Prinsip Saling
Ayat bacaan: Kolose 3:14
================
"Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan."
Sesungguhnya ada begitu banyak cara yang bisa kita temukan di dalam Alkitab untuk memastikan agar hubungan keluarga tetap berlangsung hangat dan indah, penuh sukacita dan damai sejahtera.
Hari ini saya ingin membagikan 5 Prinsip Saling yang saya harap bisa membantu untuk membangun sebuah kesatuan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Mari kita lihat satu persatu.
1. Saling mengasihi
Kasih merupakan hal yang krusial, begitu krusialnya hingga dikatakan bahwa diantara tiga hal penting yaitu "...iman, pengharapan dan kasih, yang paling besar diantaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:13). The Bible says, the greatest of those is love. Lalu lihatlah apa yang dikatakan Paulus dalam surat Kolose 3:13-14. "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." Perhatikan bahwa kesabaran, rendah hati untuk mengampuni belumlah cukup, karena di atasnya haruslah ada kasih supaya bisa menjadi kuat. Kasih mampu menjadi tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan, the bond of perfectness which binds everything together, completely in ideal harmony. Jadi apabila anda mengatasi setiap permasalahan dalam hubungan keluarga dengan didasari kasih, anda bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Saling mengaku dosa dan mendoakanTumpukan rahasia antar pasangan dan ego yang menghalangi kita untuk mengakui kesalahan lalu meminta maaf seringkali menjadi pemicu retaknya sebuah keluarga. Firman Tuhan mengatakan "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa keharmonisan keluarga pun bisa terjaga apabila para anggotanya terbiasa untuk saling meminta maaf, dengan rendah hati mengakui kesalahan dan kemudian saling mendoakan. Sebuah mesbah keluarga yang rutin dijalankan setiap hari bisa menjadi tempat yang baik dipakai untuk hal ini.
3. Saling mengampuni
Ada kalanya kita sulit mengampuni. Adalah jauh lebih mudah untuk menghakimi ketimbang memaafkan, itu sudah merupakan sifat manusia pada umumnya. Kita bahkan merasa puas jika bisa menyiksa mental orang yang sudah terjatuh lebih lagi hanya demi kepuasan pribadi semata. No, that's not the way. Apa yang dikatakan Tuhan adalah agar kita bersedia atau terbuka untuk saling mengampuni. "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32). Tentu tidak seorangpun dari kita mau untuk tidak diampuni Tuhan bukan? Jika kita berani mengharapkan pengampunan dari Tuhan, mengapa kita harus berat untuk memberi pengampunan kepada orang lain, apalagi keluarga sendiri? Ingatlah bahwa sebagai manusia kita tidak sempurna dan tidak luput dari berbuat kesalahan. Once in a while people make mistake, we do too, jadi sangatlah penting bagi kita untuk bisa berbesar hati untuk saling mengampuni agar mampu menikmati hubungan keluarga yang bahagia.
4. Saling Menghargai dan Memuji
Satu hal lainnya yang seringkali bisa menghancurkan sebuah keluarga adalah kurangnya penghargaan antar anggotanya. Bayangkan ketika suami terus menerus merendahkan istrinya, melecehkan atau menyalahkan secara terang-terangan di depan anak-anak, sebaliknya istri yang terus merendahkan suaminya baik dari segi pekerjaan atau peran dalam rumah tangga. Orang tua yang begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata negatif kepada anaknya seperti bodoh atau kepada bentuk-bentuk fisik. Tidak terbiasa memuji ketika mereka berbuat benar tapi langsung marah ketika mereka melakukan kekeliruan. Ini bisa menjadi palu yang menghancurkan tembok-tembok keluarga yang tadinya sudah kita bangun dengan kokoh. Perhatikan ayat berikut: "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat." (Roma 12:10). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Love one another with brotherly affection [as members of one family], giving precedence and showing honor to one another." Pesan ini tentu berlaku luas, tetapi tentu sangat baik jika diberlakukan dalam keluarga.
5. Saling SupportJangan pernah mengharapkan keluarga yang harmonis apabila anggotanya berjalan sendiri-sendiri. Kalau sikap cuek atau tidak peduli saja sudah buruk, apalagi jika saling menjatuhkan satu sama lain. Ini tentu bukan cerminan keluarga yang baik. Firman Tuhan sudah mengingatkan kita untuk saling memperhatikan dan saling mendorong/men-support. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24a). Empati, kepedulian dan kerelaan untuk membagi waktu, materi atau apapun yang ada pada kita menjadi sangat penting dalam hal ini. Sebaliknya kebiasaan untuk tidak peduli, selalu merasa diri paling tahu/paling benar dan suka memaksakan kehendak menjadi hal yang sangat tidak produktif.
Ada begitu banyak prinsip saling lainnya yang mungkin bisa diangkat untuk membangun keluarga yang harmonis, tetapi kelima prinsip yang saya kemukakan di atas bisa menjadi awal yang baik untuk dijadikan dasar. Tidaklah mudah untuk menjaga kehidupan keluarga agar tetap penuh dengan sukacita. Itu memerlukan usaha yang serius dari kita dan jangan pernah lupa untuk meletakkannya dalam tangan dan rencana Tuhan. Satu hal yang pasti, Alkitab sudah menuliskan banyak kunci penting dalam menjaga keindahan rumah tangga. Saya pun masih terus belajar menyempurnakan lagi hubungan dalam keluarga kecil saya, dan berkaca dari pengalaman saya sendiri, kelima point di atas sangatlah besar manfaatnya. Semoga bisa menginspirasi teman-teman lainnya.
Sebuah hubungan yang harmonis dalam keluarga memerlukan usaha serius dan nyata dari para anggotanya
Posted at 08.00 | | 0 Comments
Pernikahan yang Kekurangan Anggur
Ayat bacaan: Yohanes 2:3
=================
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur."
Dengarlah: keluarga merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan. Lihatlah bagaimana Tuhan mengatakan kesedianNya untuk secara langsung menjadi saksi dalam pernikahan (Maleakhi 2:14-16), yang merupakan awal dari terbentuknya sebuah keluarga. Jika keluarga itu tidak penting, buat apa Tuhan repot-repot memateraikannya secara langsung? Bukti lain akan pentingnya keharmonisan keluarga di mata Tuhan bisa kita lihat pula dari fakta bahwa mukjizat yang menyertai pelayanan Kristus dalam kehadiranNya di muka bumi ini justru berawal dari sebuah pesta pernikahan yang kekurangan/kehabisan anggur.
Ayat bacaan hari ini saya ambil dari Injil Yohanes yang menceritakan sebuah kisah tentang kehadiran Yesus dalam pesta perkawinan di Kana. Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir disana, begitu pula ibu Yesus. Normalnya sebuah pesta, tentu persiapan untuk mampu memenuhi kebutuhan sesuai jumlah tamu seharusnya sudah dipersiapkan dari jauh hari. Tetapi yang terjadi adalah kedua mempelai justru kehabisan anggur. "Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." (Yohanes 2:3). Kita tentu sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya, Yesus mengubah air menjadi anggur, bukan sekedar anggur biasa tetapi anggur yang baik (ay 8). Kisah ini tidak lagi asing bagi kita dan bisa diaplikasikan dalam banyak hal. Tapi untuk hari ini, mari kita fokus kepada ayat bacaan kita. Sebuah pernikahan yang kekurangan, lalu kehabisan anggur. Ini merupakan sebuah gambaran yang cukup jelas mengenai sebuah pernikahan yang tidak lagi punya sukacita dan damai sejahtera. Pernikahan yang tidak lagi manis tetapi kering dan tawar, atau mungkin malah pahit.
Tuhan menganggap penting hal ini dan mengangkat tema kebersatuan dalam begitu banyak bagian Alkitab. Jika anda membaca Yohanes 7:9-11 anda akan menemukan bahwa Tuhan Yesus secara khusus berdoa bagi kita semua agar bisa menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa. Lantas dalam ayat 21-23 Yesus menekankan bahwa kebersatuan dalam keluarga bahkan bisa membawa kesaksian kepada dunia bahwa Yesus diutus langsung oleh Allah dan bahwa Allah mengasihi kita semua sama seperti Dia mengasihi Kristus. Selanjutnya dalam Mazmur kita juga bisa melihat bahwa kehidupan bersama dengan rukun mampu menurunkan berkat yang melimpah. "...Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. eperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133:1-3). Ini pun menunjukkan bagaimana pentingnya keharmonisan dalam keluarga di mata Tuhan.
Bagaimana apabila sebuah pernikahan atau keluarga sudah terlanjur kekurangan atau bahkan kehabisan anggur? Kembali kepada kisah pernikahan di Kana, kita bisa melihat bahwa tidak pernah ada kata terlambat. Yesus mampu memulihkan sebuah pernikahan yang sudah keburu hancur untuk kembali pulih atau malah jauh lebih manis dari sebelumnya. Itu bukanlah hal yang sulit bagiNya. Apa yang sulit adalah bagi kita untuk mempercayai janji Tuhan dan menuruti FirmanNya agar bisa mengalami pemulihan. Hari ini saya secara khusus berdoa buat teman-teman yang sedang mengalami masa-masa sulit dalam hubungan keluarga, baik antara suami-istri, orang tua-anak, antar saudara dan sebagainya. Percayalah, Yesus mampu memulihkan dan memberkati keluarga anda dengan limpahan anggur terbaik.
Keluarga harmonis itu penting di mata Tuhan, pastikan agar tidak kehabisan anggur!
Posted at 08.00 | | 0 Comments
Tetap Bersyukur dan Bersukacita Dalam Situasi Sulit
Ayat bacaan: Mazmur 52:11
======================
"Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!"
Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca bunyinya begini. "Rasa sakit itu sifatnya pasti, namun menderita itu adalah pilihan". Coba renungkan baik-baik perkataan ini. Kita memang tidak bisa menghindari berbagai rasa sakit untuk mendera kita pada saat-saat tertentu, apakah itu rasa sakit secara fisik atau psikis seperti sakit hati, kecewa, patah hati, sedih dan sebagainya. Tapi apakah kita menderita karenanya, itu dikatakan sebagai sebuah pilihan alias optional. Kedagingan kita memang membuat kita harus merasakan rasa sakit dan itu tidak bisa kita anggap tidak ada, tetapi kita bisa memilih apakah kita harus dikuasai rasa menderita atau tetap bersukacita, karena itu semua tergantung keputusan kita dalam menyikapinya.
Saya ingat seorang hamba Tuhan di gereja saya dan sekarang sudah kembali ke rumah Bapa. Di saat-saat terakhir masa hidupnya ia ternyata masih setia melayani di gereja. Meski kondisinya terlihat semakin menurun, wajahnya tetap menyiratkan sukacita dan tetap tersenyum dan memuji Tuhan kepada setiap orang yang menyalamnya. Apa yang ia hadapi pada waktu itu bukanlah penyakit ringan, melainkan penyakit serius yang akan membuat siapapun yang mengalami akan merasa kehilangan harapan, yaitu kanker. Penyakit yang ia derita membuatnya harus bolak balik ke Singapura pada waktu itu untuk menjalani kemoterapi. Dari hasil pemeriksaan terakhir, diketahui bahwa kankernya sudah meluas dan menyebar ke beberapa bagian tubuh. Itu sangat berat. Tapi lihat bagaimana beliau masih terus setia melayani dengan penuh sukacita. Wow, itu luar biasa! Dia terus bersaksi bahwa Tuhan itu baik. Ia berkata bahwa ia tetap percaya Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik kepadanya dan keluarga, dan Tuhan pun akan selalu menguatkan dirinya untuk tetap teguh dalam pelayanan. Ketika sebagian orang sudah menyerah, putus asa dan tidak lagi memiliki hasrat untuk melakukan apapun, ia tetap setia tampil di depan melakukan pekerjaan Tuhan. Ini sebuah sikap yang sungguh mengagumkan. Saya terharu dan merasa sangat diberkati lewat sikap beliau. Sakit atau tidak, ia tetap tampil seperti tanpa beban. Ia tetap bersukacita, ia tetap tersenyum, meski apa yang sedang ia derita sangatlah serius. Mengingat masa-masa akhir beliau membawa saya kembali kepada ayat-ayat dalam kitab Mazmur yang berasal dari keteguhan iman Daud. Daud tidak pernah berhenti untuk bersyukur dalam kondisi separah apapun.
Daud pada suatu kali mengatakan "Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!" (Mazmur 52:11). Dalam banyak kesempatan lain pun Daud berulang kali menyatakan ucapan syukurnya. Daud bukanlah orang yang hidup tanpa masalah. Justru sebaliknya ia berkali-kali mengalami situasi sulit bahkan yang mengancam nyawanya selama masa hidupnya sejak kecil hingga tua. Tentu tidak gampang untuk bisa mencapai tingkat seperti Daud, karena seringkali rasa sakit itu menyiksa, penderitaan terasa berat, beban masalah melemahkan diri maupun rohani kita. Itu akan kita alami sewaktu-waktu. Tetapi jangan biarkan kita menyerah dan menuruti segala kelemahan daging.
Bagaimana caranya? Paulus memberikan tips penting yaitu dengan mengarahkan fokus pandangan ke arah yang tepat. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18) Inilah kunci bagaimana Paulus dan rekan-rekannya tidak tawar hati meski mereka kerap mengalami penyiksaan dan penderitaan dalam menjalankan pelayanan mereka. Paulus dan teman-teman sepelayanannya tidak memfokuskan diri mereka kepada sesuatu yang kelihatan, hal-hal duniawi, namun mereka terus fokus mengarahkan pandangan kepada yang tidak kelihatan, kepada perkara-perkara Surgawi, segala sesuatu yang mengarah kepada kehidupan selanjutnya yang kekal. Paulus dan kawan-kawan tahu bahwa mengarahkan pandangan hanya kepada yang kelihatan hanyalah akan membuat mereka lemah dan kemudian menyerah. Namun mengarahkan pandangan kepada kehidupan yang kekal kelak bersama Kristus dimana tidak ada lagi yang namanya penderitaan dan tangisan, itu akan membuat mereka terus bersemangat dan tidak kehilangan harapan. Dalam suratnya untuk jemaat Kolose, ia mengulangi hal ini. "Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah." (Kolose 3:1). Dan dengan tegas ia berkata "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (ay 2). Ini sebuah kunci penting yang patut kita teladani dalam menjalani hidup. Dan itulah yang diamini pula oleh bapak penderita kanker di atas semasa hidupnya.
Kembali kepada kutipan di awal renungan ini, "Rasa sakit itu sifatnya pasti, namun menderita itu adalah pilihan", ingatlah bahwa meski rasa sakit itu pasti dan nyata, tetapi menderita atau tetap bersukacita tergantung dari keputusan kita. Apa yang dikatakan Paulus pun menjadi begitu relevan dan baik untuk kita cermati, bahwa tidaklah tepat untuk mengarahkan fokus kepada hal-hal di dunia yang hanya sementara sifatnya. Mengarahkan kepada kekekalan, dimana tidak lagi ada penderitaan dan ratap tangis, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah, itu jauh lebih penting. Dan untuk menuju kesana, kita harus tetap mengarahkan pandangan kita kepada apa yang kekal itu. Untuk itu, hendaklah kita senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, baik suka maupun duka, senang maupun susah, sehat maupun sakit. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Tidak ada yang mustahil bagi Allah, namun di atas itu semua, apapun yang menjadi rencanaNya tetap yang terbaik bagi kita. No matter what it may be. Allah itu setia, dan telah menyediakan segalanya sesuai janjiNya. Sementara hidup ini hanya sementara, kekekalan jelas lebih penting. Itulah yang menjadi pegangan iman dari sang bapak di atas untuk tetap terus bersukacita dan tidak henti-hentinya bersyukur mengatakan bahwa Tuhan itu baik meski ia waktu itu tengah berada dalam masa-masa tersulit dalam hidupnya. Ia terus mengatakan itu hingga akhir hayatnya. Mampukah kita berdiri tegar seperti dirinya dan keluar sebagai pemenang pada akhir perjalanan hidup kita? Mari kita teladani sikap beliau. Teruslah berjuang dengan pengharapan penuh dipenuhi ucapan syukur hingga akhir agar segala yang dijanjikan Tuhan tidak menguap sia-sia.
Dunia ini hanya sementara, tapi Surga itu kekal
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Posted at 08.00 | | 0 Comments
Belajar dari Jemaat Efesus
Ayat bacaan: Wahyu 2:2-4
========================
"Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."
Melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya merupakan pekerjaan mulia yang sebenarnya menjadi kewajiban kita sebagai orang percaya. Karena itu, adalah sangat baik apabila anda saat ini sudah masuk ke dalam pelayanan dalam bentuk apapun dan memuliakan Tuhan di dalamnya. Sayangnya, ada banyak yang kemudian malah menjadi terfokus pada kesibukan pelayanan dan tidak lagi punya waktu untuk mengenal pribadiNya secara lebih jauh. Atau ada pula yang melayani karena takut tidak selamat dan bukan karena mengasihi Tuhan. Maria dan Marta mungkin menjadi contoh yang paling baik dalam hal ini. Keduanya melakukan hal yang baik, tapi lihatlah bagaimana tanggapan Yesus terhadap keduanya. Ketika Marta dikatakan sibuk sekali melayani (Lukas 10:40), Maria justru memilih untuk diam di kaki Tuhan dan terus mendengar perkataanNya. (ay 39). Dan Yesus pun berkata demikian: "Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (ay 41-42). Adalah baik ketika kita melakukan pekerjaan Tuhan, tapi kita harus melakukannya atas dasar atau tujuan yang benar, dan diatas segalanya jangan lupakan pula pentingnya untuk berdiam di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataanNya.
Hari ini mari kita lihat contoh lain lewat kehidupan jemaat di Efesus. Kota Efesus terletak di Asia Kecil, yaitu kawasan di Asia Barat Daya yang letaknya saat ini kurang lebih di Turki bagian Asia. Kota Efesus merupakan kota tua yang dikenal punya peradaban tinggi selama berabad-abad dan merupakan kota perdagangan yang kaya. Di kota ini pula, seperti halnya daerah Asia Kecil lainnya penduduknya menyembah berhala. Mereka menyembah patung dewi Artemis yang dipercaya jatuh dari langit (Kisah Para Rasul 19:35). Disana kekuatan sihir berkembang pesat, sesuai pengakuan beberapa tukang sihir yang bertobat (ay 19). Keadaan ini membuat usaha pewartaan Injil di Efesus menjadi jauh lebih sulit. Paulus bahkan menggambarkan itu sebagai pelayanan yang banyak mencucurkan air mata, banyak percobaan dan usaha pembunuhan (20:19). Tetapi berkat tuntunan Roh Kudus, Alkitab mencatat pelayanan Paulus membuahkan hasil luar biasa. Selama 2 tahun Paulus mengajar dengan berani (19:8-10) mulai dari rumah ibadat hingga ruang kuliah Tiranus (19:8-10). Ia juga melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa (19:11). Semua ini membuat firman Tuhan terdengar oleh semua orang (ay 10) dan makin berkuasa (ay 20).
Jemaat di Efesus dikenal sebagai jemaat yang setia dan penuh semangat penginjilan. Mereka tidak terpengaruh pada lingkungan disekeliling mereka yang menyembah berhala. Meski mungkin sulit, mereka dikatakan selalu menjaga integritas mereka, mereka punya karunia mampu membedakan rasul palsu dari yang asli. "Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta." (Wahyu 2:2). Mereka rela menderita dan tidak kenal lelah. (ay 3). Semua ini diketahui benar oleh Tuhan. Luar biasa bukan? Tapi lihatlah ayat selanjutnya, Tuhan menegur mereka. Mengapa demikian? Firman Tuhan berkata: "Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula." (ay 4). Meski mereka giat dalam pelayanan, tetapi Tuhan menegur mereka karena mereka meninggalkan kasih mula-mula. Artinya mereka lebih memprioritaskan "pekerjaan Tuhan" daripada kerinduan untuk mengenal lebih jauh "pribadi Tuhan" dan mengasihiNya seperti semula.
Dari jemaat Efesus kita bisa belajar bahwa memang penting untuk melakukan pekerjaan Tuhan, namun lebih penting lagi bagi kita untuk menjaga keintiman dengan Tuhan secara konsisten. Kita harus tetap mengarahkan fokus pada kasih yang semula agar fokus tidak berpindah kepada "sekedar menjalankan tugas dan kewajiban" dan akibatnya kehilangan kasih yang semula, kasih yang meluap-luap ketika kita pertama kali menerima Kristus. Menjaga keintiman dengan Tuhan akan membuat kasih mula-mula tetap ada dalam diri kita. Tekun berdoa, tidak meninggalkan saat teduh, meluangkan waktu-waktu khusus untuk berdiam di hadiratNya, memanjatkan pujian/penyembahan dengan penuh rasa syukur dan suka cita, semua itu akan membuat roh kita tetap menyala dalam kasih mula-mula. Agar pelayanan kita berkenan bagi Tuhan, marilah kita tetap menjaga bahwa apapun yang kita kerjakan adalah semata-mata demi kemuliaanNya, karena kita begitu mengasihiNya, bukan karena sekedar sebuah tuntutan semata.
Tetapkan prioritas yang benar agar semua yang kita lakukan berkenan dihadapan Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Posted at 08.00 | | 0 Comments
Penundukan Diri
Ayat bacaan: Lukas 2:51
=======================
"Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya."
Ada banyak orang yang bermasalah dengan penguasaan diri. Belum apa-apa mereka sudah menunjukkan keengganan untuk setia dan taat kepada instansi dimana mereka bekerja atau kepada pimpinan. Mereka melanggar peraturan seenaknya, dan malah tersinggung atau marah ketika mendapat teguran. Harga diri disetel terlalu tinggi tapi disisi lain mereka berbuat sesuka hati. Kita sering bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti ini, mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya. Masalah penundukan diri, sikap kerendahan hati itu menjadi isu yang penting untuk kita perhatikan. Dan hari ini kita bisa belajar langsung dari keteladanan Yesus sendiri ketika masih kecil.
Pada suatu kali Yesus yang masih berusia 12 tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama kedua orang tuanya. Setelah perayaan usai, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa ternyata Yesus tidak berada bersama mereka, dan ketika itu mereka sudah ditengah perjalanan. Mereka pun segera berbalik kembali Yerusalem untuk mencari Yesus. Saya bisa membayangkan betapa cemasnya orang tua yang kehilangan anaknya di tempat ramai seperti itu. Dan perjalanan kembali untuk mencari itu pun makan waktu yang lama. Alkitab mencatat bahwa tiga hari kemudian barulah mereka berhasil menemukan Yesus yang ternyata ada di dalam Bait Allah. "Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka." (Lukas 2:46). Kecerdasan Yesus dalam menjawab para alim ulama itu sungguh mencengangkan mereka, termasuk pula Maria dan Yusuf. Seperti orang tua pada umumnya, saat itu Maria dan Yusuf pasti diliputi perasaan campur aduk, antara lega dan marah. Maka mereka pun menegur Yesus karena menghilang diam-diam seperti itu. Dan lihatlah, meski dalam Alkitab tercatat bahwa Yesus sempat mengatakan bahwa memang disanalah Dia harus berada, yaitu di dalam rumah Bapa (ay 49), tetapi Yesus mengambil keputusan untuk taat dan tunduk kepada orang tuanya di dunia ini. Ayat selanjutnya menggambarkan hal tersebut. "Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya." (ay 51). Yesus memutuskan untuk taat mengikuti permintaan keuda orang tuaNya. Ia pulang ke Nazaret mengikuti mereka dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Yesus tahu benar bahwa penundukan diri adalah hal yang pertama sekali harus dilakukan sebelum menerima sebuah otoritas.
Hidup dengan penundukan diri seringkali merupakan hal yang tersulit untuk kita lakukan. Kita akan berhadapan dengan ego kita, kebanggaan diri atau bagi sebagian orang dianggap bisa merendahkan harga diri mereka. Dengan sikap seperti ini, bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau hubungan sosial dalam masyarakat, tetapi kita pun melanggar firman Tuhan yang ternyata banyak berbicara mengenai soal penundukan diri ini. Kita bisa melihat sebuah Firman Tuhan yang turun atas diri sang Penulis Ibrani berbunyi demikian: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Lihatlah bahwa mentaati pemimpin dan tunduk atas otoritas mereka merupakan sesuatu yang sangat penting di mata Tuhan. Jika tidak dilakukan maka firman Tuhan berkata kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Dan itupun harus dilakukan dengan sukarela dan gembira dan bukan atas keterpaksaan. Pemimpin disini menyangkut pemimpin baik di rumah, kantor, kota, negara maupun gereja. Titus 3:1 mengingatkan hal yang sama. "Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik." Ayat yang serupa bisa kita lihat pula melalui Paulus dalam Kolose 3:22 dan Efesus 6:5 yang menyebutkan bahwa kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus. Petrus berkata: "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik." (1 Petrus 2:13-14). Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi kepada yang berlaku kejam sekalipun. "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis." (1 Petrus 2:18).
Selain kepada atasan, penundukan diri juga menyangkut bentuk-bentuk hubungan lainnya. Anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya (Efesus 6:1, Kolose 3:20), istri tunduk kepada suami (Kolose 3:18, Efesus 5:22, 1 Petrus 3:1), anak muda tunduk kepada yang lebih tua (1 Petrus 5:5) dan tentu saja di atas segalanya kita harus menundukkan diri kepada Kristus. Firman Tuhan berkata: "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain
dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang
ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13). Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan. Kita harus mampu meredam ego agar kita bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Untuk itu jelas diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita. Apakah hari ini diantara teman-teman ada yang sedang bermasalah dengan sikap penundukan diri ini, baik dengan anggota keluarga, orang tua, dalam pekerjaan, sekolah atau pelayanan? Jika ya berdoalah dan berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga anda bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas anda. Yesus sendiri sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi. Percayalah bahwa kasih karunia Allah akan memberikan kekuatan bagi anda untuk dapat melakukannya dan mengalahkan ego dalam kehidupan anda.
"..Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5)
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Posted at 08.00 | | 0 Comments
Bahaya Dosa
Ayat bacaan: Wahyu 9:21
====================
"Dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian"
Suatu kali seorang pendeta di gereja saya menyampaikan kotbah akan bahaya bermain-main dengan dosa meski seringkali dosa itu dikemas dengan sebuah kesenangan atau kenikmatan yang rasanya berat untuk dilewatkan. Ditengah kotbah saya mendengar komentar dari seseorang yang duduk dibelakang saya, kira-kira bunyinya begini: "Kalaupun hanya sementara memangnya kenapa? Toh setidaknya saya sempat merasakan kenikmatan itu." Bentuk pemikiran seperti itu ironisnya dialami oleh banyak orang. Betapa beratnya putus dari dosa. Kalau bukan karena pemikiran pendek seperti orang yang duduk dibelakang saya itu, alasannya karena sulit bagi mereka untuk bisa benar-benar lepas dari sesuatu yang sudah terasa nikmat sekian lama. Mereka ini akan terus berkubang dalam lumpur dosa dan sulit mengindahkan nasihat agar cepat berbalik sebelum semuanya menjadi terlambat. Sudah terang-terangan kena konsekuensinya pun mereka masih saja terus melanjutkan tindakan mereka yang salah. Bukankah kita kerap bertemu dengan tipikal orang-orang seperti ini? Jika sekarang ada banyak orang yang terlena dalam dosa dan sulit untuk putus dari dosa, sebenarnya itu bukan lagi hal baru karena hal yang sama sudah terjadi sejak dahulu kala. Begitu berbahayanya hal ini sehingga dalam kitab terakhir yaitu Wahyu yang berisi nubuatan tentang akhir zaman pun pola pikir atau sikap yang sama masih saja ada.
Dalam kitab Wahyu pasal 9 kita bisa melihat contohnya. Dikatakan disana, bahkan setelah sangkakala ke enam ditiup dan penghukuman berlanjut, masih saja ada manusia yang belum kapok dan tidak kunjung berhenti dari perbuatan-perbuatan dosanya.
" Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan, dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian." (Wahyu 9:20-21).
Lihatlah bahwa hingga di saat-saat terakhir sekalipun masih saja ada orang yang tidak jera dan tidak bisa sadar, meski malapetaka sudah hadir tepat di depan mereka. Fakta berbicara, dalam hidup kita hari ini ada begitu banyak orang yang mengambil keputusan sama seperti mereka. Meski berbagai hukuman berat sudah nyata di depan mereka dan sudah banyak pula yang berakhir sia-sia dalam penjara, meski berbagai bencana seharusnya membuka mata mereka, masih saja ada banyak orang yang tega melakukan kecurangan, mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Korupsi, mencuri dan sebagainya masih dengan sadar mereka lakukan tanpa peduli orang lain menderita atau melarat. Begitu pula dengan dosa-dosa lainnya seperti pornografi, memasukkan benda-benda asing yang berbahaya ke dalam tubuh hingga mengakhiri nyawa orang lain tanpa ragu. Betapa keras sudah hati mereka sehingga apapun tidak lagi bisa membuat mereka bertobat. Mereka tidak lagi mendengar hati nurani mereka, atau mungkin hati nuraninya pun sudah berhenti berbicara. Bisa dibayangkan apa jadinya orang-orang seperti ini kelak. Di dunia mereka bisa berkelit, tetapi di tahta penghakiman Allah tidak satupun yang luput dari setiap kejahatan atau penyimpangan yang dilakukannya.
Bentuk ketidakpedulian yang tega berbuat jahat demi keuntungan diri sendiri ini sudah diingatkan sejak dahulu dalam Alkitab. "sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13) Orang yang terbiasa berbuat jahat akan membuat orang semakin dingin dan tidak lagi bisa mendengar teguran Tuhan. Tuhan Yesus sejak jauh hari sudah mengingatkan akan hal ini. "Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." (Matius 24:12).
Sangatlah besar resikonya apabila kita terus membiarkan dosa terus menumpuk hingga membuat kita tidak lagi peka atau menjadi tuli terhadap teguran Tuhan. Jika kita terbiasa atau membiasakan diri untuk terus melakukan dosa, pada suatu saat hati kita bisa menjadi dingin, mengeras membatu dan ketika itulah kita tidak lagi memiliki kontrol atas diri kita. Kita tidak lagi bisa membedakan yang salah dan benar, baik dan buruk, dan ketika itu terjadi maka dosa pun memiliki kuasa penuh atas hidup kita. Itu jelas hal yang sangat serius. Hati tidak lagi peka, bahkan berbagai kesaksian yang jelas-jelas menyatakan kuasa Kristus pun tidak lagi bisa membuka mata orang-orang seperti ini. "Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya." (Yohanes 30:36). Berhati-hatilah, karena firman Tuhan dengan tegas berkata "Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 29:1).
Bersyukurlah jika ini kita masih punya kepekaan untuk menyadari jalan-jalan yang salah. Langkah selanjutnya adalah memastikan agar kita jangan terus keraskan hati. Jangan terus menunda, ambillah keputusan sekarang juga untuk bertobat, mumpung kesempatan masih ada. Firman Tuhan berkata: "..Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.." (Ibrani 3:7-8). Lewat perantaraan nabiNya Tuhan juga bersabda: "Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya." (Yeremia 25:5). Ambil keputusan untuk putus total dari dosa dan jangan beri toleransi lagi sekecil apapun. Konsekuensinya bukan main-main. Bagi yang bertobat akan diberikan hak sebagai ahli waris Tuhan, namun yang terus menolak akan dibuang selamanya dari tanah yang diberikan Tuhan. Sesungguhnya ini merupakan hal serius karena apa yang dikatakan Tuhan bukan hanya sekedar berbicara mengenai hilangnya berkat akibat dosa, tapi juga berbicara mengenai hilangnya keselamatan dan kasih karunia Tuhan bagi kita.
Kedatangan Yesus ke dunia adalah karena ada dosa kita. Tuhan merasa perlu untuk menganugerahkan apa yang sesungguhnya tidak layak kita terima, yaitu keselamatan. Tuhan Yesus sudah membereskan itu semua. Bersyukurlah untuk itu, jangan sampai penebusan Kristus menjadi sia-sia karena kita terus menerus membiarkan dosa berkuasa dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa berjalan bersama Kristus dan menerima janji-janjinya jika sementara pada saat yang sama masih terus hidup di dalam dosa.
Say no to sin in whatever condition
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyhrho
Posted at 08.00 | | 0 Comments
Salomo dan Hikmat
Ayat bacaan: Amsal 3:16
===================
"Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan."
Life is full of choices. Hidup penuh dengan pilihan. Ini bukan cuma sekedar kata bijak karena rasanya kita semua tidak asing lagi dengan berbagai pilihan dan pengambilan keputusan setiap hari dalam hidup kita. Apakah besok pagi anda ingin meneruskan tidur sepuasnya atau segera bangun untuk memulai aktivitas anda, apakah mau berdoa dan bersaat teduh terlebih dahulu atau langsung bersiap pergi kerja. Mau jujur atau curang dalam ujian atau bekerja, mau pakai baju yang kiri atau kanan, mau mengambil jalan yang terdekat tapi macet atau memutar sedikit dengan pertimbangan lebih lancar dan lain-lain, itu semua contoh hal ringan yang kita hadapi setiap harinya. Meski ringan, semua itu menunggu kita dalam mengambil keputusan, dan keputusan yang kita ambil akan membawa dampak tersendiri dalam setiap pilihan itu. Ada banyak pula pilihan-pilihan yang lebih serius seperti mau mengambil jurusan apa setelah tamat SMA, mau berkarir di mana atau di bidang apa, atau malah mau memilih untuk taat atau membangkang karena lebih tertarik dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia dan orang-orang sesat di dalamnya. Sebagian di antara pilihan-pilihan itu bisa membawa dampak serius, apakah kita memilih madu yang manis dan menyehatkan atau racun yang pahit dan mematikan.
Seperti yang saya janjikan kemarin, hari ini mari kita lihat ketika Salomo dihadapkan kepada sebuah kesempatan dari Tuhan langsung untuk menetapkan pilihan. Jika seandainya anda diberi satu kesempatan untuk meminta sesuatu yang pasti akan dikabulkan saat ini juga, apa yang menjadi pilihan anda? Ini pertanyaan yang sangat sederhana namun akan sangat sulit untuk dijawab. Anda tentu akan bingung dalam mengambil satu pilihan dari sekian ribu pilihan yang akan muncul dengan mudah dalam benak anda. Jika memilih panjang umur, bagaimana jika sepanjang umur itu hidup miskin dan penuh masalah? Jika memilih kekayaan, bagaimana jika hidup bakalan singkat? Ini dua pilihan yang rasanya termasuk yang bakal paling banyak dipilih orang. Bagaimana jika kita memilih sesuatu yang salah, padahal kesempatan memilih cuma diberikan satu kali saja?
Salomo mendapatkan kesempatan seperti itu dari Tuhan. Semua berawal dari cara hidup Salomo yang seperti ayahnya Daud, cara hidup yang menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan taat kepada ketetapan-ketetapan sang ayah. Itu adalah sebuah pola hidup yang terbukti berkenan di hadapan Tuhan. Pada suatu malam di Gibeon, Salomo diberikan sebuah kesempatan emas untuk meminta sesuatu dari Tuhan. "Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." (1 Raja-Raja 3:5). Ini jelas merupakan sebuah hadiah yang begitu besar dari Tuhan. Jika itu terjadi pada diri anda, apa yang akan anda minta? Salomo ternyata mengambil keputusan yang mengejutkan bagi kebanyakan orang, sesuatu yang mungkin tidak lazim dipilih ketika berhadapan dengan satu kesempatan seumur hidup untuk mendapatkan sebuah permintaan yang bisa langsung dikabulkan. Berhadapan dengan kesempatan seperti ini, Salomo ternyata tidak meminta kekayaan atau panjang umur. Ia tidak minta berkat materi dan tidak meminta hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan dirinya sendiri. Apa yang ia minta ternyata adalah HIKMAT. Kita mungkin berpikir, lho, bisa minta kekayaan, kemakmuran, ketenaran atau umur panjang, masa yang diminta hikmat? Untuk apa? Jawabannya bisa kita lihat lewat perkataan Salomo langsung. "Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (ay 7-9). Salomo tidak meminta untuk kepentingan dirinya, tapi apa yang ia minta adalah sesuatu yang berhubungan dengan apa yang digariskan Tuhan untuk ia kerjakan. Salomo meminta hikmat, meminta kebijaksanaan memenuhi dirinya ternyata bertujuan agar ia mampu membedakan mana yang baik dan jahat, benar dan salah, supaya ia mampu menimbang perkara dan memutuskan dengan benar. Ternyata itu adalah sebuah pilihan yang berkenan dan dikatakan baik di mata Tuhan. (ay 10). Tuhan pun memberikannya. Ia tumbuh menjadi seseorang yang begitu hebat dari segi hikmat, tak tertandingi oleh siapapun. "Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir." (1 Raja Raja 4:29-30). Tapi perhatikan fakta berikut. Ternyata pemberian Tuhan tidak berhenti sampai disitu saja. Pilihan yang diambil Salomo ternyata membawa berkat-berkat lain pula ke dalam hidupnya. Firman Tuhan berkata demikian: "Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja. Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu." (ay 13-14). Wah, bukankah itu luar biasa? Bukan saja hikmat, tapi juga kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang. Semua itu menjadi bagian Salomo. Maka kita tahu hari ini bahwa selain raja hikmat, Salomo adalah salah satu tokoh terkaya dalam alkitab, dan mungkin tidak akan pernah bisa tersaingi oleh orang terkaya dunia manapun sampai dunia ini berakhir. Kemahsyuran namanya pun melegenda, hingga hari ini kita mengenal namanya. Alkitab mencatat seperti ini: "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat." (1 Raja Raja 10:23). Sebuah pilihan yang luar biasa ketika ia bisa menekan egonya dan lebih memilih untuk kepentingan orang lain agar bisa mendapatkan pertimbangan/keputusan yang adil sesuai hikmat dari Tuhan. Dan itulah hasilnya, Salomo diberkati luar biasa dalam segala hal.
Di kemudian hari ketika Salomo menulis Amsal, ia kembali menyinggung hal mengenai hikmat ini berdasarkan pengalamannya sendiri. Demikian Salomo menulis: "Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas." (Amsal 3:13-14). Tidak saja melebihi emas dan perak, tapi juga lebih berharga dari permata, begitu berharganya seingga tidak ada sesuatu hal lain yang mampu menandingi nilai sebuah hikmat ini. (ay 15). Dan seperti apa yang dikatakan Tuhan, juga sesuai dengan kesaksiannya sendiri, Salomo pun mengatakan kembali apa yang difirmankan Tuhan. "Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan." (ay 16). Pilihan yang tidak terpusat pada kepentingan sendiri, itulah ternyata yang berkenan di mata Tuhan.
Jika kita mundur melihat satu generasi sebelumnya, ternyata ayah Salomo, Daud, sudah mengetahui pentingnya hikmat ini dalam hidup. Dan bukan itu saja,ia malah sudah menuliskan dari mana hikmat itu bermula. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya." (Mazmur 111:10). Dan hal ini diulangi kembali oleh Salomo dengan mengatakan "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Dengan hikmat yang berawal dari takut akan Tuhan, kita akan mendapat pengertian, kita akan menjadi bijaksana dan bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tidak peduli apapun bentuk kemasan awalnya. Samar atau kasat mata, kita akan bisa membedakan keduanya jika kita memiliki hikmat. Betapa pentingnya hikmat ini agar kita tidak salah jalan, terperangkap, tersandung dan jatuh. Itulah sebabnya mengapa hikmat ini jauh lebih bernilai ketimbang emas, perak, permata atau keinginan/kekayaan lainnya yang pernah kita impikan. Jika demikian, seandainya pilihan itu jatuh kepada anda, jangan sampai salah menentukan pilihan. Lupakan segala kenikmatan-kenikmatan daging karena semua itu bukanlah yang terutama, melainkan pilihlah sebuah pilihan yang berkenan bagi Kerajaan Sorga. Siapkah kita memilih yang terbaik? Jika siap, jangan salah pilih. Hikmat, itulah pilihan yang tepat.
Hikmat merupakan pilihan bijaksana yang bernilai tinggi di mata Tuhan. Karenanya berbahagialah orang yang mendapat hikmat
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Posted at 22.00 | | 0 Comments









