Insomnia
Ayat bacaan: Mazmur 4:9
=====================
"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman."
Semua orang pasti menginginkan tidur nyenyak yang berkualitas dan sehat pada malam hari. Tidur dibutuhkan agar tubuh kita dapat berfungsi dengan baik dan maksimal, baik secara fisik maupun mental. Tidur bisa membuat kita menjadi lebih sehat, tidak mudah sakit dan lebih produktif, konsentrasi terjaga, ingatan kuat bahkan bisa mempengaruhi tingkat emosi kita. Coba perhatikan ketika kita kurang tidur, selain tubuh lemas, biasanya emosi kita juga mudah meningkat. Ketika tidur, ada proses regenerasi dan perbaikan sel-sel dalam tubuh yang katanya dilakukan oleh hormon-hormon yang diproduksi tubuh. Ini proses yang terjadi ketika kita tidur. Selain itu anggota-anggota tubuh pun mendapatkan waktu untuk istirahat. Begitu pentingnya tidur bagi semua orang, namun tidak sedikit pula dari kita yang mengalami kesulitan tidur dengan berbagai sebab. Sulit tidur yang biasanya disebut juga dengan insomnia. Penyebab insomnia bisa beragam, seperti halnya pengamatan saya dari beberapa teman yang mengalami kesulitan tidur ini. Ada yang diakibatkan faktor pikiran. Rasa takut, khawatir, kegagalan-kegagalan, memikirkan pekerjaan dan sebagainya bisa mempengaruhi pikiran dan psikis kita. Depresi muncul akibat banyaknya tekanan bertubi-tubi sehingga membuat kita sulit tidur. Ada pula yang terlalu sibuk bekerja sehingga lama-lama menjadi sulit untuk tidur. Selain itu bisa juga akibat faktor lingkungan yang tidak mendukung, atau akibat gaya hidup yang buruk. Ada seorang teman yang menjadi insomnia akibat merasa kesepian. Begitu banyak faktor yang menyebabkan manusia sulit tidur. Tidur saja sulit, apalagi mendapatkan tidur yang berkualitas. "Wah jauh deh.... bisa tidur 2-3 jam saja sudah syukur.." kata seorang teman pada suatu kali. Semoga anda tidak mengalami insomnia seperti ini, karena insomnia sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kestabilan fisik dan mental kita. Tapi jika di antara teman-teman ada yang mengalaminya, mari kita lihat apa kata Alkitab mengenai hal ini.
Perjalanan hidup Daud bukannya tanpa masalah. Kita tahu berapa kali Daud mendapatkan ancaman dan masalah. Ia manusia juga sama seperti kita yang bisa dicekam rasa takut pada saat-saat tertentu. Tapi lihatlah apa kata Daud pada ayat bacaan hari ini. "Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman." (Mazmur 4:9). Daud mampu tidur dengan tentram dalam damai. Bagaimana rahasianya? Karena Daud tahu pasti ada Tuhan yang menjaga dirinya, memastikan bahwa hidupnya ada dalam keadaan aman. Pada ayat sebelumnya kita juga membaca bahwa Daud merasakan sukacita yang diberikan Tuhan kepadanya (ay 8), ada sinar cahaya wajah Tuhan menyinarinya (ay 7), perlunya mempersembahkan korban yang benar dan percaya (yakin) sepenuhnya pada Tuhan, yang mampu melepaskan kita dari jerat masalah seberat apapun (ay 6), tidak membawa emosi atau kemarahan berlarut-larut ke tempat tidur (ay 5). Daud juga menyadari bahwa Tuhan selalu mendengarkan orang yang berseru padaNya (ay 4) dan selalu siap memberikan kelegaan dalam kesesakan. (ay 2). Singkatnya, Daud menyadari dengan sepenuhnya bahwa Tuhan penuh kasih setia menyertai anak-anakNya dan punya kuasa jauh lebih besar dari masalah terbesar sekalipun. Jika demikian, ia tidak perlu merasa sulit tidur. Daud pun bisa tidur nyenyak dengan tentram. Daud pun berkata: "Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mazmur 3:6).
Dimanapun, kapanpun, kita bisa berhadapan dengan masalah. Namun ingatlah bahwa Tuhan punya kuasa yang jauh melebihi apapun itu. Yesus sendiri berkata "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Ada jaminan dari Tuhan untuk terus menopang kita. Masalah boleh hadir, namun janganlah masalah itu membebani pikiran kita secara berlebihan sehingga membuat kita sulit tidur dan akhirnya kehilangan pengharapan.. Bagaimanapun juga tidur sehat berkualitas itu sangat kita butuhkan. Jika di antara teman-teman ada yang mengalami timbunan masalah, beban pikiran, gangguan secara psikologis dan sebagainya, ingatlah ada Tuhan Yesus yang selalu siap memberi kelegaan dan mampu menjaga anda. Malam ini datanglah padaNya dan rasakan jamahan Tuhan memberi anda kelegaan, lepas dari beban pikiran dan lain-lain yang membuat anda sulit beristirahat. Sleep tight, sweet dream.
Tidurlah dengan nyenyak dalam damai, sebab Tuhan menopang dan memberi kelegaan
Posted at 08:00 | | 0 Comments
Setia Hingga Akhir
Ayat bacaan: 2 Korintus 4:18
=======================
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal."
Setelah membaca kisah Henokh kemarin, mungkin ada sebagian dari kita yang berpikir bahwa tantangan hidup di masa Henokh dan masa kini sudah jauh berbeda. Pada jaman Henokh hiburan belumlah sebanyak sekarang, teknologi belum secanggih saat ini, fasilitas-fasilitas dan kebutuhan belum sekompleks jaman sekarang. Tantangan hidup saat ini mungkin lebih berat, mungkin juga tidak. Saya tidak tahu, seperti apa hidup di masa Henokh. Mungkin setiap jaman memiliki kesukarannya sendiri, tantangan sendiri dan permasalahannya sendiri. Yang pasti, siapapun manusia, di masa manapun, berbagai kesulitan hidup akan terus hadir. Menjalani hidup sulit bukanlah alasan untuk meninggalkan kesetiaan kita kepada Tuhan. Saya yakin jika Henokh bisa, kita pun bisa. Jika Henokh mampu melepaskan kedagingannya, kita pun pasti bisa. Karena Henokh dan kita adalah sama-sama manusia juga.
Berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan dunia yang begitu penuh gejolak ini mampu meruntuhkan kepercayaan kita dan membuat kita kehilangan pengharapan. Banyak orang yang akhirnya berubah meninggalkan Tuhan akibat tekanan bertubi-tubi yang tidak lagi mampu ia hadapi. Penderitaan hidup, kemiskinan, terlilit hutang, penyakit yang tidak sembuh-sembuh, kepahitan, kemarahan, sakit hati, jodoh dan sebagainya. Di sisi lain, limpahan harta kekayaan, jabatan, popularitas, sibuk menimbun uang dan sejenisnya, juga mampu membuat manusia kehilangan arah. Menyimpang ke kanan atau ke kiri, tidak lagi lurus melangkah di jalan Tuhan. Belum lagi berbagai penyesatan dari media hiburan, pola hidup modern yang menyimpang dan sebagainya. Ada 1001 macam kejadian yang bisa membuat kita meninggalkan Tuhan jika tidak hati-hati.
Menjaga diri agar tetap setia sampai akhir dengan tetap memelihara iman akan membawa kita untuk menerima mahkota kebenaran atas karunia Tuhan. Paulus mengatakan hal itu dalam 2 Timotius 4:7-8. Kita juga telah membaca kemarin bahwa Tuhan mau kita semua bisa menjadi orang-orang yang bergaul karib denganNya. Dengan bergaul karib bersama Tuhan kita akan melihat kekudusan Tuhan dinyatakan atas kita, kemuliaanNya bisa kita saksikan (Imamat 10:3) dan perjanjianNya pun akan kita ketahui dan terima. (Mazmur 25:14). Meski sulit, namun bukan tidak mungkin. Caranya dijelaskan oleh Paulus dalam suratnya pada jemaat Korintus. Paulus menyatakan dengan jelas bahwa ia bukannya hidup nyaman dalam pelayanannya. Ia pernah memaparkan segala yang ia alami dalam pelayanan. "..Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian " (2 Korintus 11:23-27). Ini luar biasa beratnya! Namun menarik jika melihat bagaimana Paulus memandang itu semua. Paulus ternyata menganggap itu semua sebagai penderitaan ringan! "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17). Ia menganggapnya ringan, karena apa yang ia alami di dunia ini jika mampu ia jalani dengan benar akan membawanya untuk memperoleh kemuliaan kekal, yang jelas jauh lebih berarti dibanding segala penderitaan yang saat itu ia alami. Inilah sebuah kunci yang mampu membuat kita untuk tetap fokus dan tidak kehilangan pengharapan dalam masa-masa sulit. Mari kita lihat lanjutannya. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (ay 18). Memperhatikan yang kelihatan, hal-hal duniawi, segala kesulitan dalam kehidupan di dunia bisa membuat kita menjadi lemah dan kemudian menyerah. Tapi yang tidak kelihatan, mengarahkan pandangan kepada sebuah kehidupan bersama Bapa di Surga kelak, itulah yang kekal. Dan itu semua bergantung dari bagaimana kita bersikap selama masa hidup kita di dunia ini.
Salomo jauh-jauh hari pernah mengingatkan demikian. "Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (Amsal 4:26-27). Berhati-hatilah pada jalan yang disangka lurus, namun ternyata berujung maut. (14:12). Hal-hal seperti ini harus kita cermati secara serius. Dalam keadaan apapun, bagaimanapun, kita harus mampu untuk terus setia pada Tuhan dalam perjalanan kehidupan kita agar kita mampu beroleh mahkota kehidupan kelak di akhir perjalanan hidup kita di dunia ini. Alangkah ironisnya jika kita sudah memulai dengan baik, namun di tengah perjalanan kita ternyata menyimpang ke kanan dan kekiri, keluar dari jalur yang menuju sebuah kehidupan kekal penuh kemenangan. Oleh karena itu janganlah putus pengharapan. Tetap arahkan fokus pandangan kita kepada Yesus Kristus dan peganglah janji-janjiNya. Percayalah, Tuhan kita adalah Allah yang selalu setia. "Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." (Ibrani 10:23).
Jagalah langkah kita agar tetap pada jalur yang lurus hingga akhir
Posted at 08:00 | | 0 Comments
Bergaul Karib
Ayat bacaan: Imamat 10:3
========================
"..Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku..."
Apa yang paling kita harapkan dari seorang sahabat karib? Sahabat karib adalah seorang sahabat yang paling dekat dengan kita. Seringkali kedekatan kita dengannya melebihi kedekatan kita dengan saudara kandung kita sendiri. Kepada sahabat karib-lah biasanya orang akan mengadu, mencurahkan isi hati, berkeluh kesah dan bercerita bahkan mungkin mengenai hal-hal yang sifatnya pribadi sekalipun. Mereka biasanya sangat mengenal kita termasuk kelemahan-kelemahan yang mungkin ada dalam diri kita. Terhadap seorang sahabat karib biasanya kita tidak lagi tertutup karena biasanya sahabat karib bisa kita percaya dengan sepenuh hati. Apa yang bakal dirasakan jika seorang sahabat karib menghianati kita? Mungkin akan muncul rasa kecewa, rasa sakit yang melebihi sakit akibat dikecewakan orang tidak dekat dengan kita, atau mungkin juga rasa muak. Hal seperti ini timbul karena seharusnya seorang sahabat karib adalah tempat dimana kita bisa berteduh dalam duka, dan akan menjadi orang pertama yang ikut bahagia ketika kita berada dalam suka. Kepercayaan, pengertian, itu tentu menjadi sebuah harapan besar dari seorang sahabat karib.
Tuhan sejak semula merindukan manusia bisa menjadi sahabat karibnya. Sayangnya manusia jatuh dalam dosa sejak awal pula. Namun demikian, Tuhan tidak henti-hentinya menunggu kerelaan dari manusia, yang begitu Dia kasihi, untuk datang kepadaNya dan bergaul akrab denganNya. Dalam Alkitab kita mengenal tokoh bernama Henokh. Disebutkan bahwa Henokh berusia 65 tahun ketika mendapatkan seorang anak laki-laki bernama Metusalah. (Kejadian 5:21). Ayat selanjutnya tertulis sebagai berikut: "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi.." (ay 22a). Perhatikan bahwa Henokh dikatakan hidup bergaul dengan Allah selama 300 tahun lagi. Betapa luar biasanya sebuah hubungan kekerabatan yang akrab atau karib yang tidak lekang di makan waktu. Kita bisa melihat dari ayat ini bagaimana seorang Henokh mampu menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta, hidup selaras dengan kehendak Tuhan sebegitu lama. Kesetiaannya teruji dalam rentang waktu yang begitu panjang. Saya yakin pada masa itu Henokh bukannya tidak mendapat cobaan dari berbagai keinginan duniawi yang bisa menariknya menjauh dari Allah, namun Henokh tidaklah terpengaruh dengan itu. Fakta Alkitab menyebutkan bahwa Henokh tetap bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun. Pada akhirnya kita tahu apa yang terjadi pada Henokh. Begitu akrabnya ia berhubungan dengan Tuhan, maka ia tidak sampai mengalami kematian! Henokh diangkat langsung dari dunia yang berlumur dosa ini menuju Surga untuk seterusnya bersama-sama dengan Allah. "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah." (ay 24). Penulis Ibrani kemudian menuliskan lagi mengenai Henokh. "Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:5). Perhatikan bahwa perilaku dan kesetiaan Henokh ternyata berkenan kepada Allah.
Sahabat karib yang akrab dengan kita tentu bukanlah sosok teman yang hanya mencari keuntungan dan kesenangan saja bersama kita. Mereka akan tetap setia bersama kita ketika kita mendapat musibah atau berbagai bentuk kesusahan. Mereka akan dengan senang hati membantu kita sedapat-dapatnya ketika kita dalam kesesakan. Itu sosok sahabat karib dan seperti itu pulalah seharusnya hubungan kita dengan Tuhan. Apakah kita hanya berdoa siang dan malam untuk ditolong Tuhan dari kesusahan, dan setelah itu kita melupakannya? Apakah kita menuduh Tuhan tidak adil atau tidak peduli ketika kita terus bergumul dalam masalah? Apakah kita menempatkan segala kegiatan, kepentingan atau kebutuhan di dunia di atas kebutuhan kita untuk bersekutu dengan Tuhan? Itu artinya kita belum menempatkan Tuhan pada posisi sebagai sahabat karib. Padahal Tuhan menjanjikan banyak hal istimewa kepada orang-orang yang bergaul akrab dengannya. Perhatikan ayat bacaan hari ini. "..Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku..." (Imamat 10:3). Tuhan menyatakan kekudusanNya dan memperlihatkan kemuliaanNya kepada orang-orang Dia anggap bersahabat karib denganNya. Daud juga mengerti akan hal ini. "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Takut akan Tuhan akan membawa kita untuk terus membangun hubungan dengan Tuhan hingga ke tingkat kekariban, dan hal itu akan membuat Tuhan terbuka dalam memberitahukan rencana dan rancanganNya pada kita. Itu janji Tuhan. Ada penyertaan dan kebersamaan dalam sebuah persahabatan yang terbina akrab, dan itu pun akan terjadi antara kita dengan Tuhan ketika kita bergaul karib denganNya. Janganlah tergoda oleh berbagai hal yang ditawarkan dunia yang mampu merenggangkan hubungan kita dengan Tuhan. Seperti halnya kita merasakan sakit yang luar biasa jika sahabat karib kita menghianati kita, tentu Tuhan pun akan merasa kecewa apabila kita menghianatiNya. Apalagi hanya untuk kepentingan atau kepuasaan sesaat di dunia yang hanya sementara ini. Tetap ingat bahwa setiap pelanggaran dan ketidaktaatan akan mendapat balasan yang setimpal. (Ibrani 2:2). Bergaullah karib dengan Tuhan dengan melibatkanNya dalam setiap aspek kehidupan kita. Rajinlah berdoa, membangun hubungan yang intim denganNya dengan rutin, muliakan Dia selalu dengan tubuh, perbuatan dan perkataan kita. That's what real friends do. Tuhan menanti anda untuk menjadi sahabat karibNya, maukah anda menerima uluran tanganNya hari ini?
Bergaul karib dengan Tuhan membawa kita untuk menikmati janji-janjiNya
Posted at 08:00 | | 0 Comments
Karakter Terhormat
Ayat bacaan: Rut 3:11
=================
"Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik."
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Itulah kata sebuah pepatah yang mungkin sudah jarang diingat orang hari ini. Ada yang melanjutkan pepatah itu dengan "manusia mati meninggalkan nama". Seperti apa kita saat ini dan terutama nantinya dikenang orang? Apakah kita dikenal dengan kebaikan kita, kerendahan hati, keramahan, atau kita dikenal sebagai orang yang sombong, egois dan sebagainya. Apakah kekayaan membuat kita semakin mengasihi Tuhan dan sesama, atau malah menjauhkan kita dariNya? Apakah segala berkat yang kita dapatkan sudah kita pakai untuk memberkati orang lain atau hanya ditimbun dan ditumpuk untuk kekayaan diri sendiri? Semua itu menentukan apakah kita tercatat dengan tinta emas baik di mata sesama kita manusia dan tentunya Tuhan. Gelar, status dan harta kekayaan kita saat ini tidak serta merta menjamin kita menjadi seseorang yang terhormat dan dikenang orang dari masa ke masa. Bahkan tidak berarti dengan itu semua kita menjadi orang-orang yang dikenal Tuhan secara pribadi. Rasanya tidak ada orang yang tidak ingin menjadi sosok berkarakter terhormat yang masih diingat orang bahkan jauh setelah kita tidak lagi ada di dunia ini. Hari ini mari kita melihat sisi seorang wanita dengan karakter terhormat, Rut.
Rut terlahir sebagai wanita bangsa Moab, sebuah bangsa yang jauh dari Tuhan dan menyembah berhala. Pernikahannya dengan anak Naomi membawanya untuk mengenal sosok Tuhan. Ketika bencana terjadi, Rut kehilangan suaminya sehingga hanya ia yang tinggal bersama mertuanya Naomi dan iparnya Orpa. Ketika Naomi memilih untuk pulang ke tanah airnya, Orpa memilih untuk pulang kepada orang tuanya di Moab. Sementara Rut memutuskan untuk tetap setia, baik kepada mertuanya maupun kepada Tuhan yang sekarang ia sembah. "Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" (Rut 1:16-17). Hidup di tanah orang lain yang tidak menganggap bangsa Moab sebagai bangsa yang terhormat tanpa modal apa-apa, tanpa kenal siapapun selain mertuanya Naomi. Sementara jika ia memilih untuk pulang, ia bisa mendapatkan kembali hidup tak berkekurangan. Ini tentu sebuah pilihan sulit bagi Rut. Tapi dengan tegas Rut memutuskan untuk mengikuti Naomi. Sekali lagi, Rut memilih untuk setia dan tetap mengasihi mertuanya dan Tuhan yang sekarang ia sembah.
Pilihan seperti ini merupakan sebuah langkah iman. Rut percaya ada rencana Tuhan di depan walaupun ia belum melihatnya. Dan apa yang terjadi sungguh indah. Rut kemudian bertemu dengan Boas. Ternyata karakter Rut bersinar terang di Betlehem. Karakternya yang bersinar dan terhormat tidak saja diakui oleh Boas, namun ternyata diakui oleh semua orang di kota tempat tinggalnya yang baru. Meski dia berasal dari Moab, ternyata karakternya mendatangkan kekaguman dari penduduk disana. Boas pun berkata demikian: "Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik." (Rut 3:11). Dalam versi BIS, karakter Rut disebutkan sebagai "wanita yang baik budi". Pernikahan Rut dan Boas pun terjadi, dan hidupnya dipulihkan secara luar biasa. Langkah iman Rut membawanya pada berkat-berkat Tuhan yang terus mengalir dalam hidupnya. Kita tahu dari keturunan-keturunan Rut dan Boas kemudian lahirlah Daud hingga kemudian Yesus Kristus. Luar biasa.
Latar belakang masa lalu, harta, status dan kehebatan manusia tidaklah cukup kuat untuk membuat kita kepada sebuah karakter terhormat. Rut mendapatkannya dengan kesetiaan kepada Allah. Langkah imannya yang teguh kepada Allah yang belum lama ia kenal membuat dirinya hidup penuh pengharapan, tidak bersungut-sungut, rendah hati dan berbudi pekerti. Dan itu semua membuatnya menjadi sosok wanita terhormat yang diakui oleh orang lain, bahkan berkenan pada Tuhan sehingga lewat dirinyalah Sang Penebus lahir di dunia ini. Hidup ini tidaklah mudah. Setiap saat ada banyak keinginan yang bisa menjerumuskan kita kepada kemerosotan moral hingga berujung pada dosa. Ada begitu banyak penderitaan yang mungkin saat ini belum terlihat jalan keluarnya. Tapi kita diingatkan untuk tidak bersandar pada kekuatan diri sendiri, melainkan bergantunglah pada Allah dengan pengharapan tanpa henti. (2 Korintus 1:8-9). Mata Tuhan tetap melihat segala yang kita lakukan, dan Dia selalu lebih dari siap untuk melimpahkan berkat kepada siapapun yang selalu taat dengan sungguh-sungguh kepadaNya. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9a). Langkah iman yang teguh tidak akan pernah sia-sia. Karena itu kita tidak perlu gemetar dan khawatir menghadapi masa depan, tidak perlu terjebak pada keinginan menimbun harta lewat jalan-jalan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, karena tanpa itu semua pun kita mampu hidup dengan penuh kecukupan, karena Tuhan adalah Allah yang menyediakan. Karakter terhormat akan hadir jika kita mengenal Tuhan dengan baik, percaya kepadaNya dengan sungguh-sungguh, dan hidup dengan iman yang teguh kepadaNya. Terang Tuhan akan terpancar lewat kita jika kita mengijinkanNya hidup di dalam kita, dan kita hidup di dalamNya. Yesus mengingatkan demikian: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:33-34). Hal ini telah dilakukan Rut jauh sebelumnya, dan Rut telah membuktikan bahwa janji Tuhan itu bukanlah omong kosong. Lewat kisah Rut hari ini, marilah kita memiliki pribadi dengan karakter terhormat meski mungkin hidup terasa masih sulit hari ini. Percayalah bahwa Tuhan siap menambahkan segalanya kepada kita.
Langkah iman tidak akan pernah sia-sia, karenanya hiduplah selalu sesuai firman Tuhan
Posted at 08:00 | | 1 Comments
Hanya Tanah Liat
Ayat bacaan: Yesaya 64:8
======================
"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu."
Sebuah berita yang saya baca mengabarkan tentang perilaku seorang pengendara motor besar ketika motornya terserempet oleh sebuah mobil yang dikemudikan seorang remaja. Dengan arogan ia turun dan memukuli mobil serta memukuli anak remaja tersebut. Ketika polisi datang, ia masih tetap emosi di luar batas, bahkan mengancam polisi yang ingin merelai itu. Dia mengancam si polisi sambil membentak-bentak bahwa ia akan mengadu ke sepupunya seorang jenderal. Kelakuan arogan, angkuh, sombong, main hakim sendiri dan main backing-backingan seperti ini benar-benar memalukan, baik memalukan keluarga dan pastinya mempermalukan diri sendiri. Selain itu ini menjadi sebuah bukti nyata bahwa orang yang bersikap demikian belum menyadari hakekat siapa diri kita (baca: manusia) ini sebenarnya.
Ayat bacaan hari ini menggambarkan dari mana kita dibentuk. "Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." (Yesaya 64:8). Jika kita melihat ayat ini,maka jelaslah bahwa kita tidak seharusnya bisa bersikap arogan atau sombong. Mengapa? Karena kita ini ternyata tidak lebih dari seonggok tanah liat. Dalam ayat lain Yesaya mengatakan bahwa manusia tidaklah lebih dari embusan nafas semata, sehingga kita jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada sebuah figur atau sosok manusia. "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22). Selain itu masa hidup kita di dunia pun singkat. "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10). Maka alangkah memalukannya jika kita masih merasa jauh lebih hebat dari orang lain, menyombongkan diri kita, bersikap angkuh, arogan dan seenaknya berbuat apapun. Si pengendara motor besar itu tidak akan bisa membawa motornya ke Surga untuk menghadap Bapa, dan sepupu jenderalnya pun tidak akan sanggup melepaskan dirinya mengelak dari Tuhan. Pada suatu ketika semua manusia harus siap untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia ini di hadapan Tuhan. Dan ingatlah bahwa Tuhan tidak bisa disogok dan tidak akan takut pada siapapun, karena Dia tidak lebih rendah di banding apapun, apalagi manusia.
Jika kita adalah tanah liat, maka Tuhan adalah Penjunan kita. Sebagai tanah liat tentu kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Tanah liat tidak pernah bisa mengatur pembuatnya untuk membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya. Tapi si pembuatlah yang pasti mengenal jenis tanah liat dan seperti apa ia bisa dibentuk, seindah mungkin. Demikianlah sebuah pelajaran yang dipetik oleh Yeremia lewat seorang tukang periuk. Dalam pembuka Yeremia 18 kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Yeremia ke tukang periuk untuk mendapat pelajaran penting mengenai hakekat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4). Ini hasil pengamatan Yeremia. Lalu Tuhan berkata: "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!" (ay 6). Ya, Tuhanlah sang Pembuat, sedang kita adalah tanah liat yang berada di tangan sang Pembuat. Karenanya bukan kehebatan kita yang bisa membuat kita menjadi baik, berkelimpahan dan selamat, namun semata-mata karena kehebatan Tuhan membentuk kita-lah maka kita bisa menjadi bejana-bejana yang indah. Menyombongkan diri atau berlindung di belakang orang lain adalah sebuah sikap yang memalukan, karena itu artinya si orang tersebut tidak menyadari betul siapa dia sebenarnya. Malah Alkitab mencatat demikian "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5).
Jika Tuhan sebagai sang Penjunan atau sang Pembuat periuk/bejana yang mengenal karakter kita masing-masing, si "tanah liat", dengan sangat baik, apa yang menjadi rencanaNya? Demikian firman Tuhan. "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (29:11). Untuk mencapai tujuan itu, terkadang proses pembentukan karakter diperlukan, dan hal itu seringkali tidak nyaman bahkan menyakitkan. Tapi lihatlah nanti, sebuah bejana yang sangat indah akan terbentuk. Kita hanyalah tanah liat yang tidak lebih dari embusan nafas. Tidak seharusnya kita bersikap paling hebat di atas segala-galanya dan hidup seenaknya dengan kekuatan diri kita sendiri maupun orang lain. Ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan, Sang Penjunan yang begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa. Jauhkanlah kesombongan dan keangkuhan dari diri kita. Hiduplah rendah hati, rajin menolong sesama dan berserahlah secara penuh kepada Tuhan dalam segala hal. Tidak ada satupun rencana Tuhan yang gagal, dimana apa yang Dia rencanakan adalah damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan.
Janganlah bersikap sombong, tapi hiduplah rendah diri dengan memuliakan Tuhan, karena kita hanyalah tanah liat hasil buatan tangan Tuhan
Posted at 08:00 | | 0 Comments
Kisah Seorang Matius
Ayat bacaan: Matius 9:9
===================
"Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia."
Maukah kita melayani sungguh-sungguh jika hanya untuk seorang saja? Bagi sebagian orang mungkin itu buang-buang waktu dan tenaga. Apalagi jika masalah yang dihadapi rumit. Ada banyak orang yang mungkin buat sementara butuh telinga untuk mendengarkan saja jauh melebihi kebutuhannya untuk diberi nasihat atau masukan. Mereka perlu ada orang yang mau mendengar keluhan dan kepedihan mereka, dan mereka biasanya akan menceritakannya berulang-ulang. Hal ini membutuhkan kesabaran dari kita, yang mungkin di saat yang sama punya kesibukan sendiri-sendiri. Namun hal itu bisa sangat berarti bagi mereka, dan bagi saya, satu orang yang bisa selamat sudah membawa kebahagiaan luar biasa. Apa yang membuat saya paling bahagia bukan karena kehebatan saya, dan bukan pula karena Tuhan mau pakai saya, walaupun hal itu adalah sebuah kehormatan yang tidak terhingga bagi saya, namun apa yang paling membuat saya bahagia adalah ketika ada satu orang yang akhirnya bisa selamat dan terhindar dari kematian kekal dan penyiksaan tanpa batas dalam kekekalan.
Mari kita lihat perjumpaan Matius dengan Yesus. "Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia." (Matius 9:9). Perhatikan bahwa seorang pemungut cukai yang tengah duduk-duduk di kantor pajaknya tiba-tiba didatangi Yesus, orang yang sebelumnya tidak ia kenal, namun ia mau berdiri dan mengikut Yesus. Dan perhatikan pula sebaliknya, Yesus mau meluangkan waktunya untuk mendatangi dan mengajak Matius, orang yang statusnya tidak baik di pandangan masyarakat waktu itu, untuk mengikutinya. Tidak saja mengajak Matius, tapi Yesus malah mau makan di rumahnya. Teman-teman sesama pemungut cukai dan orang berdosa lainnya mungkin melihat hal ini luar biasa, maka mereka pun berbondong-bondong datang untuk ikut makan bersama-sama dengan Yesus dan para murid. Di sisi lain, orang-orang Farisi yang merasa sangat suci malah kebingungan. Mereka tidak mengerti mengapa Yesus mau makan bersama-sama tukang pajak dan orang berdosa. Apa reaksi Yesus? "Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (ay 12). Kemudian dilanjutkan dengan "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (ay 13). Apa yang kemudian terjadi pada Matius? Kita melihat Matius mengalami pemulihan dan transformasi total dalam hidupnya. Dari seorang pemungut cukai, Matius berubah menjadi pengikut Tuhan Yesus dengan sepenuh hati. Dia menjadi salah seorang dari dua belas murid Yesus. Dan kita tahu bahwa Matius juga satu dari penulis Injil. Bukankah hal ini luar biasa?
Yesus datang ke dunia memenuhi kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia. Orang-orang yang "sakit" secara rohani, mental, spiritual, bahkan sakit penyakit yang mungkin membuat orang tidak bisa fokus berhubungan dengan Tuhan sekalipun, semua adalah bagian dari pekerjaanNya. Satu nyawa sekalipun itu sungguh berharga di mata Tuhan! Tidak heran kita melihat Yesus mau meluangkan waktunya untuk makan di rumah seorang berdosa. Dan lihatlah, ada banyak orang berdosa lainnya yang kemudian datang untuk bertemu dengan Sang Juru Selamat. Betapa ironis jika kita melihat para ahli Taurat yang seharusnya paham benar pentingnya keselamatan malah menjauhi mereka, bahkan mengkritik Yesus karena mau masuk ke rumah orang-orang yang berdosa ini, malah makan bersama-sama mereka. Ketika untuk kali kedua mereka sinis kepada Yesus, Yesus pun menjelaskan demikian. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?" (Lukas 15:4).Yesus bersukacita jika telah menemukan/menyelamatkan satu domba (ay 6). Tidak hanya Yesus saja, namun seluruh malaikat pun akan bersorak sorai melihat satu orang bertobat. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Inilah yang terjadi di Surga ketika satu orang kembali ke jalan yang benar. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (ay 7).
Dari kisah Matius kita bisa belajar beberapa hal. Yang pertama kita lihat bahwa bagi Yesus satu jiwa selamat itu sangat berharga. Ada sukacita besar di Surga ketika ada satu orang yang bertobat. Kemudian kita juga bisa melihat bahwa untuk selamat dibutuhkan pula kesediaan dari diri kita sendiri. Matius tidak akan selamat apabila ia menolak mengikuti Yesus, meski Yesus sudah memanggilnya. Tuhan mau semua manusia bisa selamat. Dia mengetuk pintu hati kita setiap hari, namun kemauan kita untuk percaya atau menolak, itu akan sangat menentukan kemana kita akan melangkah. Menerima Yesus dalam hidup kita mampu membawa sebuah transformasi total menjadi ciptaan baru. (2 Korintus 5:17). Ada hidup yang diubahkan, ada pemulihan, ada berkat dan ada pula keselamatan, seperti halnya yang terjadi pada Matius. Selain itu, bisa saja ada banyak orang yang datang padaNya setelah melihat bagaimana kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.
Lihatlah bahwa satu jiwa bertobat itu sungguh sangat berharga di mata Tuhan. Oleh karenanya kita jangan menolak untuk melayani satu orang sekalipun. Keteladanan sudah diberikan langsung oleh Yesus. Ada begitu banyak orang "sakit" di dunia ini yang sangat membutuhkan perhatian, kepedulian, bantuan dan pelayanan. Seperti halnya seluruh malaikat dan Tuhan sendiri bersukacita melihat satu domba yang hilang kembali ditemukan, hendaklah kita pun memiliki sukacita yang sama ketika melihat satu jiwa selamat. Jangan lupakan mereka, jangan tutup mata dan jangan biarkan mereka putus pengharapan dan menjadi jiwa terhilang.
Layanilah sungguh-sungguh meski hanya seorang, sebab satu jiwa itu berharga di mata Tuhan
Posted at 08:00 | | 0 Comments
Melupakan Tuhan
Ayat bacaan: Ulangan 32:18
======================
"Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau."
"Habis manis sepah dibuang". Ini salah satu pepatah yang mencerminkan perilaku orang yang tidak tahu terima kasih. Pepatah ini masih berlaku hingga hari ini. Kita sering membaca atau mendengar dimana-mana mengenai berbagai kisah yang digambarkan pepatah di atas. Tidak banyak orang mengingat jasa pahlawan yang rela gugur demi memperjuangkan kemerdekaan. Di dunia musik pun sama. Ada banyak nama-nama yang perannya sangat besar dalam bermusik, tapi hanya sedikit orang yang masih mengingat atau mengenang mereka. Orang tua yang melupakan anak kandungnya sendiri, artis yang tidak mengakui anaknya, anak-anak yang tidak menghargai orang tua yang sudah bersusah payah membesarkan mereka, orang sukses yang melupakan orang-orang yang berjasa terhadap mereka dan sebagainya. Ini bukan hal baru lagi di jaman modern sekarang. Sudah menjadi hal biasa jika manusia begitu mudahnya melupakan jasa orang-orang yang punya andil dalam kesuksesan hidup mereka.
Jika kepada manusia saja sudah tidak pantas untuk melupakan jasa-jasa mereka dalam hidup kita, apalagi kepada Tuhan. Ketika dalam kesesakan manusia berdoa dan memohon pertolongan, tapi ketika mereka lepas mereka pun segera melupakan Tuhan. Ini juga bukan hal baru. Sejak jaman dulu sikap seperti ini sudah berulang-ulang terjadi. Bangsa Israel pernah diperingatkan dengan keras oleh Tuhan mengenai hal ini. Lewat nyanyian Musa (Ulangan 32:1-43).kita bisa membaca sederetan kemurkaan Tuhan atas sikap bangsa Israel yang melupakan segala yang telah Dia berikan. Ayat 10-14 menggambarkan bagaimana Tuhan menyediakan segala sesuatu kepada mereka. Perlindungan langsung oleh Tuhan, berbagai kelimpahan, semua disediakan bagi bangsa Israel. Namun apa yang terjadi? "Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya." (ay 15). Ketika hidup menjadi nikmat, mereka pun meninggalkan Tuhan yang telah memberikan segala kemurahanNya, dan memandang sepele Tuhan, gunung batu keselamatan mereka. Sungguh keterlaluan, bangsa Israel mulai menyembah allah-allah asing, memeprsembahkan kurban pada roh-roh jahat dan bukan pada Allah. (ay 17). Singkatnya inilah yang terjadi. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau." (ay 18). Maka Tuhan pun murka. Bangsa Israel pada masa itu Dia sebut dengan "suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan" (ay 20), "bangsa yang bebal" (ay 21). Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana mengerikannya murka Tuhan jika dilupakan pada ayat-ayat selanjutnya. Dalam kitab Hakim-Hakim pun sama. "Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera." (Hakim Hakim 3:7). Dan hal ini dikatakan membangkitkan murka Tuhan. (ay 8). Bukankah keterlaluan jika bangsa bebal dengan angkatan yang bengkok ini melupakan Tuhan yang telah begitu baik pada mereka? Mereka dikeluarkan dari tanah perbudakan, diawasi dan dilindungi langsung oleh Tuhan sendiri dalam perjalanan menuju ke tanah terjanji dengan berbagai mukjizat luar biasa dan banyak lagi. Tapi mereka masih juga sanggup melupakan Tuhan ketika hidup mulai terasa nikmat.
Apa yang diperbuat bangsa Israel pada masa itu masih terjadi hingga hari ini. Mungkin dulu kita tidak bisa atau tidak punya apa-apa, mungkin dulu kita tidak berharga di mata orang lain, mungkin kita dulu punya banyak beban, namun ketika semua berubah, ketika roda pedati naik ke sebelah atas, kita menjadi berhasil, berkecukupan, berkelimpahan, kita pun mulai lalai untuk mengingat Tuhan. Kita akan lebih memilih untuk menimbun harta dengan bekerja tanpa henti dan tidak lagi mau meluangkan waktu untuk Tuhan. Ketika sukses datang, kita akan lupa pada campur tangan Tuhan dan menganggap semua itu adalah hasil kehebatan dan kekuatan kita sendiri. Jangan sampai terpeleset menjadi bangsa bebal atau angkatan bengkok. Daud mengingatkan semua keturunan Israel untuk senantiasa memuliakan Tuhan dan memiliki rasa takut akan Tuhan. "kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!" (Mazmur 22:24). Jika di antara teman-teman ada yang mulai jarang berdoa dan menjauh dari Tuhan, berbaliklah segera. Hendaklah kita tetap ingat kepada Tuhan dengan segala kebaikan dan kasih setiaNya yang tidak pernah pudar. Ingatlah bahwa tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Mari kita menjaga hati kita untuk selalu memuliakan dan menomor satukan Tuhan di atas segalanya, seperti apa yang dikatakan Daud. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2). Without Him we are nothing..so let's keep praising Him!
Jangan pernah lupakan Tuhan yang begitu mengasihi kita
Posted at 08:00 | | 0 Comments






