Perabot Emas

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:20
======================
"Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia."

perabot emas,pot tanah liat"Saya memang sudah ditakdirkan seperti ini.." kata seorang siswa saya pada suatu kali. Dia berkata demikian karena merasa sulit untuk memahami pelajaran dan sulit percaya bahwa ia pun memiliki peluang untuk sukses sama seperti teman-temannya, sama seperti anda dan saya. Apa yang ia percaya adalah sebentuk suratan takdir yang sudah digariskan kepada masing-masing orang. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang sukses, ada yang gagal, ada yang mujur, ada yang sial. Jika memang demikian, maka kita tidak perlu berusaha lagi, karena toh dengan duduk di rumah seharian kekayaan akan datang dengan sendirinya kalau itu takdir kita, bukan? Apakah benar seperti itu? Apakah Tuhan itu memang pilih kasih? Tidak, Tuhan itu Maha Adil dan kasih setiaNya tak terbatas, kekal selama-lamanya. Bagaimana dengan hak kita sebagai ahli waris Kerajaan sebagai anak-anak Tuhan? Apakah anda merasa ditakdirkan untuk memperoleh kebesaran di Kerajaan Allah, atau anda puas hanya sekedar lolos dari lubang jarum? Apakah anda percaya bahwa anda sebenarnya dikehendaki Tuhan untuk menjadi perabot dari emas dan perak, bukan sekedar pot kecil tanah liat saja?

Tuhan tidak pernah membeda-bedakan anak-anakNya. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, tinggi rendahnya pendidikan kita, semua kita yang percaya mendapat kesempatan sama untuk menjadi ahli waris. Firman Tuhan berkata "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah." (Roma 8:15). Dengan demikian, "jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (ay 17). Mari kita lanjutkan dengan membaca isi surat Paulus kepada Timotius. "Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia." (2 Timotius 2:20). Dalam Kerajaan akan terdapat perabot emas, perak hingga perabot kayu dan pot tanah liat, tapi itu bukanlah takdir yang diinginkan Tuhan. Apa yang diinginkan Tuhan adalah semua kita bisa menjadi perabot dari emas dan perak! Kita sendirilah yang menentukan kita ingin menjadi jenis yang mana. Perabot emas atau pot tanah liat, pilihannya terserah kita. Semua tergantung kita.

Apa yang harus kita lakukan untuk itu? Ayat selanjutnya memaparkan caranya. "Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." (ay 21). Agar bisa masuk ke dalam kategori perabot emas dan perak, yang notabene dikatakan dipakai untuk maksud yang mulia, caranya adalah dengan menyucikan diri. Hidup suci, hidup kudus, hidup murni, sampai kita dianggap layak untuk dipakai dalam setiap pekerjaan yang mulia. Setiap kita telah ditugaskan untuk melakukan tugas yang digariskan Kristus dalam Amanat AgungNya. Tapi dipakai atau tidak, itu semua tergantung diri kita sendiri, apakah kita mau taat kepadaNya dan memilih untuk hidup kudus atau tidak.

Ada banyak anak-anak Tuhan yang sudah puas sekedar menjadi perabot dari kayu dan tanah. Mereka kekurangan syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi perabot emas dan perak. Mereka tidak memiliki cukup kesetiaan, tidak cukup pengabdian. Mereka tidak memisahkan diri dari pengaruh-pengaruh yang mencemarkan. Mereka tidak bersedia berpaling dari hal-hal duniawi untuk berjalan terus bersama Tuhan. Dalam kelanjutan ayat di atas, Paulus melanjutkan dengan memberikan beberapa perilaku yang menyebabkan ketidaklayakan ini. Mengejar nafsu orang muda (ay 22), melakukan hal-hal yang dicari-cari, bodoh dan tidak layak alias tidak ada gunanya, sia-sia (ay 23), membiarkan emosi menguasai diri (ay 24), dan tidak membuka kesempatan bagi orang lain untuk bertobat (ay 25).

Hari ini hendaklah kita membulatkan tekad yang akan bisa mengubahkan kita menjadi perabot emas. Caranya adalah dengan menyucikan diri. Kita menyucikan diri dengan mematikan segala kedagingan yang melekat pada kita. "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)". (Kolose 3:5-6). Lalu, "Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (ay 8-10). Perhatikan ayat selanjutnya, ini berlaku untuk siapapun itu. "dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu." (ay 11). Ingatlah bahwa Kristus telah menebus siapapun manusia tanpa terkecuali. Jika terasa sulit, ijinkanlah Roh Kudus bekerja atas diri kita, memproses kita hingga mampu terlepas dari segala keinginan duniawi dan bisa melangkah tegak di jalan Tuhan. Roh Kudus tinggal di dalam orang-orang percaya (Roma 8:11) dan akan terus bekerja untuk menyucikan kita. (Roma 15:16).

Mulailah lakukan itu dari sekarang. Waktu sudah sangat larut. Kemuliaan Tuhan sesungguhnya tercurah di atas bumi ini, dimana kemuliaan itu tidak akan pernah menetes dari perabotan kayu atau pot tanah liat. Kemuliaan Tuhan tercurah melalui perabot-perabot emasNya, dan itulah yang sesungguhnya menjadi panggilan atau takdir Tuhan buat kita semua, buat anda dan saya.

Jadilah perabot emas yang layak dipakai Tuhan untuk maksud mulia

Ingatlah Rahmat Tuhan

Ayat bacaan: Ratapan 3:21-23
=======================
"Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"

rahmat TuhanPagi yang cerah. Itu yang hadir ketika saya terbangun pagi ini. Ada istri di samping saya tersenyum, ada dua anjing kecil yang dengan gembira menggoyang-goyangkan ekornya melihat kami sudah bangun. "What a blessful day, thank you Jesus." saya berucap dalam hati. Terima kasih atas satu hari lagi yang diberikan kepada kami, bukan hanya sekedar hari, tapi hari yang berisi rahmat Tuhan yang segar dan baru. Fresh from the oven. Kesibukan bakal hadir sebentar lagi, ada banyak pekerjaan, kegiatan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan, masih ada beban-beban yang harus ditanggulangi, tapi itu bukan berarti bahwa semua itu harus merebut sukacita, sebuah sukacita surgawi yang langsung disediakan Tuhan tepat begitu saya bangun.

Seringkali kita terlalu fokus kepada beban dan masalah sehingga kita lupa seperti apa kebaikan Tuhan itu. Kita lupa bahwa jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menjalani hari, masih bernafas, masih punya kekuatan untuk melakukan sesuatu, itu pun tidak kurang merupakan berkat Tuhan. Kita lupa jika pagi yang cerah menyambut kita, matahari bersinar, awan-awan putih menambah warna langit biru cerah, ayam berkokok, burung-burung berkicau, itu pun berkat Tuhan. Bunga bermekaran, secangkir teh atau kopi panas, semua itu pun berkat Tuhan. Tapi kita seringkali mengabaikan hal ini dan lebih cenderung untuk memperhatikan berbagai masalah yang harus kita hadapi setiap hari. Tidak salah untuk berkonsentrasi pada tugas atau pekerjaan, tapi jangan sampai semua itu merebut atau menghilangkan sukacita yang berasal dari Tuhan, yang telah Dia sediakan kepada kita setiap hari. Ayat bacaan hari ini mengatakan dengan jelas mengenai fokus utama yang seharusnya kita lihat. Serangkaian ayat terdahulu bercerita mengenai berbagai penderitaan, kesusahan yang kita lihat bahkan mungkin sedang kita alami, tapi lalu si penulis mengingatkan bahwa bukan itu semua yang harus menjadi fokus perhatian kita. Demikian katanya: "Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:21-23). Bagaimana si penulis bisa mengatakan demikian? Bukankah ia baru saja meratapi kehancuran Yerusalem? Karena penulis mengenal pribadi Tuhan. Dia tahu pasti bahwa Tuhan memberikan harapan baru yang hadir pada kita setiap pagi. Tuhan mencurahkan berkat baru, menyambut kita dengan penuh kasih setiap kita membuka mata terbangun dari tidur. Masalah boleh ada, tapi kita punya Tuhan yang luar biasa besar kasih setiaNya yang sanggup membawa kita terbang mengatasi itu.

Ada begitu banyak janji berkat Tuhan kepada kita. Ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang tertulis dalam alkitab. Hari ini mari kita fokus kepada satu bagian dari Mazmur saja, Mazmur 103, karena bagian ini memuat berbagai kebaikan Tuhan yang Dia berikan kepada kita setiap hari.

  • Dia mengampuni dosa kita. (ay 3)
  • Dia menyembuhkan segala penyakit kita (ay 3)
  • Dia menebus hidup kita dari kebinasaan (ay 4)
  • Dia memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat (ay 4)
  • Dia memuaskan hasrat/kebutuhan kita dengan kebaikan sehingga kita diperbaharui seperti masa muda rajawali (ay 5)
  • Dia menjalankan keadilan dan hukum bagi anak-anakNya yang tertindas. Tuhan memerdekakan kita. (ay 6)
  • Dia memperkenalkan jalan-jalanNya, rancanganNya kepada anak-anakNya. (ay 7)
  • Dia begitu sabar dalam memberikan kesempatan bagi kita untuk berubah (ay 8)
  • Dia penuh kasih, setinggi langit di atas bumi besar kasihnya pada 8,11).
  • Dia bukanlah sosok yang mendendam dan selalu menuntut. Dia Bapa yang selalu mengerti, peduli dan pengampun. (ay 9-10,12)
  • Dia sosok Bapa yang sayang anak-anakNya (ay 13)
  • Kasih setiaNya berlimpah (ay 8) dan berlaku selama-lamanya, turun-temurun (ay 17)

Tuhan mengenal betul karakter kita manusia, ciptaanNya yang lemah dan terbatas. Kita ini hanyalah debu (ay 14), masa hidup kita singkat (15-16). "Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.". Bagi kita semua yang berpegang pada perjanjianNya, dan mau melakukan perintahNya, Tuhan sudah menegakkan tahtaNya di surga, kerajaanNya berkuasa atas segala-galanya. (ay 18-19). Artinya tidak ada masalah sama sekali bagi Tuhan untuk mencurahkan rahmatNya dikala kita mengalami kesulitan, karena Dia berkuasa atas segalanya, untuk selamanya.

Pagi ini sudahkah anda bangun dan mensyukuri segala kebaikan yang dihadirkan Tuhan dalam hidup anda? Sudahkah anda berterimakasih atas rahmat baru yang dicurahkanNya tadi pagi? Jika sudah, teruslah pastikan untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikanNya. Jika belum, mulailah hari ini. Tinggallah dalam hadiratNya dalam doa dan ingat terus rahmatNya kepada anda. Pertahankanlah terus maka anda akan menjadi lebih kuat dalam iman dan semakin menyadari kasih Tuhan lebih dari waktu-waktu sebelumnya.

Jadikan berkat Tuhan menjadi nyata dan hidup dalam diri anda setiap hari

Tidak Akan Pernah Jatuh

Ayat bacaan: 2 Petrus 1:10
=====================
"Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung."

tersandung, jatuhApakah anda pernah tersandung lalu terjatuh? Seorang anak kecil yang melintas di depan rumah saya sore ini tersandung selagi berjalan di atas permukaan jalan yang berbatu-batu. Ketidakhati-hatiannya membuatnya terjerembap jatuh. Untung dia tidak mengalami masalah apa-apa. Ia langsung bangkit dan berjalan lagi meski agak sedikit terpincang-pincang di awalnya disertai wajah yang agak meringis. Kita semua pernah mengalami hal ini. Bukan hanya di jalan terjal, berbatu, tapi terkadang di jalan yang mulus itu bisa terjadi. Jalan mulus bisa membuat kita tidak waspada, sehingga ketika ada sebentuk benda yang tidak kita lihat menghalangi langkah kita, kita pun bisa tersandung karenanya. Tersandung bisa sepele, tapi bisa pula menjadi berat jika ekses yang diakibatkan ternyata mencederai kita secara serius. Teman saya di SMA pernah tersandung begitu selesai bermain basket. Posisi jatuhnya ternyata cukup berakibat fatal. Ia kehilangan beberapa gigi karena mulutnya tepat menghantam permukaan keras di mana ia jatuh. Adik saya sempat sobek bibirnya karena jatuhnya menghantam ujung meja. Di sisi lain, kita seringkali tersandung dan bisa kembali melanjutkan langkah kita seperti halnya si anak.

Jatuh bangun dalam iman pun dialami oleh banyak orang. Bahkan ada orang yang sudah begitu sering jatuh bangun sehingga mereka sudah sulit menerima bahwa mereka sebenarnya direncanakan untuk tidak pernah jatuh. Tuhan sebenarnya sudah menjanjikan bahwa kita anak-anakNya tidak akan pernah tersandung dan jatuh. Firman Tuhan berkata bahwa ada sesuatu yang dapat membuat kita tetap berdiri tegak dan terhindar dari kejatuhan ini. Apa itu? Ketekunan. Ketekunan untuk berusaha lebih serius lagi atas panggilan dan pilihan Allah atas diri kita. Paulus menggambarkannya demikian: "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung." (2 Petrus 1:10). Kata tersandung dalam versi bahasa Inggris dijelaskan dengan "stumble or fall." Tidak hanya tersandung, tapi juga terjatuh. Kata ketekunan atau keseriusan, kerajinan untuk berusaha keras untuk lebih sungguh-sungguh ini memiliki arti yang sangat penting. Kita perlu tahu bahwa kita tidak akan pernah dapat menghayati hidup yang penuh kemenangan tanpa adanya ketekunan ini.

Panggilan dan pilihan Allah, ini dijelaskan oleh Petrus di awal perikop. "Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib." (ay 1). Sejalan dengan ini, Paulus menulis rincian yang lebih jelas. "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." (Roma 8:30). Sejak semula Allah telah memilih dan menentukan panggilanNya. Inilah yang harus kita teguhkan dengan sungguh-sungguh, jangan disepelekan dan tidak diperhatikan. Bersungguh-sungguh artinya tidak sekedar menjalankan. Bersungguh-sungguh ada pada level di atasnya. Tekun berdoa, rajin beribadah, bisa dilakukan hanya karena rutinitas, sesuatu yang sudah terpola dari keluarga, atau alasan-alasan duniawi lainnya. Bersungguh-sungguh artinya melakukan lebih dari itu, dengan menyadari dengan sepenuhnya, mendasarkan setiap doa, pujian, penyembahan, perenungan dan sebagainya dari hati yang paling dalam yang memandang Tuhan dengan kasih tulus dan murni. Seperti apa bentuknya? Petrus menjabarkannya seperti ini: "Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang." (2 Petrus 1:5-7). Lihatlah rantai yang terjalin dalam ayat-ayat ini. Itulah bentuk usaha sungguh-sungguh untuk lebih meneguhkan panggilan dan pilihan yang telah ditetapkan Tuhan sejak semula.

Petrus, Paulus dan murid-murid lainnya tahu bahwa kita tidak akan mampu hidup dengan iman ala kadarnya. Kita tidak bisa hidup dengan mengabaikan nilai dan prinsip kekristenan dan berharap dapat tetap diselamatkan. Dan kita pun tidak bisa melakukannya setengah-setengah. Di satu sisi kita taat, di sisi lain kita langgar. Di saat tertentu kita patuh, tapi di saat lain kita mengabaikannya. Tidak, ini tidaklah menggambarkan sebuah kesungguhan. Yakobus berkata "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya." (Yakobus 2:10). Kita tidak akan bisa berdiri teguh tanpa membaca alkitab sepanjang minggu. Tidak akan pernah cukup jika kita hanya mengandalkan kebaktian seminggu sekali di gereja saja, lalu hidup sepenuhnya tanpa Tuhan selama seminggu penuh. Itu tidak akan pernah cukup. Jika kita termasuk dalam golongan ini, tidaklah heran jika kita terus saja tersandung, terjatuh dan lagi-lagi gagal.

Tuhan berfirman: "Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman TUHAN." (Yesaya 54:17). Yes! Inilah bagian dari kebenaran yang seharusnya kita terima. Kita seharusnya dicanangkan untuk tidak pernah tersandung dan terjatuh. Never stumble or fall. Berusaha sungguh-sungguh untuk meneguhkan panggilan dan pilihan kita akan membawa kita naik ke level yang lebih tinggi, dimana semua berkat Tuhan berada. "Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus." (2 Petrus 1:11). Ini janji Tuhan bagi kita semua. Jika demikian, haruskah kita terus tersandung dan terjatuh? Firman Tuhan berkata: "Sekali-kali tidak!" (Roma 11:11). Jika kita ingin bertahan menghadapi hari-hari yang sulit yang akan terus datang, kita semua membutuhkan iman yang dewasa, sebentuk iman yang dapat memindahkan gunung. Dan caranya tidak lain adalah dengan lebih sungguh-sungguh lagi menyerahkan diri kita kepada Firman. Jika kita sudah melakukannya, berusahalah untuk lebih baik dan lebih rajin lagi daripada sebelumnya. Paulus berkata: "Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi." (1 Tesalonika 4:1). Rajinlah untuk memastikan bahwa panggilan dan pilihan atas kita tetap teguh. Dan lihatlah, tidak peduli betapa pun sulitnya keadaan, kita tidak perlu jatuh.

Hindari tersandung dan jatuh dengan lebih bersungguh-sungguh lagi bertekun memenuhi pilihan dan panggilan Tuhan

Matius Si Pemungut Cukai

Ayat bacaan: Matius 9:9
======================
"Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia."

melayani satu orangMana yang lebih menyenangkan, beraksi panggung di depan banyak penonton atau segelintir? Jika anda seorang musisi, rasanya pilihan akan jatuh kepada banyak penonton. Ada banyak artis baik dalam dan luar negeri yang pernah saya wawancarai akan sangat termotivasi dan bertambah semangatnya ketika tampil di depan banyak orang. Apalagi jika mereka tahu lagu-lagu yang dibawakan dan bernyanyi bersama. Tapi kemarin saya mendapatkan sesuatu yang lain dari yang lain. Ada musisi yang saya kenal tampil di sebuah restoran hotel bersama dua orang rekannya. Saya ada di sana karena saya punya janji untuk bertemu dengannya. Mereka main cuma untuk menghibur sedikit sekali pengunjung restoran. Itupun hampir tidak ada tanggapan sama sekali dari pengunjung, karena mereka sibuk makan malam dan berbincang-bincang dengan keluarga atau rekan semeja. Tapi ketiga musisi ini terus main. Mereka tidak mempedulikan hal itu sama sekali, mereka tetap tampil memberikan yang terbaik, ada atau tidak tepukan atau mata yang melihat mereka. Padahal mereka cukup terkenal dan jelas punya skill di atas rata-rata. Ketika saya tanyakan, teman musisi ini berkata bahwa tugas mereka adalah menghibur. Ada atau tidak ada penonton, mereka memang ditugaskan untuk itu, dan mereka pun melakukannya dengan sebaik mungkin. "Ada saatnya banyak penonton, dan kami suka itu, tapi ada saatnya kami dicuekin, ya tidak apa-apa, kami tetap main dengan baik kan?" katanya sambil tertawa.

Seperti itulah gambaran di dunia musik. Ada musisi yang menyadari misi mereka yang sesungguhnya, tapi ada pula yang hanya mau bermain di depan banyak orang dan menolak main jika penontonnya tidak sebanyak yang ia harapkan. Dalam dunia pelayanan hal ini pun bisa terjadi. Ada orang yang tidak mau mengeluarkan kemampuan terbaik ketika yang dilayani mungkin hanya satu orang. Buang-buang waktu saja rasanya melayani hanya satu orang. Apalagi jika kita menganggap bahwa orang itu begitu berdosa, begitu hina dan menurut kita tidak ada apa-apa lagi yang bisa diharapkan daripada mereka karena dosanya sudah begitu keterlaluan besarnya. Padahal Tuhan tidak pernah mengajarkan demikian. Satu orang bertobat, seisi surga bersukacita. Kita akan lihat ayatnya sebentar lagi. Tapi sebelum itu, mari kita lihat keteladanan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus sendiri.

Yesus tidak pernah membeda-bedakan jumlah dalam pelayananNya di muka bumi ini. Baik di depan ribuan orang, maupun hanya satu orang, Dia selalu memberi yang terbaik dan meluangkan waktuNya sepenuhnya. Salah satu kisah mengenai Matius saya angkat hari ini. Matius awalnya bukanlah orang yang baik di mata masyarakat. Profesinya adalah sebagai pemungut cukai. Artinya ia bekerja untuk kepentingan Roma, bangsa penjajah. Pemungut cukai digolongkan ke dalam orang berdosa pada masa itu dan dikucilkan masyarakat karena dianggap musuh. Pada suatu hari langkah Yesus membawaNya bertemu dengan Matius."Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia." (Matius 9:9). Yesus tidak melewatkan Matius begitu saja. Ia hanya seorang, dan ia orang berdosa, ia adalah musuh. Yesus tidak melewatinya tapi malah menghampiri Matius dan mengajaknya ikut. Matius memilih untuk berdiri dan mengikut Yesus. Sebuah pilihan yang sangat tepat. Lalu Yesus pun makan di rumah Matius. Lihatlah saat itu ternyata kedatangan Yesus berkunjung ke rumah Matius terdengar oleh pemungut cukai dan orang-orang berdosa di mata masyarakat lainnya. Mereka pun berbondong-bondong datang. Dari satu kemudian berkembang menjadi banyak. Orang Farisi pun kaget melihat itu dan segera bertanya kepada para murid, "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" (ay 11). Yesus ternyata mendengar itu dan kemudian berkata: "Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (ay 12-13). Dokter tugasnya menyembuhkan orang sakit, biar satu orang sekalipun, kalau sakit tentu diobati bukan? Demikian pula kata Yesus, bahwa tugasNya ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Meski hanya satu jiwa saja, itupun berharga bagiNya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Matius bertobat dan menjadi murid Yesus. Tidak hanya murid biasa, tapi ia pun termasuk dalam satu dari empat penulis Injil yang bisa kita baca hingga hari ini. Itu semua bermula ketika Yesus tidak memandang jumlah dan mau repot-repot mengurusi satu orang saja.

Mari kita lihat dua perumpamaan diberikan Yesus mengenai ini. Pertama dalam perumpamaan tentang domba yang hilang. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?" (Lukas 15:4). Jika satu domba hilang, tidakkah si gembala mau kembali ke padang gurun untuk mencari dombanya? Mungkin tersesat, mungkin celaka, dan mereka pasti rela kembali mencari untuk menyelamatkan dombanya. Demikian pula Yesus. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (ay 7). Meski hanya satu orang bertobat, sukacita di surga pun akan terjadi. Lalu mari kita lanjutkan dengan perumpamaan tentang dirham yang hilang. "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan." (ay 8-9). Satu dirham (uang perak) hilang, tentu akan dicari, meski masih ada 9 uang perak lagi yang tidak hilang. Yesus kemudian menyimpulkan, "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Satu orang bertobat, seluruh malaikat pun akan bersorak sorai. Tidak harus seratus, seribu, sejuta, tapi satu saja sudah membuat seisi surga bersorak gembira.

Satu jiwa sangat berharga di mata Allah. Sudahkah kita rela untuk meluangkan waktu dan kesibukan kita untuk melayani satu orang saja? Menjadi terang dan garam bagi dunia tentu menjadi impian semua anak-anak Tuhan, tapi menjadi terang dan garam bagi satu orang pun tidak kurang pentingnya. Jika kita bisa mempertanggungjawabkan satu orang, Tuhan pasti akan melipatgandakannya kelak. Tapi berapapun jumlahnya, yang penting adalah kerinduan hati kita untuk melihat ada jiwa yang diselamatkan. Saat ini dunia penuh dengan "orang-orang sakit", jiwa terhilang dan tidak tahu jalan pulang. Mereka sungguh membutuhkan perhatian dan pelayanan kita. Berapapun jumlahnya, satu orang sekalipun, janganlah kita membiarkan mereka putus pengharapan dan merasa terabaikan. Sebab satu orang sekalipun sangatlah berharga bagi Tuhan.

Satu orang bertobat, seisi surga bersukacita

Fresh from the Oven

Ayat bacaan: Ratapan 3:22-23
========================
"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"

fresh from the oven, selalu baru setiap pagiFresh from the oven merupakan ungkapan yang dipakai orang dimana-mana untuk menggambarkan sesuatu yang segar dan baru. Saya sering memakai ungkapan ini ketika mempublikasikan artikel atau informasi terbaru dalam situs jazz saya di jejaring Facebook. Tukang roti akan dengan sangat senang memakai slogan ini karena pasti ampuh menggambarkan roti yang masih hangat, empuk dan lezat. "If something is fresh from the oven, that means it is very new". Demikian penjelasan mengenai idiom ini di sebuah artikel yang saya baca. Bayangkan jika sebuah perusahaan makanan memakai slogan sebaliknya, "tidak pernah baru" atau "Selalu lama", jauh benar kan image atau kesan yang ditimbulkan? Seperti itulah memang, kita selalu rindu akan hal-hal yang segar dan baru. Memulai hari baru dengan semangat baru, lepas dari pengalaman-pengalaman pahit atau memalukan di masa lalu dan bisa mulai menatap masa depan yang cerah. "It's a new dawn, it's a new day, it's a new life, for me, and I'm feeling good." kata Michael Buble dalam lagu populernya "Feelin' Good". Mendengarnya saja sudah menyenangkan, apalagi mengalami.

Slogan ini sesungguhnya juga dipakai Tuhan untuk memberkati kita anak-anakNya. Bahkan tidak berhenti hanya pada slogan semata, tapi Allah yang sempurna pun pasti memenuhinya karena Dia bukanlah sosok yang ingkar janji. Jika Allah berjanji, Allah pasti menepati. Dan janji itu hadir pada ayat emas yang menjadi ayat bacaan hari ini. "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:23). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "His tender compassions fail not, they are new every morning, great and abundant is Your stability and faithfulness." KasihNya yang lembut tidak pernah gagal, selalu baru setiap pagi. Setiap kita bangun pagi, ada Tuhan menyapa kita dengan berkatNya yang fresh from the oven of His Kingdom. Lihatlah bahwa Allah pun selalu menjanjikan sesuatu yang segar, bukan sisa-sisa, bukan sesuatu yang kadaluarsa. Dia selalu memberkati kita dengan segala yang terbaik. Tapi seringkali kita tidak menyadari hal itu. Kita menganggap Tuhan tidak tanggap terhadap diri kita, kita lupa untuk mengucap syukur dan berterimakasih setiap kita bangun pagi. Padahal Tuhan siap memberkati kita dengan penuh sukacita untuk memulai hari dan melakukan yang terbaik hari ini. Bukankah kesibukan-kesibukan kita hari ini pun berasal dari berkatNya?

Betapa kita berharga di mataNya. Betapa besar kasihNya pada kita. Jika "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Roma 8:32). Ini menggambarkan dengan jelas betapa besar kerinduan Allah untuk selalu memberikan yang terbaik pada kita. Bahkan dengan kedatangan Kristus, kita dimungkinkan untuk mengalami pemulihan hubungan dengan Tuhan, mengalami penebusan dan dilayakkan untuk menerima berkat keselamatan, menikmati hadiratNya hari ini, merasakan kedekatan dan kasihNya yang begitu teduh secara langsung. Dalam Kristus kita diperbaharui. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Apakah kita mau mensyukuri hal itu dan mengimaninya dengan hidup sebagai sosok yang sudah diperbaharui, atau kita memilih untuk terus terikat pada berbagai kebiasaan buruk di masa lalu, terbelenggu pengalaman-pengalaman pahit di waktu lalu, itu semua pilihan kita. Apakah kita mau memakainya atau melupakannya, itu pun pilihan kita.Yang jelas, apa yang disediakan Tuhan sesungguhnya baru dan segar, dan itu hadir setiap pagi.

Jika hari ini kita belum menyadari benar akan hal itu, mari kenali Tuhan lebih lagi. Semakin kita mengenalNya, semakin kita mengetahui kasih dan rancanganNya buat kita, semakin kita terkagum-kagum dibuatNya. Firman Tuhan yang disampaikan kepada Hosea berkata "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hosea 6:3). Lagu rohani yang sangat terkenal buah karya Afen Hardiyanto pun berbicara mengenai hal ini. "JanjiMu seperti fajar pagi hari, dan tiada pernah terlambat bersinar. CintaMu seperti sungai yang mengalir, dan ku tahu betapa dalam kasihMu."

Jika Tuhan mengasihi kita dengan sebentuk kasih dan berkat-berkat yang baru setiap pagi, sudahkah kita memberikan yang terbaik juga bagi istri/suami dan anak-anak kita, orang tua kita, tetangga, atasan, bawahan, rekan sekerja, teman-teman di kampus atau sekolah, dan kepada orang lain di sekitar kita? Sebagai anak-anak Allah yang mencitrakan Bapanya, sudah seharusnya pula kita memberikan sesuatu yang baru, yang terbaik bagi orang lain. Perhatian terbaik, senyuman terbaik, bantuan terbaik, kualitas terbaik, usaha terbaik, cinta terbaik, semua itu mampu memberikan perbedaan nyata dimana kasih Allah bisa dirasakan oleh orang lain melalui diri kita. Seperti halnya sesuatu yang fresh from the oven yang disenangi siapapun, hidup kita pun bisa menjadi berkat yang selalu baru dan menyegarkan bagi orang-orang yang bersinggungan dengan kita setiap hari. Ketika Tuhan memberkati kita dengan penuh kasih setiap pagi, kitapun harus pula menjadi berkat yang terus segar setiap harinya. Dan ketika kita menjadi berkat, Tuhan disenangkan. Ketika anda bangun hari ini, ada berkat Tuhan yang segar dan baru dicurahkan dari tahtaNya. Sudahkah anda bersyukur kepadaNya dan siapkah anda memakainya untuk menjadi berkat buat orang lain?

God's compassions are fresh from the oven, they are new every morning

Di Bawah Kaki

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 2:34-35
=============================
"Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu."

di bawah kakiMelihat poster-poster film yang ada di bioskop terkadang membuat saya miris sendiri. Berbagai bentuk hantu seperti kuntilanak, pocong, suster ngesot dan sebagainya menjadi primadona atau superstar yang digemari banyak orang. Banyaknya film bertemakan hantu ini menunjukkan minat besar dari penonton film terhadap genre horror di Indonesia. Padahal apa yang disajikan hanya itu-itu saja. Dan banyaklah orang yang hingga kini masih takut ke kamar mandi sendirian, takut berjalan dalam kegelapan, takut sendirian di rumah dan sebagainya. Takut apa? Takut setan. Mengapa harus takut? Bukankah Yesus sudah menghancurkan kewibawaan setan dan mengalahkan dengan gemilang lewat kebangkitanNya 2000 lebih tahun yang lalu? Itu kita tahu, itu kita percaya, untuk itu kita bersukacita. Tapi nyatanya, kenapa masih takut? "Ya takutlah... lihat saja film-film itu..sebagian besar pembuatan film-film tersebut malah menyisakan kisah-kisah menyeramkan yang katanya nyata terjadi.." kata seorang teman. Didatangi mahluk halus, kesurupan di lokasi syuting dan sebagainya. "Kalau memang Tuhan sudah mengalahkan, kenapa kok masih ada?" kata teman saya lagi.

Sesungguhnya Tuhan Yesus memang telah mengalahkan iblis. Iblis kehilangan semua kewibawaannya di bumi pada hari Yesus bangkit dari antara orang mati. Apa yang diperbuat iblis saat ini adalah memakai strategi tipu muslihat. Iblis tidak ingin kita percaya bahwa ia tidak lagi punya taji, karenanya segala tipu muslihat pun dibuatnya untuk mengelabui kita, agar kita mengira bahwa iblis masih punya kuasa besar di dunia ini. Dalam Efesus dikatakan "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis" (Efesus 6:11). Tipu muslihat iblis, itulah yang kita lawan menggunakan perlengkapan senjata Allah. Takut terhadap setan dan hantu yang sering muncul di film-film? Itu sebenarnya baru salah satu bentuk tipuan iblis. Kita takut melihat yang seram-seram, tapi seringkali tidak menyadari bentuk penipuan iblis dalam bentuk lain. Iblis bisa berkedok dalam hal yang justru terlihat menyenangkan, bikin bahagia, senang, enak dan glamor. Bisa jadi iblis bersembunyi di balik sesuatu yang awalnya terlihat menyenangkan, dan pada suatu ketika kita pun terikat, termakan tipu muslihatnya.

"Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu." (Kisah Para Rasul 2:34-35). Kita harus tahu betul, dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus, Mesiah, Sang Raja Penyelamat. (ay 36). Kuasa iblis tidak lagi ada, semua telah menjadi tumpuan kaki Yesus. Diinjak di bawah kakiNya. Sekali lagi, ini fakta yang membuat kita bersukacita. Tapi seringkali kita tidak sadar bahwa ada peran kita di dalam perihal injak-menginjak ini. Kita lupa bahwa kini kaki kitalah yang dipakai untuk menginjak-injak pekerjaan dan tipu muslihat iblis.

Dalam struktur tubuh Gereja, Yesus sendirilah yang merupakan Kepala. Kita adalah anggota-anggota tubuh yang tersusun rapi, diikat menjadi satu dan saling terhubung satu sama lain, terus bertumbuh ke dalam segala hal mengarah kepada Kristus sang Kepala. (Efesus 4:15-16). Yesus kepala, kita kaki dan tanganNya. Artinya kitalah yang meneruskan pekerjaan di dunia hari ini untuk menghentakkan kaki atas dosa, penyakit dan segala karya tipu-tipu iblis lainnya di dunia ini. Kitalah yang dipakai Tuhan untuk menjadikan musuh-musuh ini sebagai tumpuan kakiNya. Hal ini pun dikatakan Yesus. Mari kita lihat beberapa ayat berikut ini: "Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (Matius 28:18). dan, "Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk...Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Markus 16:15,17-18). Apa yang dikatakan Yesus kurang lebih demikian: "Pergilah dan jadilah kaki-tanganKu." atau demikian: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa baik di surga maupun di bumi. Karena itu ambillah dan pergunakanlah untuk menaruh iblis di bawah kakimu." Tapi kita tidak mendengarNya. Kita terus menanti dan bertanya-tanya kapan Tuhan bertindak mengatasi segala kekacauan di muka bumi ini. Dan kita pun terbiasa untuk terus menanti tanpa melakukan apapun.

Alkitab jelas berkata bahwa seorang dapat mengejar seribu orang, sedangkan dua orang dapat membuat lari bukan dua ribu, melainkan sepuluh ribu orang. (Ulangan 32:30). Inilah bentuk pelipatgandaan kuasa yang diberikan Tuhan dalam persekutuan anak-anakNya. Dan semua itu bukanlah karena kehebatan kita, melainkan berkat hadirnya Tuhan di tengah-tengah persekutuan kita. (Yosua 23:10). Dalam setiap perkumpulan kita, ada penambahan kekuatan yang luar biasa. Jika kita mau menyadari ini, kita akan tahu bagaimana kuatnya jika kita berkumpul dalam pemahaman siapa kita sebenarnya dan apa yang Tuhan canangkan bagi kita, bahwa kitalah kaki tangan Kristus yang akan meletakkan iblis di bawah kakiNya, menginjak-injak iblis dan menghancurkan tipuan-tipuannya.

Letak iblis ada di bawah kaki kita. (Roma 16:20). Dan dengan Kristus sebagai kepala, dengan sendirinya iblis pun berada di bawah kakiNya. Itulah sejatinya posisi kita saat ini. Oleh sebab itu alangkah ironisnya jika hari ini kita mengira bahwa iblis masih punya kuasa, yang mampu membuat kita gemetar dan takut kepadanya. Itu artinya kita belumlah mengerti apa yang telah dihasilkan Yesus lewat kebangkitanNya, dan apa yang telah Dia berikan kepada kita untuk menjadi anggota tubuhNya, menjadi kaki-tanganNya hari ini. Tuhan menantikan kita untuk membuang pikiran-pikiran kita yang salah dan mau mulai menapak unuk melakukan hal-hal yang ditugaskan Allah kepada kita. Sudah siapkah kita melakukannya?

Iblis letaknya ada di bawah kaki kita

Kuasa Yang Disempurnakan

Ayat bacaan: 2 Korintus 12:9
======================
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

kuasa yang disempurnakanJika hari ini hidup anda masih relatif jauh dari masalah dengan perjalanan hidup yang juga relatif stabil dan baik-baik saja, bersyukurlah. Karena saya sudah berjumpa dengan banyak orang yang mengalami begitu banyak pengalmaan pahit di masa lalu yang sedemikian rupa sudah merusak percaya diri mereka. Sedikit saja kena lagi, mereka bisa hancur berantakan. Bagaikan tumpukan balok rapuh, tersenggol sedikit saja sudah ambruk. Semua ini karena masalah yang telah menggerogoti hidup mereka sejak lama. Ada pula yang tengah dihantam masalah dari segala penjuru, bertubi-tubi sehingga mental mereka pun menjadi lemah dan remuk. Sungguh, semakin jauh saya melayani, saya semakin melihat bahwa ada begitu banyak masalah kompleks, rumit yang sepertinya tidak punya jalan keluar jika kita pandang dengan mata manusia. Ada begitu banyak orang yang butuh pertolongan. Jangankan pertolongan, untuk didengar saja sudah sulit bukan main bagi mereka. Tidak mudah untuk membantu mereka, karena seringkali kepahitan itu sudah membatu dan sulit untuk dihancurkan dalam waktu singkat.

Saya masih melanjutkan tulisan-tulisan kemarin mengenai betapa lemahnya manusia. Memandang ke atas, itu merupakan obat terbaik yang bisa melepaskan kita dari kepungan dari pengaruh negatif yang ada di sekeliling kita, termasuk luka-luka masa lalu dan sebagainya. Untuk melakukan ini pun tidaklah mudah, karena dalam banyak kasus kerak kepahitan itu sudah sangat keras menutupi hati. Hal ini bisa dialami siapa saja. Terkadang kita tidak lagi punya kekuatan untuk mengatasi masalah, sehingga tergoda untuk menyerah kalah. Pada saat seperti itu kekuatan manusia kita berakhir. Kita memang terbatas, dan kita telah berusaha sampai kepada batas tertinggi kemampuan kita. Tapi toh masalah tidak juga selesai.

Mari kita lihat sedikit kisah Paulus dan para rasul lainnya di awal pelayanan mereka. Tidak mudah dan penuh bahaya. Ancaman pembunuhan dan penyiksaan selalu mereka hadapi kemanapun mereka pergi. Pada suatu kali ketika tengah melayani di Listra, Paulus sempat hampir mati. Ketika itu orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium berhasil menghasut warga di Listra sehingga mereka pun melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota. "Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati." (Kisah Para Rasul 14:19). Dikatakan mereka menyeret tubuhnya setelah dihajar ramai-ramai. Meski tidak disebutkan dengan jelas, sepertinya Paulus sudah babak belur penuh luka. Pada saat itu kekuatan manusiawi Paulus sudah berakhir. Dia sama sekali tidak berdaya lagi, bahkan sampai dikira telah mati. Dia diseret dan dibuang, ditinggalkan di luar kota Listra. Habislah kekuatan manusia Paulus. Tapi apa yang kemudian terjadi? "Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe." (ay 20). Lihat, ketika kekuatan manusia selesai, mukjizat Tuhan datang. Tidak tahu apakah Paulus sudah mati atau belum pada waktu itu, tapi yang pasti Tuhan ternyata membangkitkan dan menyembuhkannya setelah para murid lain mengelilingi dan mendoakannya. Dengan kata lain, ketika Paulus tidak mempunyai cukup kekuatan manusiawi untuk mengatasi kesulitannya, kuasa Tuhan yang mengerjakan mukjizat ternyata cukup baginya. Kuasa Tuhan membuatnya menjadi pemenang walaupun dia sendiri adalah manusia sama seperti kita yang lemah. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia bisa langsung masuk ke dalam kota dan keesokan harinya ia sudah bisa melanjutkan perjalanan bersama Barnabas menuju Derbe.

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Tuhan mengingatkan Paulus untuk menyadari bahwa sesungguhnya kasih karunia Tuhan itu cukup adanya. Paulus dan kita memang lemah, tapi justru dalam kelemahan itulah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Pada saat kita lemah itulah sebenarnya kuasa Tuhan akan segera disempurnakan dalam diri kita. Kita terbatas, tapi Tuhan tidak. Jika kita mengakui bahwa kita ini manusia yang terbatas dan lemah, dan memutuskan untuk bergantung kepada Tuhan ketimbang mengandalkan kekuatan diri sendiri, maka Tuhan yang tidak terbatas itu akan bekerja hingga kuasaNya menjadi sempurna atas kita. Karena alasan itulah Paulus mampu berkata "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (ay 10).

Apakah hari ini anda tengah mengalami krisis? Apakah luka masa lalu terus menyiksa diri anda, merantai kaki anda sehingga tidak bisa melangkah maju? Apakah anda sakit dan obat-obatan sepertinya gagal untuk menyembuhkan anda? Apakah anda tengah terjepit dalam masalah keuangan? Apakah anda merasa gagal melihat keluarga anda berantakan? Apakah kebiasaan buruk anda telah mengikat anda begitu erat? Apakah anda merasa telah mengerahkan seluruh kemampuan tapi belum juga ada hasil yang dicapai? Jangan patah semangat, melainkan bersukacitalah, karena ketika kekuatan manusiawi berakhir, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna atas kita! Tuhan Yesus berkata, "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Ini berbicara mengenai iman yang teguh yang mampu percaya bahwa kemustahilan itu tidak terdapat dalam kamus Tuhan. Jika memang sulit untuk merubah pola pikir dan pandangan kita dengan kemampuan sendiri, ingatlah bahwa sosok Penolong telah dikaruniakan pula kepada kita. Ada kuasa Roh Kudus yang bisa memampukan kita mengubah pandangan, lepas dari belenggu luka masa lalu dan bisa mengalami pemulihan citra diri. Mungkin kita lemah dan tidak mampu, tapi Roh Kuduslah yang akan memampukan. Roh Kudus akan selalu melimpahkan kita dalam pengharapan sehingga tidak lekas menyerah. "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Roma 15:13). Dan ketika kita menerima kuasa Roh Kudus inilah kita akan mampu menjadi kesaksian bagi semua orang, tentang bagaimana kuasa Tuhan mampu menuntaskan hal yang paling mustahil sekalipun di mata manusia. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kata "kuasa" dalam versi bahasa Inggris dirinci menjadi "ability, efficiency and might". Kemampuan, efisiensi dan kekuatan. Semua ini sangatlah berguna bagi kita untuk lepas dari beban, dan itu telah disediakan oleh Roh Kudus. Karenanya, apapun masalah yang tengah menimpa anda hari ini, sejauh manapun citra diri anda telah rusak akibat goresan luka masa lalu dan pengalaman pahit, bangkitlah dan percayalah saja! Anugerah Tuhan sesungguhnya cukup bagi anda.

Begitu kekuatan manusia berakhir, kuasa Tuhan menjadi sempurna

Design by Blogger Templates