lt;b&gt;neraka&lt;/b&gt; yang menyala-nyala."&lt;/i&gt; (Matius 5:22). Mari kita lihat ayat ini dalam versi BIS:&lt;i&gt; "Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu, barangsiapa &lt;b&gt;marah kepada orang lain, akan diadili&lt;/b&gt;; dan barangsiapa&lt;b&gt; memaki orang lain&lt;/b&gt;, akan diadili di hadapan Mahkamah Agama. Dan barangsiapa mengatakan kepada orang lain, &lt;b&gt;'Tolol,' patut dibuang ke dalam api neraka&lt;/b&gt;." &lt;/i&gt;dan versi English Amplified:&lt;i&gt; "But I say to you that everyone who &lt;b&gt;continues to be angry with his brother or harbors malice&lt;/b&gt; (enmity of heart) against him shall be liable to and unable to escape the punishment imposed by the court; and &lt;b&gt;whoever speaks contemptuously and insultingly to his brother&lt;/b&gt; shall be liable to and unable to escape the punishment imposed by the Sanhedrin, and whoever says, &lt;b&gt;You cursed fool! [You empty-headed idiot!]&lt;/b&gt; shall be liable to and &lt;b&gt;unable to escape the hell&lt;/b&gt; (Gehenna) of fire."&lt;/i&gt; Dari sini kita melihat bahwa Tuhan tidak menganggap sepele pembunuhan karakter dengan mengatai, memaki, menghina, menghakimi atau mengutuk orang lain. Mengatakan orang lain kafir itu akibatnya fatal. Mengatai orang dengan tolol, &lt;i&gt;cursed fool&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;empty-headed &lt;/i&gt;idiot, itu bisa membawa kita dicampakkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Ini sangatlah keras, dan tentu hal terserbut bukanlah tanpa sebab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-664717970593647408?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/664717970593647408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=664717970593647408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/664717970593647408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/664717970593647408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/pembunuhan-karakter-1.html' title='Pembunuhan Karakter (1)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2109595863160231589</id><published>2012-01-11T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-11T08:00:11.287-08:00</updated><title type='text'>Tetap Melayani</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Lukas 14:11&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="melayani Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/tetap-melayani.jpg" /&gt;Ketenaran dan kesuksesan sering membuat orang menjadi jauh dari Tuhan. Kita semua ingin berhasil dalam hidup, baik dalam karir, keuangan, rumah tangga dan sebagainya. Kita ingin bisnis dan pekerjaan kita berhasil, penghasilan meningkat, tetapi yang kerap terjadi, ketika semua itu kita peroleh kita pun menjadi lupa diri. Ada banyak orang yang kemudian menganggap mereka tidak lagi punya cukup waktu untuk dipakai berhubungan dengan Tuhan, sesuatu yang mungkin tadinya secara rutin dilakukan sebelum kesuksesan itu datang. Ironis sekali, tapi itulah yang sering terjadi. Karena itulah saya selalu kagum ketika bertemu dengan artis-artis yang sudah populer tetapi mereka masih tetap terhubung dengan Tuhan, bahkan beberapa di antara mereka masih rutin melayani di gerejanya masing-masing meski kesibukan dalam karir begitu menyita waktu. Seorang musisi muda yang terkenal pernah bercerita pada saya bahwa semua kesuksesan yang ia peroleh itu sungguh berasal dari Tuhan. "Saya sering berpikir, rasanya tidak mungkin semua ini bisa datang kalau bukan dari Tuhan. Terlepas dari ketekunan saya latihan dan mati-matian membangun karir, tidak akan ada satupun yang berhasil jika Tuhan tidak turut campur di dalamnya. Dia itu memang luar biasa.." katanya sambil menunjuk ke atas dan tersenyum. Saya mengenalnya sejak belum terkenal dan kini ia sudah menjadi satu nama yang hampir pasti diajak dalam konser-konser berukuran festival di negara kita. Dari dulu sampai sekarang, pribadinya yang ramah dan rendah hati tidak pernah berubah. Oleh karena itulah saya merasa kagum dan menaruh respek besar kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ia tampilkan benar-benar melawan kecenderungan yang sering terjadi. Sering kita melihat dalam perjalanan hidup para artis dan selebritis ada begitu banyak yang terjatuh pada berbagai macam dosa karena mereka terbuai akan kesuksesan, kemakmuran dan kekayaan mereka. Berkecimpung di dunia selebritis membuat saya sedikit banyak tahu bagaimana lifestyle yang tumbuh di kalangan selebritis seperti mereka. Ketika Tuhan memberkati mereka secara melimpah, banyak di antara mereka bukannya bersyukur dan menjadi lebih mengasihi Tuhan, tapi sebaliknya malah meninggalkan Tuhan dan terus semakin memperlebar jarak dengan bertambah subur dalam dosa. Tapi puji Tuhan, ada beberapa di antara mereka yang ternyata bisa tetap berani tampil beda di dunianya. Dan itu memang yang diinginkan Tuhan pula untuk dilakukan umatNya. &lt;i&gt;"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."&lt;/i&gt; (Roma 12:2). Sebagai anak-anak Tuhan kita harus berani bersikap jika pergaulan disekitar kita tidak baik. Bukannya ikut-ikutan tetapi tetap hidup lurus meski dunia sudah bengkok begitu parah. Apa yang harusnya kita lakukan adalah tetap bersikap rendah hati dan setia melayani Tuhan. Dalam keadaan biasa-biasa kita harus setia melayani Tuhan, apalagi ketika kesuksesan ada pada kita, dimana kita akan memiliki lebih banyak sumber daya untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan dan KerajaanNya. Inilah pilihan yang terbaik, apalagi ketika kita mempunyai kesempatan, kemampuan dan talenta untuk melayani dan menyatakan kemuliaan Tuhan dalam berbagai bidang. Ingatlah bahwa apapun yang kita buat bagi Tuhan, betapapun kecilnya, akan sangat berharga di mataNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus mengingatkan kita: &lt;i&gt;"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."&lt;/i&gt; (1 Korintus 15:58). Tidak akan pernah sia-sia di mata Tuhan, meski mungkin dunia memandang apa yang kita lakukan itu begitu kecilnya dan tidak berharga. Lihatlah bahwa kepada kita semua sudah diberikan karunia-karunia tersendiri. Itu bukan untuk dipakai sendiri, bukan pula untuk disombongkan, tetapi justru itu semua seharusnya dipergunakan demi kemuliaan Tuhan.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Petrus 4:9). Melayani orang lain sesuai dengan karunia dari Tuhan, itu harus selalu kita ingat. Ingat pula bahwa kita harus memiliki visi yang sama seperti Tuhan Yesus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. (Matius 20:28). Dan jangan lupa pesan Yesus berikut:&lt;i&gt; "Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."&lt;/i&gt; (Lukas 14:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tunda apa yang bisa anda lakukan hari ini juga. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Don't wait til tomorrow what you can do today."&amp;nbsp; Peribahasa ini tidak hanya berlaku bagi pekerjaan dan kehidupan jasmani kita, tetapi tentu juga berlaku dalam kehidupan rohani. Tidak ada alasan apapun untuk merasa tidak sanggup melayani Tuhan, karena Firman Tuhan jelas berkata bahwa kita semua memiliki kelebihan dan bakat yang berbeda-beda. Miliki komitmen untuk melayani, bukan untuk ketenaran pribadi, tapi untuk kemuliaan Allah yang telah memberikan kita kemampuan untuk itu. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Petrus 4:11) Apa yang dilakukan oleh teman musisi di atas menjadi contoh yang baik bagi saya, dan semoga juga bagi anda semua. Selamat melayani, Tuhan memberkati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mari kita nyatakan kemuliaan Allah lewat tindakan, perbuatan dan pelayanan kita pada sesama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2109595863160231589?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2109595863160231589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2109595863160231589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2109595863160231589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2109595863160231589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/tetap-melayani.html' title='Tetap Melayani'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-643851164827273105</id><published>2012-01-10T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-10T08:00:00.096-08:00</updated><title type='text'>Iman dan Takut Terbang</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Lukas 17:5&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="iman, fear of flying" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/iman-takut-terbang.jpg" /&gt;Saya termasuk orang yang merasa tidak nyaman dalam menggunakan jasa penerbangan. Tidak sampai phobia dan menghindarinya karena saya masih bisa terbang bersama maskapai penerbangan apa saja, tetapi tetap saja saya sulit merasa tenang ketika berada di dalamnya. Perasaan tidak bisa berbuat apa-apa pun terasa begitu mengganggu. Begitu menaiki pesawat, sikap pasrah pun harus ditanamkan, dan mau tidak mau kita harus mempercayakan kepada burung besi dan pilot yang mengemudinya. Agak lucu juga sebenarnya jika kita takut naik pesawat terbang, karena sebuah &lt;i&gt;survey&lt;/i&gt; pernah mengatakan bahwa menggunakan pesawat terbang itu 25 kali lebih aman ketimbang mengemudi di jalan raya atau menggunakan alat transportasi darat lainnya. Bahkan survey itu lebih lanjut menyebutkan bahwa tingkat kecelakaan akibat menyeberang jalan jauh lebih tinggi dibanding kecelakaan pesawat terbang, bahkan secara ilmiah survey pun membuktikan bahwa adalah lebih aman bagi kita untuk berada di dalam pesawat terbang ketimbang di dalam bath tub. Meskipun demikian, kita tetap menemukan ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang takut naik pesawat. Ternyata hasil survey itu menyimpulkan bahwa bukanlah jatuhnya pesawat yang dipermasalahkan, melainkan takutnya kehilangan kendali akibat meninggalkan tanahlah yang membuat orang mengalami phobia berada di dalam pesawat terbang di atas awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah permasalahan yang sama pun terjadi pada iman kita. Banyak diantara kita yang sudah menerima Yesus, telah rajin ke gereja, rajin berdoa, tapi nyatanya belum sanggup mempercayakan hidupnya secara penuh kepada Tuhan. Cobalah perhatikan. Berapa banyak di antara kita yang masih takut berada di tempat gelap? Ada berapa banyak yang takut menatap masa depan, stres menghadapi resesi atau krisis keuangan, putus asa menghadapi suami/istri atau anak-anak yang bandel, dan lain-lain, meskipun sudah menjadi anak Allah? Mungkin seperti cerita di atas, banyak yang merasa sulit mempercayakan hidup sepenuhnya pada Allah yang tidak terlihat, dan lebih percaya pada "bumi yang kita pijak sehari-hari", sesuatu yang kasat mata. Mungkin hal ini lebih sering terjadi pada teman-teman yang masih baru mengenal Kristus, tapi tidak jarang pula terjadi pada yang sudah lama mengikuti Yesus. Ada seorang teman yang sejak lahir ada dalam keluarga kristen, tapi tetap saja mengaku belum sanggup untuk mengandalkan Tuhan secara total dalam kehidupannya. "Iya kalau Tuhan mau menolong, bagaimana kalau tidak? Saya belum sampai pada tahapan seperti itu.." katanya ringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang sama pun dialami para murid Yesus sendiri. Meski mereka berjalan bersama Yesus yang hadir mengambil rupa dan fisik manusia sehingga dapat mereka sentuh, lihat dan dengar, mereka masih sering dilanda kekuatiran. Pada ayat bacaan hari ini mereka meminta iman mereka ditambahkan, ketika Yesus mengajarkan mereka untuk menaikkan level pengampunan bagi orang lain. Ternyata bagi para murid mengampuni itu merupakan hal yang susah. Menarik jika melihat bahwa murid-murid ini tahu bahwa&lt;b&gt; akar penyebabnya ada pada iman mereka yang masih kurang.&lt;/b&gt; Karena itulah mereka berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tambahkanlah iman kami!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Lukas 17:5). Bagaimana reaksi Yesus? Yesus berkata bahwa mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kita akan bisa memiliki kuasa yang sungguh dahsyat. &lt;i&gt;"Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."&lt;/i&gt; (ay 6). Pada kesempatan lain Yesus kembali mengulangi hal ini. "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20). Ternyata untuk memiliki iman yang sungguh-sungguh itu bukan masalah mudah. Untuk mencapai iman sekecil biji sesawi pun nyatanya tidak banyak yang sanggup, bahkan murid-murid Yesus yang sudah bertemu langsung denganNya ini masih saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan sudah berkata jelas mengenai iman. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman memampukan kita untuk bisa melihat sesuatu yang belum terlihat. Ini berbicara mengenai jawaban atas segala sesuatu yang kita harapkan dan juga jawaban atau bukti atas segala sesuatu yang belum dapat kita lihat di masa depan. Artinya, di dalam iman ada kuasa dan kekuatan, ada jaminan dan ada pengharapan. Tanpa iman akan sulit bagi kita untuk bisa melangkah dengan baik karena ketakutan akan selalu menghalangi kita untuk melakukan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para rasul menyadari kelemahan mereka terletak pada iman. Dan mereka merasa penting untuk meminta Tuhan menambahkan iman mereka. Demikianlah pentingnya iman bagi kita dalam menjalani roda kehidupan. Dan itu tidaklah mengherankan, karena sesungguhnya iman yang sekecil biji sesawi, yang ukurannya bagai sebuah butir padi saja ternyata sanggup membawa perbedaan nyata dalam hidup kita. Kita butuh iman, dan kita bisa berdoa agar iman kita ditambahkan. Tetapi itu tidak akan terjadi apabila kita tidak terus melatih diri kita untuk meletakkan pengharapan dengan kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan. Urusan iman bukanlah urusan yang instan. Kita memerlukan proses agar iman itu bisa tumbuh menjadi semakin besar dalam hidup kita. Itu adalah sesuatu yang harus ditanam, disiram dan dirawat, itu adalah sesuatu yang harus dilatih secara kontinu dan konsisten. Selain iman, kita pun bisa meminta Tuhan menambahkan hikmat agar kita bisa lebih bijaksana dalam memandang setiap permasalahan dengan cara pandang yang melibatkan Tuhan di dalamnya. Yakobus pun berkata: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah penting bagi kita untuk terus melatih iman kita untuk berpegang teguh pada Tuhan. Semakin terlatih iman kita maka iman itu pun akan tumbuh semakin besar. Ketika iman ini tumbuh besar, disanalah kita akan lebih mudah mempercayakan hidup kita sepenuhnya padaNya. Biar bagaimanapun Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik buat kita. Nothing but the best. Mari kita percayakan hidup ini dalam tanganNya, dan tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri saja. Lalu berusahalah untuk menaikkan level iman kita hingga kita tidak lagi merasa perlu untuk kuatir atas apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Iman yang kecil saja sudah bisa mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran anda. Belajarlah mempercayakan hidup pada Tuhan dengan melatih iman anda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a _blank="" href="http://twitter.com/dailyrho%20target="&gt;&amp;gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-643851164827273105?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/643851164827273105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=643851164827273105' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/643851164827273105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/643851164827273105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/iman-dan-takut-terbang.html' title='Iman dan Takut Terbang'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2731443829480822461</id><published>2012-01-09T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T08:00:01.533-08:00</updated><title type='text'>Melihat Kuasa Tuhan di Masa Lalu</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 16:8&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kuasa Tuhan di masa lalu" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/jangan-takut.jpg" /&gt;Tidak terasa sudah lebih seminggu kita memasuki tahun yang baru. Bagi sebagian orang yang optimis tahun ini tentu menjadi sebuah tantangan baru yang harus diisi dengan sebuah harapan yang baru pula. Namun bagi mereka yang pesimis atau yang mengalami masa-masa sulit di tahun sebelumnya, tentu tahun ini pun membawa kecemasan tersendiri. Banyak orang yang merasa hidupnya begitu-begitu saja. Jika dahulu banyak masalah, sekarang bakal tidak ada bedanya. Tahun lalu sulit, tahun ini apa lagi. Bentuk-bentuk ketakutan seperti itu bisa melemahkan kita dalam menjalani tahun ini dengan baik. Dan itu bisa membuat segalanya malah bertambah buruk. Mumpung ini masih di awal tahun, alangkah baiknya jika kita menguatkan diri kita terlebih dahulu sebelum keburu tumbang di pertengahan tahun nanti. Dan itu bisa kita peroleh dengan mengingat kembali perjalanan kita bersama Tuhan di masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ingin saya bagikan hari ini adalah sebuah ajakan Tuhan untuk bercermin pada apa yang pernah diperbuat Tuhan di masa lalu. Sudah merupakan kebiasaan atau sifat dasar manusia untuk cepat kuatir, tidak terkecuali para murid Yesus. Padahal apa yang harus mereka takutkan jika Yesus ada tepat disamping mereka? Tapi tetap saja mereka manusia biasa yang bisa cepat merasa cemas. Mereka pernah menyaksikan bagaimana Yesus mampu membuat 5 roti dan 2 ikan menjadi cukup untuk memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak. Tapi mereka masih juga memperbincangkan soal kelupaan mereka membawa roti ketika menyeberangi danau. Itu bisa kita baca dalam perikop pembuka di Matius 16. Ketika itu beginilah reaksi mereka ketika Yesus mengingatkan mereka agar waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. &lt;i&gt;"Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak membawa roti."&lt;/i&gt; (Matius 16:7). Belum apa-apa mereka sudah menunjukkan kecemasannya dengan mengaitkan ucapan Yesus dengan kealpaan mereka membawa roti. Maka Yesus pun menegur mereka.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya! Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu ingat lagi akan lima roti untuk lima ribu orang itu dan berapa bakul roti kamu kumpulkan kemudian?"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay :8-9). Mari fokus kepada perkataan Yesus &lt;b&gt;"Hai orang-orang yang kurang percaya!"&lt;/b&gt; Kalimat ini pun dikatakan Yesus ketika angin ribut melanda perahu yang sedang Dia tumpangi bersama murid-muridNya. Para murid ketakutan melihat angin ribut dan gelombang badai. Dan Yesus menegur dengan kalimat yang sama: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Matius 8:26). Berulang kali Yesus mengingatkan, berulang kali pula para murid ketakutan. Ini mencerminkan kita yang hari ini masih sering diliputi ketakutan meski sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Coba bayangkan jika kita ada di pihak Yesus, tidakkah itu mengecewakan dan mengesalkan? Kita mengaku percaya, tetapi iman kita tidak cukup kuat untuk benar-benar percaya secara nyata. Kita mengaku punya Yesus, tapi kita terus saja dibelenggu ketakutan. Murid-murid Yesus seperti itu, kita pun sama. Meski kita sudah berulang kali menyaksikan kebaikan Tuhan melepaskan kita dari berbagai masalah, tetap saja kita takut dan takut lagi dalam menatap hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kita tidak boleh terbelenggu dengan masa lalu dan terus menatap ke depan. Itu benar. Tapi kita harus bisa belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Termasuk pula didalamnya untuk tidak melupakan segala berkat dan mukjizat Tuhan yang sudah pernah Dia lakukan dalam sejarah panjang manusia, bahkan dalam kehidupan kita masing-masing atau orang-orang yang dekat dengan kita. Jika Tuhan mampu melakukan itu di masa lalu, sekarang pun Dia sanggup, di masa depan pun Dia tetap sanggup. Tuhan pasti mengerti tahun-tahun ke depan akan semakin sulit, tapi Dia pun ingin agar kita tahu betul bahwa penyertaanNya mampu mengangkat kita lebih tinggi dari persoalan dan krisis. Tuhan sudah mengatakan bahwa &lt;i&gt;di dalam kelemahan kita justru kuasaNya menjadi sempurna.&lt;/i&gt; (2 Korintus 12:9). Dan itu menunjukkan betapa cukupnya karunia Tuhan bagi kita. Ingin bukti? Berbagai kisah dalam Alkitab, seperti kisah bangsa Israel di masa Musa adalah bukti kuat akan kuasa Tuhan. Berbagai kesaksian yang dialami banyak orang hingga hari ini pun bisa menjadi bukti nyata bahwa Tuhan masih terus bekerja hingga kini. Marilah kita belajar dari bukti penyertaan Tuhan di masa lalu agar kita kuat melangkah ke depan tanpa rasa cemas apalagi takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk cepat khawatir, tapi justru karena itulah baik bagi kita untuk mengingatkan diri sendiri tentang segala sesuatu yang pernah dibuat Tuhan di waktu lalu. Kita harus tetap percaya dengan iman yang teguh, terus bersyukur dan memuliakan Tuhan, bertekun dalam doa, rajin membaca, merenungi dan melakukan firman Tuhan, sambil terus melakukan pekerjaan dan tanggung jawab kita dengan sebaik mungkin. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan satu pun anak-anakNya terlantar. Jika anda merasa khawatir, serahkanlah semuanya pada Tuhan dan pegang janjiNya.&lt;i&gt; "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."&lt;/i&gt; (1 Petrus 5:7). Mari kita isi tahun baru ini dengan keyakinan penuh kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2731443829480822461?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2731443829480822461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2731443829480822461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2731443829480822461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2731443829480822461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/melihat-kuasa-tuhan-di-masa-lalu.html' title='Melihat Kuasa Tuhan di Masa Lalu'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5961096378252476734</id><published>2012-01-08T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-08T08:00:00.950-08:00</updated><title type='text'>Mefiboset Modern</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 2 Samuel 9:8&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mefiboset modern" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/mefiboset.jpg" /&gt;Pernahkah terpikir oleh anda bahwa rasa rendah diri yang berlebihan bisa menggagalkan kita dalam menggapai mimpi dan rencana-rencana yang besar dalam hidup ini? Ketika orang mengira bahwa ada tidaknya gelar, tingginya ilmu, IQ, modal atau relasi yang berperan paling penting dalam keberhasilan, banyak yang lupa bahwa faktor rendah diri seringkali menjadi penyebab utama kegagalan kita. Kerap kita menilai diri kita terlalu rendah, merasa bahwa kita tidaklah punya apa-apa yang bisa dibanggakan dalam hidup ini. Dengan pola pikir seperti itu tidaklah heran apabila kemudian mereka yang rendah diri ini kemudian menutup dirinya rapat-rapat. Mereka menyendiri, menjauh dari kerumunan orang dan merasa tidak nyaman ketika berada dekat dengan orang lain. Kalau sudah begini, bagaimana bisa maju? Banyak sekali orang yang hanya memandang kekurangannya dan mengabaikan apa yang menjadi keistimewaan dirinya. Tidak jarang pula diantara orang yang seperti ini lalu menyalahkan situasi, keadaan atau kondisi, menyalahkan orang lain seperti orang tua, saudara, teman dan sebagainya, bahkan bisa pula menyalahkan Tuhan karena merasa orang lain diberkati lebih dari dirinya sendiri. Mereka tidak mampu melihat kesempatan-kesempatan yang sesungguhnya telah dibukakan Tuhan di depan mata mereka. Mereka tidak lagi peka terhadap suara Tuhan dalam hati mereka. Kegagalan pun akan semakin menenggelamkan mereka dan mereka jadikan bukti atas kekurangan mereka. Padahal apa yang menyebabkan kegagalan itu bukanlah kekurangan atau keterbatasan mereka, melainkan justru &lt;b&gt;akibat rasa rendah diri yang berlebihan. &lt;/b&gt;Saya mengenal banyak orang yang bersinar di tengah keterbatasannya, seperti cacat misalnya. Mereka justru tampil luar biasa yang kerap lebih dari orang yang tubuhnya sempurna. Dari orang-orang seperti ini saya selalu melihat adanya tekad yang luar biasa dan mereka tidak tenggelam dalam keluhan akan kondisi mereka. Sebaliknya mereka tetap bersyukur dan dengan itu mampu memaksimalkan potensi mereka. Seorang penyanyi buta dari Amerika pernah berkata kepada saya: "I'm thankful for being blind, because then I can focus totally on my music." Tidakkah sikap seperti ini mengagumkan? Sayangnya hanya sedikit orang yang bisa memiliki pola pikir seperti ini. Kebanyakan orang memilih untuk mencontoh sikap dari Mefiboset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Mefiboset? Mefiboset adalah anak Yonatan, cucu dari Saul yang pernah menjabat raja Israel. Serangkaian peristiwa dan keadaan membalikkan kehidupannya dan mengubahnya menjadi pribadi yang rendah diri. Ayahnya dan kakeknya kalah dalam perang dan mati terbunuh dengan mengenaskan. Jika itu belum cukup, ia pun dikatakan cacat kakinya. &lt;i&gt;"Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset."&lt;/i&gt; (2 Samuel 4:4). Ia lalu diasingkan di sebuah tempat tandus bernama Lodebar. Rangkaian peristiwa ini membuatnya merasa diri begitu rendah. Seperti yang kita baca kemarin, pada suatu kali setelah menjadi raja, Daud mencari keturunan Saul untuk dipulihkan hak-hak hidupnya berdasarkan kasih dari Allah. Ia pun diberitahu bahwa ada anak Yonathan yang ternyata masih hidup. (2 Samuel 9:3). Mendengar itu, Daud pun segera menyuruh Mefiboset untuk datang menghadapnya. Ketika Mefiboset menghadap,&lt;i&gt; "Kemudian berkatalah Daud kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku."&lt;/i&gt; (ay 7). Ini cerminan kasih Allah yang tak terbatas oleh status, situasi, masa lalu dan sebagainya. Seharusnya Mefiboset bersyukur mendapati kasih dari Daud seperti ini. Tapi itu bukanlah sikapnya. Ia merasa begitu rendah diri sehingga tidak pantas untuk memperoleh itu semua. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 8). Ia merasa begitu rendah tak berharga hingga harga dirinya bukan saja seperti anjing, tapi lebih dari itu, ia merasa bagai anjing mati. Daud sudah berusaha memulihkan harga dirinya. Bahkan Mefiboset diundang untuk duduk semeja dan sehidangan dengan Daud, sang raja. Namun tetap saja ia tidak bisa keluar dari perasaan rendah dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Dalam 2 Samuel 19:24-30 kita bisa melihat bahwa belakangan Mefiboset tidak kunjung mampu memulihkan citra dirinya meski ia sudah mendapat kasih Allah lewat diri Daud. &lt;i&gt;"Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat."&lt;/i&gt; (ay 24). Perhatikan ia membiarkan dirinya dalam keadaan kumal, tidak terawat dan kotor. Ia bahkan tidak merasa pantas untuk tampil baik, di hadapan raja sekalipun. Ketika Daud kemudian memutuskan untuk memberikan ladang yang tadinya milik Saul untuk dibagi dua antara Mefiboset dan Ziba, hamba Daud, kembali Mefiboset menunjukkan sikap rendah dirinya yang sangat parah itu.&lt;i&gt; "Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja: "Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat."&lt;/i&gt; (ay 30). Betapa sayangnya. Pada akhirnya Mefiboset tidak mendapatkan apa-apa. Dan semua itu karena ia tidak kunjung menyadari citra dirinya yang benar. Rasa rendah diri telah memerangkapnya sedemikian rupa sehingga ia membuang kesempatan berharga untuk dipulihkan dan dilayakkan untuk menjalani kehidupan barunya bersama raja yang penuh kasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah, bukankah kita sering membuang-buang kesempatan terus menerus seperti Mefiboset? Ketika rasa rendah diri muncul berlebihan tidak pada tempatnya maka kita pun akan kehilangan peluang untuk bisa bangkit dan berhasil. Tidak tertutup pula kemungkinan ketika rasa rendah diri ini terus berlanjut, maka kesempatan kita untuk hidup di Kerajaan surga bersama Sang Raja pun sirna, seperti yang tersirat dalam kisah Mefiboset. Karena itu kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Tidak ada manusia yang sempurna, semua kita memiliki kekurangan sendiri. Tetapi jangan lupa bahwa di sisi lain kita pun memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri pula. Siapapun kita, tidak peduli apa kata orang lain tentang kita, bagi Tuhan kita tetaplah karya ciptaanNya yang terindah. &lt;b&gt;&lt;i&gt;We are still and will always be His masterpiece.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Kita dikatakan dibuat sesuai gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dikatakan ditenun langsung oleh Tuhan dalam kandungan (Mazmur 139:13) dan dilukiskan pada telapak tangan Tuhan, berada di ruang mataNya (Yesaya 39:16). Artinya, apabila Tuhan menciptakan kita dengan sangat istimewa seperti itu, tentu ada rencanaNya yang indah bagi kita. Dan itupun sudah berulang kali pula Tuhan ingatkan. Jika demikian mengapa kita harus rendah diri dan menutup sendiri segala kesempatan yang kita miliki hingga sirna begitu saja? Hindarilah sikap Mefiboset sedini mungkin. Jangan sia-siakan lagi segala yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Terima diri kita apa adanya, bersyukurlah atas siapa diri kita hari ini dan cari tahu apa yang menjadi panggilan Tuhan bagi kita. Dari sana, tingkatkan, tumbuhkan dan kembangkan setiap potensi yang ada dan muliakan Tuhan dengan itu. Jangan sampai kita menjadi Mefiboset-Mefiboset modern di hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rasa rendah diri menggagalkan berkat turun atas kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5961096378252476734?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/5961096378252476734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=5961096378252476734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5961096378252476734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5961096378252476734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/mefiboset-modern.html' title='Mefiboset Modern'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4408025618287277273</id><published>2012-01-07T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-07T08:00:04.785-08:00</updated><title type='text'>Memerdekakan Iman</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Markus 11:25&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="memerdekakan iman" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/memerdekakan-iman.jpg" /&gt;Beberapa hari terakhir ini kita sudah melihat bagaimana pentingnya untuk menjaga keteduhan hati agar tidak mendendam atau bersukacita ketika musuh kita tengah terjatuh. Yesus sendiri sudah mengingatkan kita untuk tidak membenci musuh melainkan mengampuni, mengasihi dan mendoakan mereka. &lt;i&gt;"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." &lt;/i&gt;(Matius 5:43-44). Untuk hal ini pun Yesus sudah mencontohkannya sendiri. Lihatlah apa kata Yesus setelah mengalami siksaan yang tak terperi dan tengah tergantung di atas kayu salib dengan berlumur darah. &lt;i&gt;"Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."&lt;/i&gt; (Lukas 23:34a). Itu contoh sempurna dari bagaimana cara melepaskan pengampunan apapun alasannya. Lebih lanjut lagi, Firman Tuhan juga sudah mengatakan bahwa tidaklah pada tempatnya apabila kita bersukacita melihat musuh kita jatuh. &lt;i&gt;"Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok"&lt;/i&gt; (Amsal 24:17). Hari ini mari kita lihat satu lagi kerugian yang akan kita derita jika kita mendendam terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak orang yang menyadari &lt;b&gt;betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan&lt;/b&gt;. Mari kita lihat perkataan Yesus dalam kotbahNya tentang iman dalam Markus 11:22-26. Pertama, Yesus mengajarkan betapa besarnya pengaruh iman bagi kehidupan kita. &lt;i&gt;"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya." &lt;/i&gt;(Markus 11:23). Lalu Yesus mengajarkan kita agar kita memiliki iman yang percaya agar semua itu diberikan kepada kita. &lt;i&gt;"Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."&lt;/i&gt; (ay 24). Apa isi ayat selanjutnya? Beginilah bunyinya:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;i&gt;(Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)"&lt;/i&gt; (ay 25-26). Perhatikan bahwa Yesus menopang gabungan ayat-ayat ini dalam urutannya bukan kebetulan tapi untuk maksud tertentu. Saya percaya Tuhan ingin kita tahu bahwa &lt;b&gt;membebaskan orang-orang yang bersalah kepada kita adalah landasan dari menerima hal-hal baik atau berkat dari Tuhan. &lt;/b&gt;Tuhan ingin memberikan kesan pada hati kita mengenai sebuah fakta penting menurut Kerajaan Allah, yaitu bahwa &lt;b&gt;kita tidak akan pernah dapat memperoleh pengabulan doa dengan dendam di hati kita sekaligus.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya, itu berbicara mengenai iman. Apa yang kita minta dan doakan harus disertai rasa percaya. Keraguan akan meluputkan kita semua dari berkat-berkat Tuhan. Tapi sebelum berdoa, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa tidak ada dendam apapun yang masih bercokol di hati kita. Dendam, kebencian atau ganjalan-ganjalan lainnya pun merupakan ganjalan dalam menerima segala sesuatu dari Tuhan, termasuk di dalamnya pengampunan. Bayangkan seandainya Tuhan punya pribadi pendendam, apa jadinya kita yang begitu sering menyakiti hatiNya? Tapi Tuhan tidaklah demikian. Lihatlah apa kata Tuhan berikut ini: &lt;i&gt;"Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu."&lt;/i&gt; (Yesaya 43:25). Seperti itulah sikap Tuhan. Lalu siapakah kita yang merasa berhak melakukan sebaliknya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tidak mengampuni dan mendendam akan menghambat saluran iman dan membuat kita kewalahan menghadapi berbagai gunung terjal berbatu dalam kehidupan kita. Apabila ada diantara anda yang merasa sudah berdoa siang dan malam tapi rasanya belum memperoleh jawaban, ini saatnya untuk memeriksa kembali hati anda. Apabila ada orang-orang yang belum anda ampuni, ampunilah terlebih dahulu. Jika anda tidak sanggup melakukannya, mintalah Roh Kudus untuk membantu anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman itu, maka setelahnya anda akan melihat bagaimana hebatnya Tuhan dalam menjawab doa-doa anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Buanglah setiap ganjalan dalam hati termasuk dendam agar hubungan kita dengan Tuhan tidak sampai terputus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4408025618287277273?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/4408025618287277273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=4408025618287277273' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/4408025618287277273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/4408025618287277273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/01/memerdekakan-iman.html' title='Memerdekakan Iman'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-464605730161382860</id><published>2012-01-06T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T08:00:00.805-08:00</updated><title type='text'>Dendam Tujuh Turunan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 2 Samuel 9:3&lt;br /&gt;=========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kemudian berkatalah raja: "Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah." Lalu berkatalah Ziba kepada raja: "Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="dendam" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/dendam.jpg" /&gt;Dendam tujuh turunan, itu dianggap wajar bagi banyak orang yang pernah merasa disakiti atau dirugikan. Dendam itu dipupuk dari satu generasi ke generasi selanjutnya bagaikan tongkat estafet yang berpindah dalam lintasan lomba. Sebisa mungkin dendam itu harus terbalas, kalau tidak mereka akan menjadi arwah penasaran. Apabila musuh terjatuh tanpa kita berbuat apa-apa, itu artinya balasan dari Tuhan yang harus dirayakan dengan sorak sorai atau pesta pora. Mengapa tidak? Bukankah mereka sendiri yang salah telah menyakiti kita? Atau banyak pula orang terus mengutuki orang lain, bahkan tidak jarang pula merasa biasa saja untuk mendoakan yang jelek-jelek. Meminta Tuhan mematikan orang itu dan keluarganya, menjadikan Tuhan seolah pembunuh bayaran untuk membalaskan sakit hati mereka. Dunia menganggap hal ini wajar dan manusiawi, dan ironisnya tidak tertutup kemungkinan sikap memupuk dendam ini diadopsi oleh banyak anak-anak Tuhan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Daud terhadap cucu Saul atau putra Yonatan yang bernama Mefiboset menunjukkan sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang percaya. Pada saat itu Saul baru saja tewas di medan perang. Daud lalu menjadi raja yang bertahta atas bangsa Israel. Saul yang begitu membencinya dan sudah membuat hidupnya sulit dalam waktu yang cukup panjang telah tewas. Bukankah ini sebuah kemenangan besar yang seharusnya dirayakan? Kata-kata kepuasan dan kemenangan pun terasa layak untuk diucapkan. Dan bagi orang-orang yang terbiasa hidup dalam kebencian, itulah saatnya untuk membalas dendam habis-habisan atas keluarga yang ditinggalkan. Tetapi perhatikan bagaimana sikap Daud. Daud memilih untuk melakukan sebaliknya, dan ini bisa jadi mengherankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kali setelah Daud menjabat sebagai raja, ia teringat akan nasib keluarga Saul. Lantas ia memanggil hambanya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Kemudian berkatalah raja: "Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (2 Samuel 9:2a). Perhatikan baik kata-kata Daud ini. Ia memikirkan keluarga Saul yang sekiranya masih ada yang hidup. Bukan untuk dihabisi hingga tuntas, tetapi justru untuk dikasihi, sebuah kasih yang hidup di dalam dirinya yang berasal dari Allah. Jika kita mau sedikit mundur ke belakang, kita pun akan menemukan ada saat dimana Daud punya kesempatan untuk membunuh Saul dari belakang. Dalam 1 Samuel 24:1-23 kita membaca kisah itu. Daud pada saat itu tengah dikejar-kejar oleh Saul dan 3000 prajurit untuk dibunuh. Ia sampai harus lari bersembunyi ke padang gurun. Ternyata ketika ia masuk ke dalam sebuah gua, Saul tengah berada disana dengan posisi membelakanginya. Pada saat itu sebuah kesempatan emas terbuka bagi Daud. Para anak buahnya pun berpikiran demikian. Tapi Daud punya sikap hati yang berbeda. Meski ia bisa melakukannya, ia memutuskan untuk tidak memanfaatkan kesempatan.&lt;b&gt; Daud lebih memilih untuk dikuasai kasih dari Allah &lt;/b&gt;ketimbang memanfaatkan situasi. Tidak ada dendam dalam hatinya. Dan itu bisa kita lihat dari perkataan Daud. "Lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya:&lt;i&gt; "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."&lt;/i&gt; (1 Samuel 24:7).Tidak hanya itu, Daud pun melarang anak buahnya untuk menyerang Saul. (ay 8). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sikap hati seperti ini sungguh langka kita temui hari ini. Terhadap Mefiboset yang merasa rendah diri akibat cacat yang ia derita ditambah nasibnya yang berubah drastis akibat kematian kakek dan ayahnya, Daud memilih untuk menyatakan kasih dari Allah dengan kelembutan dan kerendahan hati. Ia setia terhadap sahabatnya, Yonathan anak Saul, tetap mengingatnya meski ayah Yonathan, Saul begitu jahat terhadapnya. Dan ia pun menghargai Saul sebagai pribadi yang pernah diurapi Allah, meski hidupnya sempat lama susah akibat kejahatan Saul. Selanjutnya Daud mengamalkan sikap hati yang dipenuhi kasih secara langsung lewat perbuatan nyata, bukan hanya di bibir saja. Dalam menghadapi musuh, Tuhan menyatakan bahwa kita tidak boleh membenci mereka. Tidak hanya sekedar tidak membenci, tetapi kita pun harus sanggup mengasihi dan mendoakan mereka. Yesus berkata &lt;i&gt;"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."&lt;/i&gt; (Matius 5:43-44). Firman Tuhan pun sudah mengingatkan kita agar tidak bersukacita ketika musuh terjatuh.&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Amsal 24:17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Daud kita bisa belajar untuk tidak mendendam dan tetap menyatakan kasih tanpa tergantung oleh situasi, kondisi atau pengalaman masa lalu. Daud memilih untuk mengingat keluarga Saul yang masih hidup yang pasti menderita dengan dengan kehancuran total seperti itu. Mefiboset yang cacat dan terbuang pun ia panggil untuk tinggal bersamanya bahkan diberi hak untuk makan satu meja dengannya. Mengapa ia melakukan hal itu? Sekali lagi, karena Daud &lt;b&gt;&lt;i&gt;"hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 2a). Orang yang mendendam artinya sama dengan tidak mengenal Allah. Firman Tuhan berkata &lt;i&gt;"Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."&lt;/i&gt; (1 Yohanes 4:8). Dan kasih tanpa pamrih seperti halnya Tuhan mengasihi kita ini sudah selayaknya diberikan kepada siapapun, termasuk kepada musuh yang sudah berlaku sangat jahat kepada kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak memberikan bentuk kasih seperti ini, karena sesungguhnya Allah sendiri sudah mendemonstrasikannya kepada kita. Ditambah lagi kasih dari Allah ini sudah dicurahkan kepada kita lewat Roh Kudus. Kita bisa melihat buktinya lewat kitab Roma:&lt;i&gt; "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."&lt;/i&gt; (Roma 5:5). Sekarang pertanyaannya, apakah kita memilih untuk memakai kasih Allah itu dalam kehidupan kita secara nyata tanpa pandang bulu atau kita menolaknya dengan terus memelihara dendam dan merasa senang ketika musuh kita terjatuh? Daud memilih untuk menghidupi kasih Allah secara nyata dalam kehidupannya. Ia ternyata memiliki pengenalan yang baik akan Allah, dan itu harus menjadi teladan buat kita. Apakah kita masih lebih senang memupuk kebencian dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembalasan atau mau mulai belajar untuk mengampuni dan mengasihi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nyatakanlah kasih yang dari Allah kepada siapapun bahkan terhadap musuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-464605730161382860?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/464605730161382860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=464605730161382860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/464605730161382860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/464605730161382860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/dendam-tujuh-turunan.html' title='Dendam Tujuh Turunan'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6480304154825946838</id><published>2012-01-05T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T08:00:03.358-08:00</updated><title type='text'>Cara Pandang Hidup</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 20:25-26a&lt;br /&gt;=========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu..&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/tangan-besi.jpg" /&gt;Kalau orang keras, kita harus lebih keras lagi. Kalau tidak itu artinya kita menyerah kemudian kalah. Pandangan seperti ini dianggap benar bagi banyak orang. Malah tidak jarang pula orang menutupi kelemahan dan rasa tidak percaya dirinya dengan bersikap kasar. Saya menjumpai orang-orang yang membentengi dirinya dengan sikap kasar ini karena sebenarnya mereka tahu bahwa mereka sangatlah lemah di dalam. Pemerintahan dengan tangan besi terjadi di banyak tempat, dan itupun mereka percaya sebagai solusi terbaik dalam membenahi negara. Di satu sisi memang kita harus bertindak tegas dalam menghadapi masalah, tetapi sayangnya ada banyak orang yang sulit membedakan antara tegas dan keras. Mereka berpikir bahwa tegas itu berarti keras dan kasar. Mereka berpikir bahwa orang akan hormat dan takut apabila kekuasaan ditunjukkan secara ekstrim, seperti membentak atau bahkan merendahkan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain banyak pula orang yang percaya bahwa untuk menang bertarung hidup di dunia yang keras dan kejam kita harus lebih keras dan lebih kejam lagi. Lupakan soal moral, abaikan kejujuran, kebaikan, keramahan, selanjutnya tabraklah segalanya, halalkan semua cara dan raihlah harta, pangkat, jabatan dan sejenisnya sebanyak-banyaknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Lalu bersikaplah arogan, ketus, rendahkan orang lain agar diri sendiri terlihat tinggi. Halalkan segala cara, lakukan apa saja yang penting apa yang kita inginkan tercapai. Saling sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, fitnah, korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya, semua itu bukan lagi sesuatu yang salah untuk dilakukan. Malah yang dianggap bodoh justru orang-orang yang tetap hidup lurus karena itu artinya mereka membuang kesempatan untuk bisa memperoleh segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ini bukanlah gambaran dari umat Tuhan. Alkitab dengan tegas justru berbicara sebaliknya. Jadi apabila hati dan pikiran kita sudah sampai kepada konsep seperti perilaku orang-orang di atas, itu artinya kita sudah sangat jauh dari Tuhan. Konsep kehidupan dan bertingkahlaku yang diajarkan Yesus sungguh bertolak belakang dengan apa yang dipercaya dunia sebagai tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan. Lihatlah pengajaran-pengajaran Kristus tentang cara hidup dalam Kerajaan Allah yang terbalik seratus delapan puluh derajat dengan cara pikir dunia. Anda ingin menjadi yang terbesar? Dunia berkata kuasai sebanyak-banyaknya, tetapi Yesus mengajarkan kita sebaliknya. Justru kita harus merendahkan diri kita sejauh mungkin. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat apa yang tertulis di dalam Alkitab. "&lt;i&gt;Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka."&lt;/i&gt; (Matius 20:25) Pemerintah bangsa-bangsa dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan dengan&lt;i&gt; "the rulers of the Gentiles"&lt;/i&gt;, yang bisa kita artikan sebagai para pemimpin bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka terus mengejar kepentingan dan kepuasan pribadi. Posisi orang percaya seharusnya tidak boleh seperti itu. Perhatikan kata Yesus selanjutnya:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 26-27). Apakah ini hanya pepesan kosong, alias sesuatu yang hanya dikatakan semata? Tentu tidak, karena Yesus sudah mencontohkan langsung mengenai sikap tersebut lewat sikap hidupNya ketika ada di dunia ini. Dalam kesempatan lain Yesus juga menyampaikan: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Lukas 9:48). Berarti orang yang merasa dirinya sudah besar dan merasa berhak melakukan apapun sekehendak hatinya justru merupakan orang-orang kasihan yang terkecil di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu selanjunya bagaimana dengan cara kita yang seharusnya dalam menghadapi musuh? Dunia mengajarkan kita untuk membinasakan musuh, kalau perlu menghancurkan mereka berkeping-keping. Hancurkan sebelum kita dihancurkan. Jangan sekedar hancur, tapi kalau bisa berkeping-keping. Kalaupun orang lain harus terkena korban, itu salah mereka. Siapa suruh dekat-dekat dengan musuh. Itu pikiran dunia yang sering kita lihat hari ini. Minimal berikan fitnah, hancurkan secara moral sampai mereka tidak berkutik lagi. Tetapi lagi-lagi Yesus mengajarkan sebaliknya.&lt;i&gt; "Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."&lt;/i&gt; (ay 38-39). Bukan hanya mengalah dan tidak melawan, tetapi lebih lanjut Yesus mengatakan &lt;i&gt;"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: &lt;b&gt;Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu&lt;/b&gt;."&lt;/i&gt; (Matius 5:43-44). &lt;i&gt;That's another step of love&lt;/i&gt;. Musuh bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk dikasihi, dibantu dan didoakan. Ini sebuah pengajaran yang mendobrak tatanan atau konsep pemikiran secara radikal pada saat itu. Dan hari ini pun masih tetap sama kontroversialnya, terlebih ketika kita melihat orang-orang yang bisa dengan dingin membunuh atau membantai secara masal dengan mengatasnamakan golongan tertentu, sementara negara seolah tidak sanggup berbuat apa-apa, menunjukkan sikap ketakutan dengan terus membiarkan segalanya terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengajarkan konsep kehidupan yang berbanding terbalik dengan apa yang dipercaya dunia sebagai kunci kesuksesan atau kemenangan. Ketika dunia menghalalkan segala cara, kita dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, dan kemudian menyerahkan semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan sambil disertai dengan rasa syukur. Ketika dunia mengajarkan kebencian, kita diajarkan untuk mengasihi. Ketika dunia cenderung mencari pembenaran atas segala kekejian, kita diminta untuk bersikap lembut hati dan mau mengakui kesalahan kita. Dunia boleh membenci, tetapi kita mengasihi. &lt;b&gt;Dunia boleh kasar, tapi kita harus lembut.&lt;/b&gt; Dunia boleh menumpuk harta, tapi kita harus memberi. Kesombongan tidak ada dalam kamus kita, dan harus diganti dengan kerendahan hati. &lt;b&gt;Semakin tinggi kita naik, kita harus semakin rendah hati&lt;/b&gt;. Bukankah bulir padi yang siap tuai pun merunduk? Alkitab sudah menjelaskan bagaimana seharusnya sikap hidup kita. Memberi bantuan dan mengasihi tanpa pandang bulu, termasuk kepada musuh kita. Dunia boleh saja tidak berlaku seperti itu, tapi kita harus mencerminkan terang Tuhan bagi sesama kita. Itu adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Mudah? Tentu tidak. Tapi Roh Kudus tentu akan memampukan kita memiliki sikap hati yang lembut jika kita mengijinkannya. Siapkah anda menjadi pribadi yang berbeda dengan dunia dan mencerminkan terang yang bersinar dalam kegelapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika dunia membenci, kita mengasihi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6480304154825946838?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/6480304154825946838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=6480304154825946838' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6480304154825946838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6480304154825946838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/cara-pandang-hidup.html' title='Cara Pandang Hidup'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3671929044640153515</id><published>2012-01-04T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T08:00:00.863-08:00</updated><title type='text'>Pilih Dicintai atau Dibenci?</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Amsal 22:1&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="dicintai atau dibenci" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/yoram-yonatan.jpg" /&gt;Selalu menarik bagi saya untuk membaca sejarah tokoh-tokoh dunia. Ada yang dikenal karena kebaikan atau jasa-jasa mereka yang berdampak besar bagi generasi pada masa mereka hingga generasi berikutnya. Sebaliknya ada pula yang terkenal justru karena kejahatan atau kekejaman mereka. Seringkali para tokoh yang terkenal karena kejahatannya ini tidak saja memberi nama buruk bagi diri mereka sendiri, tapi nama keluarga mereka pun tercemar karenanya, bahkan tidak menutup kemungkinan negara di mana mereka tinggal pun bisa terkena getahnya. Ada beberapa negara yang pernah mempunyai tokoh kejam masih berjuang menghapus image buruk itu bahkan hingga hari ini. Sebuah nama yang baik akan mengharumkan sang tokoh, nama keluarga yang ia sandang maupun negaranya asalnya, sebaliknya nama buruk akan mencemarkan dirinya sendiri, keluarganya dan bangsa dimana ia tinggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah catatan kontras bisa kita saksikan dari kematian dua tokoh sejarah Israel di dalam Alkitab, yaitu antara &lt;b&gt;Yonatan&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Yoram&lt;/b&gt;. Yonatan adalah putra raja Saul, sedang Yoram adalah putra raja Yosafat. Kedua tokoh ini sama-sama putra raja, tapi perilaku dan cara hidup mereka jauh berbeda. Yonatan dikenal sebagai tokoh yang jujur, menghormati persahabatan, berjiwa kesatria, tulus, tahu membedakan mana yang benar dan salah dan prajurit yang dengan gagah berani membela bangsa dan tanah airnya. Yonatan merupakan sosok sahabat yang sangat dikasihi dan dihormati, berbudi luhur dan punya integritas. Daud begitu kehilangan ketika Yonatan mati, sehingga ia sampai menuliskan nyanyian ratapan tidak saja buat Yonatan, tetapi juga buat Saul, ayahnya. Kita tahu bagaimana sikap buruk Saul termasuk rasa iri hati dan kebenciannya terhadap Daud, tetapi Daud masih memberi penghormatan besar bagi Saul di saat ia meninggal di medan perang bersama Yonatan. Ini bisa kita lihat dalam kitab 2 Samuel 1:17-27 dimana Daud menunjukkan dukacitanya dan menyebut mereka sebagai pahlawan. &lt;i&gt;"Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan!"&lt;/i&gt; (ay 19). Tidak hanya itu saja, Daud pun mengenang Yonatan dan Saul sebagai &lt;b&gt;orang-orang yang dicintai dan ramah&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;"Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa."&lt;/i&gt; (ay 23). Dalam bahasa Inggrisnya disebutkan &lt;i&gt;beloved and lovely&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Yoram meninggalkan catatan kelam dan itu bisa kita baca dalam 2 Tawarikh 21:2-20. Ia mempergunakan kekuasaan bukan untuk hal-hal yang baik bagi rakyatnya, tetapi malah menyalahgunakan itu semua karena merasa dirinya sudah kuat dan berada di atas angin sehinga bisa bertindak seenaknya. &lt;i&gt;"Sesudah Yoram memegang pemerintahan atas kerajaan ayahnya dan merasa dirinya kuat, ia membunuh dengan pedang semua saudaranya dan juga beberapa pembesar Israel."&lt;/i&gt; (ay 4). Ia tidak mencerminkan ayahnya Yosafat, tapi justru hidup menurut keluarga Ahab, mertuanya. Dan Alkitab menyatakan bahwa ia dianggap &lt;b&gt;jahat di mata Tuhan&lt;/b&gt;.&lt;i&gt; "Ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab, sebab yang menjadi isterinya adalah anak Ahab. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN."&lt;/i&gt; (ay 6). Dan lihatlah buah dari perbuatannya. Tuhan pun lalu menyampaikan teguran dan hukuman kepadanya lewat nabi Elia. &lt;i&gt;"Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Karena engkau tidak hidup mengikuti jejak Yosafat, ayahmu, dan Asa, raja Yehuda,melainkan hidup menurut kelakuan raja-raja Israel dan membujuk Yehuda dan penduduk-penduduk Yerusalem untuk berzinah, sama seperti yang dilakukan keluarga Ahab, dan juga karena engkau telah membunuh saudara-saudaramu, seluruh keluarga ayahmu yang lebih baik dari padamu, maka TUHAN akan mendatangkan tulah besar atas rakyatmu, anak-anakmu, isteri-isterimu, dan atas semua harta milikmu. Dan engkau sendiri akan menderita penyakit yang dahsyat, suatu penyakit usus, hingga selang beberapa waktu ususmu keluar oleh karena penyakit itu."&lt;/i&gt; (ay 12-15). Dan tepatnya itulah yang terjadi. Datanglah serangan orang Filistin dan Arab melawan Yoram dan rakyatnya. (ay 16). Semua harta milik mereka dijarah, anak-anak dan istri Yoram semua diambil sebagai tawanan kecuali putranya yang bungsu (ay 17). Lalu datanglah penyakit ususnya itu dan ia pun mati dengan sangat menderita. (ay 19). Pada ayat ini juga dan ayat berikutnya kita bisa melihat bagaimana kematiannya itu disikapi rakyatnya. &lt;i&gt;"Rakyatnya tidak menyalakan api baginya seperti yang diperbuat mereka bagi nenek moyangnya. Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem.&lt;b&gt; Ia meninggal dengan tidak dicintai orang.&lt;/b&gt; Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja."&lt;/i&gt; (ay 19-20). Ketika Yonatan meninggal dengan dikenang sebagai orang yang baik dan dicintai, Yoram dengan jelas dikatakan meninggal dengan tidak dicintai siapapun. Yoram tidak menunjukkan kasih. Apa yang ia tunjukkan hanyalah kekejaman, kebencian dan kebengisan. Ia tidak hormat kepada Tuhan dan tidak memberi yang baik kepada rakyatnya malah membuat mereka menderita. Akibatnya ia pun mati tanpa cinta, tanpa ada yang bersedih apalagi menangisi. Itulah catatan kontras yang dicatat Alkitab mengenai kematian dua tokoh ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat contoh dari kedua tokoh ini, wajarlah jika Salomo yang penuh hikmat kemudian mengatakan dalam salah satu Amsalnya:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Amsal 22:1). Ketika banyak orang lebih tertarik pada perak dan emas, sesungguhnya mereka lupa bahwa nama baik jauh lebih berharga dari semuanya itu. Tumpukan harta tidak akan bisa dibawa mati. Seperti yang saya sebut kemarin, apa yang tinggal kelak hanyalah kenangan, dan seperti apa kita nanti dikenang orang, apakah seperti Yonatan atau Yoram, semua itu akan tergantung dari bagaimana cara kita menjalani hidup. Tuhan Yesus sudah mengingatkan sejak jauh hari:&lt;i&gt; "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya."&lt;/i&gt; (Markus 8:36). Kekayaan harta dan jabatan tidak akan pernah mampu memberikan kebahagiaan sepenuhnya. Dalam waktu singkat mungkin bisa, tetapi biar bagaimanapun itu tidaklah sebanding dengan nyawa yang kita buang selamanya demi kenikmataan sesaat. Kaya raya tapi dibenci orang lain itu sesungguhnya amatlah menyedihkan. Saya sudah bertemu dengan beberapa orang seperti ini dan lewat mereka saya mendengar sendiri kesedihan hidup dalam kesepian akibat dibenci banyak orang tidak akan bisa terobati dengan harta sebesar atau sebanyak apapun. Tidak salah untuk bisa menjadi kaya, tetapi kita harus benar-benar memperhatikan cara-cara yang kita buat untuk memperolehnya dan kemana atau untuk apa kita mempergunakannya. Oleh karena itu teladanilah Yonatan dan hindarilah sikap hidup Yoram. Bekerja dan berusahalah dengan jujur, jadilah seorang sahabat yang bisa diandalkan, lakukan semuanya dengan sebaik-baiknya seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Muliakan Tuhan dengan setiap perbuatan dan perilaku kita, teruslah berbuat baik dan tolonglah orang-orang yang kesusahan semampu kita. Tuhan sanggup melimpahkan semuanya tanpa kita harus menggadaikan kehormatan, nama baik keluarga dan bangsa yang juga akan berpengaruh pada keselamatan kekal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dikenang sebagai orang baik atau dibenci tergantung dari bagaimana sikap hidup kita. Mana yang kita pilih?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3671929044640153515?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3671929044640153515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3671929044640153515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3671929044640153515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3671929044640153515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/pilih-dicintai-atau-dibenci.html' title='Pilih Dicintai atau Dibenci?'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8478405053720882371</id><published>2012-01-03T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T08:00:02.771-08:00</updated><title type='text'>Here Today, Gone Tomorrow</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 2 Tawarikh 9:31&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kemudian Salomo mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Maka Rehabeam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kuburan.jpg" /&gt;Tahun lalu seorang penyanyi tiga jaman di kota tempat saya tinggal meninggal dunia. Belum lama saya bertemu dengannya bahkan berkesempatan berbincang-bincang beberapa kali. Meski usianya sudah tua, tapi suara emasnya masih tetap terdengar begitu merdu. Ia pun masih sangat aktif bernyayi di berbagai tempat dengan gaya yang sangat mengingatkan saya pada glamornya Frank Sinatra. Saya pun terkejut ketika mendengar bahwa ia sudah tiada. Sosok seorang ayah atau kakek yang gagah dengan kemampuan bernyanyi yang sangat indah itu pun terbujur kaku. Saya menatapnya dan mengingat penampilan panggungnya yang masih mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari penontonnya hanya beberapa minggu sebelumnya. &lt;b&gt;Here today, gone tomorrow.&lt;/b&gt; Itulah yang terlintas di benak saya. Tidak peduli seberapa hebatnya kita, siapapun kita, pada suatu saat nanti semua itu akan berakhir. Mau punya jabatan setinggi langit, mau punya kekayaan melimpah bagai air bah, semua itu adalah fana. Pada suatu hari semua akan berakhir, dan tidak ada yang bisa kita lakukan dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat bacaan hari ini menuliskan akhir dari kehidupan orang paling kaya dan paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi ini. Kita tentu tahu bagaimana kekayaan Salomo dan betapa luasnya pengetahuannya dalam hikmat. Tapi pada saatnya, bahkan Salomo sekalipun tidak mampu mencegah akhir perjalanan hidupnya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Kemudian Salomo mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Maka Rehabeam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (2 Tawarikh 9:31). Apa yang menarik bagi saya, perikop mengenai mangkatnya Salomo ini hadir persis setelah perikop sebelumnya memaparkan masa-masa kejayaannya lengkap dengan kekayaannya. Mari kita lihat sejenak sedikit saja dari pemaparan itu.&lt;i&gt; "Adapun berat emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta."&lt;/i&gt; (ay 14). 666 talenta itu setara dengan 23.000 kg emas. Itu per tahun. Berapa harga 1 kg emas hari ini? Dan berapa nilainya jika dikalikan 23.000? Dan itu dikatakan belum termasuk yang dibawa oleh para saudagar dan pedagang juga raja-raja Arab dan bupati-bupati di negeri itu. Rangkaian ayat selanjutnya merinci lebih jauh lagi tentang kekayaan Salomo. Tapi di perikop selanjutnya kita kemudian menemukan ayat yang menyatakan dengan sederhana bahwa Salomo kemudian meninggal dan dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Sangatlah menarik bagi saya melihat urutan kedua perikop ini, karena saya merasa seolah penulis 2 Tawarikh ingin menyatakan bahwa &lt;b&gt;betapapun hebatnya seorang manusia, ia tetaplah sosok yang fana. Sehebat dan seluar biasa apapun manusia, pada satu saat semua itu akan ditinggalkan, dan apa yang tinggal hanyalah kenangan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat sosok penyanyi yang sangat saya kagumi itu terbujur kaku, saya pun menyadari betapa singkatnya hidup ini. &lt;b&gt;Life is really short.&lt;/b&gt; Musa berkata, &lt;i&gt;"Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap."&lt;/i&gt; (Mazmur 90:10). Tujuh puluh tahun memang relatif. Tapi jelas itu sangat singkat dibanding fase selanjutnya yang&amp;nbsp; kekal yang menanti kedatangan kita. Apapun itu, apakah kehidupan kekal atau kematian kekal yang penuh siksaan mengerikan akan tergantung dari bagaimana cara kita menyikapi fase saat ini, selagi kesempatan untuk itu masih diberikan kepada kita. Karena itu saya merasa alangkah naif atau bahkan bodohnya jika kita malah sibuk menumpuk harta dengan segala cara bahkan kalau perlu dengan cara-cara curang yang keji dan mengorbankan orang lain. Betapa bodohnya jika kita gila jabatan dan siap menghalalkan segala cara demi itu. Tidak peduli sebanyak apapun kita berhasil memperolehnya, tetap saja pada suatu ketika nanti semua itu ditinggalkan dan tidak akan bisa dibawa untuk berpindah ke fase berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan: &lt;i&gt;"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi &lt;b&gt;kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Matius 6:19-20). Seberapa jauh kita menyadari hal ini? Apakah kita saat ini masih termasuk orang yang menilai segala sesuatu hanya dari sisi uang atau harta saja, mementingkan sisi materialisme lebih dari segalanya atau tidak? Tuhan Yesus berkata: &lt;b&gt;"Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."&lt;/b&gt; (ay 21). Apabila dalam dunia kita mengumpulkan harta dengan menimbun, untuk Kerajaan Surga mengumpulkan harta justru sebaliknya, yaitu dengan memberi. Jika demikian, kita bisa menanyakan diri kita sendiri, apa warna hati kita hari ini, dan kearah mana hati kita menuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Musa pun mengatakan,&lt;i&gt; "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."&lt;/i&gt; (Mazmur 90:12). Kita harus bisa menghitung hari dengan bijaksana karena waktu untuk melakukan itu sesungguhnya singkat. Janganlah tergoda untuk mabuk terhadap harta, jabatan atau hal-hal lain yang sering dipercaya dunia dapat mendatangkan kebahagiaan bagi semua orang. Apalagi jika untuk memperoleh itu semua kita lalu tega untuk melakukan cara-cara keji yang merugikan banyak orang. Tidak satupun dari itu yang abadi. Cepat atau lambat, &lt;i&gt;sooner or later&lt;/i&gt;, kita akan meninggalkan itu semua. Apa yang penting untuk kita ingat adalah mengisi setiap detik kehidupan kita dengan hal-hal yang bermanfaat untuk masa depan kita kelak di fase kekekalan, berbuat sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan, memuliakanNya lewat memberkati banyak orang lain lewat karya-karya kita, dan tidak menyia-nyiakan atu membuang-buang waktu untuk itu. Ketika Tuhan memberkati kita dengan kekayaan, pergunakanlah sebagian dari itu untuk membantu sesama, ketika kita diberikan berkat atas jabatan, muliakanlah Tuhan dengan itu dengan hikmat dan kebijaksanaan yang mencerminkan kita sebagai murid Kristus sejati. &lt;i&gt;Let's make Him proud with everything we do today and tomorrow!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mementingkan hal yang fana dan mengabaikan yang kekal merupakan kesalahan fatal yang harus dihindari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8478405053720882371?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8478405053720882371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8478405053720882371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8478405053720882371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8478405053720882371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/here-today-gone-tomorrow.html' title='Here Today, Gone Tomorrow'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-940308629631288366</id><published>2012-01-02T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T08:00:01.102-08:00</updated><title type='text'>Bersama Kita Sepanjang Tahun</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Ulangan 11:12&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="bersama sepanjang tahun" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/jaga-sepanjang-tahun.jpg" /&gt;Bagaimana pandangan anda terhadap tahun 2011 yang baru lalu? Semoga tahun lalu merupakan tahun yang indah dimana anda merasakan penyertaan Tuhan yang melindungi, menjaga dan memberkati anda sepanjang tahun. Beberapa teman saya menganggap tahun kemarin merupakan tahun yang sulit dan penuh pergumulan. Karena itu pula mereka kuatir tahun ini jangan-jangan akan sama lagi, atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Belum lagi ramalan-ramalan yang seolah didasarkan kepada sesuatu yang ilmiah mengenai datangnya akhir zaman di tahun 2012 ini. Kondisi politik dan ekonomi di negara ini tidak kunjung membaik. Tahun lalu ada banyak bencana menimpa berbagai belahan dunia seperti halnya tahun 2010. Seperti yang saya katakan kemarin, saya menyambut tahun yang baru ini dengan optimis, karena Tuhan sudah menjanjikan &lt;b&gt;rahmatNya yang selalu baru setiap pagi.&lt;/b&gt; (Ratapan 3:22-23). Pagi tadi saya menyambut datangnya fajar pertama di tahun 2012 dengan sebuah pengharapan baru. Saya mengucap syukur karena Tuhan menyediakan sebuah tahun lagi bagi saya untuk menyaksikan kasihNya yang besar. Selain ayat Ratapan yang tidak asing lagi bagi kita ini, ada sebuah janji lainnya yang pernah Tuhan sampaikan dahulu kala di zaman Musa. Hari ini mari kita lihat janji Tuhan tersebut dan semoga ini bisa memperkuat langkah iman anda dalam memasuki tahun yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir untuk masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan, bangsa Israel sebenarnya sudah mengalami begitu banyak penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan mereka. Mulai dari tiang api dan tiang awan untuk menghangatkan disaat dingin dan memayungi mereka disaat panas: &lt;i&gt;"TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu."&lt;/i&gt; (Keluaran 13:21-22), &lt;i&gt;burung puyuh&lt;/i&gt; yang diberikan Tuhan karena mereka bersungut-sungut hanya makan roti terus menerus (Keluaran 16:13) dan lain-lain, sampai sebuah mukjizat besar ketika Tuhan &lt;i&gt;membelah laut Teberau&lt;/i&gt; sehingga mereka bisa berjalan melewati laut itu sementara Firaun dan tentaranya habis tersapu laut yang kembali menutup di saat mereka melintasinya. (Keluaran 14). Ini baru beberapa dari bukti nyata penyertaan Tuhan yang mereka saksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Apakah bangsa Israel ini menjadi teguh imannya dan bisa percaya penuh kepada Tuhan? Sayangnya tidak. Dasar bangsa yang keras kepala dan tidak tahu terima kasih, mereka terus berulang-ulang menunjukkan sikap buruk mereka, baik lewat keluh kesah bahkan menyembah ilah lain hingga beberapa generasi selanjutnya. Kembali kepada perjalanan mereka menuju Kanaan, Musa sudah mengingatkan mereka bahwa mereka seharusnya sadar bahwa mata mereka sendiri sebetulnya sudah menyaksikan segala perbuatan besar Tuhan.&lt;i&gt; "Kamu tahu sekarang--kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu--kebesaran-Nya, tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung, tanda-tanda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya di Mesir terhadap Firaun, raja Mesir, dan terhadap seluruh negerinya; juga apa yang dilakukan-Nya terhadap pasukan Mesir, dengan kuda-kudanya dan kereta-keretanya, yakni bagaimana Ia membuat air Laut Teberau meluap meliputi mereka, ketika mereka mengejar kamu, sehingga TUHAN membinasakan mereka untuk selamanya; dan apa yang dilakukan-Nya terhadapmu di padang gurun, sampai kamu tiba di tempat ini; pula apa yang dilakukan-Nya terhadap Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, anak Ruben, yakni ketika tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya, kemah-kemah dan segala yang mengikuti mereka, di tengah-tengah seluruh orang Israel."&lt;/i&gt; (Ulangan 11:2-6). Dan sebuah ketegasan pun dikatakan oleh Musa: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 7). Tidakkah ini pun menjadi teguran buat kita? Kita seringkali hanya sibuk terfokus memandang masalah sehingga lupa bagaimana Tuhan telah menyertai kita selama ini. Berbagai bukti nyata penyertaan Tuhan yang pernah kita alami kita kesampingkan lalu kita hanya sibuk mengeluh menghadapi berbagai kesulitan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Israel tidak mampu melihat apa yang sebenarnya diberikan Tuhan kepada mereka. Tuhan melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan memberi sebuah tanah yang sangat subur, melimpah susu dan madunya. Lihatlah ayat berikut ini: &lt;i&gt;"Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur. Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit."&lt;/i&gt; (Ulangan 11:10-11). Lalu lihatlah janji Tuhan yang indah ini: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 12). Janji yang sama Tuhan berikan kepada kita dalam memasuki tahun yang baru. Kita belum melihatnya, tapi sesungguhnya apa yang disediakan Tuhan adalah tahun yang subur, melimpah susu dan madunya, tahun yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit alias tahun yang subur dan sangat menjanjikan, dan terlebih lagi Tuhan sudah berjanji untuk memelihara kita berjalan di dalamnya, mulai dari awal sampai akhir tahun. Ini janji Tuhan yang luar biasa yang seharusnya bisa membuat kita tidak perlu kuatir dalam melangkah memasuki tahun 2012 yang baru saja bermula ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebagian dari kita merasa kuatir menatap masa depan kita di malam Tahun Baru kemarin, tetapi ingatlah bahwa kita tidak perlu kuatir kepada peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Kita tidak perlu terikat akan hal itu, karena kita sebenarnya dapat melangkah maju dengan fokus yang tertuju kepada Tuhan yang sudah memberikan janjiNya. &lt;b&gt;Seperti Tuhan mengawasi negeri dan umatNya dahulu, seperti itu pula Dia akan melakukannya untuk kita.&lt;/b&gt; MataNya pun akan senantiasa mengawasi kita, dan Dia akan berjalan bersama-sama dengan kita dari awal sampai akhir tahun. Kasih setia Tuhan akan terus ada bersama anda dan saya setiap hari di tahun yang baru ini. Tuhan sudah berjanji dan Dia pasti menepatinya. Kita dapat memegang dan mempercayai janjiNya. Oleh karena itu, masukilah tahun yang baru dengan semangat dan gairah baru dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Mari jadikan tahun 2012 sebagai tahun yang indah bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tuhan berjanji mengawasi kita dari awal sampai akhir tahun, bersyukurlah untuk itu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-940308629631288366?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/940308629631288366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=940308629631288366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/940308629631288366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/940308629631288366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/bersama-kita-sepanjang-tahun.html' title='Bersama Kita Sepanjang Tahun'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2970692221577136153</id><published>2012-01-01T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T08:00:01.583-08:00</updated><title type='text'>2012</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 24:4&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img 2012="" align="left" alt-="" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/2012.jpg" /&gt;&lt;b&gt;Selamat Tahun Baru 2012!&lt;/b&gt; Rasanya seperti baru kemarin kita merayakan tahun baru 2011, tapi kini kita sudah memasuki tahun yang baru, tahun yang bagi sebagian orang menakutkan. Menakutkan, karena ada banyak ahli sejarah terutama yang menyelidiki kebudayaan bangsa Maya mengatakan bahwa siklus dunia berhenti di tahun 2012. Artinya, tahun ini mereka perkiraan sebagai tahun terakhir perjalanan dunia. Bahkan ada ahli yang berani memperkirakan tanggal dan jam berapa tepatnya bumi akan menemui akhirnya. Sebuah film dari Hollywood mengambil judul 2012 secara langsung dan menggambarkan bagaimana kiamat itu tiba. Banyak dari kita yang merasa cemas memasuki tahun 2012 ini. Tanpa memikirkan ramalan-ramalan ini pun kita seringkali diliputi perasaan kuatir memasuki tahun yang baru, apalagi jika tahun yang baru saja berlalu bukan tahun yang baik buat kita. Bagi saya pribadi, sebuah tahun yang baru merupakan awal dari sebuah perjalanan baru yang akan membuka berkat-berkat yang baru pula. Mengapa saya bisa percaya akan hal itu? Karena Tuhan sendiri sudah berkata: &lt;i&gt;"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"&lt;/i&gt; (Ratapan 3:22-23). &lt;b&gt;&lt;i&gt;New dawn with a new hope, a new chapter of life where I can experience more amazing things from God. That is, if I keep on walking with Him in an even closer relationship than the previous years. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah kita bisa memprediksi kapan dunia ini akan kiamat? Ada banyak nubuatan dalam kitab terakhir Wahyu yang memang sudah atau mulai digenapi. Kita tidak bisa mengabaikan hal itu. Tandanya, memang akhir zaman sudah dekat. Tapi tidak satupun orang yang tahu kapan tepatnya hari itu akan tiba. Tuhan Yesus sendiri bahkan berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Markus 13:32). Jika Tuhan Yesus saja tidak tahu, apalagi kita. Oleh karena itulah kita diingatkan untuk berjaga-jaga setiap saat sampai waktu Yesus datang untuk kedua kalinya tiba.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Markus 13:33). Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat dalam Matius 24:45-51 menggambarkan hal itu, perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh dalam Matius 24:1-13 juga mengingatkan hal yang sama. Demikian pula dalam Lukas 12:35-48.&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala...Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Lukas 12:35,40). Kembali Paulus mengingatkan kita untuk berjaga-jaga dalam 1 Tesalonika 5:1-11. &lt;i&gt;"Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam."&lt;/i&gt; (1 Tesalonika 5:1-2). Kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, kita diingatkan untuk terus berjaga-jaga dan waspada, agar kita senantiasa siap ketika waktunya tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Yesus menggambarkan datangnya akhir zaman dalam Matius 24:3-14. Disana Yesus mengingatkan agar kita jangan terpengaruh kepada berbagai ramalan atau isu-isu yang menyesatkan atau meresahkan. Ketika murid-muridNya menanyakan kapan kesudahan dunia itu terjadi, "Jawab Yesus kepada mereka: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 24:4). Berbagai tanda pun kemudian diberikan Yesus, dan kemudian ditutup dengan: " Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (ay 14). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satupun orang yang tahu kapan hari itu tiba. Kita tidak perlu dicekam ketakutan akan datangnya hari kiamat itu, kita tidak perlu cemas berpikir bahwa ini adalah tahun terakhir dalam perjalanan dunia. Apa yang penting untuk kita lakukan adalah untuk senantiasa terus berjaga-jaga. &lt;i&gt;"Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: &lt;b&gt;berjaga-jagalah!&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Markus 13:35-37). Hendaklah pinggang kita tetap terikat dan pelita tetap bernyala. Bagi para hamba Tuhan, ingat pula untuk melatih dan menguasai seluruh tubuh, karena Paulus sudah mengingatkan demikian: &lt;i&gt;"Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."&lt;/i&gt; (1 Korintus 9:27). Masukilah tahun yang baru dengan semangat baru, gairah baru dan ketaatan yang baru. Perbaharuilah hubungan anda dengan Tuhan yang mungkin mulai compang camping akhir-akhir ini. Bagi yang sudah membangun kedekatan, pertahankan dan tingkatkanlah. Tuhan menyediakan berkat-berkatNya yang baru memasuki tahun yang baru, yang tidak tergantung pada kondisi dunia secara global. Karena itu, mari kita bersukacita dan bersyukur dalam melangkah memasuki tahun 2012 ini. Selamat Tahun Baru, Tuhan Yesus memberkati anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kiamat atau tidak, yang penting adalah terus berjaga-jaga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2970692221577136153?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2970692221577136153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2970692221577136153' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2970692221577136153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2970692221577136153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/01/2012.html' title='2012'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1761912173264274791</id><published>2011-12-31T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-31T08:00:00.140-08:00</updated><title type='text'>Bintang sebagai Tanda Penyertaan Allah</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yesaya 40:26&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu..."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="bintang tanda penyertaan Allah" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/bintang-3.jpg" /&gt;Beberapa waktu lalu seorang teman datang berkunjung dan menginap di rumah. Pada malam harinya kami duduk berbincang-bincang di teras rumah, dan di langit terlihat begitu banyak bintang bertaburan. Tiba-tiba ia menunjuk ke arah sekelompok bintang dan berkata "Itu rasi orion!" Saya bukan orang yang mengerti astronomi atau ilmu perbintangan, dan saya tidak pernah tahu sebelumnya kalau teman saya itu bisa mengamati rasi bintang. Ia pun terus menunjuk kesana kemari untuk menunjukkan pola-pola bintang lainnya yang ia kenal. Selagi pandangan saya menatap bintang-bintang di langit dan mengikuti penjelasan teman saya itu, saya pun berpikir, betapa Tuhan telah menghias langit dengan begitu indahnya. Dan saya pun kemudian menyadari bahwa sesungguhnya ada pesan yang disampaikan Tuhan setiap malam lewat keberadaan bintang-bintang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli astronomi pernah berkata bahwa apabila kita memiliki mata yang baik maka kita akan bisa melihat 5000 bintang. 5000 rasanya seperti terdengar berlebihan, tapi begitulah katanya. Ada banyak bintang yang tidak terlihat secara kasat mata, dan para ahli pun kemudian mengunakan teleskop untuk bisa menyelidiki dan mengamati lebih jauh lagi tentang bintang-bintang ini. Penelitian para ahli astronomi ini menyimpulkan bahwa ada milyaran galaksi di angkasa raya, dan setiap galaksi ini memiliki milyaran bintang pula. Bisa dibayangkan ada berapa banyak jumlah bintang sebenarnya yang ada di atas sana. Seorang ahli pernah berkata, ada lebih dari 10 bintang di alam semesta ini untuk setiap butir pasir di bumi. Itu sebuah perbandingan yang mencengangkan yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham mungkin tidak tahu kesimpulan ahli ini. Tapi tanpa tahu pun Abraham tentu tercengang ketika mendapatkan janji Tuhan kepadanya yang dihubungkan dengan jumlah bintang. &lt;i&gt;"Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."&lt;/i&gt; (Kejadian 15:5). Perlukah Abraham terlebih dahulu menghitung bintang? Perlukah ia berbantah-bantah dulu karena janji Tuhan itu terdengar aneh dan tidak masuk akal? Tidak. Alkitab mencatat respon Abraham, yang pada masa itu masih bernama Abram. &lt;i&gt;"Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."&lt;/i&gt; (ay 6). Lalu&amp;nbsp; lihatlah bintang yang menuntun orang-orang Majus dari Timur untuk bertemu dan menyembah bayi Yesus. (Matius 2:1-12). Daud pun berulang kali menuliskan perenungannya sambil melihat ke arah bintang-bintang. Lihatlah salah satunya berbunyi: &lt;i&gt;"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?"&lt;/i&gt; (Mazmur 8:4-5). Bintang bisa membawa begitu banyak pesan Tuhan kepada kita. Bintang selalu hadir setiap malam, dan kita bisa menyaksikannya ketika langit cerah, berkilauan gemerlap di langit gelap. Di bentangan langit gelap itu Tuhan ternyata berbicara dan menyatakan kehadiranNya kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah apa bunyi firman Tuhan lewat Yesaya berikut ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yesaya 40:26). Ayat ini mengingatkan kita akan kebesaran kuasa Tuhan, yang sanggup menyuruh milyaran bintang-bintang itu keluar tanpa terkecuali. Itu &lt;b&gt;menunjukkan keberadaanNya&lt;/b&gt; ditengah kita, itu menunjukkan penyertaanNya kepada kita. Lalu ayat selanjutnya berkata: &lt;i&gt;"Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya."&lt;/i&gt; (ay 27-29). Seperti halnya Tuhan memperhatikan milyaran bintang di langit, &lt;b&gt;Dia pun memperhatikan milyaran individu yang hidup di bumi.&lt;/b&gt; Tidak satupun yang Dia lupakan, tidak satupun yang Dia abaikan. Artinya jelas. Jika Tuhan sanggup menggerakkan segenap penghuni langit untuk keluar satu persatu, Dia pun dapat membawa kita keluar dari gelap menuju kepada terangNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada di antara anda yang hari ini dicekam kekuatiran menghadapi datangnya tahun yang baru atau tengah ditimpa beban berat, arahkanlah mata ke langit dan lihatlah bahwa di balik bintang-bintang yang anda amati itu ada Tuhan yang bertahta disana. Dia sedang berbicara mengingatkan anda bahwa anda tidaklah sendirian. Dia peduli dan selalu siap untuk membawa anda keluar dari kegelapan menuju kepada terangNya yang damai dan penuh sukacita. Malam ini jika anda melihat bintang-bintang bertaburan dengan gemerlapnya yang indah, bersyukur dan bersukacitalah. Sebab itu tandanya Allah peduli dan mengasihi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya...Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."&lt;/i&gt; (Mazmur 136:3,9)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1761912173264274791?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/1761912173264274791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=1761912173264274791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1761912173264274791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1761912173264274791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/bintang-sebagai-tanda-penyertaan-allah.html' title='Bintang sebagai Tanda Penyertaan Allah'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2897890287222838582</id><published>2011-12-30T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T08:00:01.194-08:00</updated><title type='text'>Bersukacita Menyambut Tahun Baru</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Mikha 7:7&lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="bersukacita tahun baru" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/tahun-baru.jpg" /&gt;Apa yang anda rasakan dalam menyambut tahun baru yang akan datang lusa? Bersyukurlah jika anda merasa baik-baik saja dan tenang dalam memasuki tahun yang baru. Pada kenyataannya ada banyak yang khawatir dengan berbagai macam alasan. Ada yang mengalami banyak problema di tahun ini sehingga mereka pun merasa gamang untuk melangkah ke dalam tahun berikutnya. "Tahun ini saja sudah susah, bagaimana tahun depan? Tidak tahu deh, saya pasrah pak.." kata bapak tukang parkir yang sudah saya kenal. Ada yang ragu menatap tahun baru karena menurut pengalaman mereka dalam beberapa tahun terakhir, situasi bukannya membaik tetapi malah memburuk. Ada pula yang dicekam ketakutan karena banyaknya ramalan-ramalan yang mengatakan bahwa tahun 2012 merupakan tahun terakhir perjalanan sejarah manusia di bumi. Kondisi sulit, krisis terjadi dalam multi dimensi. Bukan saja di negara kita tapi secara global pun demikian baik dalam segi ekonomi, politik, keamanan, kesehatan, dan lain-lain. Belum lagi bencana alam dan sebagainya yang memporakporandakan banyak tempat di berbagai belahan dunia. Lantas bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita kehilangan sukacita dan masuk ke dalam tahun baru dengan sikap pesimis atau bahkan menyerah sebelum bertanding? Jangan sampai. Alangkah sayangnya apabila kita menatap tahun yang baru dengan pandangan suram atau tanpa harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin baik bagi kita untuk belajar dari apa yang terjadi pada masa pelayanan Mikha. Mikha ini adalah seorang nabi dari desa terpencil yang pelayanannya ada dalam rentang masa pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Situasi dan kondisi dunia saat ini sepertinya sama seperti pada masa Mikha itu. Pasal 7 kitab Mikha menggambarkan bagaimana kebobrokan moral di zaman itu. Kelaparan, gagal panen (ay 1), kemerosotan moral, hilangnya orang saleh dan jujur, saling jebak, saling tipu, bahkan saling menghancurkan (ay 2), sudah begitu terbiasa berbuat jahat, pejabat dan hakim korupsi dan menerima suap, pemimpin memaksakan kemauannya, hukum diputar balikkan (ay 3), orang yang terbaik sekalipun di dunia diibaratkan bagai semak duri yang tidak berguna dan menusuk (ay 4), tidak ada lagi yang bisa dipercaya (ay 5), kehancuran rumah tangga, permusuhan antara anggota keluarga (ay 6). Semua ini dikatakan Mikha seperti sebuah &lt;b&gt;luka yang tidak dapat sembuh dan menular&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;"sebab lukanya tidak dapat sembuh, sudah menjalar ke Yehuda, sudah sampai ke pintu gerbang bangsaku, ke Yerusalem!"&lt;/i&gt; (ay 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah apa yang kita hadapi hari ini kurang lebih sama dengan situasi yang Mikha hadapi pada masa itu? Karenanya kita bisa belajar lewat sikap Mikha dalam menghadapi kondisi sulit ke depan. Ayat bacaan hari ini menggambarkan penyerahan sepenuhnya pada Tuhan.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mikha 7:7). Perhatikanlah, setelah kita melihat bagaimana kebobrokan moral diungkapkan begitu gamblangnya dalam kitab ini, Mikha lalu menyatakan sikapnya berada dalam kondisi seperti itu. &lt;b&gt;Mikha memilih untuk berpegang kepada Tuhan dengan pengharapan penuh.&lt;/b&gt; Apabila Tuhan mampu menyelamatkan anak-anakNya di masa lalu, jika kita sudah berkali-kali melihat bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat lewat cara-cara yang ajaib, jika dulu Dia sanggup, sekarang pun Tuhan sanggup! Sebab &lt;b&gt;Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu sama, dulu, sekarang sampai selamanya.&lt;/b&gt; (Ibrani 13:8) &lt;i&gt;"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub."&lt;/i&gt; (Mazmur 46:2-8).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Ini janji penyertaan Tuhan yang luar biasa, dan pujilah Dia untuk itu. Tuhan sudah menjanjikan sesuatu yang seharusnya bisa melegakan dan menenangkan kita, sesuatu yang seharusnya tidak membuat kita harus kehilangan sukacita. Karenanya kita tidak perlu takut memasuki tahun baru yang secara logika manusia diprediksi bakal suram dan penuh ketidakpastian atau tanpa harapan. Penulis Ibrani selanjutnya mengatakan: &lt;i&gt;"Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan."&lt;/i&gt; (Ibrani 12:26-27). Ayat selanjutnya berbicara mengenai apa yang harus kita lakukan.&lt;i&gt; "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."&lt;/i&gt; (ay 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Mikha kita bisa belajar untuk terus dengan pengharapan penuh menanti-nantikan Tuhan. Mikha percaya kepada penyertaan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, Mikha percaya penuh pada kuasa Tuhan yang akan selalu menyelamatkan dan mendengarkan doa anak-anakNya. Daud mengingatkan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi kita meski bumi hancur lebur sekalipun. Dalam Ibrani kita juga membaca bahwa ada kita harus selalu bersyukur dan beribadah pada Allah karena Dia memberi janji buat kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, meski segala yang lain tergoncangkan. Yesus sendiri berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Markus 9:23). Karena itu, memasuki tahun baru, 2012, mari kita semua tetap setia menantikan Tuhan. Teruslah mengucap syukur dan berdoa, karena Tuhan siap meluputkan permasalahan bagi setiap yang percaya kepadaNya. Hanya dua hari lagi kita sudah memasuki lembaran tahun yang baru. Bersyukurlah kita masih diberi kesempatan untuk itu. Tidak perlu ada rasa takut, khawatir dalam menatapnya, karena Tuhan ada bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bersukacitalah menyambut Tahun Baru dengan Tuhan berjalan bersama anda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2897890287222838582?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2897890287222838582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2897890287222838582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2897890287222838582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2897890287222838582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/bersukacita-menyambut-tahun-baru.html' title='Bersukacita Menyambut Tahun Baru'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-421089893688112920</id><published>2011-12-29T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T08:00:01.250-08:00</updated><title type='text'>Dari Mulut Yang Sama</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yakobus 3:10&lt;br /&gt;================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mulut yang sama" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/mulut-yang-sama.jpg" /&gt;"Negara ini sebenarnya berpotensi besar untuk menjadi hebat, sayangnya banyak di antara penduduknya hanya pintar komplain tapi sulit bersyukur." Itu kata seorang teman yang prihatin melihat kondisi negara yang terus carut marut. Ganti pemimpin tidak berarti segala sesuatu menjadi lebih baik. Terlepas dari tegas tidaknya pemerintah dalam memimpin, teman saya melihat rongrongan dari berbagai elemen masyarakat pun turut andil dalam memperkeruh masalah. "Bagaimana orang bisa kerja kalau digerogoti atau dikomentari terus menerus?" katanya lagi. Apa yang ia bilang memang ada benarnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi banyak di antara kita untuk terus mengeluh, memprotes dan mengomel. &lt;i&gt;Certified whiners&lt;/i&gt;, katanya, dan sedikit banyak itu tentu akan mempersulit sistem berjalan. Di satu sisi kritikan yang membangun itu memang perlu, dan kita memang dianjurkan untuk mau berlapang dada menerima kritik, tapi di sisi lain kritik yang terus menerus dan berlebihan tentu akan mengganggu proses apapun untuk berjalan dengan baik. Ada banyak orang yang di gereja pintar mengucap syukur, tapi di hari kerja omongannya hanya berisi keluh kesah, bersungut-sungut dan hal-hal negatif lainnya. Alkitab jelas menegur kita mengenai sikap seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakobus mengingatkan hal tersebut. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yakobus 3:10). Ucapan syukur dan umpatan, ucapan berkat dan kutuk, keduanya bisa keluar dari mulut yang sama, dan justru itulah yang seringkali terjadi. Firman Tuhan mengingatkan bahwa itu tidaklah boleh kita lakukan. Apa yang seharusnya keluar dari anak-anak Tuhan seharusnya hanyalah ucapan syukur. Mungkin mudah bagi kita untuk mengucap syukur ketika kita sedang diberkati, tetapi bisakah kita tetap mengeluarkan ucapan yang sama ketika kita sedang mengalami berbagai masalah, mengalami ketidakadilan, tekanan atau problema hidup? Banyak yang memilih untuk mengeluarkan kata-kata negatif, dan itu memang jauh lebih mudah ketimbang mencoba untuk mencari sesuatu yang tetap bisa disyukuri dalam keadaan yang tidak kondusif. Yang terbaik tentu adalah tetap mengucap syukur dalam situasi atau kondisi apapun. Bagaimana caranya? Firman Tuhan berkata: "&lt;i&gt;Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."&lt;/i&gt; (Amsal 4:23). Lalu ayat selanjutnya berkata:&lt;i&gt; "Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu."&lt;/i&gt; (ay 24).&amp;nbsp; Hati disebutkan adalah sumber kehidupan. Kalau begitu, hati yang tetap terjaga baik dan bersyukur akan membuat pikiran kita pun penuh dengan ucapan syukur. Lalu dari sana itu akan berimbas kepada kata-kata yang kita keluarkan lewat mulut kita. Dan lihatlah sebuah ayat yang tidak asing lagi bagi kita sesungguhnya sudah berkata tegas: &lt;i&gt;"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."&lt;/i&gt; (1 Tesalonika 5:18). Perhatikanlah kata dalam segala hal, itu artinya bukan pada saat baik saja, tetapi dalam keadaan sulit atau dalam penderitaan sekalipun kita harus pula mampu memandangnya dari sisi positif, sehingga kita bisa tetap mengucap syukur. Dan dikatakan disana, itulah sesungguhnya yang dikehendaki Tuhan dalam Yesus untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteladanan telah diberikan Yesus sendiri pada masa kedatanganNya pertama kali ke muka bumi ini.Dalam banyak kesempatan Yesus mencontohkan sendiri bagaimana pentingnya mengucap syukur ini. Mari kita ambil contoh ketika Yesus hendak menggandakan lima roti dan dua ikan. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Markus 6:41). Mengucap berkat, atau dikatakan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"mengucap syukur kepada Allah"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (BIS). Lihatlah kondisi pada saat itu. Menurut logika kita, tentu itu situasi yang rasanya tidak mungkin teratasi. Bagaimana mungkin lima roti dan dua ikan sanggup memberi makan ribuan orang, apalagi mengenyangkan semuanya? Tapi perhatikanlah bahwa Tuhan Yesus mengajarkan untuk tetap mengucap syukur terhadap apa yang masih ada, meski sedikit sekalipun. Kemudian kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana ucapan syukur itu bisa menjadi awal dari terbukanya pintu berkat dari Tuhan buat umatNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, memang tidaklah mudah untuk bisa tetap bersyukur ketika berada dalam situasi yang tidak baik. Tentu saja jauh lebih mudah untuk mengeluh, menyalahkan kondisi, situasi atau orang lain atas kesulitan yang kita alami. Tapi itu bukanlah gambaran dari anak-anak Tuhan yang berjalan dengan ketaatan penuh kepada kehendak Tuhan. Tuhan tidak pernah menginginkan kita menjadi &lt;i&gt;certified whiners&lt;/i&gt;, alias pengeluh/pengomel sejati. Pertanyaannya, adakah yang masih bisa kita syukuri ketika segalanya seolah tidak memihak kita? Tentu saja ada. &lt;i&gt;"Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.&lt;/i&gt;" (Ibrani 12:28). Dalam situasi sesulit apapun, bukankah Tuhan sudah membuka kesempatan bagi kita untuk menerima kerajaanNya yang kekal dan tidak tergoncangkan? Bukankah Tuhan sudah menganugerahkan sebuah kehidupan kekal yang tidak lagi berisi ratap tangis kesedihan atau penderitaan melainkan hanya penuh dengan sukacita kelak, dan itu akan berlaku kekal? Tidakkah itu adalah sesuatu yang seharusnya bisa kita syukuri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, kesulitan adalah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru terlebih untuk menyaksikan sendiri bagaimana kuasa Tuhan yang ajaib terjadi secara nyata dalam hidup kita. Bentuk pemikiran seperti itu biasanya bisa membuat saya lebih tenang dan tegar dalam menghadapi persoalan. Berulang kali dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa masalah merupakan lahan yang subur bagi Allah untuk menyatakan kuasaNya. Dan itu akan membuat kita mampu untuk terus berpengharapan kepada Tuhan dan terus bersyukur dalam situasi apapun. Saya sudah membuktikannya sendiri, dan jika itu berlaku bagi saya, saya percaya bagi anda pun demikian juga. Mumpung sebentar lagi kita memasuki tahun yang baru, ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk memperhatikan baik-baik apa yang keluar dari mulut kita. Apakah mulut kita sudah berisi ungkapan syukur, kata-kata yang memberkati, menyemangati dan membangun atau justru bersungut-sungut, keluh kesah, meratapi nasib bahkan makian dan kutukan kepada orang lain atau diri sendiri? Berhati-hatilah agar kita tidak jatuh ke dalam sikap bangsa Israel di jaman Musa yang terus bersungut-sungut, meski mereka berulang kali menyaksikan sendiri kebesaran Tuhan dalam perjalanan mereka. Peringatan Tuhan turun lewat Paulus berbunyi seperti ini &lt;i&gt;"Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." &lt;/i&gt;(1 Korintus 10:10). Sebaliknya, hendaklah kita terus mengeluarkan ucapan syukur dari mulut kita bukan hanya dalam keadaan baik atau satu dua hal melainkan dalam segala hal, karena itulah yang dikehendaki Tuhan dalam Kristus Yesus. Bersiaplah untuk Tahun baru dengan semangat baru, termasuk untuk membenahi hal ini dan mulai serius untuk memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari hati yang terjaga baik akan keluar kata-kata yang baik pula, termasuk didalamnya ucapan syukur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-421089893688112920?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/421089893688112920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=421089893688112920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/421089893688112920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/421089893688112920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/dari-mulut-yang-sama.html' title='Dari Mulut Yang Sama'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6174701370296335058</id><published>2011-12-28T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T08:00:00.112-08:00</updated><title type='text'>Tenggat Waktu</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yohanes 4:34&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="tenggat waktu" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/tenggatwaktu.jpg" /&gt;Ada kalanya ketika dikejar-kejar &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; atau batas/tenggat waktu saya berharap bisa menghentikan sejenak putaran jarum jam. Betapa enaknya apabila kita bisa menghentikan waktu sejenak agar kita bisa menyelesaikan tugas demi tugas tepat pada waktunya dan kemudian bisa memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat. Hari ini pinggang dan punggung saya rasanya pegal sekali. Beberapa hari terakhir sibuknya bukan main. Selain mengajar di dua tempat, ada banyak &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; yang harus dinaikkan pula di media saya. Bagai air bah semuanya datang melimpah di saat bersamaan. Esok ada setumpuk lagi yang harus segera diselesaikan tepat waktu, lusa pun demikian. Saya merasa lelah, penat, bagai mainan yang baterainya sudah mulai habis. Tapi tugas tetaplah tugas. &lt;i&gt;And time definitely waits for nobody&lt;/i&gt;. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus mengerjakan semua tanggung jawab itu sebaik-baiknya dengan sepenuh hati. Itu jika saya tidak mau melanggar batas waktu atau menghasilkan sesuatu yang acak-acakan. Jika kita bekerja, maka deadline merupakan bagian dari keseharian kita. Kita bisa menundanya, atau melanggar batas waktu, tapi pada akhirnya itu akan menambah masalah pada diri kita sendiri. Daripada mengeluh, saya memilih untuk bersyukur. Sementara menghilangkan jenuh di kepala, saya pun kemudian menulis renungan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita saja yang punya tenggat waktu ini? Ternyata tidak. Yesus sendiri pun harus memikul tugasNya dengan tenggat waktu yang ditetapkan Tuhan. &lt;b&gt;Bukan cuma kita, tapi Yesus pun punya tenggat waktu.&lt;/b&gt; Yesus tahu sejak semula bahwa waktunya tidak banyak. Sementara yang harus dikerjakan sangatlah banyak. Dan kita bisa meneladani Yesus yang tidak membuang waktu sedikitpun secara sia-sia. Dia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk &lt;b&gt;mengajar, menegur, menasihati, menyampaikan pesan Bapa, menyembuhkan, melakukan berbagai mukjizat dan tentu saja menyelamatkan orang-orang berdosa.&lt;/b&gt; &lt;i&gt;So many things to do, so little time.&lt;/i&gt; Kita sering merasa seperti itu, kecepatan waktu yang sama pun dialami oleh Yesus. Malah tugas Yesus rasanya jauh lebih banyak dari kita, dan semua itu harus Dia selesaikan dalam rentang waktu yang sangat singkat. Mengeluhkah Yesus? Tidak. Dia terus melayani dengan total, habis-habisan. Dengan mengambil rupa atau fisik secara manusia, tentu Yesus pun merasakan tenaganya terkuras. Seperti kita, Yesus pun merasakan kelelahan. Kita bahkan melihat ada saat dimana Yesus merasa lelah, seperti yang bisa kita baca dalam Alkitab ketika Yesus duduk di tepi sumur Yakub.&lt;i&gt; "Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas."&lt;/i&gt; (Yohanes 4:6). Tapi hebatnya, meski Yesus sedang kelelahan, Dia tidak berhenti sama sekali untuk melakukan tugasNya. Disana Yesus masih sempat-sempatnya menjamah hati seorang wanita Samaria. Keselamatan bukan saja terjadi untuk wanita Samaria ini, tetapi juga kepada bangsanya. &lt;i&gt;"Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."&lt;/i&gt; (ay 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus tahu waktu untuk menunaikan tugas dari Bapa itu sangatlah sempit. Tapi Dia tahu apa yang menjadi garis tugasNya sesuai dengan kehendak Bapa di Surga.&amp;nbsp; Lihatlah apa kata Yesus berikut:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 34). Tugas Yesus adalah &lt;b&gt;melakukan kehendak Bapa&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;menyelesaikan semuanya hingga tuntas tepat pada waktunya&lt;/b&gt;, sesuai tenggat waktu atau &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;. Untuk itu Yesus tidak memikirkan DiriNya sendiri. Dia terus fokus kepada tugasNya sepenuhnya meski untuk itu Dia harus menjalani siksaan dan penderitaan yang sangat tidak beradab sebagai konsekuensinya. Dan lihatlah apa yang Yesus katakan di atas kayu salib: &lt;i&gt;"..Sudah selesai..."&lt;/i&gt; (Yohanes 19:30). Yesus berhasil menyelesaikan semua tugas beratNya dengan gemilang. Coba pikirkan bagaimana jadinya kita seandainya Yesus gagal untuk memenuhi tugas dari Bapa? Semua yang kita nikmati hari ini, kelayakan untuk keselamatan kekal dan pemulihan hubungan antara kita dengan Sang Pencipta, semua itu adalah hasil dari totalitas Yesus dalam mengemban tugasNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya."&lt;/i&gt; (Pengkotbah 3:1). Dalam ayat ini jelas tertulis bahwa segala sesuatu di muka bumi ini ada tenggat/batas waktunya atau deadlinenya. Tidak ada tugas yang tak berakhir, tapi bagaimana akhirnya, baik atau tidak, semua itu tergantung dari kita sendiri. Jika demikian, pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan tugas-tugas kita dengan sebaik-baiknya? Yesus berkata &lt;i&gt;"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."&lt;/i&gt; (Yoahnes 9:4). Selama masih ada waktu, lakukanlah tugas kita dengan sebaik-baiknya. Memberi yang terbaik dalam pekerjaan merupakan sesuatu yang mutlak untuk kita lakukan. Begitu pentingnya sehingga dikatakan &lt;i&gt;"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."&lt;/i&gt; (Kolose 3:23). Semua pekerjaan menuntut tanggungjawab dan keseriusan, dan kita diminta untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan maupun pelayanan kita. Apakah itu mengenai tugas kita sebagai orang tua, tugas sebagai anak, tugas sebagai pemimpin atau karyawan, tugas sebagai pasangan, tugas sesuai pekerjaan kita dan sebagainya, semua itu haruslah kita lakukan dengan sebaik-baiknya sebelum semuanya berakhir. Pada suatu hari nanti, tugas, tanggung jawab atau peran kita pun akan selesai. Dan ketika saat itu tiba, sangatlah penting bagi kita untuk membuktikan: sudahkah kita menyelesaikannya dengan baik dan benar? Yesus sudah menunjukkan bagaimana totalitas dalam menyelesaikan pekerjaan, hendaklah kita meneladani benar hal ini dan mengaplikasikannya dalam segala bentuk pekerjaan yang kita hadapi hari demi hari. Apa yang menjadi daftar tugas anda saat ini? Sudahkah anda memberi yang terbaik dalam menyelesaikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kita tidak bisa menghentikan waktu, tapi kita bisa memaksimalkan waktu untuk melakukan yang terbaik atas pekerjaan-pekerjaan kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6174701370296335058?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/6174701370296335058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=6174701370296335058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6174701370296335058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6174701370296335058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/tenggat-waktu.html' title='Tenggat Waktu'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3991801184045750025</id><published>2011-12-27T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T08:00:01.460-08:00</updated><title type='text'>Kepatuhan (2)</title><content type='html'>&amp;nbsp;(sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah keselamatan ini tentu bukan lagi hal yang baru bagi kita. Tetapi itu tidaklah berarti apa-apa jika kita hanya mengetahui karya Tuhan yang agung kini tanpa mau mulai berbuat sesuatu untuk menanggapi dan melakukan sesuatu secara pribadi, bukan hanya didasarkan atas anjuran orang lain melainkan berasal dari keputusan kita sendiri. Alkitab berkata:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yohanes 1:12). Apa yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah kasih karunia yang begitu luar biasa besarnya. Dari orang berdosa, yang gagal mencapai standar kelayakan bagi Tuhan, ternyata kita malah diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita. Tidakkah itu seharusnya mampu menggerakkan hati kita untuk bersyukur dan memutuskan untuk menghargai segala kebaikan Tuhan yang luar biasa itu sepenuhnya dengan menunjukkan kasih lewat ketaatan dan kepatuhan kita kepadaNya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan juga berkata&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Yohanes 5:12). Ini sebuah firman yang berisi jaminan yang jelas dari Tuhan kepada kita lewat Kristus. Dengan menerima Kristus, Dia dengan sendirinya telah masuk ke dalam hidup kita, dan dengan demikian kita pun dianugerahkan hidup yang kekal. "Kata Yesus kepadanya: &lt;i&gt;"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."&lt;/i&gt; (Yohanes 14:6-7). Hanya lewat Kristus kita bisa datang kepada Bapa. Hanya lewat Dia kita memperoleh jalan dan kebenaran dan hidup. Hanya lewat Dia kita diselamatkan, dan hanya lewat Dia pula kita bisa mengenal Bapa, bahkan dikatakan telah melihatNya. Sebuah anugerah yang sungguh besar yang alangkah keterlaluan jika kita sia-siakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak teman saya sudah memetik buah dari kepatuhannya di usia yang sangat muda. Beberapa teman saya lainnya yang melihat perilakunya mengaku seperti tersentil, tertegur atau bahkan tertampar melihat sosok anak berusia 9 tahun ini. Sudahkah kita menanggapi dengan benar dari apa yang diberikan Tuhan kepada kita? Sudahkah kita menunjukkan kepatuhan dan menghargai semua anugerah dari Tuhan dengan pantas? Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Sudahkah kita benar-benar menyadari hal itu? Sudahkah kita menanggapi terang rohani yang telah diberikan Allah kepada kita, lalu bagaimana dengan menyalurkannya kepada orang-orang di sekitar kita seperti kewajiban kita menurut Tuhan? Secara fisik Injil mungkin hanya terlihat sebagai sekumpulan tulisan saja. Namun sebenarnya Injil mengandung kebenaran yang mampu menembus hati, dan itu semua berasal dari kalimat-kalimat Allah sendiri. Mendengar Firman Tuhan itu baik, tetapi alangkah sia-sianya apabila kita tidak menghidupinya. Mari kita periksa diri kita masing-masing, jangan-jangan kita masih sebatas menjadi pendengar yang baik, namun perilaku, tindakan, pikiran dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang telah kita dengar. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yakobus 1:22). Patuh terhadap nasihat orang tua merupakan sebuah keharusan demi kebaikan kita sendiri, tapi patuh terhadap Tuhan tentu jauh lebih penting lagi. Hari ini mari kita sama-sama hidup dengan kebenaran firman Tuhan, menjadi pelaku-pelaku firman, menyesuaikan perilaku kita dengan apa yang kita baca atau dengar dari semua tulisan yang diilhamkan Tuhan sendiri yang tercatat dalam Alkitab. Hiduplah sebagai anak-anak Terang, berfungsilah sebagai terang dan garam dunia, dan tetaplah hidup dengan iman teguh akan Yesus,Tuhan dan Juru Selamat kita. Jangan biarkan anugerah luar biasa besar ini terbuang sia-sia akibat kebandelan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3991801184045750025?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3991801184045750025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3991801184045750025' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3991801184045750025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3991801184045750025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/kepatuhan-2.html' title='Kepatuhan (2)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2654520435123912123</id><published>2011-12-26T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-26T08:00:00.103-08:00</updated><title type='text'>Kepatuhan (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Yohanes 1:12&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="patuh" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/patuh.jpg" /&gt;Saya sangat kagum kepada anak teman saya yang masih berusia 9 tahun. Di usia semuda itu ia sudah bisa melakukan banyak hal. "Dia suka ikutan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh seisi rumah." kata ibunya sambil tertawa. Kakeknya mengutak-atik motor, ia pun ikut disana, setidaknya memutar sekrup. Ia selalu bangga ketika tangannya terkena oli, karena itu ia anggap sebagai bukti peran sertanya dalam memperbaiki motor. Ibunya memasak, ia pun ikut membantu. Maka di usia 9 tahun itu ternyata ia sudah pintar memasak jenis-jenis makanan yang tidak terlalu rumit untuk dibuat. Di usia itu semuda itu ia mulai berpikir untuk belajar piano atau gitar, dan hebatnya lagi, ia sudah pintar memotret dengan kamera pro. Segudang kepintaran ini ternyata tidak membuatnya sombong. Hari ini saya melihat langsung bagaimana ia datang dan bertanya dulu sebelum melakukan sesuatu. "Ma, boleh tanya tidak?", "Ma, masih boleh pesan tidak, saya haus.." Ini adalah sesuatu yang langka untuk dijumpai, terlebih di hari-hari ini dimana kecenderungan orang tua yang biasa kita temui adalah memanjakan anaknya atau sebaliknya tidak mempedulikan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat ada banyak anak yang menangis dalam meminta sesuatu dan berpikir bahwa raungan mereka akan membuat orang tuanya menuruti keinginan mereka, anak teman saya ini sudah mengerti bagaimana bersikap sopan di usianya yang masih begitu muda. Kedekatannya terhadap mamanya dan sikapnya yang manis membuatnya terus bertumbuh luar biasa menjadi anak multi-talenta. Sayangnya kebanyakan anak bersikap sebaliknya. Mungkin si anak sebenarnya mendengar, namun hanya sedikit yang patuh dan mau menurutinya. Tidaklah adil jika kita hanya menuduh anak-anak saja yang berlaku seperti itu, karena jujurnya justru banyak pula orang tua yang bandel dan mementingkan diri sendiri saja. &lt;b&gt;Telinga kita mendengar, namun sikap, tindakan dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang kita dengar&lt;/b&gt;. Dan akibatnya, ada banyak kerugian yang akan kita alami berawal dari kebandelan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau terhadap orang tua, guru atau orang yang lebih dewasa di dunia saja kita berbuat demikian, terhadap Bapa pun kita bisa melakukan hal yang sama. Sebagian besar dari kita mungkin sudah sering mendengar Firman Tuhan seperti ketika duduk di gereja misalnya atau lewat kesempatan-kesempatan lain, tetapi apakah kita sudah menanggapi, mentaati dan menjalani hidup sesuai itu? Sebagian orang akan terus melakukan hal-hal yang menyenangkan dirinya tanpa mempedulikan apa kata Tuhan mengenai apa yang diperbuatnya. Mendengar Firman cukup lewat kotbah, cukup hari Minggu saja, dan setelah itu mereka akan kembali pada kehidupan duniawinya. Jika terjepit sedikit saja, dan mungkin itupun akibat kesalahan sendiri, maka mereka pun merengek-rengek bahkan berani menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak peduli. Alkitab bukan lagi hal yang asing bagi sebagian dari kita, tetapi sudahkah kita menangkap esensi dasar dari kebenaran yang terkandung di dalamNya? Sudahkah kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kehidupan kita dan menjaganya agar berita luar biasa tentang keselamatan lewat Kristus yang diberitakan lewat Injil tidak sampai luput dari kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita lanjutkan, marilah kita cermati terlebih dahulu siapa atau seperti apa sesungguhnya diri kita, manusia. &lt;i&gt;"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah."&lt;/i&gt; (Roma 3:23). Ini kondisi yang memperihatinkan. Kita digambarkan sebagai orang-orang berdosa, yang dengan sendirinya membuat kita kehilangan kemuliaan Allah. Semua manusia gagal mencapai standar kebenaran yang sempurna dari Tuhan. Dan ganjaran atau konsekuensi dari semua ini adalah sangat jelas, kita seharusnya binasa. Tapi lihatlah bagaimana cara Tuhan mengasihi kita. Meski semuanya salah kita, Tuhan sama sekali tidak menginginkan kita berakhir seperti itu. Dia tidak membiarkan kita hancur begitu saja. Tidak. &lt;b&gt;Kita berharga bahkan dikatakan mulia di mataNya&lt;/b&gt;. (Yesaya 43:4). Lalu Injil mengatakan sebuah kalimat yang menunjukkan sebuah bentuk kasih terbesar yang pernah ada. &lt;i&gt;"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."&lt;/i&gt; (Yohanes 3:16). Atau lihat pula Firman Tuhan lewat Petrus: &lt;i&gt;"Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh."&lt;/i&gt; (1 Petrus 3:18). Adalah&amp;nbsp; kasih yang begitu besar yang ternyata sanggup menggerakkan Tuhan untuk menebus kita, bahkan Dia rela&amp;nbsp; mengorbankan AnakNya yang tunggal untuk tujuan itu. &lt;i&gt;"Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."&lt;/i&gt; (1 Petrus 1:18-19). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2654520435123912123?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2654520435123912123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2654520435123912123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2654520435123912123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2654520435123912123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/kepatuhan-1.html' title='Kepatuhan (1)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8373090293954517876</id><published>2011-12-25T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T08:00:01.664-08:00</updated><title type='text'>Palungan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Lukas 1:32&lt;br /&gt;=================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="palungan, natal" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/palungan.jpg" /&gt;Malam ini saya secara khusus membayangkan apa yang terjadi pada malam Yesus dilahirkan. Betlehem mungkin sudah tertidur lelap di malam sunyi yang dingin. Di saat itulah seorang wanita berusia muda tengah berjuang melahirkan Anak yang dikandungnya selama 9 bulan. Tidak ada yang membantunya, kecuali Yusuf yang berprofesi sebagai tukang kayu. Kejadian itu bukanlah di rumah sakit bersalin atau rumah bidan, melainkan di dalam palungan berisi jerami. Alkitab mencatatnya demikian:&lt;i&gt; "Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan."&lt;/i&gt; (Lukas 2:7). Tidak ada penginapan sama sekali bagi mereka, bahkan satu kamar pun. Bayangkan Raja di atas segala raja lahir bukan di istana yang mewah, bukan di tempat selayaknya melainkan di dalam kandang. Suasana pengap, bau dan penuh suara binatang mungkin mewarnai kelahiran Sang Raja pada waktu itu. Sebagian orang mengatakan bahwa si pemilik penginapan adalah orang berdosa yang tidak peduli, atau bahkan dituduh menolak Juru Selamat yang diutus Tuhan. Tapi pernahkah terpikir bahwa mungkin Tuhan sudah menyuratkan seperti itu, mempergunakan si pemilik penginapan untuk mengatur dan menyiapkan tempat dalam palungan tepat seperti kehendak Tuhan sendiri? Yesus lahir di kandang domba, dan tugasNya adalah menyelamatkan domba-domba yang hilang. Alkitab tidak menyatakan siapa pemilik penginapan dan apa motivasinya menempatkan seorang ibu muda yang tengah hamil tua di tempat yang kotor dan tidak layak itu. Tapi biarlah, karena itu bukanlah esensi dari kelahiran Sang Juru Selamat. Yesus lahir untuk menggenapkan kehendak BapaNya yang mengutusNya demi melakukan sebuah misi penyelamatan yang didasarkan oleh sebentuk kasih yang luar biasa besarnya dari Tuhan, Sang Pencipta kepada kita semua, ciptaan-ciptaanNya yang sudah begitu terkontaminasi oleh dosa turun temurun. Untuk itu Yesus dilahirkan, mengambil rupa seorang hamba, melepas semua hak-hak KetuhananNya demi keselamatan kita semua. &lt;i&gt;That's the greatest love of all, that's the power of love&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus, nubuatan tentang kedatanganNya dan misi penyelamatanNya sudah disampaikan oleh Yesaya. Kita bisa membacanya dalam Yesaya pasal 53. &lt;i&gt;"Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."&lt;/i&gt; (ay 2-5). Bacalah terus bagian ini, dan anda akan bertemu dengan ayat yang berbunyi:&lt;i&gt; "Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya."&lt;/i&gt; (ay 9-10). Inilah nubuatan tentang kedatangan Yesus dan misi yang Dia emban persis dengan apa yang terjadi ketika nubuatan itu akhirnya digenapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat menyampaikan pesan kepada Perawan Maria pada suatu ketika. &lt;i&gt;"Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.&lt;b&gt;Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.&lt;/b&gt; Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,&amp;nbsp; dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."&lt;/i&gt; (Lukas 1:30-33). Saya percaya hal ini tentu terasa begitu berat bagi Maria. Ia belum menikah, apa kata dunia jika tiba-tiba ia hamil? Terlebih bagaimana tanggapan tunangannya Yusuf kelak? Akankah ia dituduh berselingkuh kemudian dirajam sampai mati? Tapi Maria memilih untuk percaya. Malaikat sudah menyampaikan pesan dari Tuhan bahwa ia terpilih untuk melahirkan Anak Allah yang Mahatinggi, Seorang Raja atas keturunan Yakub sampai selama-lamanya dengan Kerajaan yang kekal, tidak berkesudahan. Sejalan dengan itu, malaikat lainnya datang menjumpai Yusuf. &lt;i&gt;"Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena &lt;b&gt;Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Matius 1:20-21). Dari palungan, Yesus menggenapi tugasNya dengan sempurna. Dia dengan rela menanggung semua kesakitan yang tak terperikan demi kita semua. Kelahiran dari Sang Penebus, Anak Allah yang tunggal, Raja segala raja, itulah yang kita peringati hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria mungkin memiliki banyak hal untuk direnungkan ada masa itu. Yusuf pun tentu sama. Di palungan yang kotor dan tidak layak itu mereka bersukacita melihat Bayi kecil yang kelak akan menghapus dosa dunia. Tepat seperti itu pula Yohanes Pembaptis di kemudian hari menyebutNya.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yohanes 1:29). Sekarang, lebih 2000 tahun berlalu, masing-masing dari kita perlu kembali kepada kesadaran semula tentang pentingnya kelahiran Kristus, kematianNya dan kebangkitanNya, serta janjiNya untuk kelak datang kembali. Natal adalah hari yang jauh lebih penting dari sekedar pesta, liburan dan hiburan. Natal jauh lebih penting dari sekedar bertukar hadiah dan bergembira bersama teman-teman dan keluarga. Kita perlu kembali kepada esensi mendasar dari kelahiran Kristus di dunia. Keselamatan di kolong langit ini ada dalam tanganNya. Kunci ada padaNya. Dan itu adalah bentuk kasih Allah yang begitu besar kepada kita yang berselimut dosa. Mari malam ini kita kembali merenungkan dan bersyukur, karena tanpa Kristus kita tidaklah ada apa-apanya. Selamat Hari Natal kepada teman-teman RHO sekalian, Tuhan Yesus memberkati anda semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus datang untuk hidup bersama kita untuk membuka kesempatan agar kita bisa hidup kekal bersamaNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;span id="goog_344244386"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://draft.blogger.com/"&gt;http://twitter.com/dailyrho &lt;/a&gt;&lt;span id="goog_344244387"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8373090293954517876?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8373090293954517876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8373090293954517876' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8373090293954517876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8373090293954517876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/palungan.html' title='Palungan'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8900335486746868112</id><published>2011-12-24T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-24T08:00:01.621-08:00</updated><title type='text'>Menolong Orang Miskin</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Galatia 2:10&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="menolong orang miskin" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/menolong-orang-miskin.jpg" /&gt;Di masa-masa sulit seperti sekarang ini, hal tersulit yang harus dihadapi mungkin adalah kehilangan pekerjaan. Bekerja saja bagi banyak orang tidaklah mampu menjamin kelangsungan hidup sekeluarga, apalagi jika disaat seperti itu malah kehilangan pekerjaan. Seorang teman baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja karena perusahaan tempatnya bekerja harus mengalami perampingan agar bisa terus berjalan. Apa hendak dikata, ia termasuk yang tidak dipertahankan. "Mau mencari kerja kemana lagi.." katanya murung. Kita tentu tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan apalagi jika ilmunya pas-pasan. Puji Tuhan, seorang teman satu gerejanya kemudian memberinya pekerjaan sehingga ia tidak harus pusing berlama-lama. Ketika bertemu lagi dengannya ia pun berkata, "Tuhan sungguh baik, Dia menjawab doaku lewat bapak itu." Ya, Tuhan senang memakai orang lain untuk menjadi saluran berkatNya. Tapi itu tidak bisa terlaksana apabila kita tumbuh menjadi manusia-manusia yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain yang sedang menderita dan membutuhkan pertolongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang Kristen, kita seharusnya terpanggil untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan, terlebih ketika jaman tengah dilanda resesi atau krisis. Sayangnya tidaklah banyak di antara mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus untuk mau menjalani panggilannya dalam wadah kasih, yang menjadi inti dasar kekristenan. Orang lebih suka berhitung untung rugi menurut timbangannya sendiri tanpa mau peduli kepada penderitaan orang lain. Itu bukanlah gambaran yang tepat dari umat Allah. Kita selalu diingatkan untuk membantu orang lain di saat sukar, dan itu sudah dinyatakan berulang kali baik di Perjanjian Lama apalagi di Perjanjian Baru. Penulis Amsal menggambarkan kecenderungan manusia yang tidak baik ini. &lt;i&gt;"Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak."&lt;/i&gt; (Amsal 14:21). &lt;i&gt;"The poor is hated even by his own neighbor, but the rich has many friends."&lt;/i&gt; Itu versi bahasa Inggrisnya. Lalu ayat selanjutnya mengingatkan bahwa itu merupakan hal yang buruk, bahkan dikatakan sebagai dosa. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 21). Sementara orang yang menghina atau membenci saudaranya yang miskin berarti berbuat dosa, orang yang menaruh belas kasihan kepada mereka disebutkan sebagai orang yang berbahagia, &lt;i&gt;&lt;b&gt;blessed and fortunate&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Galatia 2 kita bisa melihat bagaimana Paulus dan Barnabas menyadari bahwa di balik kasih karunia yang telah diberikan kepada mereka dan rekan-rekan sekerja yang lain, ada panggilan penting bagi mereka untuk mengingat atau memberi perhatian kepada orang yang miskin.&lt;i&gt; "Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; &lt;b&gt;hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Galatia 2:9-10). Lihatlah bahwa meski mereka menyadari sebuah kasih karunia istimewa yang diberikan kepada para rasul, mereka harus pula mengingat orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan. Kita memang wajib mendoakan siapa saja, tapi itu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mengulurkan bantuan secara nyata pula di dunia. Seringkali orang memilih melakukan yang paling mudah agar mereka tidak harus rugi. Berdoa itu gratis, sementara memberi itu artinya membuat milik kita berkurang. Seperti itulah isi pikiran banyak orang. Jadi mereka memilih hanya untuk berdoa agar mereka tidak harus "membuang" sedikit dari timbunan harta mereka. Paulus dan Barnabas serta para rasul lainnya untungnya tidak terjebak pada pemikiran seperti itu. Kita bisa melihat bagaimana mereka melakukan tepat seperti itu; memberitakan Injil sekaligus mengumpulkan bantuan keuangan bagi mereka yang membutuhkan. &lt;i&gt;"Lalu murid-murid memutuskan untuk &lt;b&gt;mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea.&lt;/b&gt; Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus."&lt;/i&gt; (Kisah Para Rasul 11:29-30). Atau dalam surat 1 Korintus: &lt;i&gt;"Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia.&amp;nbsp; Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing--sesuai dengan apa yang kamu peroleh--menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu."&lt;/i&gt; (1 Korintus 16:1-3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah seruan penting disampaikan oleh Paulus. &lt;i&gt;"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya."&lt;/i&gt; (1 Timotius 6:17-19). Kita diberkati sesungguhnya bukan untuk dipakai berfoya-foya dan menimbun sendiri melainkan untuk disalurkan kepada orang lain lewat berbuat baik dan beramal. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Petrus 3:9). Lalu lihat pula ayat berikut ini:&amp;nbsp; &lt;i&gt;"Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."&lt;/i&gt; (2 Korintus 9:8 BIS). Di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini, marilah kita menjadi pelaku-pelaku firman yang siap menolong orang lain yang membutuhkan baik secara rohani maupun materi. Uang yang kita keluarkan mungkin tidak berpengaruh besar kepada kita, tapi itu bisa memberi kelegaan dan sukacita bagi mereka yang tengah terdesak. Sikap murah hati atas dasar kasih terhadap Tuhan dan sesama, itulah yang diperlukan, terlebih dalam masa-masa seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."&lt;/b&gt; (Kisah Para Rasul 20:35)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8900335486746868112?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8900335486746868112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8900335486746868112' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8900335486746868112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8900335486746868112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/menolong-orang-miskin.html' title='Menolong Orang Miskin'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-359300233518134156</id><published>2011-12-23T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T08:00:00.829-08:00</updated><title type='text'>Mencari Alasan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Efesus 5:1&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="alasan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/alasan.jpg" /&gt;Seorang musisi pernah mengeluh kepada saya karena salah seorang anggota bandnya seringkali mangkir atau datang terlambat. Gara-gara satu orang itu mereka pun terus terkendala dalam latihan mereka. Alasan yang dikemukakan menurutnya selalu saja ada, mulai dari yang klise seperti terjebak macet, sampai yang rasanya konyol seperti ketiduran atau lupa jadwal. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya untuk menumbuhkan band jika ada anggota yang seperti ini di dalamnya. Saya pun berpikir bahwa ada banyak orang yang bersikap seperti itu. Datang terlambat ke kantor, terlambat ke sekolah, terlambat menjemput, itu menjadi ritme banyak orang setiap harinya. Alasan yang dikemukakan pun bisa bermacam ragam. Saking pintarnya mencari alasan, jangan-jangan kita sudah pantas menjadi "profesor alasan". Variatif, kreatif and inovatif, seperti itulah pintarnya kita dalam mereka alasan. Disiplin semakin lama sudah semakin langka. Seandainya kreativitas dalam inovasi itu dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat positif dan baik seharusnya negara kita bisa lebih baik lagi. Tapi itulah sebuah sikap yang nyatanya semakin membudaya di kalangan banyak orang. Mencari alasan bisa pintar, tapi untuk berdisiplin dan patuh terhadap peraturan atau jadwal sulitnya bukan main.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan giatnya "berlatih" dalam soal mencari alasan, kita pun kemudian terbiasa untuk melakukan itu, termasuk dalam hal mematuhi perintah Tuhan. Jika teman saya yang musisi itu saja bisa kesal, dan kita pun akan merasakan hal yang sama jika orang yang berjanji dengan kita "ngaret" seenaknya, tidakkah kita berpikir bahwa Tuhan pun mungkin dibuat kesal dan muak dengan perilaku seperti ini. Kita bisa dengan mudah mengabaikan saat teduh, melupakan berdoa, apalagi meluangkan waktu untuk membaca Alkitab. Alasan bisa sangat banyak dan mudah untuk dikemukakan. Hari ini terlalu capai, banyak pekerjaan, banyak tugas, mengantuk, sibuk dan sebagainya sering menjadi alasan bagi kita untuk mencoret Tuhan dari kegiatan kita sehari-hari. Dalam hal mematuhi perintah Tuhan pun sama. Kita tahu bahwa yang kita lakukan itu salah, tapi kita terus mencari alasan sebagai pembenaran untuk terus melakukannya. Kita berpikir bahwa kita bisa mengelabuhi Tuhan lewat alasan yang kita kemukakan, namun tentu saja itu tidak akan pernah bisa menipu Tuhan. Dia tahu segalaNya, dan jangan lupa bahwa &lt;b&gt;Tuhan pun tegas jika berurusan dengan kepatuhan kita akan firmanNya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana contoh manusia berlindung di balik alasan dalam perumpamaan soal talenta. (Matius 25:14-30). Ketika orang yang diberi lima dan dua talenta dengan patuh mengerjakan kewajibannya, hamba dengan satu talenta ternyata begitu malas dan memilih untuk hanya memasukkan uang itu dalam lubang di tanah. (ay 18). Ketika tuannya meminta pertanggungjawaban, lihatlah bagaimana ia berkelit dengan memberi alasan. &lt;i&gt;"Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.&amp;nbsp; Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!"&lt;/i&gt; (ay 24-25). Bukan saja mencari alasan, tapi ia pun berani menyalahkan atau mengkambing hitamkan tuannya sendiri. Tuhan sama sekali tidak berkenan dengan sikap seperti ini. Dan lihatlah reaksi sang tuan dalam perumpamaan ini. Si hamba ini dikatakan sebagai &lt;i&gt;"hamba yang jahat dan malas"&lt;/i&gt; (ay 26) dan harus menerima konsekuensi dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, dimana yang ada hanya ada &lt;b&gt;ratap dan kertak gigi&lt;/b&gt;. (ay 30). Fatal sekali akibatnya jika bermain-main dengan perintah Tuhan, itu jelas bisa kita lihat lewat perumpamaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak suka dengan kecenderungan kita untuk mengabaikan petunjukNya yang sebenarnya sudah jelas tertulis di dalam Alkitab, apalagi dengan adanya Roh Kudus yang terus mengingatkan kita apabila mulai serong dalam berjalan. Paulus mengingatkan hal ini dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika. &lt;i&gt;"Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus."&lt;/i&gt; (1 Tesalonika 4:1-2). Disini Paulus mengingatkan kita akan bagaimana kita seharusnya hidup berkenan kepada Tuhan dan bahwa petunjuk-petunjuk itu sudah diberikan kepada kita atas nama Tuhan Yesus. Ini tidak main-main. Melanggarnya akan membawa konsekuensi berat atas diri kita. Lebih lanjut lagi Paulus pun mengingatkan kita agar jangan sampai kita mendukakan Roh Kudus dan mengabaikan pengajaranNya lalu lebih memilih untuk menuruti kehendak kita pribadi saja.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Efesus 4:30). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu mari kita dengar dan renungkan nasihat berikut ini.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Efesus 5:1). Ini adalah sebuah nasihat yang sudah sepantasnya menjadi sesuatu yang selalu kita ingat baik-baik dalam meniti kehidupan di dunia ini.&lt;i&gt; Remember God is always serious when it comes to our obedience towards His words&lt;/i&gt;. Kemalasan kita dalam membaca Alkitab akan membuat kita tidak tahu apa saja perintah dan larangan Tuhan dengan jelas, dan tidak ada satupun alasan yang bisa kita kemukakan untuk itu. Keengganan membangun hubungan dengan Tuhan jelas akan membuat hubungan kita berjarak sangat jauh dari Tuhan, dan itu akan membuat kita tidak peka akan bahaya dosa. Di saat seperti itu kita sama saja dengan mendukakan Roh Kudus Allah yang sebenarnya telah memeteraikan kita untuk menerima anugerah keselamatan. Menjelang hari Natal dan Tahun Baru, marilah kita berbenah lebih serius dalam membangun hubungan dengan Tuhan dan mendalami firmanNya. Ini saatnya bagi kita untuk memperbaharui tekad untuk membaca petunjuk-petunjuk yang telah Dia nyatakan dan menjalani hidup berdasarkan petunjuk-petunjuk itu dengan ketaatan penuh tanpa banyak alasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tidak ada satupun alasan yang bisa memberi keringanan dalam mengabaikan Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-359300233518134156?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/359300233518134156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=359300233518134156' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/359300233518134156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/359300233518134156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/mencari-alasan.html' title='Mencari Alasan'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3872856699534941624</id><published>2011-12-22T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T08:00:00.474-08:00</updated><title type='text'>Momen</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Matius 10:16&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="momen" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/momen.jpg" /&gt;Ada banyak yang akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan kita dalam pekerjaan atau dalam menghasilkan sesuatu. Banyaknya ilmu yang kita miliki, kepintaran, penguasaan terhadap bidang kita dan kemampuan tentu memegang peranan penting. Tetapi ada yang tidak kalah penting untuk kita miliki, yaitu kepekaan kita dalam membaca situasi. Saya menyebutnya dengan sebuah kata saja, momen. Tanyakan kepada fotografer bagaimana pentingnya momen dalam menangkap sebuah kejadian. Sekali momen itu dilewatkan, maka sulit bagi mereka untuk memperoleh lagi gambar yang luar biasa. Dalam hidup pun demikian. Ada banyak orang yang pintar, punya modal dan sebagainya tapi sulit untuk maju karena mereka tidak bisa menangkap momen. Mereka membuang kesempatan yang terbuka secara sia-sia, mereka terlalu lama memutuskan sesuatu sehingga momen yang tadinya hadir di depan mata pun kemudian berlalu begitu saja. Terkadang momen bisa jadi lebih penting dari segala kepintaran yang kita miliki. Saya mengenal banyak orang yang kemampuan dan ilmunya biasa-biasa saja, namun mereka sukses luar biasa karena pintar membaca situasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seringkali gagal dalam bekerja, dalam kehidupan maupun dalam menjalankan tugas kita sesuai Amanat Agung yang telah disampaikan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke Surga karena kita tidak peka menangkap momen. Ada banyak anak-anak Tuhan yang tahu tanggungjawabnya untuk mewartakan kabar keselamatan, tetapi sayang sekali ada banyak pula dari mereka yang tidak tahu bagaimana melakukan itu secara halus atau baik. Akibatnya mereka terjebak untuk mengikuti cara-cara dunia. Mereka memaksakan kehendak, baik dengan menjelek-jelekkan orang lain terlebih dahulu agar apa yang mereka sampaikan bisa diterima, dengan pemaksaan dan sebagainya. Dunia memang berpikir seperti itu, bahkan seringkali kita melihat mereka merasa berhak untuk menghabisi orang lain karena tidak mau mengikuti aturan mereka. Mereka merasa layak menjadi Tuhan sehingga berhak untuk menghilangkan nyawa orang lain atau menganiaya. Sadar atau tidak, banyak pula di antara anak-anak Tuhan yang berlaku kasar dan buruk meski mungkin bentuknya tidak seekstrim itu. Ada beberapa teman yang pernah bercerita bahwa mereka pernah bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti itu. Mereka memaksakan kehendak dan mudah marah ketika orang tidak mengikuti kemauan mereka. Begitu mudahnya menjelek-jelekkan gereja dan jemaat selain mereka dan bersikap sangat tidak simpatik. Jika itu yang dipertontonkan, bukannya menjadi garam dan terang tetapi mereka malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jangankan membawa jiwa, dekat saja mungkin tidak ada yang mau, jengah, jengkel, risih atau malah kesal dan jijik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus seperti itu? Itu sama sekali bukanlah gambaran sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Yesus mengatakan seperti ini: &lt;b&gt;"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."&lt;/b&gt; (Matius 10:16). Medan yang kita hadapi itu tidaklah mudah. Terkadang malah sangat berat. Kita harus berhadapan dengan situasi-situasi yang beresiko, dimana mungkin penolakan adalah bagian terlunak dari apa yang harus kita hadapi. Dalam posisi seperti itu bisa jadi kita bagaikan domba ditengah serigala buas. Oleh karena itulah kita diingatkan agar pintar memilih momen dan bersikap. Tetap tulus seperti merpati, bukan karena adanya agenda-agenda pribadi tetapi semata-mata agar bisa membawa keselamatan. Disamping tulus, hendak pula kita cerdik dalam melakukannya. Bukan dengan paksaan, kasar, dengan menjelek-jelekkan, atau melakukan bentuk-bentuk &lt;i&gt;"hard-selling"&lt;/i&gt; yang membuat risih orang lain. Melakukan dengan tulus atas dasar kasih dan mengambil jalan-jalan yang baik, elegan dengan rasa hormat dan lemah lembut, itulah yang seharusnya kita pilih dalam mewartakan Injil keselamatan kepada orang lain. Kapan kita harus melakukannya, dengan cara seperti apa, itu semua merupakan hal penting. Momen, &lt;i&gt;timing&lt;/i&gt;, itu adalah bagian dari kecerdikan dimana kita seharusnya peka. Dan ketulusan pun memegang peran penting di atasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak satupun firman Tuhan yang menghendaki kita untuk bersikap kasar atau memaksakan kehendak. Kasar saja tidak, apalagi sampai merugikan, melukai atau membunuh. Tidak dalam hal pekerjaan atau kehidupan, apalagi dalam menyebarkan berita Kerajaan. Kita justru diingatkan untuk memiliki&lt;b&gt; hati yang lemah lembut&lt;/b&gt;. Lihatlah ayat berikut ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Kolose 3:12-14). Ini sikap yang seharusnya ada pada kita dalam menjalani kehidupan kita termasuk didalamnya untuk menjalankan tugas sesuai dengan Amanat Agung. Biar bagaimanapun, ingatlah dua hukum yang terutama seperti yang dikatakan Yesus dimana didalamnya tercakup seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi: &lt;i&gt;"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu...Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."&lt;/i&gt; (Matius 22:37,39). Ingatlah bahwa kasih yang sesungguhnya yang sesuai dengan Kerajaan Allah adalah seperti ini: &lt;i&gt;"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.."&lt;/i&gt; (1 Korintus 13:4-5). Tidak ada tempat untuk kasar, tidak sopan, bersikap negatif, menjelek-jelekkan atau memaksa dan sebagainya dalam kasih. Dan di saat kita berjalan dengan dasar kasih, maka kita pun seharusnya melakukan semuanya dengan sikap-sikap seperti yang dijelaskan dalam ayat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bersikap tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular, itu yang seharusnya kita lakukan, dan keduanya harus pula berjalan beriringan&lt;/b&gt;. Cerdik tapi tidak tulus itu tidak baik, sebaliknya tulus tapi tidak cerdik pun tidaklah baik pula. Petrus mengatakan &lt;i&gt;"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu"&lt;/i&gt; (1 Petrus 3:15-16). Lemah lembut, hormat dan dengan hati nurani yang murni, itulah yang harus menjadi dasar dalam hati kita dalam mewartakan berita keselamatan ini. Dalam kesempatan lain Paulus menyampaikan hal yang sama. &lt;i&gt;"sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran."&lt;/i&gt; (2 Timotius 2:24-25). Oleh karena itu kita harus pintar menangkap momen, membaca situasi atau memilih waktu. Pilihlah jalan-jalan yang bijaksana dengan dasar kasih sehingga kita bisa menjamah hati orang lain untuk mengenal Yesus dengan cara-cara yang elegan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mewartakan kabar keselamatan itu penting, tapi lebih penting lagi untuk melakukannya dengan baik dan tepat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3872856699534941624?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3872856699534941624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3872856699534941624' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3872856699534941624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3872856699534941624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/momen.html' title='Momen'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2835387384386760813</id><published>2011-12-21T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T08:00:01.224-08:00</updated><title type='text'>Lepas Dari Dosa</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Wahyu 9:21&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="putus dari dosa" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/lepas-dari-dosa.jpg" /&gt;Bagi anda yang sudah pernah merasakan tentu tahu bagaimana sakitnya putus cinta. Ada orang yang bahkan sampai harus mengakhiri hidupnya karena tidak tahan merasakan perihnya putus dari orang yang dicintai. Ada yang memerlukan waktu bulanan bahkan tahunan untuk sembuh. Ada seorang teman ibu saya yang membutuhkan puluhan tahun baru bisa menikah dan melanjutkan hidupnya dengan baik. Terputus dari dosa bisa berarti sama bagi banyak orang. Mereka merasa enggan atau berat berpisah dari dosa-dosa yang selama ini membelenggu mereka. Mengapa? Karena seringkali dosa-dosa ini memberi kenikmatan atau kesenangan. Seringkali dosa-dosa seolah memberi kegembiraan atau kemudahan. Kita tahu semua itu semu, tapi banyak orang yang tidak peduli dengan itu. Kalaupun fana memangnya kenapa? Toh saya setidaknya bisa merasakan kenikmatan itu meski semu. Ada banyak orang yang berpikir seperti itu dan akibatnya sulit melepaskan diri dari jerat dosa. Mereka terus berkubang dalam lumpur, tidak mengindahkan nasihat atau lainnya yang mengingatkan mereka agar cepat berbalik sebelum semuanya menjadi terlambat. Sudah terang-terangan kena konsekuensinya pun mereka masih saja terus melanjutkan tindakan mereka yang salah. Bukankah kita bertemu dengan tipikal orang-orang seperti ini? Jika sekarang ada banyak orang yang terlena dalam dosa dan sulit untuk putus dari dosa, itu sudah terjadi sejak dahulu. Begitu berbahayanya hal ini sehingga dalam kitab terakhir yaitu Wahyu yang berisi nubuatan tentang akhir zaman pun hal ini masih terlihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah apa yang terjadi dalam kitab Wahyu pasal 9. Disana kita bisa melihat bahwa bahkan setelah sangkakala ke enam ditiup dan penghukuman berlanjut, masih saja ada manusia yang belum kapok dan tidak kunjung berhenti dari melakukan dosa-dosanya. Disana tertulis: &lt;b&gt;&lt;i&gt;" Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan, dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Wahyu 9:20-21). Lihatlah hingga di saat-saat terakhir nanti pun tetap saja ada orang yang tidak jera dan tidak bisa sadar lewat malapetaka yang hadir tepat di depan mereka. Fakta berbicara, dalam hidup kita hari ini ada begitu banyak orang yang mengambil keputusan sama seperti mereka. Di saat sulit seperti ketika ada bencana alam menimpa pun mereka masih tega mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Korupsi, mencuri dan sebagainya, masih mereka lakukan tanpa peduli orang lain menderita atau melarat. Betapa keras hati mereka sehingga apapun tidak lagi bisa membuat mereka bertobat. Mereka tidak lagi mendengar hati nurani mereka, mungkin hati nuraninya pun sudah berhenti berbicara. Bisa dibayangkan apa jadinya orang-orang seperti ini kelak. Di dunia mereka bisa berkelit, tetapi di tahta penghakiman Allah tidak satupun yang luput dari setiap kejahatan atau penyimpangan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ketidakpedulian yang tega berbuat jahat demi keuntungan diri sendiri ini sudah diingatkan sejak dahulu dalam Alkitab. &lt;i&gt;"sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan."&lt;/i&gt; (2 Timotius 3:13) Orang yang terbiasa berbuat jahat akan membuat orang semakin dingin dan tidak lagi bisa mendengar teguran Tuhan. Tuhan Yesus sejak jauh hari sudah mengingatkan akan hal ini.&lt;i&gt; "Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."&lt;/i&gt; (Matius 24:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah besar resikonya apabila kita terus membiarkan dosa terus menumpuk hingga membuat kita tidak lagi peka atau menjadi tuli terhadap teguran Tuhan. Jika kita terus melakukan dosa, pada suatu saat hati kita bisa menjadi dingin, mengeras membatu dan ketika itulah kita tidak lagi memiliki kontrol atas diri kita. Kita tidak lagi bisa membedakan yang salah dan benar, baik dan buruk, dan jika demikian dosa pun memiliki kuasa penuh atas hidup kita. Betapa seriusnya jika ini terjadi. Hati tidak lagi peka, bahkan berbagai kesaksian yang jelas-jelas menyatakan kuasa Kristus pun tidak lagi bisa membuka mata orang-orang seperti ini. &lt;i&gt;"Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya."&lt;/i&gt; (Yohanes 30:36). Berhati-hatilah, karena firman Tuhan dengan tegas berkata &lt;i&gt;"Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."&lt;/i&gt; (Amsal 29:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hari ini kita masih punya kepekaan untuk menyadari jalan-jalan yang salah, jangan terus keraskan hati. Jangan terus menunda, ambillah keputusan sekarang juga untuk bertobat, mumpung kita masih punya kesempatan. Firman Tuhan berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"..Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Ibrani 3:7-8). Ambil keputusan untuk putus dari dosa dan jangan beri toleransi lagi sekecil apapun. Lewat perantaraan nabiNya Tuhan juga bersabda: &lt;i&gt;"Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya."&lt;/i&gt; (Yeremia 25:5). Bagi yang bertobat akan diberikan hak sebagai ahli waris Tuhan, namun yang terus menolak akan dibuang selamanya dari tanah yang diberikan Tuhan. Sesungguhnya ini merupakan hal serius karena apa yang dikatakan Tuhan bukan hanya sekedar berbicara mengenai hilangnya berkat akibat dosa, tapi juga berbicara mengenai hilangnya keselamatan dan kasih karunia Tuhan bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Yesus ke dunia adalah karena ada dosa kita. Tuhan merasa perlu untuk menganugerahkan apa yang sesungguhnya tidak layak kita terima, yaitu keselamatan.Tuhan Yesus yang kelahiranNya di bumi ini untuk kita orang yang berdosa, sudah membereskan itu semua. Bersyukurlah untuk itu, jangan sampai penebusan Kristus menjadi sia-sia karena kita terus menerus membiarkan dosa berkuasa dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa berjalan bersama Kristus dan menerima janji-janjinya jika sementara pada saat yang sama masih terus hidup di dalam dosa. Menjelang hari Natal yang akan tiba sebentar lagi, ambil keputusan hari ini juga untuk putus dari dosa, karena jika tidak kita akan menghadapi masalah besar yang pada suatu ketika tidak lagi bisa diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;No matter how tempting the offer is, say no to anything sin said&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyhrho"&gt;http://twitter.com/dailyhrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2835387384386760813?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/2835387384386760813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=2835387384386760813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2835387384386760813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/2835387384386760813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/lepas-dari-dosa_21.html' title='Lepas Dari Dosa'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3904962960681025763</id><published>2011-12-20T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-20T08:00:02.947-08:00</updated><title type='text'>Hadiah Buat Yesus</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Markus 12:33&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="hadiah" src="http://s276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/hadiah.jpg" /&gt;Hadiah apa yang sudah anda siapkan untuk orang-orang yang anda cintai? Ketika Natal sudah sangat dekat seperti ini, tentu sebagian besar orang tua sudah menyiapkan kado untuk anak-anaknya. Ada yang memberi bingkisan bagi rekan bisnis, bertukar hadiah dengan teman-teman, atau menyediakan bingkisan kejutan bagi kekasih, istri atau suami. Sebagian lagi mungkin sudah pergi berlibur bersama keluarga ke tempat-tempat wisata atau bahkan ke luar negeri. Setelah bekerja keras selama setahun, tentu rasanya menyenangkan bisa berlibur bersama keluarga tanpa harus terganggu oleh pekerjaan yang sehari-hari menumpuk di meja kerja. Natal adalah sebuah perayaan untuk memperingati kelahiran Kristus. Jika kita sudah mempersiapkan berbagai hadiah dan kejutan kepada orang-orang terdekat kita, bagaimana dengan Sosok yang kita rayakan itu sendiri? Hadiah apa yang kita berikan kepada Yesus, dan hadiah seperti apa yang akan sangat berkenan buat Dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memasuki hari Natal, apa yang seharusnya kita renungkan dan syukuri adalah kedatangan Yesus ke muka bumi ini untuk menebus dosa-dosa kita. Atas dasar kasih Allah yang begitu besar, Dia datang menghapus dosa dunia dan membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam keselamatan. Ini bukan hal sepele. Cobalah renungkan, siapalah kita ini sehingga kita begitu berharga dalam pandangan Tuhan untuk diselamatkan? Daud pernah mempertanyakan hal ini ketika ia tengah terpukau dalam kekaguman saat memandang indahnya langit. &lt;i&gt;"apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?"&lt;/i&gt; (Mazmur 8:5). Apakah kita berjasa besar sehingga Tuhan berhutang budi pada kita? Tidak. Apakah kita begitu luar biasa sehingga Tuhan harus membayar kita? Tidak. Apakah kita begitu suci tanpa cacat sehingga Tuhan merasa bersalah jika tidak menyelamatkan kita? Tidak. Kita adalah manusia yang terus menerus berbuat dosa, terus mengecewakan Tuhan dengan segala perilaku kita. Tetapi meski demikian, Tuhan ternyata tetap mengasihi kita. Walaupun alam semesta ini begitu indah diciptakan, tetap saja manusia merupakan ciptaanNya yang paling berharga, yang diciptakan seperti gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dengan kata lain &lt;i&gt;"dibuat sama seperti Allah"&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat&lt;/i&gt; (Mazmur 8:6). Oleh karena itu keselamatan kita pun menjadi agenda penting bagi Tuhan, didasari oleh kasihNya yang begitu besar kepada kita. Dan itu Dia anugerahkan kepada manusia. Anugerah bukanlah anugerah apabila diberikan atas balas jasa. Justru karena kita sebenarnya tidak layak, tetapi Dia tetap memberikan, itulah yang disebut dengan anugerah. Alkitab menggambarkan dengan begitu menyentuh. &lt;i&gt;"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."&lt;/i&gt; (Yohanes 3:16) Adalah kasih yang begitu besar dari Allah yang sanggup menggerakkan hatiNya untuk mengorbankan Kristus untuk menggantikan kita semua di atas kayu salib, membayar lunas semua pelanggaran dan dosa kita, melepaskan kita dari kutuk dan menganugerahkan keselamatan yang seharusnya tidak layak kita miliki. Semua itu berasal dari sebuah anugerah yang diberikan Tuhan atas dasar besarnya kasihNya kepada kita. Bayangkan bagaimana hidup kita saat ini seandainya Yesus tidak datang ke dunia dan menebus dosa-dosa kita, mematahkan belenggu dosa dan kutuk, menggantikan kita di atas kayu salib dan menyelamatkan kita dari kematian. Tidakkah itu mengerikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Majus dari Timur berangkat menempuh perjalanan panjang yang melelahkan untuk menyembah bayi Yesus. (Matius 2:2). Tapi kelelahan itu segera sirna berubah menjadi sebentuk sukacita luar biasa ketika mereka melihat bintang yang menunjukkan arah dimana Yesus dilahirkan. (ay 10). Kalau kita mundur satu pasal, kita bisa melihat apa yang dikatakan malaikat kepada Yusuf lewat mimpi. "&lt;i&gt;Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka...Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia &lt;b&gt;Imanuel&lt;/b&gt; (arti Imanuel adalah Allah ada bersama kita)&lt;/i&gt;" (Matius 1:21,23). Imanuel, artinya Allah ada bersama kita. Renungkanlah baik-baik makna Imanuel itu. Kelahiran Yesus ke dunia sesungguhnya membawa dampak yang begitu besar bagi perjalanan hidup dan keselamatan kita. Dan itulah seharusnya sumber sukacita kita dalam menyambut Natal. Jika Yesus memberikan sebuah kado luar biasa kepada kita, apa yang bisa kita berikan kepadaNya? Betapa seringnya kita melupakan ini. Kita sering meminta Yesus untuk memenuhi segala keinginan kita, tetapi kita tidak mau berpikir apa yang bisa kita berikan sebagai hadiah yang terindah yang berkenan untuk Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa hadiah yang sebenarnya bisa kita berikan kepadaNya? Parcel? Rumah? Mobil? Uang? Tidak, semua itu tidak ada artinya. Apa yang menyenangkan hati Yesus sesungguhnya hanya satu, dan itu tidak lain adalah &lt;b&gt;hati&lt;/b&gt; kita. Hati yang terbuka, lembut, mau dibentuk, percaya kepadaNya dan selalu bersungguh-sungguh menyembah dan mengasihiNya. Hati yang takut akan Tuhan, bersih yang siap untuk menerima Kristus untuk berdiam di dalamnya, dan juga hati yang penuh kasih terhadap sesama manusia, seperti halnya Kristus mengasihi kita. Ini bisa kita lihat dari dua hukum yang terutama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kali seorang ahli Taurat mengatakan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Markus 12:33), Lalu apa tanggapan Yesus? Yesus mengiyakan perkataan orang itu dan berkata &lt;i&gt;"Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" &lt;/i&gt;(ay 34). Jadi jelaslah lewat ayat ini kita bisa melihat apa hadiah sesungguhnya yang bisa kita berikan kepada Yesus. Hati yang mengasihi Tuhan dan sesama, itulah hadiah yang sangat indah untuk kita berikan kepada Yesus dalam memperingati kelahiranNya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pun bisa kita lihat dari pernyataan Yesus berikut: &lt;i&gt;"Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."&lt;/i&gt; (Matius 25:40). Tuhan Yesus tidak memerlukan bingkisan-bingkisan duniawi berupa harta benda, perhiasan, materi dan sejenisnya. Apa yang akan menyenangkanNya adalah &lt;b&gt;kasih terhadap Tuhan&lt;/b&gt; (kasih dalam bentuk horizontal) dan &lt;b&gt;kepada sesama&lt;/b&gt; (vertikal). Kasih berasal dari hati, jadi sebentuk sikap hati yang mengarah penuh kepadaNya dan berpusat pada kehendakNya, itu akan menjadi sebuah hadiah yang sangat indah bagi Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah memang mempersiapkan pesta perayaan, liburan bersama keluarga dan sahabat serta hadiah-hadiah yang dibungkus indah, namun yang jauh lebih penting dari itu, marilah kita merenungkan makna kelahiran Kristus di dunia. Marilah kita mempersiapkan sebuah hadiah istimewa bagi Yesus kali ini. Masukilah Natal yang penuh sukacita, bukan didasarkan kepada gemerlap dan kemeriahan pesta dan timbunan hadiah, tetapi didasarkan oleh rasa syukur kita akan kasihNya yang begitu besar kepada kita semua dan kerinduan kita untuk mengalirkan kasih Kristus untuk menyentuh sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hati yang mengasihiNya dan menjadi saluran kasih terhadap sesama, itulah hadiah yang terindah buat Yesus &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3904962960681025763?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3904962960681025763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3904962960681025763' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3904962960681025763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3904962960681025763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/hadiah-buat-yesus.html' title='Hadiah Buat Yesus'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8855977998620493574</id><published>2011-12-19T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T08:00:04.246-08:00</updated><title type='text'>Berikan Kasih di Hari Natal</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;1 Yohanes 4:11&lt;br /&gt;===========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="give love on christmas" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/berikan-kasih.jpg" /&gt;Untuk menyambut kedatangan hari Natal, saya sering memutar lagu-lagu Natal dari artis-artis ternama dahulu sampai sekarang. Barusan yang muncul di playlist adalah sebuah lagu yang dinyanyikan &lt;i&gt;Jackson 5&lt;/i&gt; berjudul &lt;i&gt;"Give Love on Christmas Day"&lt;/i&gt;. Liriknya indah dan sarat makna. Mari kita lihat penggalannya:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;People making lists, buying special gifts&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Taking time to be kind to one and all&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It's that time of year when good friends are dear&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And you wish you could give more than just presents from a store&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why don't you give love on Christmas Day?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oh, even the man who has everything would be so happy if you would&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bring him love on Christmas Day&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;No greater gift is there than love&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah lirik yang ditulis secara sederhana oleh tim penulis/produksi dari &lt;i&gt;Motown Record&lt;/i&gt; bernama &lt;i&gt;The Corporation&lt;/i&gt; ini begitu sarat makna dan sangat mengena. Seringkali kita sibuk menghabiskan waktu untuk berpikir hendak membeli hadiah apa buat istri/suami, anak-anak, saudara, teman dan orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi kita lupa bahwa sesungguhnya hadiah yang terbesar justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu &lt;b&gt;kasih&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;love&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun kemudian ingat akan sepenggal bincang-bincang saya dengan seorang artis dari luar negeri yang pada saat itu baru saja mengeluarkan album Natalnya. Saya menanyakan apa makna hari Natal buat dia, dan inilah jawabannya.&lt;i&gt;"For me, Christmas is a time of thanksgiving and appreciation.. Primarily of course to our Father God who gave Jesus, to remember the sacrifice He did just for us, as an example for us on how to live our lives on this earth. It is a time when love and sharing and smiles abound and are exchanged among everyone." &lt;/i&gt;Si penyanyi pun ternyata menyadari bahwa kasih merupakan esensi dari kedatangan Kristus turun ke dunia. Dengan sangat indah Tuhan berfirman:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yohanes 3:16). Jika Tuhan mengasihi kita sebegitu besar sehingga rela memberikan Kristus untuk kita semua, dan itulah yang kita rayakan pada hari Natal, ini saatnya kita mengerti apa sebenarnya makna yang terkandung dibalik sebuah perayaan Natal yang kita rayakan dari tahun ke tahun. Dan itu tergambar dari lirik lagu di atas serta jawaban sang penyanyi yang sudah saya kutip di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi si penyanyi, Natal bermakna sebagai sebuah hari untuk berterimakasih dan bersyukur. Pertama, tentu saja kepada Allah Bapa yang sudah begitu mengasihi kita. Tapi tidak hanya berhenti sampai disitu saja, ia pun mengatakan bahwa bentuk kasih Tuhan yang dinyatakan secara nyata lewat kasih Kristus buat kita haruslah menjadi sebuah contoh bagaimana kita harus membagi kasih bagi sesama kita. Baginya, Natal adalah saat untuk memberi kasih dan berbagi senyum dengan orang lain, membawa pesan perdamaian untuk semua orang. Jika kita hubungkan dengan lirik lagu di atas, sebuah himbauan tegas pun diberikan kepada kita.&lt;i&gt; "Why don't you give love on Christmas Day?"&lt;/i&gt; Mengapa tidak memberikan kasih pada hari Natal? Ya, ini seruan penting yang seringkali kita lupakan. Kita sibuk membungkus kado, dan itu tidaklah salah. Namun apa yang lebih penting dan tepat seperti esensi yang terkandung di dalam sebuah perayaan Natal adalah wujud kasih yang seharusnya menjangkau lebih dari sekedar anggota keluarga atau teman-teman. Perhatikan di sekeliling kita, ada begitu banyak orang yang kehilangan sukacita karena penderitaan yang harus mereka tanggung. Natal bisa menjadi momen bagi kita untuk mulai menjangkau mereka dalam kasih, mengalirkan kasih Bapa Surgawi yang ada pada diri kita untuk mengalir memenuhi diri mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ia sampaikan sejalan dengan ayat bacaan hari ini. Jika kita menyadari betapa besarnya kasih Allah pada kita, maka kita pun seharusnya saling mengasihi. Itu tepat seperti yang disampaikan Yohanes, &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(1 Yohanes 4:11). Jika Allah tidak mengasihi kita, maka Yesus tidak akan pernah datang ke dunia, dan hingga saat ini kita masih akan tetap berada di dalam kegelapan dengan kondisi hubungan terputus dengan Tuhan. Bayangkan betapa berbahayanya hidup seperti itu. Tapi bukan itu yang terjadi. Apa yang diberikan Tuhan kepada kita sungguh luar biasa besar. Pengorbanan Yesus lewat karya penebusan yang diluar batas perikemanusiaan pun akhirnya membayar lunas semua hutang-hutang dosa kita dan memulihkan sebuah hubungan indah antara Sang Pencipta dan yang diciptakan. Di dalam Yesus ada keselamatan, ada damai sukacita dan ada kelimpahan. Terlebih, di dalam Dia ada kasih yang sempurna. Perhatikanlah doa Yesus bagi murid-muridNya.&lt;i&gt; "dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."&lt;/i&gt; (Yohanes 17:26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menjelang Natal adalah saat yang tepat untuk mulai berpikir untuk membagi kasih kepada orang lain. Tidak hanya dengan kata-kata semata, tetapi juga &lt;b&gt;lewat perbuatan dan dalam kebenaran.&lt;/b&gt;&lt;i&gt; "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."&lt;/i&gt; (1 Yohanes 3:18). Alangkah indahnya jika kasih sempurna Kristus yang ada di dalam kita bisa kita berikan kepada saudara-saudara kita yang lain. Sebuah perayaan Natal janganlah sampai terhenti hanya pada pesta-pesta atau kado-kado indah dengan keluarga dan teman, tapi rayakanlah itu dengan membagi kasih kepada siapapun mereka di sekitar kita. Seringkali kita berpikir untuk hanya berfokus pada pemberian materi, tapi seringkali pula justru pemberian non materi yang sangat sederhana bermakna sangat besar bagi mereka yang membutuhkan. Sebuah senyuman tulus, sebuah kerelaan untuk membagi waktu mendengarkan keluh kesah mereka, &lt;i&gt;being there when they need us, even a tap on the shoulder or a hug&lt;/i&gt;, itu bisa memberi sukacita besar di saat mereka merasa sendirian menghadapi beban hidup. Kasih adalah sebuah inti dasar dari kekristenan yang bahkan sanggup &lt;b&gt;menutupi banyak sekali dosa.&lt;/b&gt; (1 Petrus 4:8). &lt;b&gt;Christmas is all about love&lt;/b&gt;, makna sesungguhnya dari Natal adalah kasih. &lt;i&gt;Why don't we give love on Christmas day?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Let's give love on Christmas day&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8855977998620493574?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8855977998620493574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8855977998620493574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8855977998620493574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8855977998620493574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/berikan-kasih-di-hari-natal.html' title='Berikan Kasih di Hari Natal'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5481540475194591469</id><published>2011-12-18T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T08:00:02.586-08:00</updated><title type='text'>Merdeka secara Spiritual</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yesaya 9:5&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="budak kulit hitam" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/budak.jpg" /&gt;Sejarah lahirnya jazz tidak bisa dipisahkan dari peranan warga kulit hitam yang kebanyakan hidup sebagai budak pada abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Dalam keadaan tertindas dan menderita, ternyata mereka tidak memilih untuk meratapi nasib dan mengeluh. Mereka menuangkan perasaan mereka ke dalam pola-pola irama yang kemudian dikenal sebagai blues. Dari sana muncullah jazz sebagai gabungan dari blues, African rhythm, marching band dan gospel, jenis-jenis musik yang tumbuh subur di kalangan para warga kulit hitam pada masa itu. Saya terharu sekaligus kagum dan terkesan melihat pola pikir mereka pada masa itu. Mereka bukanlah orang-orang berpendidikan tinggi. Mereka ditindas dan dijadikan budak, dianggap warga kelas dua, bahkan seringkali dihina dan dijadikan bahan olok-olok oleh para tuan tanah berkulit putih. Tapi mereka tetap bisa mencurahkan perasaan mereka secara positif ke dalam musik, sesuatu yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini. Banyak lagu Natal yang berasal dari jaman itu, dan lagu-lagu itu pun bernuansakan pengharapan. Jelas, di dalam kondisi yang penuh penderitaan seperti itu, mereka tahu bahwa kelahiran Kristus turun ke dunia memberi jaminan akan keselamatan, dan tentu saja kemerdekaan. Kelahiran Kristus di mata mereka merupakan bukti nyata betapa besar kasih Tuhan kepada mereka, betapa berharganya mereka di mata Tuhan. &lt;i&gt;Out of all the painful life, they went on singing cheerful and uplifting songs, and it's inspirational. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar dari mereka tentang bagaimana menyikapi kerasnya kehidupan. Mereka ditindas oleh sesamanya manusia, mereka dianggap tidak punya harga, tetapi mereka tahu bahwa serendah-rendahnya mereka di dunia, di mata Tuhan mereka berharga sangat tinggi. Sangat tinggi hingga Tuhan Yesus datang menebus dosa manusia dan memberikan kemerdekaan, bebas dari kutuk dan dosa, termasuk pula kepada para budak. Mereka tahu bahwa Tuhan merasakan penderitaan mereka, menangis bersama mereka. Dan kedatangan Kristus pun bermakna luar biasa sebagai bukti kasih nyata Tuhan kepada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa mudahnya dosa berkuasa atas hidup kita, sampai-sampai banyak manusia yang tidak mampu keluar dari jerat dosa itu sama sekali. Tapi kelahiran Kristus bermakna sangat besar. Lewat kehadiran dan karya penebusanNya kita semua &lt;b&gt;dimerdekakan, berubah dari hamba dosa berubah menjadi hamba kebenaran. &lt;/b&gt;Mari kita lihat sejenak apa yang difirmankan Tuhan lewat Paulus. &lt;i&gt;"Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran."&lt;/i&gt; (Roma 6:17-18). Selanjutnya Paulus menjelaskan &lt;i&gt;"Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran...Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."&lt;/i&gt; (ay 20,22-23). Semua itu merupakan anugerah yang kita peroleh dari Tuhan atas kasihNya yang begitu besar, dan hanya diberikan lewat AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Lewat karya Kristus kita dibebaskan dan dimerdekakan dari dosa. Kita memperoleh buah yang akan membawa kita menuju sebuah hidup penuh sukacita yang tidak lagi fana, melainkan kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nubuatan mengenai kelahiran Kristus hadir lewat Yesaya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yesaya 9:5). Ini sebuah berita besar bagi dunia. Di awal pasal 9 ini disebutkan bahwa &lt;i&gt;"Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar."&lt;/i&gt; (ay 1). Kedatangan Kristus mengubahkan keadaan dunia yang gelap gulita dan menggantikannya dengan sebuah harapan dan kehidupan baru yang terang benderang. Oleh karenanya sorak sorai dan sukacita besar pun hadir bagi setiap orang percaya. (ay 2). Sebab apa?&lt;i&gt; "Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian."&lt;/i&gt; (ay 3). Selain memberikan terang baru yang penuh harapan, Yesus Sang Raja Damai pun membawa kedamaian ke dalam hati kita, mengubahkan hati kita menjadi sebentuk hati yang penuh kasih. Atas semua ini, tidakkah kita pantas bersukacita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi kita akan merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Yesus turun ke dunia bukan untuk bersenang-senang tapi demi menuntaskan misi yang diberikan Bapa kepadaNya, yaitu menyelamatkan semua manusia, meluputkan kita dari kebinasaan dan membawa kita beroleh kehidupan kekal. Kita bisa belajar dari para budak kulit hitam dalam memaknai kelahiran Tuhan Yesus. Mereka pada saat itu tertindas, tidak merasakan hak-hak pribadi mereka sebagai manusia, hidup dalam perbudakan, tapi mereka mampu bersukacita ketika mengingat bahwa Yesus telah turun ke dunia untuk memerdekakan segala manusia termasuk mereka. Yesus mematahkan segala belenggu yang mengikat kita. Mereka tahu meskipun mereka dirampas hak-haknya sebagai manusia oleh sesamanya, tetapi keselamatan menuju kehidupan kekal sudah dianugerahkan bagi mereka. Di dunia boleh saja tertindas, namun mereka adalah orang-orang yang &lt;b&gt;merdeka secara spiritual&lt;/b&gt;, dan telah mendapatkan hak waris Allah dalam kerajaanNya. Karena itulah mereka bersukacita. Jika ada diantara teman-teman yang saat ini masih menderita, sulit lepas dari belenggu dosa atau permasalahan hidup, masih merasa terkurung dalam kegelapan dan sulit melihat datangnya cahaya terang atau masih berbeban berat, terikat dengan masa lalu yang membuat sulit untuk melangkah maju, teladanilah pola pikir yang penuh pengharapan dari para budak kulit hitam di masa lalu. Mereka bersukacita atas kelahiran Kristus, dan tidak ada satupun penderitaan yang mampu menggantikan sukacita itu dari hati mereka. Seperti kepada mereka, kepada kita pun kemerdekaan dan keselamatan telah dianugerahkan. &lt;i&gt;For that we definately should rejoice&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bersukacitalah sebab Yesus telah turun ke dunia bagi kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5481540475194591469?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/5481540475194591469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=5481540475194591469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5481540475194591469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/5481540475194591469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/merdeka-secara-spiritual.html' title='Merdeka secara Spiritual'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1957319701915286751</id><published>2011-12-17T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-17T08:00:02.041-08:00</updated><title type='text'>Marah-Marah</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 1 Tesalonika 5:14&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"sabarlah terhadap semua orang."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="marah" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/marah-1.jpg" /&gt;"Ini orang parkir seenak jidatnya saja!" teriak seorang pengemudi yang tidak bisa keluar dari parkiran karena mobilnya terhalang sebuah mobil lain yang parkir seenaknya. Tukang parkir menjadi sasaran empuk karena seharusnya ia melarang mobil itu untuk parkir menutupi mobil lain. Tukang parkir itu pun kemudian kalang kabut mencari pemilik mobil tapi gagal menemukannya. Saya parkir kebetulan tidak jauh dari situ sehingga melihat kejadiannya secara jelas. Sementara si pemilik mobil yang terhalang masih marah-marah sambil membentak tukang parkir, belum juga ada tanda-tanda pengemudi mobil dibelakangnya kembali ke mobilnya. Pernahkah anda melihat hal ini? Rasanya kita sering melihat kejadian seperti ini, atau bahkan mengalaminya sendiri. Tidak hanya soal parkir sembarangan, kitapun kerap kesal melihat orang yang mempergunakan fasilitas umum sesuka hatinya tanpa mempedulikan orang yang mengantri dibelakang mereka. Di saat kita tidak sedang buru-buru saja rasanya sudah kesal, apalagi kalau kita sedang terjepit waktu. Bagaimana dengan orang yang berkendara di jalanan secara ugal-ugalan? Atau orang yang memencet klakson berlebihan di saat macet? Polisi yang menutup jalan seenaknya sehingga kita harus memutar jauh? Ada begitu banyak hal dalam hidup kita yang bisa memancing emosi dengan cepat. Alasan untuk emosi mungkin memang ada, tapi jika kita tidak mengontrolnya cepat maka pada suatu ketika emosi itu menjadi sulit untuk diredam. Akibatnya kita akan mempermalukan diri sendiri, atau yang lebih fatal lagi, melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain yang pada suatu ketika akan kita sesali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sepertinya tahu sulitnya manusia untuk mengontrol kesabarannya. Mengapa saya bisa mengatakan hal ini? Karena baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kita bisa menemukan pesan Tuhan berulang-ulang agar kita bisa melatih kesabaran kita. Lihatlah sebuah seruan Yakobus berikut ini: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yakobus 1:19). Cepatlah mendengar, bukan cepat membantah, dan lambatlah berkata-kata apalagi marah. Mengapa? Yakobus melanjutkan: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yakobus 1:19-20). Jangan gampang tersulut emosi, jangan cepat beradu argumen, tetapi dengarkanlah dahulu apa kata orang, atau cobalah berpikir hal-hal yang positif sebelum kita buru-buru berkomentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir hal-hal yang positif, itu bisa membuat kita tidak mudah terpancing emosi. Dan hal itu pun sudah diingatkan oleh Paulus.&lt;i&gt; "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."&lt;/i&gt; (Filipi 4:8). Dalam hal meredam emosi, pesan Paulus ini sesungguhnya baik untuk diterapkan. Ketika orang parkir sembarangan menutup mobil kita, itu bisa menjadi saat yang tepat untuk berlatih berpikir positif. Mungkin ia sedang terdesak waktu, ada hal mendesak yang harus segera ia lakukan dan tidak bisa lagi menunggu. Atau kalaupun orang itu memang seenaknya saja, seharusnya kita merasa prihatin karena ia ternyata tidak mengerti tata krama dan bakal mengalami banyak kesulitan karenanya. Itu bentuk-bentuk pemikiran yang bisa mencegah kita dari kemarahan yang tersulut dengan cepat. Dan itulah yang baik untuk dilakukan, karena biar bagaimanapun, apapun alasannya, kemarahan tidaklah mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita terbiasa hidup dengan kemarahan, seharusnya kita meninggalkan itu dan menggantikannya dengan kesabaran dalam mengisi hari-hari kita. Kekristenan selalu berbicara soal kesabaran dalam menanggung segala sesuatu. Ketika orang di dunia terbiasa cepat emosi bahkan merusak dan membunuh yang tidak sepaham, kita justru dianjurkan untuk bersabar dan mengasihi. Cobalah pikirkan, bukankah Tuhan pun sudah begitu sabar menghadapi kita? Bayangkan apabila sedikit saja salah kita langsung Dia habisi, apa jadinya kita? Tapi Tuhan bukanlah Pribadi yang gampang emosi seperti itu. Dia selalu sabar menghadapi kita, dan selalu menyambut kita dengan penuh sukacita ketika kita datang kepadaNya. Dia berpesta bersama seisi Surga ketika kita bertobat dan memutuskan untuk kembali kepadaNya dengan meninggalkan segala yang buruk. Jika Bapa saja seperti itu, mengapa kita malah menunjukkan sikap yang bertolak belakang, bahkan masih berani mengaku sebagai anakNya? Alkitab memang berbicara soal kesabaran dalam menanggung segala sesuatu secara luas. Dalam situasi paling sulit pun kita harus bersabar, apalagi dalam situasi-situasi kecil saja, itu seharusnya tidaklah susah untuk diatasi. Dari cara menangani hal-hal kecil kita bisa mulai melatih kesabaran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya yang membuat Tuhan bisa begitu bersabar menghadapi kita yang kerap mengecewakanNya? Jawabannya hanya satu: karena Dia sungguh sangat mengasihi kita. Kasih itu ternyata punya kekuatan besar untuk mentransformasi manusia dan membawa perbedaan nyata ke arah kebaikan secara luas. Dan Firman Tuhan pun sudah menyatakannya. Dalam 1 Korintus 13:4-7 Paulus merinci satu persatu mengenai poin-poin penting yang tercakup dalam kasih. Dan lihatlah bahwa sabar merupakan satu di dalamnya, bahkan disebutkan paling depan.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Kasih itu sabar..."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 3). Jadi menerapkan kasih seharusnya bisa membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih sabar. Sebaliknya tanpa adanya kasih, akan sulit bagi kita untuk mengontrol emosi. Cobalah hidup dengan penuh kebencian, maka segala tindakan destruktif, kejam dan tak beradab akan menjadi gaya hidup kita. Lalu perhatikanlah bahwa dengan membiarkan diri kita hidup dipimpin oleh Roh, itupun akan mampu menghasilkan buah-buah Roh dimana salah satunya adalah kesabaran. &lt;i&gt;"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."&lt;/i&gt; (Galatia 5:22-23). Hidup oleh kasih dan dipimpin oleh Roh akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang baik seperti yang diharapkan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain seruan Yakobus di atas, Paulus pun pernah mengingatkan hal yang sama dalam surat-suratnya. &lt;i&gt;"Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu."&lt;/i&gt; (Efesus 4:2). Serangkaian nasihat sebelum Paulus menutup suratnya kepada jemaat Tesalonika pun berisi pesan agar kita bisa menjadi orang-orang yang sabar.&lt;i&gt; "sabarlah terhadap semua orang."&lt;/i&gt; (1 Tesalonika 5:14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa menghindari persinggungan dengan situasi atau orang-orang yang berpotensi membuat kita tersulut amarah. Kapanpun dan dimanapun kita bisa bertemu dengan mereka ini. Kita tidak bisa mengelak selamanya, tapi apa yang bisa kita lakukan adalah merubah paradigma berpikir kita dengan hal-hal positif, dan mengisi hati kita dengan sikap yang mengasihi orang lain. Kedua hal ini akan mampu membuat diri kita teduh, sejuk dan dengan demikian kita tidak harus kehilangan sukacita dan bisa tetap menikmati hari demi hari secara maksimal. Jika anda berhadapan dengan orang-orang sulit atau situasi sulit yang berpotensi mengesalkan anda, andalkanlah Tuhan. Rohnya ada didalam anda, sehingga buah-buah yang dihasilkan Roh itu akan mampu membuat anda memandang situasi atau orang tersebut dengan cara pandang yang berbeda. Dasarkan pandangan dalam kasih dan hiduplah bertumbuh dalam buah-buah Roh, itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang jauh lebih sabar dalam segala situasi dan kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kemarahan tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1957319701915286751?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/1957319701915286751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=1957319701915286751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1957319701915286751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/1957319701915286751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/marah-marah.html' title='Marah-Marah'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8824468132208002988</id><published>2011-12-16T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-16T08:00:02.223-08:00</updated><title type='text'>Tamak</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yakobus 2:15-16&lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="tamak" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/tamak.jpg" /&gt;Ketika kita diberkati lebih dari cukup, apa yang kita lakukan? Kita mungkin berpikir untuk membeli barang-barang yang kita sudah lama kita idam-idamkan. Kita mungkin langsung memikirkan untuk pergi berlibur ke sebuah tempat yang sudah sekian lama pula kita inginkan. Ada yang berpikir untuk mendepositokan dan sebagainya. Semua itu tentu tidak salah. Tapi seberapa jauh kita terpanggil untuk membantu sesama kita lewat berkat yang sudah kita terima dari Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak orang yang salah kaprah dalam menyikapi berkat yang diberikan Tuhan. Mereka berpikir bahwa semua itu adalah untuk membuat mereka bisa hidup mewah, berfoya-foya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu benar. Di satu sisi memang kita berhak memakai berkat yang kita peroleh untuk membeli keperluan-keperluan kita. Tapi di sisi lain kita harus ingat juga bahwa Tuhan memberi berkat bukan untuk kita simpan sendiri tetapi untuk memberkati orang lain. Kita diberkati bukan untuk ditimbun dan dipakai semata-mata untuk kepentingan pribadi, ttetapi kita diberkati untuk memberkati. Dalam kitab Yehezkiel dikatakan: &lt;i&gt;"Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran..tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan.."&lt;/i&gt; dan sebagainya. (bacalah Yehezkiel 18:5-9) Dalam Perjanjian Baru pun pesan seperti ini disampaikan beberapa kali, misalnya lewat Yakobus.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yakobus 2:15-16). Perhatikanlah bahwa Tuhan menginginkan kita untuk menjadi saluran berkatNya dan bukan untuk membuat kita menjadi orang-orang yang serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya berapapun yang ada pada kita saat ini bisa sangat bermanfaat untuk membantu orang lain. Besar atau kecil nilainya, selama itu diberikan dengan hati yang iklas dan penuh sukacita maka Tuhan pun akan memperhitungkannya dengan sangat tinggi. Lihatlah kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan dalam jumlah kecil, hanya dua peser alias satu duit. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan&lt;i&gt; half a cent&lt;/i&gt; atau setengah sen. (Markus 12:42). Jumlah itu jauh nilainya dibawah pemberian orang-orang kaya pada saat bersamaan. (ay 41). Ketika itu Yesus tengah berada disana dan mengamati setiap orang yang memberi persembahannya. Apakah jumlah yang besar itu yang menarik perhatian Yesus? Ternyata tidak. Justru si ibu janda yang miskin lah yang mendapat perhatian Yesus.&lt;i&gt; "Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan."&lt;/i&gt; (ay 43). Mengapa Yesus mengatakan seperti ini? &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 44). Artinya, berapa pun yang ada pada kita, kita bisa mulai peduli dan tergerak untuk memberi, karena seringkali bukan masalah ada dan tidak ada atau cukup dan tidak cukup, melainkan masalahnya adalah hati kita. Pada akhirnya kita harus sampai kepada pola pemikiran yang tepat sesuai Firman Tuhan, seperti yang tertulis dalam ayat berikut ini: &lt;i&gt;"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: &lt;b&gt;Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Kisah Para Rasul 20:35). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anda diberkati hari ini dengan penghasilan yang besar, bersyukurlah dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang kekurangan, menolong yang kelaparan, memberi pakaian bagi yang kurang mampu, semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya. Mahatma Gandhi pernah mengatakan: &lt;i&gt;"Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed"&lt;/i&gt;. Bumi cukup untuk memuaskan semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk satu orang yang tamak. Bumi ini sudah diciptakan Tuhan dengan begitu baik sehingga cukup untuk semua manusia, terlebih ketika kita orang percaya bisa berfungsi secara benar sesuai panggilan Tuhan. Tetapi dunia dan segala isinya ini tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang tamak atau serakah, yang ingin selalu memiliki lebih dan lebih lagi tanpa pernah merasa bersyukur. Yesus sudah mengingatkan: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Lukas 12:15). Hendaklah kita semua hidup dengan rasa cukup dan tidak dikuasai oleh sifat serakah. Dalam keadaan apapun tetaplah bersyukur dan ingatlah bahwa di atas segalanya Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita. Menjelang hari Natal yang semakin dekat, ini saatnya untuk menjadi saluran berkat dari Tuhan kepada sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hiduplah dengan rasa cukup dan hindari sifat tamak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8824468132208002988?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8824468132208002988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8824468132208002988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8824468132208002988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8824468132208002988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/tamak.html' title='Tamak'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4688146891051685796</id><published>2011-12-15T08:00:00.001-08:00</published><updated>2011-12-15T08:00:03.562-08:00</updated><title type='text'>Hidup Sederhana</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Ulangan 16:16&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="sederhana" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/sederhana.jpg" /&gt;Dalam sebuah obrolan santai dengan beberapa teman, ada seseorang di antara mereka yang melontarkan pertanyaan: "apa perasaan yang paling sulit menurut kalian untuk dikendalikan?" Jawabannya beragam, tetapi ada satu jawaban yang saya rasa menarik, yaitu &lt;b&gt;"rasa cukup."&lt;/b&gt; Saya rasa apa yang ia katakan itu benar, apalagi di dunia sekarang yang akan dengan mudah membuat kita menjadi masyarakat konsumtif. Ada begitu banyak kebutuhan yang tiba-tiba dianggap sangat penting untuk dimiliki, tidak bisa tidak, dan banyak diantaranya bukan karena fungsi atau kegunaannya melainkan karena gengsi. Selalu saja ada barang-barang atau gadget yang rasanya harus kita miliki atau kalau tidak maka kita pun malu dianggap ketinggalan jaman, tidak sanggup dan sebagainya. Betapa seringnya kita terus merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan lebih lagi, sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang malah menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak adil. Mudah bagi kita untuk menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Rasa tidak pernah puas menjadi kebiasaan banyak orang, itu dianggap wajar, dan kalau demikian bagaimana kita akan pernah bersyukur atas segala yang telah kita miliki hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak menginginkan kita memiliki pola pikir seperti itu. Tuhan ingin kita tahu berterimakasih dan bersyukur atas apa yang kita punya saat ini. Tidak dipungkiri akan ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi kedepannya, tetapi itu bukan berarti kita harus merasa kurang, tidak puas lalu mengeluh dan sulit untuk mengucap syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan langsung antara cukup dan tamak bisa kita lihat lewat kisah bangsa Israel pada masa pengembaraan mereka dibawah pimpinan Musa menuju tanah ternjanji, Kanaan. Bangsa Israel saat itu dikenal sebagai bangsa keras kepala, tegar tengkuk yang selalu sulit untuk bersyukur atas berkat yang sudah turun atas mereka. Walau sudah berkali-kali mereka menyaksikan langsung penyertaan dan mukjizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap saja bersungut-sungut dan terus menuntut lebih dan lebih lagi. Begitu cepatnya mereka mengeluh, begitu mudahnya mereka bersungut-sungut. Hari ini bersukacita besok mereka sudah melupakan semua berkat itu dan kembali mengeluh tak habis-habisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contohnya bisa kita lihat dalam Keluaran 16:1-36. Pada bagian ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin, setelah satu setengah bulan berada dalam perjalanan. Karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka mengeluh dan berkata &lt;i&gt;"Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."&lt;/i&gt; (ay 3). Tuhan yang mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit.&lt;i&gt; "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan &lt;b&gt;memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari&lt;/b&gt;, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak."&lt;/i&gt; (ay 4). Lihatlah sebuah pesan penting hadir dalam ayat ini. Meski Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun Tuhan berpesan agar mereka memungut secukupnya saja. Dasar tamak, ternyata mereka masih juga merasa belum cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ay 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan: &lt;i&gt;"Pungutlah itu, tiap-tiap orang &lt;b&gt;menurut keperluannya&lt;/b&gt;; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, &lt;b&gt;segomer seorang&lt;/b&gt;, menurut jumlah jiwa."&lt;/i&gt; (ay 16). Segomer itu kira-kira dua liter, itupun sebenarnya sudah lebih dari cukup. Dari kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa meski Tuhan lebih dari sekedar sanggup memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu ketamakan. Hidup sederhana atau secukupnya tetaplah merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk diadopsi anak-anakNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah turunnya hujan roti dan burung puyuh di atas kita melihat dua kali pesan Tuhan berbunyi sama, agar mereka mengambil secukupnya saja. Tuhan ingin berkata: "Meski Aku sanggup memberkati secara berkelimpahan, tetapi hiduplah sederhana!". Jika hari ini ada diantara anda yang merasa masih hidup dalam kekurangan, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus terus belajar untuk hidup dengan rasa cukup. Apa yang dikatakan cukup oleh firman Tuhan?&lt;i&gt; "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."&lt;/i&gt; (1 Timotius 6:8). Dan ingatlah firman berikut: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(ay 6). Mudah bagi kita untuk terus merasa tidak puas, tapi seringkali sulit bagi kita untuk bersyukur. Tuhan pasti sanggup memberkati kita berlimpah-limpah, tetapi sangatlah penting bagi kita untuk belajar bersyukur terlebih dahulu atas apa yang ada pada kita hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dimiliki orang percaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4688146891051685796?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/4688146891051685796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=4688146891051685796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/4688146891051685796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/4688146891051685796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/hidup-sederhana.html' title='Hidup Sederhana'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7694269791181550813</id><published>2011-12-15T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T08:00:00.676-08:00</updated><title type='text'>Indah namun Mematikan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yakobus 1:15-16&lt;br /&gt;========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="indah namun mematikan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/ular-coral.jpg" /&gt;Tahukah anda bahwa ada dua jenis ular yang sepintas sangat mirip namun yang satunya mematikan? Lihatlah gambar disamping kiri, disana anda akan melihat kedua ular yang mirip. &lt;b&gt;Coral snake&lt;/b&gt; (kanan) sekilas pandang sulit dibedakan dengan &lt;b&gt;kingsnake&lt;/b&gt; (kiri).&lt;i&gt; Pattern&lt;/i&gt; atau pola warnanya sangat mirip, yaitu garis-garis hitam, kuning dan merah. &lt;i&gt;Kingsnake&lt;/i&gt; tidak berbisa sama sekali, tapi &lt;i&gt;coral snake &lt;/i&gt;punya bisa yang mematikan. Kekuatan racunnya dua kali lipat dari ular derik atau &lt;i&gt;rattlesnake&lt;/i&gt;, sehingga dianggap sebagai salah satu jenis ular atau bahkan hewan yang paling berbisa yang ada di muka bumi ini. Bayangkan jika anda salah mengira karena kemiripan kedua jenis ular ini. Anda mengira itu ular &lt;i&gt;kingsnake&lt;/i&gt; yang tidak berbisa, padahal itu adalah &lt;i&gt;coral snake&lt;/i&gt; yang sangat tinggi kadar racunnya. &lt;b&gt;Para ahli mengatakan bahwa pada umumnya binatang berbisa atau beracun di dunia ini memiliki warna yang sangat terang dan menarik untuk dilihat.&lt;/b&gt; Salah satu pembeda antara &lt;i&gt;coral snake&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;kingsnake&lt;/i&gt; pun adalah kadar terang warnanya. &lt;i&gt;Kingsnake &lt;/i&gt;memiliki warna yang lebih redup dibanding&lt;i&gt; coral snake&lt;/i&gt; yang warnanya menyala. Warna terang yang pada umumnya dimiliki oleh hewan berbisa ini biasanya dipakai untuk memberi peringatan terlebih dahulu kepada apapun atau siapapun yang berada terlalu dekat dengan mereka, atau di sisi lain untuk menarik perhatian mangsa mereka. Warna mereka yang indah dan cerah memang bisa terlihat menarik perhatian, tetapi lihatlah bahayanya berada dekat dengan mereka. Dari sisi tumbuhan, lihatlah jamur. Jamur sering kita makan, tapi hati-hati, karena tidak semua jamur bisa dimakan. Ada jamur yang punya racun mematikan, dan kalau kita mengkonsumsinya maka kita bisa mati. Lagi-lagi secara umum jamur yang beracun memiliki warna cerah yang indah dilihat. Seorang teman yang tinggal di luar sana mengatakan bahwa &lt;b&gt;semakin indah warna jamurnya, semakin tinggi pula racunnya.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga berlaku mengenai dosa. Dosa seringkali hadir dari sesuatu yang kelihatannya indah dan menyenangkan. Kita bisa tertarik pada jebakan dosa lewat hal-hal yang mungkin bisa memberi kepuasan atau kenikmatan instan. Pada awalnya mungkin terlihat menyenangkan dan kita tertarik, padahal itu hanyalah semu dan pada akhirnya menjerumuskan kita pada dosa yang ujung-ujungnya menuju pada maut. Ada banyak orang yang lari pada obat-obat terlarang karena stres. Mereka mengira bisa menjadi rileks dan lepas dari masalah jika mengkonsumsi obat-obatan itu, tapi kita tahu bagaimana nanti akhirnya. Ada yang korupsi karena tergiur kemilau harta, berselingkuh atau berzinah dan sebagainya. Semua itu mungkin terlihat menyenangkan, tetapi semua itu adalah dosa yang sangat mematikan, sama seperti &lt;i&gt;coral snake&lt;/i&gt; atau hewan-hewan beracun lainnya yang terlihat indah, atau jamur berwarna terang yang menarik, tetapi sebenarnya sangat beracun dan mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakobus mengajarkan bahwa keinginan akan kenikmatan-kenikmatan yang tidak bisa kita kendalikan akan menyeret kita ke dalam pusar kesesatan. Ketika keinginan itu berhasil memikat kita, dosa pun hadir. Seiring berjalannya waktu, dosa itu pun akan matang dan melahirkan maut. Begitu jelasnya pesan Yakobus ini dicatat dalam Alkitab: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Yakobus 1:15-16). Racun biasanya membutuhkan waktu untuk menyebar hingga akhirnya membunuh, begitu juga dosa biasanya membutuhkan waktu hingga kita merasakan dampaknya. Awalnya nikmat, namun berakhir maut.&lt;b&gt; Keinginan-keinginan daging&lt;/b&gt; seperti apa saja yang bisa menjadi jebakan "beracun" ini? Paulus sudah merincinya. &lt;i&gt;"Perbuatan daging telah nyata, yaitu: &lt;b&gt;percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora&lt;/b&gt; dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah."&lt;/i&gt; (Galatia 5:19-21). Terhadap segala keinginan daging ini, kita harus berhati-hati agar tidak terseret ke dalam jurang kesesatan yang berujung maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan main-main terhadap dosa. Semenarik-menariknya tawaran yang memoles sebuah dosa hingga kadang tidak terlihat kasat mata, ingatlah kita harus hati-hati betul terhadap semua jebakan ini. Ketahuilah bahwa Tuhan menganggap dosa sebagai &lt;i&gt;&lt;b&gt;"kejijikan yang Aku benci"&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (Yeremia 4:44). Dosa inilah yang menjadi jurang pemisah hubungan kita dengan Allah. &lt;i&gt;"Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."&lt;/i&gt; (Yesaya 59:2). Tuhan sudah mengasihi kita sebegitu besar hingga Dia bahkan rela menganugerahkan Kristus untuk datang ke dunia dan menebus segala dosa kita di atas kayu salib. Dari sanalah hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan dan kita dilayakkan untuk menerima janji-janjiNya. Itu sebuah kasih karunia luar biasa, sebuah bentuk kasih atau hadiah yang diberikan kepada kita yang sesungguhnya tidak layak menerimanya. Tuhan sangat mengasihi kita dan sangat peduli pada keselamatan kita. Dia tidak ingin satupun dari kita harus berakhir ke dalam siksaan yang kekal. Maka dari itu, hendaklah kita jangan bermain-main dengan dosa. Selalu hindari dosa sejak dini, waspadalah terhadap segala sesuatu keinginan yang berasal dari daging sebelum terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dosa bisa terlihat nikmat dan menarik, tapi sesungguhnya sangat mematikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7694269791181550813?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/7694269791181550813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=7694269791181550813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7694269791181550813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7694269791181550813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/indah-namun-mematikan.html' title='Indah namun Mematikan'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8082227760482334818</id><published>2011-12-14T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-14T08:00:01.041-08:00</updated><title type='text'>Menemui Raja di TahtaNya</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Ibrani 4:16&lt;br /&gt;=================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="tahta raja" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/tahta-kasih-karunia.jpg" /&gt;Membaca fakta sejarah selalu menyenangkan buat saya. Hari ini saya membaca sebuah penggalan sejarah dunia ketika Versailles ditetapkan sebagai ibukota Perancis pada tahun 1682 oleh Raja Louis XIV. Versailles tetap menjabat sebagai pusat pemerintahan sampai tahun 1789 sebelum akhirnya dipindahkan ke Paris, yang menjadi ibukota Perancis sampai sekarang. Di Versailles pada masa itu terdapat &lt;b&gt;Galerie des glaces&lt;/b&gt; alias &lt;b&gt;Hall of Mirrors,&lt;/b&gt; sebuah aula besar dan mewah yang panjangnya mencapai hampir 100 meter. Aula mewah ini masih bisa dilihat hingga sekarang di istana Versailles. Ada banyak jendela besar yang mengarah ke kebun indah di luar dan patung-patung indah disana. Pada masa itu apabila orang hendak menemui raja Louis XIV, mereka harus membungkuk setiap lima langkah sepanjang &lt;i&gt;Galerie des glaces&lt;/i&gt; itu hingga sampai di tahta raja. Dan itu berlaku untuk siapapun, termasuk bagi utusan-utusan negera lain yang berkunjung kesana. Begitu pentingnya posisi Perancis pada abad itu sehingga para utusan terhormat ini harus rela melakukan itu demi memperoleh kebaikan dari kerajaan Perancis. Kalaupun tidak harus menunduk, tidaklah mudah bagi kita untuk bisa berjumpa dengan raja atau kepala negara, bahkan presiden di negara sendiri. Cobalah kirim surat kepada Presiden dan minta dijadwal bertemu dengan anda, apakah beliau mau melakukannya? Kecuali anda orang yang sangat terkenal dan berpengaruh, anda tidak akan ditanggapi. Ada begitu banyak urusan yang menyita waktu dari kepala negara sehingga tidaklah mungkin baginya melayani satu per satu dari tiga ratus juta lebih penduduk Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bayangkanlah Sosok Raja diatas segala raja yang duduk di tahtaNya di Surga. Ternyata untuk bertemu dengan Allah kita justru tidak perlu membungkuk-bungkuk sepanjang 5 meter sekali, dan tidak perlu membuat janji temu terlebih dahulu. Raja di atas segala raja selalu siap membuka tahtaNya lebar-lebar kepada siapapun. Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk mengurus kita, Dia tidak pernah membeda-bedakan orang dan akan menerima siapapun yang datang kepadaNya dengan sukacita yang besar. Seperti itulah Allah yang berkuasa di atas semua yang paling berkuasa di dunia ini. Dari mana kita tahu akan hal ini? Mari kita lihat ayatnya seperti yang kemarin sudah saya tuliskan.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Ibrani 4:16). Ini adalah sebuah anugerah yang kita terima lewat &lt;b&gt;Kristus&lt;/b&gt;. Dialah Sang Imam Besar atau Imam Agung yang telah memungkinkan anugerah luar biasa besar ini untuk bisa kita nikmati. Secara simbolis hal itu tergambar jelas ketika Yesus mati di atas kayu salib. &lt;i&gt;"Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah."&lt;/i&gt; (Markus 15:37-38). Itulah saat ketika hubungan manusia dan Tuhan dipulihkan. Tidak ada lagi sekat apapun yang merintangi. Setelah itu siapapun kita bisa datang menghadap takhta kudus kasih karunia Tuhan kapan saja dan dimana saja dengan penuh keberanian. Jika sebelumnya manusia hanya bisa berhubungan dengan Tuhan melalui perantaraan para nabi atau pemuka agama yang terpilih, setelah penebusan Kristus hubungan kita dengan Tuhan tidak lagi dibatas oleh sekat apapun. Kita bisa menemui Raja di atas segala raja, lalu menerima rahmat dan kasih karuniaNya, demikian juga pertolonganNya yang begitu indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan Paulus menyingkap hal ini secara lebih jelas dan eksplisit.&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt; "Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa."&lt;/i&gt; (Efesus 2:13-18).&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah anugerah luar biasa yang sudah sepantasnya kita syukuri. Bagaimana tidak? Tuhan sendiri telah mengundang kita melalui Kristus. Itulah sebabnya Penulis Ibrani mengatakan bahwa kita bisa menghampiri tahta kasih karunia dengan penuh keberanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tergantung dari kita. Apakah kita sudah atau mau menanggapi undangan terbuka dari Tuhan atau masih menolak atau menyia-nyiakannya? Tidakkah bodoh jika kita mengabaikan kesempatan sebesar itu? Apabila kepala negara atau kepala daerah membuka diri dan kita bisa menemui mereka dengan bebas dan dekat, apakah kita akan menolaknya? Lalu bagaimana dengan undangan dari Raja yang berada di atas mereka. Ini adalah undangan yang sangat terhormat yang seharusnya tidak kita buang begitu saja. Oleh karena itu, datanglah dengan penuh hormat, rasa kagum dan dengan ucapan syukur. Temuilah Allah di tahta kasih karuniaNya yang kudus. Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk menerima anda di tahtaNya. Dia selalu dengan senang hati mendengar bagaimana anda mengasihiNya, dan akan selalu peduli utnuk mendengar setiap permohonan kita setiap saat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pintu tahta Allah selalu terbuka bagi anda dan saya kapan saja, karenanya jangan sia-siakan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8082227760482334818?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8082227760482334818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8082227760482334818' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8082227760482334818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8082227760482334818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/menemui-raja-di-tahtanya.html' title='Menemui Raja di TahtaNya'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7900760265479363478</id><published>2011-12-13T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T08:00:00.109-08:00</updated><title type='text'>Kasih Karunia (2)</title><content type='html'>(sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih karunia sesungguhnya memberikan begitu banyak hal dalam pertumbuhan kehidupan kita. Selain memberikan kuasa besar untuk &lt;b&gt;melakukan banyak hal besar &lt;/b&gt;(Kisah Para Rasul 4:33),&lt;b&gt; kekuatan&lt;/b&gt; (2 Timotius 2:1) dan&lt;b&gt; keselamatan oleh iman&lt;/b&gt; (Efesus 2:8), kita jangan lupa pula bahwa dalam kasih karunia ada pemulihan kepercayaan. Simaklah apa yang dikatakan Penulis Ibrani:&lt;i&gt; "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya."&lt;/i&gt; (Ibrani 4:16). Kita seharusnya bisa menggantikan ketakutan atau kecemasan kita dengan sebentuk keberanian yang penuh untuk menghampiri tahta kasih karunia. Keberanian untuk menghampiri tahta kasih karunia akan mampu menjawab begitu banyak persoalan kita dan memberi solusi menurut Kerajaan Allah akan segala sesuatu. Apakah kita perlu pertolongan? pemulihan? pengampunan? jamahan? kebebasan? kesembuhan? kelepasan? kemenangan? berkat? hikmat? Semua itu bisa kita peroleh seperti kata alkitab dalam &lt;b&gt;"tahta kasih karunia"&lt;/b&gt;, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut &lt;i&gt;the throne of grace, the throne of God's unmerited favor to us sinners&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Pemulihan kepercayaan dan peneguhan iman, itu tersedia di tahta kasih karunia. Sebagai anak-anak Tuhan kita berhak untuk datang ke dalam tahta kasih karunia ini dan menikmatinya. Apabila kita terus merasa tidak layak atau tidak pantas, maka dengan sendirinya kitapun kehilangan kesempatan untuk memperoleh anugerah Tuhan yang luar biasa ini untuk turun atas kita. Hanya orang yang memiliki keberanian saja yang bisa mendapatkan lebih banyak kasih karunia. Semakin kita berani mendekat maka semakin banyak pula anugerah Allah yang mengalir ke dalam diri kita. Hanya saja kita harus ingat, bahwa tahta Allah yang kudus tidak bisa didekati apabila kita masih memupuk dosa dan melakukan banyak kejahatan dalam hidup kita. Ketidak-kudusan itu bisa menghambat turunnya kasih karunia bagi kita dan membuat kita menjauh dan gagal meraih itu. &lt;i&gt;"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."&lt;/i&gt; (Yesaya 59:1-2). Artinya, kita harus terlebih dahulu melakukan pertobatan menyeluruh dan tidak mengulanginya lagi, lalu selanjutnya kita tidak perlu takut mendekati tahta kasih karunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi, Penulis Ibrani juga mencatat mengenai apa yang akan terjadi jika kita menolak kasih karunia. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Ibrani 12:15) Menjauhkan diri atau menolak kasih karunia Tuhan bisa menimbulkan akar pahit. Gampang emosi, gampang sakit hati, menyendiri dan sebagainya bisa timbul akibat perasaan tidak layak yang memenuhi diri kita. Akibatnya bukan hanya kepada diri kita saja, tetapi bisa pula menimbulkan ekses negatif dimana-mana dan menjadi batu sandungan bahkan racun bagi banyak orang. Menjaga diri agar senantiasa berada dekat dengan kasih karunia akan memampukan kita terhindar dari tuduhan-tuduhan yang terus dilancarkan iblis. Kasih karunia akan membuat kita tahu betapa besar kasih Allah kepada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kasih karunia bukanlah kasih karunia apabila diberikan sebagai balas jasa. Kasih karunia disebut kasih karunia karena diberikan kepada kita yang sebenarnya tidak layak untuk menerimanya. Keselamatan diberikan atas dasar kasih karunia Allah yang begitu besar kepada kita. Begitu besar hingga Allah bahkan meningkatkan intensitasnya di mana dosa justru bertambah banyak. (Roma 5:20). Menjelang perayaan Natal tahun ini, marilah kita sama-sama renungkan, apakah kita sudah menyadari betul bahwa kasih karunia Allah sudah dicurahkan atas diri kita? Apakah kita sudah cukup memiliki "jendela" iman untuk menerima kucuran kasih karunia Allah bagaikan sinar matahari untuk menerangi hidup kita? Apakah kita masih merasa tertuduh dan tidak yakin akan jaminan keselamatan yang telah dianugerahkan lewat Kristus? Sadarilah bahwa tanpa kasih karunia hidup ini akan sangat pahit dan penuh ketidakpastian. Ada pemulihan di dalam kasih karunia, dan itu berlaku bagi semua orang, termasuk anda dan saya. Jangan biarkan iblis terus menuduh anda. Miliki dan rasakanlah kemerdekaan sejati sekarang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hidup tidak akan tenang tanpa kasih karunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7900760265479363478?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/7900760265479363478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=7900760265479363478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7900760265479363478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/7900760265479363478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/02/kasih-karunia-2.html' title='Kasih Karunia (2)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6491422459067132548</id><published>2011-12-12T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T08:00:04.289-08:00</updated><title type='text'>Kasih Karunia (1)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Ibrani 12:5&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kasih karunia" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kasih-karunia-2.jpg" /&gt;Beberapa waktu lalu satu dari teman saya datang dan bercerita mengenai penyesalannya akan sesuatu. Ia mendapat sebuah tawaran untuk bekerja di luar negeri, tapi itu ditolaknya karena ia merasa tidak layak menerimanya. Seiring waktu ia mulai menyesal telah menolak tawaran itu. Ia mencoba kembali menghubungi yang menawarkan, tetapi posisi itu ternyata sudah diberikan kepada orang lain, dan orang itu sukses bekerja disana. "Saya menyesal telah menyia-nyiakan peluang besar, itu kesalahan terbesar saya.." katanya. Ia pun sadar bahwa tidak ada alasan apapun yang bisa membuatnya merasa tidak layak. Bukankah ia yang ditawarkan dan bukan menawarkan diri? Bukankah itu artinya yang menawarkan tentu tahu kualitasnya? Penyesalan seringkali datang terlambat, dan dalam banyak hal kita tidak bisa lagi atau setidaknya sulit untuk memperbaikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kerohanian kita pun sering melakukan itu. Ada orang-orang yang secara tegas menolak kasih karunia Allah akan keselamatan yang diberikan lewat Kristus. Pintu dibuka lebar, kesempatan diberikan, namun mereka memang menolak. Dan akan hal ini Paulus mengatakan: &lt;i&gt;"Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah."&lt;/i&gt; (2 Korintus 4:3-4). Disisi lain, ada orang yang menyadari dosa dan kemudian bertobat. Itu tentu merupakan hal yang sangat baik. Tetapi kadang kala ada di antara mereka ini yang merasa bahwa dosanya sudah terlalu besar sehingga sulit rasanya membayangkan pengampunan Tuhan bisa turun secara total atas diri mereka. Rasa tidak layak yang mereka rasakan membuat mereka ragu bahwa mereka pun berhak memperoleh anugerah keselamatan. Ada beberapa teman saya yang masih bergumul dengan kepercayaan akan keselamatan ini, mengingat bahwa masa lalu mereka tidaklah bisa dibanggakan, kalau tidak bisa dikatakan berlumur dosa. Mereka tidak yakin nama mereka tercatat dalam kitab kehidupan. Kecemasan pun kemudian terus menjadi bagian hidup mereka. Dicekam rasa bersalah, merasa masih kurang meski mereka sudah berusaha hidup benar. Sadarilah bahwa hal seperti ini seringkali menghambat pertumbuhan iman. Justru bukan karena dosa lagi, tetapi karena kecemasan yang terus menghantui diri mereka. Disana iblis akan dengan senang hati membuat kita terus menjadi tertuduh, dan itu adalah hal yang seharusnya tidak boleh kita biarkan. Tuhan jelas berulang-ulang menyatakan bahwa Dia melimpahkan kasih karuniaNya kepada kita semua. Dan itu dia berikan justru ketika kita masih dalam keadaan berdosa. Itulah sebuah kasih karunia yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepada kita, itulah hasil dari kasih Tuhan yang begitu besar pada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kasih karunia merupakan kasih yang dicurahkan Tuhan kepada kita yang seharusnya tidak layak untuk menerimanya. Sebuah kasih karunia bukanlah kasih karunia jika diberikan atas hasil jerih payah atau usaha kita.&lt;/b&gt; Kalau berdasarkan usaha, itu namanya imbalan bukan karunia. Kasih karunia ini pun diberikan Tuhan kepada semuanya tanpa terkecuali, bahkan hebatnya lagi dikatakan akan meningkat intensitasnya di mana dosa bertambah banyak. Ayatnya berbunyi demikian&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt; "..dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Roma 5:20). Lihatlah betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita.&amp;nbsp; Mengapa Tuhan melakukan hal itu?&lt;i&gt; "supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."&lt;/i&gt; (ay 21). Itulah sebuah bukti kepedulian dan besarnya kasih Allah kepada manusia. Dia tidak menginginkan satupun dari manusia untuk binasa. Lewat Yesus Kristus AnakNya yang tunggal, Tuhan menganugerahkan keselamatan kepada kita, once and for all, sekali untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya orang-orang yang terang-terangan menolak, tapi apabila kita terus merasa tidak layak atau tidak pantas menerima keselamatan, itu sama artinya kita menolak kasih karunia. Mari kita ambil satu&amp;nbsp; contoh mengenai Petrus yang telah menyangkal Yesus tiga kali. Dalam Alkitab kita bisa membaca bahwa Petrus bukan hanya menyangkal, tetapi ia pun mengutuk dan menyumpah. (Matius 26:74). Kesalahan yang dilakukan Petrus tidaklah kecil. Ia menghianati Sosok yang telah mengangkatnya untuk masuk ke dalam terang, lebih dari itu ia telah menistakan Tuhan. Seharusnya tidak ada ganjaran yang lebih tepat lagi selain binasa bukan? Itu pemikiran kita, dan itu berbeda dengan pemikiran Tuhan. Lihatlah bagaimana kasih karunia Tuhan yang penuh dengan pengampunan itu bekerja. Setelah Yesus bangkit dan melakukan penampakan di depan banyak orang, Dia pun kemudian menghampiri Petrus. Kita pun tahu kemudian Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihiNya berulang-ulang sebanyak tiga kali. Setiap kali Petrus menjawab bahwa ia mengasihi Yesus maka Yesus pun memintanya untuk menggembalakan domba-dombaNya. (Yohanes 21:15-19).&amp;nbsp; Di akhir dialog antara Yesus yang sudah bangkit dengan Petrus kita bisa melihat pemulihan indah ini. &lt;i&gt;"Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."&lt;/i&gt; (ay 19). Petrus sudah melakukan dosa yang besar. Sangat besar. Tetapi simaklah apa yang terjadi. Tuhan memberi kasih karuniaNya, bahkan tugas mulia pun masih dipercayakan kepadanya. Bagaimana dengan Paulus? Dari Saulus seorang teroris besar di jamannya lalu dipulihkan dan dipakai secara luar biasa. Dari Paulus pun kita bisa melihat bagaimana kasih karunia yang tak terbatas dan tak terukur itu menjangkau semua orang tanpa terkecuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6491422459067132548?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/6491422459067132548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=6491422459067132548' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6491422459067132548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6491422459067132548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/kasih-karunia-1.html' title='Kasih Karunia (1)'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3489937929329058910</id><published>2011-12-11T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T08:00:00.061-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Buah Bernilai Tinggi</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Galatia 5:22-23&lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="buah" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/buah-bernilai.jpg" /&gt;Buah durian di Medan bukanlah termasuk buah yang terlalu mahal. Tapi cobalah beli durian di Bandung, maka harganya bisa tiga kali lipat lebih mahal. Ketika saya pergi ke sebuah negara di Skandinavia sekitar 10 tahun lalu, saya pun sempat kaget melihat harga sebutir rambutan (bukan seikat seperti yang dijual di negara kita) bisa mencapai lima puluh ribu rupiah dengan kurs pada waktu itu. Dan rambutan itu sama sekali tidak dalam kondisi baik. Sudah berkerut dan hitam. Tapi tetap saja buah tropis seperti itu bernilai tinggi karena termasuk jenis yang langka untuk diperoleh disana. Harga buah bisa melonjak sangat tinggi karena kelangkaannya di masing-masing daerah atau negara. Kita mungkin tidak terlalu bersemangat ketika melihat rambutan, tapi di luar sana buah itu dianggap berharga karena sulit didapat setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menyambung renungan kemarin mengenai buah yang masam. Kemarin kita sudah melihat bagaimana kecewa dan marahnya Tuhan melihat sebagian orang yang tidak kunjung berbuah baik meski Dia sudah memberi segalanya. &lt;i&gt;"Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga ditengah - tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam."&lt;/i&gt; (Yesaya 5:2). Bayangkan Tuhan sudah memberi kunci Kerajaan Surga, tapi anak-anakNya mengabaikan itu semua dan tidak membawa "buah" atau dampak apapun dalam hidup mereka. Tidaklah heran apabila Tuhan kecewa karenanya.&lt;i&gt; "Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?"&lt;/i&gt; (ay 4). Harus bagaimana lagi supaya anak-anak-Ku di dunia ini menyadari jatidirinya? Harusnya mereka menjadi teladan bagi banyak orang, tetapi mengapa malah menjadi batu sandungan? Seperti itulah mungkin kekecewaan Tuhan. Lalu lihatlah bagaimana marahnya Tuhan. &lt;i&gt;"Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya."&lt;/i&gt; (ay 5-6).&amp;nbsp; Dalam injil Matius, pokok-pokok yang tidak menghasilkan buah yang baik dikatakan akan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"ditebang adan dibuang ke dalam api."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 3:10). Dalam Wahyu kita kembali mendapati konsekuensi yang harus dihadapi oleh "buah-buah anggur asam" ini. "...Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak." Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah." (Wahyu 14:18b-19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas seperti apa seharusnya buah yang dihasilkan? Jika buah-buah yang enak dalam ilustrasi awal di atas bisa berharga sangat tinggi, kita orang-orang percaya mempunyai buah yang jauh lebih berharga lagi. Dan itu tercatat dalam surat Galatia, yang disebut dengan &lt;b&gt;buah Roh&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;"Tetapi buah Roh ialah: &lt;b&gt;kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. &lt;/b&gt;Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."&lt;/i&gt; (Galatia 5:22-23). Lihatlah buah-buah yang seharusnya dihasilkan. Seperti itulah buah yang diinginkan Tuhan untuk dituai atas hasil usahaNya dalam merawat dan mengasihi kita. Setiap buah menggambarkan aspek demi aspek dari citra Kristus, seperti yang bisa kita lihat dalam keempat Injil. Disana tergambar jelas bagaimana Kristus mendemonstrasikan secara langsung segala kebajikan dari masing-masing buah. Dia ingin menghasilkan semua itu dalam diri kita, dan terpancar melalui cara hidup kita, apakah lewat cara kita bertutur kata, bersikap, berpikir, bertingkah laku dan lain sebagainya.Buah Roh merupakan semua nilai kebajikan yang tidak terbantahkan oleh siapapun. Dan itulah yang diinginkan Tuhan untuk berkembang di dalam diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah apa kata Yesus berikut ini: &lt;i&gt;"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. inggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku."&lt;/i&gt; (Yohanes 15:1-4). Tinggal di dalam Yesus akan membuat kita bisa berbuah. Tapi jangan lupakan bahwa soal berbuah atau tidak pun tergantung dari keputusan kita pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah yang ranum, lezat dan langka berharga tinggi di pasaran, tetapi karakter yang serupa dengan Kristus dengan segala buah-buah Roh jauh lebih tinggi harganya. Tinggal di dalamNya akan memampukan kita untuk berbuah. Jika saat ini kita masih belum berbuah, ini saatnya bagi kita untuk memperbaiki segala sesuatu sebelum terlambat. &lt;i&gt;"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."&lt;/i&gt; (1 Yohanes 1:9).&amp;nbsp; Sesungguhnya dari buahnya lah sebuah pohon itu dikenal. "Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya&lt;i&gt;. Jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal."&lt;/i&gt; (Matius 12:33). Buah Roh akan memenuhi setiap aspek hidup kita dengan penuh sukacita, dan itu bisa memberkati orang-orang di sekitar kita. Siapkah kita menjadi buah yang ranum, lezat dan bernilai tinggi baik di mata sesama maupun dalam pandangan Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berbuahlah di dalam Kristus dan jadilah berkat buat sesama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3489937929329058910?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3489937929329058910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3489937929329058910' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3489937929329058910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3489937929329058910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/menjadi-buah-bernilai-tinggi.html' title='Menjadi Buah Bernilai Tinggi'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6414327385842391893</id><published>2011-12-10T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T08:00:00.404-08:00</updated><title type='text'>Buah Masam</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yesaya 5:4&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="buah masam" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/buah-masam.jpg" /&gt;Seringkah anda tertipu dalam membeli buah? Saya termasuk orang yang sulit membedakan mana buah yang isinya baik dan mana yang tidak. Kemarin saya membeli jeruk sekilo dan rasanya kesal ketika keseluruhan jeruk itu rasanya sangat masam dan kecut sehingga tidak bisa dimakan. Dari penampakan kasat mata jeruk itu semuanya terlihat berkulit yang mulus tanpa cacat. Begitu pula ketika anda membuka kulit luarnya dan melihat dagingnya. Anda baru mengetahui bagaimana kualitas jeruk yang anda beli setelah anda memakannya. Kalau cuma satu dua buah mungkin tidak apa-apa, tapi bagaimana jika sebagian besar, atau bahkan seluruhnya tidak bisa dinikmati? Yang lebih parah lagi, bagaimana jika bukan hanya masam, tapi juga busuk di dalamnya?&amp;nbsp; Ada banyak orang yang tertipu fisik luar buah yang terlihat mulus tak bercacat, namun ternyata tidak bisa dinikmati sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang diambil sebagai ayat bacaan hari ini berbicara tentang anggur yang asam. Dalam banyak ayat-ayat di Alkitab, pokok anggur kerap menggambarkan sesuatu yang baik. Tetapi ayat bacaan hari ini justru menggambarkan sisi sebaliknya. Dalam Yesaya 5:1-7 yang berjudul&lt;i&gt; Nyanyian tentang kebun anggur "Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga ditengah - tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik.."&lt;/i&gt; (ay 2). Dikisahkan tentang sebuah kebun anggur yang ternyata menghasilkan anggur-anggur yang asam. Sang pemilik kebun dengan rajin mengurus kebun dan tentunya berharap usahanya akan menghasilkan pohon berbuah lebat dengan kualitas tinggi. Namun apa yang dihasilkan? Lanjutan ayat 2 di atas berbunyi: &lt;i&gt;"...tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam."&lt;/i&gt; Bagian ini menggambarkan kiasan mengenai Tuhan si pemilik kebun, dan anak-anakNya yang digambarkan sebagai pohon-pohon anggur. Secara lebih spesifik, ayat-ayat ini berbicara tentang pertobatan yang menghasilkan buah. Ketika kita bertobat menerima Yesus, seharusnya kita menjadi sebuah ciptaan baru yang terus tumbuh dan berbuah subur, lebat dengan kualitas yang baik. Namun dalam perjalanannya, ada banyak dari kita yang ternyata kembali pada dosa-dosa atau kebiasaan lama yang buruk, atau malah berbuat dosa-dosa baru lagi. Seringkali orang sibuk mematut diri agar terlihat indah dari luar, tetapi kita tidak memperhatikan kondisi hatinya. Ada yang dari luar tampak baik, namun ternyata hatinya jahat. Dari luar terlihat alim, tetapi kondisi di dalamnya sifatnya compang camping. Setelah bertobat dan menerima Kristus bukannya berbuat kasih, namun malah bikin ulah, menipu, jahat dan sebagainya. Ketika anak-anak Tuhan bertingkah laku seperti ini, mereka bukannya menjadi berkat tetapi sebaliknya menjadi batu sandungan dimana-mana. Seperti itulah buah-buah anggur asam itu. Lihatlah betapa ironisnya, ketika "Sang Pemilik Kebun" begitu setia dan rajin memelihara "kebun"Nya dengan penuh kasih dan perhatian, tapi ternyata bukan buah yang baik yang dihasilkan pohon-pohon tersebut, melainkan buah yang asam. Maka bisa dimaklumi jika "Pemilik kebun" pun kecewa.&lt;i&gt; "Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?"&lt;/i&gt; (ay 4). Tidakkah anda akan merasakan hal yang sama apabila anda sudah berusaha merawat dan memupuk sebuah pohon namun hasilnya justru buruk? Sia-sia semua usaha yang kita lakukan. Dan itu pasti terasa menyedihkan dan mengesalkan. Jika buah-buahnya buruk saja kita sudah kecewa, apalagi kalau pohon itu tidak kunjung berbuah. Apa yang kemudian terjadi bagi pohon-pohon dengan buah-buah asam ini? Kita baca ayat selanjutnya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 5-6).&amp;nbsp; Konsekuensi yang dihadapi oleh pohon-pohon berbuah anggur yang asam sungguh tidak main-main. Dalam injil Matius, pokok-pokok yang tidak menghasilkan buah yang baik dikatakan akan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"ditebang adan dibuang ke dalam api."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 3:10). Dalam Wahyu kita kembali mendapati konsekuensi yang harus dihadapi oleh "buah-buah anggur asam" ini. &lt;i&gt;"...Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak." Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah." &lt;/i&gt;(Wahyu 14:18b-19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan Allah ini tentu saja sangat wajar. Bagaimana tidak, Dia sudah memberi segala yang terbaik untuk kita, bahkan Dia rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi keselamatan kita. Tapi kita tetap saja lebih memilih untuk mengikuti kesenangan dunia. Dia sudah menunjukkan segala jalanNya lewat Alkitab, tapi kita tidak mau membacanya. Tuhan sudah menganugerahkan Roh Kudus untuk membimbing kita, tapi kita terus saja mengotori diri kita sehingga Roh Kudus tidak suka berada di dalamnya. Jika kita bersikap demikian, tidaklah mengherankan apabila kita menjadi buah-buah yang masam, dan akibatnya kita harus siap menanggung murka Allah. Konsekuensi menjadi pohon anggur dengan buah yang asam sangatlah serius, kalau tidak bisa dibilang mengerikan. Maka ketika kita sudah bertobat, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa kita mampu &lt;b&gt;menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. &lt;/b&gt;(Matius 3:8). Tuhan mengharapkan hidup anda untuk menghasilkan buah-buah yang manis, yang enak dinikmati. Artinya, kita harus mampu menjadi berkat bagi orang lain. Sebuah buah yang manis dan enak tentu dirindukan oleh semua orang. Kita harus hidup berbuah, jangan sampai berakhir sebagai pohon yang tidak menghasilkan buah sama sekali. Dan yang lebih penting lagi, kita perlu menghasilkan buah yang baik, manis, segar dan bermanfaat bagi orang lain. Sebuah keberhasilan menjadi anak-anak Allah yang mendapat hak waris di Kerajaan Surga bukanlah dilihat dari penampilan luar semata, namun yang ditentukan dari seberapa baik buah-buah baik yang anda hasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jangan menghasilkan anggur asam, jadilah pohon anggur yang menghasilkan buah subur, manis dan bermanfaat bagi orang lain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6414327385842391893?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/6414327385842391893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=6414327385842391893' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6414327385842391893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/6414327385842391893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/buah-masam.html' title='Buah Masam'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8419534355436188792</id><published>2011-12-09T08:00:00.001-08:00</published><updated>2011-12-09T08:00:00.330-08:00</updated><title type='text'>Penghalang Mata</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Lukas 24:16&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="penghalang mata" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/penghalang-mata.jpg" /&gt;Jarak pandang kita bisa menjadi berkurang apabila kabut tebal turun menutupi pandangan kita. Ketika terjadi kebakaran hutan misalnya, atau ada letusan gunung yang menimbulkan turunnya abu vulkanik menyelimuti kota-kota di dekatnya, maka jarak pandang kita pun bisa menjadi terganggu. Di saat seperti itu, tak peduli setajam apapun mata kita dalam melihat, mata akan tetap sulit untuk melihat dengan baik. Atau coba tutup mata anda dengan tangan, maka anda tidak lagi bisa melihat apa-apa meski secara fisik mata anda berfungsi dengan baik. Pernahkah anda kaget ketika disapa teman ketika anda sedang melamun? Pikiran yang tengah menerawang bisa pula menghalangi pandangan mata kita. Segala ketakutan dan kekuatiran pun bisa membuat kita tidak lagi bisa melihat janji-janji Tuhan yang berisi penuh dengan hal-hal yang meneguhkan baik dalam hidup di dunia maupun jaminan akan keselamatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mengenai kebutaan, hari ini mari kita lihat apa yang terjadi pada pada murid-murid Yesus setelah Yesus disalibkan. Yesus baru saja meninggalkan mereka selama tiga hari. Tiga hari itu waktu yang sangat singkat. Rasanya tidaklah mungkin kita tidak mengenal sosok yang sudah sekian lama bersama-sama dengan kita jika tidak bertemu hanya dalam selang waktu seperti itu. Tapi itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus. Pada suatu hari, dua dari murid Yesus sedang berjalan menuju sebuah kampung yang letaknya kira-kira 11 kilometer dari Yerusalem. Mereka sibuk membicarakan dan membahas apa yang terjadi. Saya yakin pada saat itu mereka sedang bingung, kalut, ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengar berita simpang siur mengenai hilangnya mayat Yesus dari kubur. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Apakah jasad Yesus diculik, atau bangkit seperti kesaksian beberapa perempuan yang bertemu dengan malaikat penyampai kabar itu. Mereka mungkin kehilangan harapan, kecewa dan sedih, bahkan kemungkinan besar tengah dicekam rasa takut. Apa yang terjadi pada saat itu tercatat dalam Alkitab.&lt;i&gt;"Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka."&lt;/i&gt; (Lukas 24:15). Yesus ternyata muncul di dekat mereka, bahkan berjalan bersama dengan mereka. Seharusnya mereka tersentak kaget, bersorak dan menyambut Yesus dengan sangat gembira. Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Mereka ternyata tidak mengenal Yesus. Mengapa bisa demikian? Alkitab menyebutkan alasannya.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 16). Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, karena itulah mereka tidak mengenal Yesus. Ada awan tebal yang menutupi pandangan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat Terang. Ada yang menghalangi pandangan mereka sehingga mereka seolah buta meski mata mereka berfungsi normal. Mereka belum juga sadar bahkan ketika Yesus sudah menegur mereka dan menjelaskan nubuatan-nubuatan yang tertulis tentang Dia dalam kitab nabi-nabi. (ay 25-27). Sampai disitu mereka masih belum mengenal Yesus. Baru ketika mereka tiba di kampung dan Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkan sambil mengucap berkatlah mereka menyadari bahwa orang yang berjalan bersama mereka sejak tadi ternyata Yesus. Bayangkan dalam perjalanan 11 kilometer panjangnya mereka tidak kunjung menyadari bahwa Yesus yang mereka perbincangkan ternyata ada ditengah-tengah mereka. Keraguan, kebingungan, kekecewaan, kesedihan, atau ketakutan membuat mereka tidak mengenali Yesus, meski Yesus berada tepat bersama mereka. Ketika Yesus duduk makan dengan mereka dan memecah-mecahkan roti, mereka pun tersadar bahwa orang yang tidak mereka kenal itu ternyata Yesus (ay 30). Ketika itulah mereka baru sadar bahwa sebenarnya ketika orang itu menerangkan kitab suci sepanjang perjalanan, mereka merasakan bahwa sebenarnya hati mereka berkobar-kobar, dan seharusnya mereka bisa mengenali Yesus pada saat itu juga (ay 32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya dengan kita. Berbagai permasalahan hidup, beban, tekanan atau pergumulan yang kita alami bisa membuat kita tidak mendengar atau mengenal Tuhan lagi. Kita lupa akan Tuhan, atau mulai meragukan eksistensiNya di tengah-tengah kita. Atau mungkin kita akan mengira bahwa Tuhan tidak lagi ada bersama kita, melupakan dan membiarkan kita di tengah-tengah tekanan. Ketika jalan yang kita lalui penuh liku, kita tidak lagi percaya bahwa di ujungnya Tuhan telah menyediakan segala kebaikan dan segera menyerah. Kita meragukan Tuhan, menganggapNya hanya memberi janji palsu. Dan kitapun terjebak pada berbagai alternatif yang justru membinasakan. Padahal bukan Tuhan yang salah, justru fokus kita terhadap beban penderitaan yang terlalu besarlah yang menutupi pandangan kita sehingga kita tidak lagi mengenal Dia. Bahkan setelah mendengar firman Tuhan sekalipun, orang-orang yang fokus sepenuhnya hanya kepada permasalahan dan beban berat tidak lagi bisa merasakan apapun, sebab awan tebal itu telah terlanjur menutupi hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menyatakan kepada Yosua: &lt;i&gt;"Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."&lt;/i&gt; (Yosua 1:5). Ini dikatakan Tuhan kepada Yosua yang diberikan tugas yang sangat berat, yang pasti akan meletakkan Yosua duduk di kursi panas, pada situasi yang begitu sulit karena harus melanjutkan pekerjaan besar untuk menuntun bangsa Israel yang keras kepala dan tegar tengkuk memasuki tanah yang dijanjikan. Pergumulan di hadapi Yosua, tekanan dan beban ada bersamanya, tapi disamping itu janji Tuhan yang meneguhkan dan menguatkan pun ada bersamanya. Tuhan ada besertanya dan tidak akan meninggalkan dirinya menghadapi itu sendirian. Janji yang sama berlaku pula bagi kita, karena Tuhan tidak pernah senang melihat anak-anakNya menderita. Apa yang Dia berikan adalah &lt;b&gt;rancangan yang terbaik&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;Nothing but the best&lt;/i&gt;. Tapi tebalnya awan kelabu yang timbul dari ketakutan, kegelisahan, kesedihan, kebingungan atau kekecewaan kita akan membuat semua itu tidak lagi terlihat. Ketika awan kelabu begitu tebal, terang matahari pun tidak lagi terlihat jelas. Bahkan bisa hilang sama sekali dari pandangan kita. &lt;b&gt;Ketika mata kita tertutup oleh berbagai kekuatiran, ketakutan dan ketidakpastian, maka kita pun tidak lagi melihat Terang. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus tahu pergumulan kita, Dia tahu beratnya hidup kita. Dia sudah mengambil rupa hamba seperti kita dan mengalami penderitaan secara langsung untuk membebaskan kita dari kebinasaan, sesuai kehendak BapaNya. Tidak hanya tahu, tapi Yesus juga peduli, malah sangat-sangat peduli. Lihat apa kata Yesus : &lt;i&gt;"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."&lt;/i&gt; (Matius 11:28). Itu bentuk kepedulian yang besar karena Dia tahu betul bagaimana beratnya pergumulan-pergumulan yang harus kita hadapi dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap berpegang teguh kepada janji setia Allah, percaya sepenuhnya kepadaNya dan menjaga diri kita untuk tetap hidup kudus dan taat tanpa kehilangan pengharapan sedikitpun. Kita harus memperhatikan betul agar jangan ada awan gelap terbentuk yang bisa membuat kita tidak lagi bisa melihat dan mengenalNya. Tak kenal maka tak sayang. Disamping itu, hiduplah dengan benar, karena tumpukan dosapun bisa membuat kita hubungan kita dengan Tuhan menjadi terputus. &lt;i&gt;"tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."&lt;/i&gt; (Yesaya 59:2). Agar bisa tetap melihat dan mengenal Tuhan kita harus memiliki pandangan yang bersih dari segala hambatan yang menutupi pandangan kita. Singkirkan semua awan kelabu, dan miliki pandangan jernih kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketakutan, keraguan dan kekecewaan dalam pergumulan menghalangi pandangan kita kepada Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8419534355436188792?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8419534355436188792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8419534355436188792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8419534355436188792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8419534355436188792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/penghalang-mata.html' title='Penghalang Mata'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3504968561385175243</id><published>2011-12-08T08:00:00.001-08:00</published><updated>2011-12-08T08:00:00.255-08:00</updated><title type='text'>Buta Rohani</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Mazmur 119:130&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="buta rohani" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/mata-rohani.jpg" /&gt;"Punya mata tapi kok tidak melihat!" begitulah seorang ibu menegur orang yang secara tidak sengaja menubruknya sehingga bawaannya jatuh di sebuah mal. Saya kebetulan berada dekat dari mereka sehingga melihat kejadian itu. Agaknya si orang itu terburu-buru dan meleng lalu menabrak sang ibu dari belakang. Saya pun berpikir, memiliki sepasang mata sebagai anugerah Tuhan yang sangat luar biasa tidak serta merta membuat kita mampu melihat segalanya dengan jelas. Ada kalanya seperti orang tadi kita meleng dan melakukan kesilapan. Jika kita berjalan dan tidak hati-hati, kita bisa tersandung dan jatuh. Akibat dari meleng bisa ringan saja, seperti contoh-contoh di atas, tapi bisa pula beresiko besar bahkan fatal, misalnya ketika kita meleng ketika mengemudi di jalan raya. Apapun itu, yang pasti memiliki sepasang mata yang berfungsi normal tidak serta merta menjamin kita untuk bisa melihat segalanya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menyambung sedikit lagi mengenai buta rohani yang telah saya bahas kemarin. Kita sudah melihat bagaimana reaksi dari murid-murid Yesus dan orang-orang Farisi terhadap seorang pengemis buta yang menunjukkan kebutaan rohani mereka seperti yang tertulis dalam Yohanes 9.&lt;i&gt; "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"&lt;/i&gt; (Yohanes 9:2). Demikian pertanyaan yang dilemparkan para murid kepada Yesus. Belum kenal, belum tahu orangnya, belum apa-apa mereka sudah langsung menuduh bahwa kebutaan itu akibat dosa. Sementara orang Farisi lebih parah lagi. Mereka lebih mementingkan tata cara dan adat ketimbang membantu orang lain dan mengasihi. Bukan hanya sampai disitu saja, mereka bahkan berani-beraninya menuduh Yesus berdosa hanya karena Yesus menyembuhkan si pengemis buta itu di hari Sabat. (ay 16). Tanpa sadar, mereka menunjukkan bahwa sesungguhnya merekalah yang buta, yaitu &lt;b&gt;buta rohani&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yesus datang ke dunia, Dia memang menyembuhkan banyak kebutaan jasmani di samping berbagai mukjizat kesembuhan lainnya. Tapi apa yang sesungguhnya menjadi kepedulian terbesar Yesus di muka bumi ini justru &lt;b&gt;kebutaan rohani&lt;/b&gt;. Perhatikanlah. Ada begitu banyak pemuka agama alias orang-orang Farisi yang menyelidiki kesembuhan si pengemis buta itu tidak mau percaya terhadap Yesus, malah menuduhNya berdosa. Bacalah Yohanes 9:13-34 untuk lebih jelasnya. Karena itulah Yesus kemudian berkata:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 39). Lucunya lagi, orang-orang Farisi tidak juga sadar bahwa mereka buta secara rohani. Mereka merasa mata rohani mereka paling tajam dan paling hebat, sehingga mereka masih bisa menantang Yesus setelah mendengar kata-kata Yesus tersebut. (ay 40). Dan kembali Yesus menegaskan: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari rasul Paulus kembali menyinggung perihal kebutaan rohani ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (2 Korintus 4:3-4). `Ini menunjukkan sebuah kebutaan rohani yang bisa menimpa siapa saja. Seperti halnya mata jasmani kita yang walau berfungsi tapi tidak serta merta membuat kita mampu melihat segalanya, mata rohani pun bisa tetap buta meski suara hati Tuhan sudah tertulis dengan jelas di dalam Alkitab apalagi lewat sabda-sabda Kristus yang membawa pesan dari Kerajaan Allah secara langsung. Tuhan ingin mencelikan mata rohani semua manusia agar bisa melihat kebenaran, namun tidak semua mau menerima itu. Sebagian orang bertindak seperti orang Farisi yang merasa paling alim, paling benar, paling melihat namun sesungguhnya buta, sebagian lagi seperti murid-murid Yesus yang merasa diri sudah aman sehingga menganggap mereka berhak menuduh atau menghakimi orang dengan begitu mudahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mundur ke belakang, kita bisa pula menemukan Pemazmur mengatakan:&lt;i&gt; "&lt;b&gt;Bila tersingkap&lt;/b&gt;, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh."&lt;/i&gt; (Mazmur 119:130). Firman hanya bisa memberi terang dan pengertian kepada orang bodoh apabila firman itu tersingkap. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa menangkap maknanya dan akan seterusnya buta secara rohani, meski firman itu sudah kita baca dengan mata kepala sendiri atau malah sudah kita kenal betul bunyinya. Paulus pun mengatakan: &lt;i&gt;"Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan."&lt;/i&gt; (2 Korintus 3:14-17). Roh Kudus siap menyingkapkan segala rahasia atau kunci Kerajaan Allah dan memberi kemerdekaan kepada kita, mencelikan mata rohani kita yang tadinya buta untuk kemudian dapat melihat. Namun semuanya tergantung kita, apakah kita mau menerima anugerah itu atau menolaknya. Kedatangan Kristus turun ke dunia membawa kerinduan Tuhan untuk memberi kesembuhan atas kebutaan rohani. Jangan sia-siakan itu, dan milikilah mata rohani yang berfungsi dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Firman Tuhan memberi terang dan pengertian dan mencelikan kebutaan rohani&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3504968561385175243?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3504968561385175243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3504968561385175243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3504968561385175243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3504968561385175243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/buta-rohani.html' title='Buta Rohani'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8362608938759637576</id><published>2011-12-07T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-07T08:00:00.673-08:00</updated><title type='text'>Pengemis Buta di Mata Para Murid dan Orang Farisi</title><content type='html'>&lt;b&gt;&amp;nbsp;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Yohanes 9:2&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="pengemis buta, murid Yesus, Farisi" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/pengemis-buta-1.jpg" /&gt;&lt;i&gt;We human tends to give judgment too easily.&lt;/i&gt; Seringkali tanpa sadar kita mudah menjatuhkan penilaian atau komentar-komentar yang menghakimi orang lain baik. Kesuksesan bukannya membuat kita lebih peka terhadap orang lain tetapi malah menjadikan kita lupa diri. Melihat orang yang hidupnya susah atau memiliki cacat tubuh, selintas pikiran bahwa itu akibat dosanya atau dosa orang tuanya, akibat kutuk dan sebagainya bisa muncul di benak kita dengan mudah kalau tidak hati-hati. Tanpa melihat lebih jauh mengenai kebenarannya dulu kita sudah buru-buru menghakimi orang lain. Hal seperti ini bukan saja terjadi di antara orang-orang dunia, tetapi di antara anak Tuhan sendiri pun sikap seperti ini bisa muncul. Secara tidak sadar kita bisa mengeluarkan ucapan-ucapan yang secara tidak langsung menyakiti orang lain, menyudutkan dan menjatuhkan. Komentar-komentar yang selintas, sambil lalu, tanpa kita tahu kebenarannya tapi menyakitkan orang yang kita komentari. Ini adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan apapun alasannya. Seorang teman bahkan bercerita bahwa ia pernah datang ke sebuah persekutuan yang menghakimi dalam doa-doa mereka. "Tuhan, ampuni si A, karena dosa-dosanya banyak sehingga ia menjadi seperti itu.. bebaskan si B karena pasti ia kena kutuk turunan.." dan lain-lain. Seperti itulah bentuk doa mereka. Maksudnya baik, untuk mendoakan orang lain. Tapi kata-kata yang diucapkan tidak pantas. Di dunia saja tidak pantas apalagi ketika disampaikan kepada Tuhan dalam doa. Bayangkan jika di gereja pola pikir seperti ini, tidakkah itu ironis? Jika dibiarkan, gereja bukan lagi menjadi tempat dimana orang bisa merasakan hadirat Tuhan dan bertumbuh bersama-sama saudara/saudari seiman tanpa memandang status, suku bangsa dan latar belakang lainnya, tapi akan menjadi sekumpulan orang eksklusif yang merasa diri paling benar dan merasa punya hak untuk menghakimi orang lain seenaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap seperti ini nyatanya pernah terjadi di antara murid-murid Yesus sendiri. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya ada seorang pengemis yang buta sejak lahir melewati mereka. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya:&lt;i&gt; "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"&lt;/i&gt; (Yohanes 9:2). Bayangkan seandainya kita yang ada di posisi orang buta tadi, pasti sakit sekali rasanya dikatai seperti itu. Orang buta itu tentu sudah menderita karena tidak bisa melihat. Hidupnya susah dengan keterbatasannya sehingga ia pun terpaksa mengemis. Lihatlah sikap para murid itu. Bukannya di bantu, diberi sedekah, disapa dengan ramah, tapi malah dikomentari. Tentu hal itu akan semakin menambah penderitaannya. "Kok sampai bisa buta begitu ya... apa karena dosanya atau orang tuanya..?" Seperti itulah kira-kira pikiran mereka. Aduh, sakitnya mendengar komentar seperti ini, yang ironisnya datang dari murid-murid Yesus pula. Sepertinya murid-murid itu lupa bahwa mereka sendiri adalah manusia yang berdosa juga, dan belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mengeluarkan komentar seperti ini menunjukkan bahwa mereka pun buta, buta secara rohani. Mereka tampaknya lupa diri, menjadi pongah dengan status mereka sebagai murid Yesus sehingga merasa berhak mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kita sebagai murid-murid Kristus di hari ini pun sering terpeleset dalam kesalahan yang sama. Ketika kita merasa diri sudah baik, sudah hidup benar, sudah rajin berdoa, sudah hidup kudus, bukannya mengasihi orang lain tetapi malah tega menghakimi dan mengomentari orang lain, menuduh yang bukan-bukan. Bagaimana reaksi Yesus akan sikap jelek murid-muridNya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Kemudian Yesus pun menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sesuatu yang belum pernah ia alami sejak lahir. Tidak hanya itu saja, Yesus pun berkata:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 3). Yesus mengatakan bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia. Tidakkah itu luar biasa bagi seorang pengemis buta yang mungkin tidak ada yang peduli? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna. Tiba-tiba dia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang, bahkan dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa. Perjumpaannya dengan Yesus merubah hidupnya. Ia dipulihkan dan menjadi kesaksian bagi banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika murid-murid Yesus berpikir salah seperti itu, lihatlah bagaimana reaksi orang-orang Farisi yang merasa paling paham soal agama tepat setelah orang buta itu disembuhkan. Murid-murid itu masih bertanya, dan itupun sudah salah. Sebagian dari orang Farisi yang superior dan merasa diri paling suci langsung serta merta menuduh. "Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu:&lt;i&gt; "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka."&lt;/i&gt; (ay 16). Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka &lt;i&gt;"Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta."&lt;/i&gt; (ay 39). Orang Farisi pun mengeluarkan sindiran. &lt;i&gt;"Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?"&lt;/i&gt; (ay 40). Perhatikan bahwa mereka sama sekali tidak merasa bersalah. "Jadi katamu kami pun orang buta?? Kami ini orang-orang paling benar di dunia tahu??" Itu kira-kira yang ada di pikiran mereka. Kembali Yesus menegaskan kalimatnya.&lt;i&gt; "Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."&lt;/i&gt; (ay 41). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud Yesus? Yesus mengingatkan mereka, dan juga kita tentunya, bahwa tidak baik atau bahkan merupakan dosa ketika kita menganggap diri paling benar lalu menghakimi orang lain. Kedatangan Yesus ke dunia untuk membebaskan orang dari dosa dan &lt;b&gt;memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Kerajaan Allah.&lt;/b&gt; Yesus menjungkir balikkan pandangan-pandangan keliru. Yesus meluruskan persepsi-persepsi yang salah yang ada di dunia selama ini. Jika kita selama ini merasa paling tahu apa yang benar, maka Yesus membawa kebenaran yang sesungguhnya dari Bapa. Jika kita menolak kebenaran dan menganggap kita lebih tahu, maka sesungguhnya kitalah yang buta dan akan tetap buta. Kedatangan Kristus pun menjadi sia-sia bagi kita yang keras hati seperti ini, sehingga kita luput dari anugerah keselamatan yang telah diberikan lewat Kristus kepada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah menarik untuk melihat Yohanes 9 ini, dimana kita bisa melihat dua jenis reaksi dari tipe orang yang menganggap dirinya sudah benar. Hal yang sama masih terjadi sampai hari ini. Apakah kita termasuk satu diantara mereka yang berpikir salah? Apakah kita masih termasuk yang buta? Apakah ketika melihat orang-orang yang susah kita tergerak untuk membantu dan memberkati atau tergerak menghakimi, menghina dan mengejek? Ini pertanyaan penting yang harus kita renungkan. Yesus berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan.&lt;i&gt; "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."&lt;/i&gt; (ay 4). Jangan cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan sebagainya. Berhentilah melakukan itu. Mulailah mengambil tindakan nyata, selagi "hari masih siang". Mengatai, menggosipkan atau membicarakan orang lain adalah sia-sia dan sama dengan memberi tuduhan palsu. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Amsal 25:18). Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi?&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 7:1-2). Daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, lebih baik kita mengambil tindakan nyata dengan mengasihi dan memberkati orang lebih banyak lagi. Masih begitu banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan di ladang Tuhan, dan lakukanlah itu secara nyata selagi hari masih siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hindari menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar, teruslah mengasihi dan memberkati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8362608938759637576?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/8362608938759637576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=8362608938759637576' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8362608938759637576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/8362608938759637576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/pengemis-buta-di-mata-para-murid-dan.html' title='Pengemis Buta di Mata Para Murid dan Orang Farisi'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3661764193455172383</id><published>2011-12-06T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T08:00:07.242-08:00</updated><title type='text'>Kesepakatan dalam Keluarga</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Matius 19:5-6a&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kesepakatan dalam keluarga" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kesepakatan-keluarga.jpg" /&gt;&lt;i&gt;2 Become 1&lt;/i&gt; yang dulu sempat populer dinyanyikan oleh group pop fenomenal asal Inggris Spice Girls terdengar dari radio yang saya putar. Kata &lt;i&gt;two become one&lt;/i&gt;, dari dua menjadi satu merupakan apa yang akan terjadi pada kita ketika kita mengakhiri masa lajang dan memasuki kehidupan berumah tangga bersama pasangan yang kita cintai. Meski saling mencintai, seringkali kehidupan berumah tangga tidak serta merta berjalan mudah. Dua orang dengan dua latar belakang, dua sifat, dua tingkah laku, dua pola pemikiran dan sebagainya seringkali membuat adanya pertentangan dalam pengambilan keputusan. Semirip-miripnya sifat dari pasangan suami istri, tentu ada saja perbedaan di antara keduanya dan apabila ini tidak disikapi dengan baik, maka perselisihan atau pertengkaran pun bisa menjadi akibatnya. Ada pula yang tidak melawan tapi di dalam merasa tertekan. Sebaliknya ada yang memberontak sehingga pertengkaran besar pun terjadi, padahal yang jadi permasalahan tidaklah parah benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari akan hal ini, sejak semula ketika saya menikah saya terus membicarakan banyak hal bersama istri. Kami mencoba terus mencari &lt;b&gt;kesepakatan dalam menjalani hidup bukan sebagai dua, melainkan sebagai satu. &lt;/b&gt;Saya menekankan kerjasama satu tim yang kuat, solid, erat dan terpadu untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada atau mungkin ada kelak. Masalah seperti apapun kami hadapi bersama-sama, seiring dan sejalan. Keterbukaan dan keterusterangan sangatlah membantu. Komunikasi merupakan hal mutlak yang tidak bisa tidak. Frekuensi perselisihan pun terbukti berkurang secara drastis. Baik masalah kecil maupun besar, kami percaya ada Tuhan bertahta di atas segalanya. Biarlah semua berjalan seijin Tuhan. &lt;b&gt;Berdoa, berdoa dan berdoa, untuk mencari jalan yang terbaik sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Berdiskusi lalu bersepakat dalam mengambil setiap keputusan&lt;/b&gt;. Walaupun terkadang keputusan secara pribadi berbeda, namun titik temu pasti selalu ada. Itulah yang kami pilih untuk dijadikan dasar dalam memutuskan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersepakat dalam segala hal antara suami dan istri atau kalau perlu melibatkan anak dan anggota keluarga lainnya akan menghasilkan sebuah keluarga dengan ikatan kuat dan harmonis. Hari-hari ini tidak jarang kita melihat suami dan istri berjalan terpisah. Suami ke kiri, istri ke kanan. Istri yang tidak mendukung suami, tidak berada di sisi suaminya ketika sang suami sedang mendapat masalah. Atau sebaliknya suami yang tidak peduli kebutuhan istrinya, menganggap istrinya tidak tahu apa-apa, memutuskan segalanya sendiri. Kesibukan yang menyita waktu membuat mesbah keluarga berantakan dan terabaikan. Semua berjalan sendiri-sendiri, dan ini bisa membahayakan kelanggengan keharmonisan keluarga. Dengarlah apa kata Yesus:&lt;i&gt; "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."&lt;/i&gt; (Matius 18:19-20). Itulah kuasa yang bisa ditimbulkan dari kesepakatan dan kebersamaan. Dua atau tiga orang berkumpul, Yesus hadir, dan kesepakatan untuk meminta dalam nama Yesus akan membuat permintaan dikabulkan. Tidakkah kesepakatan itu penting jika demikian? Ini janji Tuhan. Alangkah sayangnya jika dalam sebuah rumah tangga tidak lagi ada kesepakatan, dan itu seringkali menjadi awal dari kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepakatan bisa diibaratkan sebagai sebuah&lt;i&gt; teamwork&lt;/i&gt; atau kerjasama tim yang harmonis, saling dukung, saling bantu, saling dukung. Sebuah kesepakatan dengan dasar kasih dalam keluarga akan membawa campur tangan Tuhan ada di dalamnya, tentu saja apabila kita mau melibatkan Tuhan dan mengambil keputusan-keputusan yang tidak bertentangan dengan hukumNya. Dalam pengambilan keputusan, atau doa-doa permohonan, adakah Tuhan tetap berbicara pada kita? Ya, ada Roh Kudus yang selalu mengingatkan dan membimbing kita. Namun seringkali kita mengabaikan peringatan Roh Kudus dalam mengambil keputusan, dan cenderung lebih memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Kita seringkali tidak melibatkan pasangan kita, apalagi Roh Kudus. Ini jelas bukan &lt;i&gt;teamwork&lt;/i&gt; yang baik. Kerjasama tim yang baik seharusnya melibatkan Tuhan, dimana kita sekeluarga mengikuti apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita. Roh-roh perpecahan akan terus berusaha memecah belah kita, namun sebuah kesepakatan dan kerja sama tim yang kuat dalam Tuhan akan membuat kita tidak gampang diporak-porandakan iblis. Ingatlah ada Yesus ditengah-tengah kita ketika kita bersepakat bersama-sama dalam keluarga. Bukankah hal ini sungguh indah? Ikatan suami istri adalah ikatan kuat yang dimateraikan langsung oleh Tuhan sendiri. Yesus mengatakan&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 19:5-6a). Suami istri secara fisik memang terdiri atas sepasang orang, tapi ikatan pernikahan yang dimateraikan Tuhan secara langsung membuat mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Bukan hanya dalam satu dua hal, namun dalam segala hal, termasuk dalam memutuskan sesuatu dan bersepakat dalam mengambil keputusan. Contoh yang paling kecil saja sudah saya buktikan sendiri: betapa damai dan sejuknya keluarga ketika suami dan istri selalu ada dalam kesepakatan bersama. Ketika suami melibatkan istri, ketika istri mengambil bagian dalam keputusan-keputusan rumah tangga. Untuk yang sudah punya anak pun, mereka perlu diajak untuk bersepakat bersama-sama. Bangunlah mesbah keluarga yang kokoh sejak dini. Tanamkan keteladanan kepada anak-anak anda, saling mengasihilah, dan bersepakatlah dalam segala hal. &lt;i&gt;Build a strong teamwork, unite with your family, and God will definately be there among you.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesepakatan antar anggota keluarga dengan melibatkan Tuhan adalah jalan yang terbaik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3661764193455172383?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/feeds/3661764193455172383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8864475912893424950&amp;postID=3661764193455172383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3661764193455172383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8864475912893424950/posts/default/3661764193455172383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renungan-harian-online.blogspot.com/2011/12/kesepakatan-dalam-keluarga.html' title='Kesepakatan dalam Keluarga'/><author><name>webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10150596613283522091</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6307702389745141124</id><published>2011-12-05T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T08:00:04.550-08:00</updated><title type='text'>Pak Pos</title><content type='html'>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Daniel 10:13&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="pak pos" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/pak-pos.jpg" /&gt;Seorang tukang pos yang saya kenal sempat melepas lelah sebentar sambil ngobrol ringan dengan saya ketika kebetulan mengantarkan sebuah paket ke rumah pagi tadi. Ia bercerita tentang suka dukanya mengantarkan pos selama kira-kira lima belas tahun. Selain terik matahari dan hujan yang menjadi makanan sehari-hari, ia juga tidak jarang harus berhadapan dengan anjing galak yang langsung menyambutnya begitu ia berhenti di depan pagar. "Apapun situasinya, saya harus menyampaikan kiriman ini ke orang yang dituju." katanya bersemangat. Ia bercerita bahwa ia pernah dimarahi karena kiriman itu telat sampai, padahal kesalahan bukanlah berada di pihaknya. Banyak orang lupa akan pentingnya peran tukang pos dalam kehidupan kita sehari-hari. Padahal tanpa adanya mereka, bagaimana kita bisa mengirim dan menerima paket? Meski kantor pos atau jasa pengiriman buka, tapi kalau tidak ada yang para pengantar pos maka semuanya tidak akan bisa berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat-malaikat pun sering diutus Tuhan sebagai pengantar pesan. Salah satu tugas mereka adalah membawa pesan dari Surga ke bumi, pesan dari Tuhan kepada kita anak-anakNya. Seperti halnya pak pos pada ilustrasi di atas, apa yang dialami para malaikat inipun seringkali tidak mudah. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena &lt;b&gt;iblis sejak dulu hingga kini tidak akan pernah diam berpangku tangan membiarkan pesan dari Tuhan itu mencapai kita dengan mudah. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Daniel kita bisa melihat sebuah keterangan akan hal ini yang dituliskan secara eksplisit. (Daniel 10:1-11:1). Pada saat itu Daniel mendapat sebuah penglihatan di tepi sungai Tigris.&lt;i&gt; "kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ufas."&lt;/i&gt; (ay 5). Sosok malaikat turun menghampiri dia. Daniel melihatnya dengan jelas dan memberikan deskripsi lengkap mengenai malaikat utusan Tuhan yang menjumpainya ini. &lt;i&gt;"Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti gaduh orang banyak."&lt;/i&gt; (6). Kepada Daniel, sang malaikat menceritakan bagaimana sulitnya ia menerobos halangan penguasa-penguasa udara kerajaan Persia. &lt;i&gt;"Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia."&lt;/i&gt; (ay 13). Pemimpin kerajaan Persia ini dalam bahasa Inggris disebut dengan &lt;i&gt;the kings of Persia&lt;/i&gt;, atau roh-roh pelindung kerajaan Persia. Roh-roh ini sempat sukses memperlambat malaikat itu untuk mencapai Daniel seperti yang ditugaskan Allah kepadanya selama dua puluh satu hari lamanya. Untunglah kemudian Mikhael, satu dari para pemimpin malaikat datang membantu. Ia kemudian menghadapi serangan anak buah iblis ini sehingga malaikat utusan Tuhan itu bisa meneruskan perjalanannya untuk kemudian berhasil mencapai Daniel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan yang dilakukan iblis ini adalah sesuatu yang klasik. Dari sejak dulu iblis sudah terus berusaha mencegah dan menghalang-halangi, sampai hari ini pun tetap sama. Iblis akan selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk memperlambat, menghambat dan menggagalkan laju pesan-pesan Tuhan untuk sampai kepada manusia. Bisa jadi lewat gangguan-gangguan ketika kita membaca Alkitab, gangguan disaat kita sedang serius mendengar kotbah di 
